Info Sekolah
Kamis, 16 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
11 November 2025

Perjuangkan Kemanusiaan Semasa Hidup, K.H. Abdurrahman Wahid Diganjar Gelar Pahlawan oleh Negara

Sel, 11 November 2025 Dibaca 73x Berita

Keputusan pemerintah yang menetapkan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Pahlawan Nasional disambut haru oleh kaum Nahdliyyin dan seluruh bangsa Indonesia.

Penganugerahan ini diberikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh nasional yang ditetapkan di Jakarta pada tanggal 6 November 2025.

Pemberian gelar pahlawan nasional ini diselenggarakan di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11). Presiden Prabowo menyerahkan langsung gelar pahlawan nasional ke para ahli waris.

“Menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada mereka yang namanya tersebut dalam lampiran keputusan ini sebagai penghargaan dan penghormatan yang tinggi, atas jasa-jasanya yang luar biasa, untuk kepentingan mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa,” bunyi kutipan Keppres.

Gus Dur yang lahir dari dunia pesantren ditetapkan sebagai pahlawan dengan perjuangan politik dan pendidikan Islam. Namanya dikenal sebagai tokoh bangsa yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, dan pluralisme di Indonesia.

Pengakuan negara terhadap Gus Dur menjadi penegasan arah moral bangsa di tengah meningkatnya intoleransi dan polarisasi sosial. Gus Dur merupakan simbol keberanian dan keteduhan, sosok ulama yang menembus batas agama, etnis, dan politik.

Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB Maman Imanulhaq menyampaikan, “Gus Dur sudah menjadi pahlawan sejak lama karena beliau memperjuangkan manusia, bukan sekadar ideologi. Beliau memerdekakan akal, menjaga martabat kemanusiaan, dan membela yang lemah tanpa pamrih. Ketika banyak orang memilih diam demi aman, Gus Dur justru bicara demi kebenaran. Ketika banyak yang menonjolkan agama untuk memecah belah, Gus Dur menunjukkan bahwa agama sejatinya menyatukan dan memanusiakan,” tutur Maman.

Maman menambahkan, keteladanan Gus Dur harus dihidupkan dalam kebijakan publik, dunia pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat. Generasi muda perlu belajar dari keberanian Gus Dur yang mampu mengubah cara pandang masyarakat yakni dari kecurigaan menjadi kasih sayang, dari kekuasaan menjadi pengabdian.

“Gus Dur tidak hanya meninggalkan warisan gagasan, tapi juga energi moral yang membuat bangsa ini tetap punya harapan. Menjadikan beliau Pahlawan Nasional berarti menegaskan bahwa Indonesia berdiri di atas cinta, keberanian, dan kemanusiaan. Penghargaan untuk Presiden RI ke-4 ini bukan sekadar bentuk formalitas, melainkan pengakuan atas perjuangan kemanusiaan Gus Dur yang melampaui zamannya,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan ini.

Maman pun mengajak seluruh rakyat Indonesia, terutama kalangan muda dan pesantren, untuk meneladani perjuangan Gus Dur dengan terus berpihak pada keadilan dan kemanusiaan.

“Kalau hari ini Gus Dur diakui negara sebagai Pahlawan Nasional, sejatinya beliau sudah lebih dulu menjadi pahlawan di hati jutaan rakyat yang pernah disentuh oleh kasih dan keberaniannya,” pungkasnya.

Penetapan Gus Dur sebagai Pahlawan juga disambut baik oleh Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai. Ia bahkan menetapkan kantor Kementerian Hak Asasi Manusia (Kemenham) kini bernama Gedung K.H. Abdurrahman Wahid seiring gelar Pahlawan Nasional yang diberikan Presiden RI Prabowo Subianto pada 10 November 2025.

Pigai dalam keterangannya di Jakarta mengatakan penamaan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap peran besar Presiden keempat RI yang akrab disapa Gus Dur itu dalam meletakkan fondasi pembangunan HAM di Indonesia.

“Saya langsung menetapkan nama gedung Kemenham dengan nama ‘Gedung K.H. Abdurrahman Wahid’. Ini bentuk penghormatan atas peran dan jasa beliau dalam bidang HAM. Beliau, bagaimanapun, adalah tokoh dan pejuang HAM,” kata dia.

Menurut Pigai, Gus Dur merupakan tokoh pejuang kemanusiaan yang konsisten dalam memperjuangkan keadilan bagi semua golongan. Dia berharap gedung berlantai sembilan itu dapat menjadi pusat peradaban HAM, sebagaimana misi yang diperjuangkan Gus Dur.

Selama hidupnya, tutur Pigai, kebijaksanaan Gus Dur selalu menekankan bahwa setiap manusia berhak diperlakukan secara bermartabat tanpa memandang suku, agama, ras, maupun golongan.

Ia memandang, Gus Dur begitu konsisten menyuarakan perdamaian dan pluralisme, bahkan di tengah situasi bangsa yang kala itu menghadapi berbagai dinamika dan tantangan.

“Pada zaman [menjadi] Presiden pun, beliau mendirikan kementerian HAM. Ini bentuk perhatian dan keberpihakan yang jelas pada isu HAM,” ucapnya.

Pigai pun mengenang keputusan Gus Dur yang mencabut sejumlah kebijakan yang bersifat diskriminatif, termasuk Tap MPRS Nomor XXV/1966 terkait pembubaran Partai Komunis Indonesia serta larangan penyebaran ajaran komunis/Marxisme-Leninisme.

Selain itu, Pigai juga menyoroti kebijakan humanis Gus Dur terhadap Papua, di antaranya pendekatan dialogis yang menempatkan masyarakat Papua sebagai subjek serta pemberian ruang untuk mengekspresikan identitas budaya. “Pembangunan HAM di Indonesia juga kami timba semangat dan prinsipnya dari warisan Gus Dur sendiri,” tegas Pigai.

Di Jombang, suasana haru dan bangga menyelimuti kawasan Pondok Pesantren Tebuireng, tempat Gus Dur disemayamkan. Sejak pengumuman penetapan gelar tersebut, peziarah dari berbagai daerah terus berdatangan untuk mendoakan sang tokoh pluralisme itu.

Pemerhati budaya, Tabrani, menyebut penganugerahan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran pesantren dan ulama Jombang dalam perjalanan bangsa.

“Gelar ini bukan hanya untuk Gus Dur, tapi juga untuk seluruh nilai yang beliau wariskan. Jombang layak disebut Kota Santri karena dari sini lahir banyak tokoh yang memerdekakan dan memanusiakan. Dan Gus Dur adalah salah satu tokoh pembawa pesan kemanusiaan yang melampaui zaman dan sekat agama,” ujarnya.

Ia menambahkan, penetapan tersebut semakin memperkuat posisi Jombang sebagai daerah yang banyak melahirkan tokoh bangsa dengan pemikiran visioner. “Dengan penetapan Gus Dur sebagai pahlawan nasional, itu menandakan sudah ada empat pahlawan nasional dari Jombang,” imbuhnya.

Dengan diganjarnya Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional, Kabupaten Jombang kini memiliki empat tokoh bergelar Pahlawan Nasional, yakni K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Wahid Hasyim, K.H. Wahab Chasbullah, dan K.H. Abdurrahman Wahid.[RG]


Sumber: dari berbagai sumber

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar