Info Sekolah
Kamis, 16 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
11 November 2025

Sudah Banyak Korban, Bullying di Sekolah Harus Segera Dihentikan!

Sel, 11 November 2025 Dibaca 50x Edukasi

Oleh: H. Roland Gunawan, Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah


Peristiwa ledakan bom di lingkungan Masjid SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Jumat, 7 November 2025 lalu, menyisakan tanya, bukan soal ledakan bom itu sendiri, melainkan motif yang melatari pelaku melakukan aksinya.

Setelah ditelusuri, pelakunya ternyata adalah seorang siswa yang telah lama menjadi korban bullying (perundungan) oleh teman-teman di sekolahnya, dan ia berupaya melakukan aksi balas dendam dan bunuh diri. Aksinya ini menyebabkan 96 orang terluka. Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 korban masih harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Dan sebagian besar korban mengalami masalah pada indra pendengaran.

Peristiwa ini bukan sekadar insiden tindak kejahatan, melainkan peringatan keras bagi dunia pendidikan di Indonesia dan masyarakat secara luas mengenai dampak destruktif dari bullying yang terabaikan.

Bullying di sekolah merupakan salah satu fenomena global paling meluas yang memengaruhi siswa di berbagai lembaga pendidikan di seluruh dunia. Bahaya fenomena ini terletak pada dampak psikologis jangka panjang yang ditinggalkannya terhadap kepribadian siswa yang mengalaminya. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa banyak masalah psikologis yang dialami orang dewasa bermula dari pengalaman negatif yang mereka alami selama masa kanak-kanak atau remaja, termasuk bullying di sekolah.

Anak-anak mungkin kehilangan makna sejati masa kanak-kanak karena kurangnya pengawasan orangtua dan juga guru di sekolah, sehingga mereka mencari panutan dalam diri penjahat setelah diabaikan oleh orang-orang yang seharusnya membimbing mereka dalam keluarga dan sekolah.

Meskipun saat ini pelaku ledakan menjadi terdakwa dan yang lainnya adalah korban, keduanya adalah korban. Pelaku adalah korban dari sistem pendidikan yang abai terhadap moralitas dan kelalaian keluarganya, yang telah membawanya ke ambang kehidupan kriminal dan menghadapi konsekuensi hukum atas kejahatan yang dilakukannya.

Bagaimana seorang anak bisa memahami pelajaran jika ia bahkan tidak berani bertanya tentang apa yang tidak ia pahami, karena takut akan reaksi teman-teman sekelasnya? Bagaimana rasa percaya diri seorang anak bisa tumbuh jika jarak antara ia dan gurunya bergantung pada kemampuannya mengatasi bullying di antara siswa di sekolah atau kelas yang sama?

Itulah salah satu alasan kenapa kita harus terus mengkampanyekan larangan bullying di sekolah, mengingat dampak fenomena ini terhadap masa depan anak.

Bullying berdampak signifikan terhadap prestasi akademik. Stres dan kecemasan akibat bullying dan pelecehan dapat menghambat pembelajaran anak, selain berpotensi menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, yang pada gilirannya memengaruhi kemampuan mereka untuk menghafal atau bahkan mengingat informasi.

Ada sejumlah dampak emosional dan sosial dari bullying terhadap orang lain, termasuk: kesulitan berteman; rendahnya harga diri; perasaan marah, kepahitan, kelemahan, ketidakberdayaan, frustrasi, dan isolasi; pikiran untuk bunuh diri karena depresi; upaya penggunaan alkohol dan narkoba; dan lebih parah, pikiran untuk melakukan balas melalui jalur kekerasan dan teror.

Ya, perasaan tidak berdaya akibat bullying dapat mendorong beberapa individu melakukan kejahatan akibat stres dan frustrasi psikologis. Perasaan ini dapat menjadi motif untuk melakukan perilaku kekerasan atau kejahatan lainnya sebagai cara untuk melepaskan emosi atau melarikan diri dari masalah.

Dampak lain dari bullying terhadap siswa meliputi: perubahan pola tidur; perubahan kebiasaan dan rutinitas makan; penarikan diri dan kurangnya minat pada kegiatan yang sebelumnya dinikmati; dan penurunan prestasi akademik, dan nilai ujian, yang meningkatkan kemungkinan putus sekolah.

Dampak bullying bukan hanya terhadap korban, tetapi bahkan terhadap keluarga korban. Di antaranya perasaan tidak berdaya dalam menghadapi situasi atau bahkan penyelesaiannya; perasaan kesepian dan isolasi; terlalu memikirkan keadaan anak, yang menyebabkan pengabaian terhadap kesehatan mereka sendiri dan perasaan sedih; dan rasa gagal yang timbul akibat ketidakmampuan melindungi anak yang menjadi korban bullying.[RG]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar