Info Sekolah
Kamis, 16 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
26 Oktober 2025

Akhir Mitos Israel

Ming, 26 Oktober 2025 Dibaca 80x Kajian

Bisakah Perang Mendefinisikan Ulang Korban?
Sebuah pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi intinya, ia membentuk kembali hubungan antara moralitas dan realitas, antara ingatan dan politik, antara apa yang kita anggap “baik” dan apa yang kita temukan hanyalah topeng yang membenarkan kekerasan.

Sejak awal berdirinya di jantung dunia Arab, citra Israel telah dibangun di atas gagasan tentang korban abadi, sosok yang muncul dari abu Holocaust untuk membangun entitas yang melindunginya dari pengulangan sejarah. Namun sejarah, seperti kata Hegel, hanya diulang sebagai tragedi, lalu menjadi lelucon.

Tragedi Palestina, yang membentang dari Nakba hingga saat ini, telah mengungkapkan bahwa seorang korban yang belum berdamai dengan luka-lukanya, seiring waktu, berubah menjadi seorang penyiksa yang takut melihat wajahnya sendiri di cermin.

Dalam perang terbaru di Gaza, dunia tidak lagi melihat konflik melalui lensa lama yang sama. Citra yang dulunya hanya “pembelaan diri Israel” telah sirna diterpa banjir gambar rumah-rumah yang dihancurkan, anak-anak yang dimutilasi, dan debu yang menelan kisah-kisah.

Untuk pertama kalinya, kisah itu tak lagi diceritakan dari Tel Aviv atau Washington, melainkan dari gang-gang yang hancur, dari bawah reruntuhan, dari mulut seorang perempuan yang mencari putranya, atau anak-anak yang sekarat karena kelaparan.

Di sini, terjadi pergeseran mendalam: Israel bukan lagi simbol bertahan hidup, melainkan model kekuasaan berlebihan yang telah kehilangan kompas moralnya. Makna pun berubah, dan kesadaran pun bergeser.


Pergeseran Makna: Dari Holocaust ke Gaza
Salah satu ironi sejarah yang kejam adalah bahwa mereka yang meneriakkan slogan “Jangan pernah terulang”, mempraktikkan—atas nama ketakutan—kekerasan yang membuat tragedi itu terulang kembali, meskipun dalam bentuk lain yang lebih berdarah dan berdampak luas.

Di sini, dialektika ingatan dan kekuasaan menjadi nyata: ketika korban memiliki ingatan mereka tanpa keraguan, ingatan itu berubah dari ruang untuk mengingat dan belajar menjadi alat untuk dominasi dan pembenaran.

Hannah Arendt menulis tentang “banalitas kejahatan”, ketika ia berpendapat bahwa kejahatan besar tidak membutuhkan monster, melainkan pejabat yang mematuhi perintah dan menjalankan tugas mereka dengan hati nurani yang bersih.

Di Gaza, kejahatan biasa ini terwujud dengan jelas: seorang pilot menekan tombol, seorang analis yang membenarkan tindakan di layar, seorang juru bicara resmi yang menjelaskan perlunya menghancurkan seluruh lingkungan karena “terorisme bersembunyi di sana”.

Holocaust telah digunakan dalam imajinasi Barat sebagai dokumen yang sah untuk membebaskan Israel dari tanggungjawab moral. Namun, gambaran perang baru-baru ini mengungkapkan runtuhnya legitimasi ini dalam menghadapi realitas yang tak terbantahkan: anak-anak terbunuh di depan kamera, mayat-mayat ditarik dari reruntuhan.

Seperti yang dikatakan Noam Chomsky, hal paling berbahaya yang dilakukan media Barat adalah “membersihkan” bahasa ketika berbicara tentang kejahatan Sekutu, menyebut pengeboman sebagai “bedah mikro” dan pembantaian sebagai “kerusakan tambahan”. Namun kali ini, dunia mulai menyebut berbagai hal dengan namanya.

Israel, yang telah lama memonopoli narasi penindasan, tiba-tiba berada di posisi penindas, sementara Palestina, yang dirampas hak kepemilikannya atas narasi mereka sendiri, kini menjadi pihak yang menceritakan kisah tersebut dengan darah mereka.


Runtuhnya Narasi Lama
Sejak didirikan pada tahun 1948, Israel telah membangun eksistensinya di atas tiga pilar naratif yang membentuk fondasi wacananya kepada dunia: ketakutan, kepolosan, dan keharusan.

Ketakutan akan genosida sebagai pembenaran abadi untuk kekerasan; kepolosan moral korban sebagai kekebalan dari kritik; dan keharusan akan kekuasaan sebagai syarat untuk bertahan hidup. Namun ketiga pilar ini—yang tampak tak tergoyahkan selama beberapa dekade—mulai runtuh satu per satu di bawah tekanan kesadaran global yang baru.

Dunia, yang telah lama meyakini mitos “satu-satunya demokrasi di Timur Tengah”, telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa demokrasi ini tak lebih dari sekadar lapisan hukum yang menutupi sistem yang didasarkan pada diskriminasi, segregasi, dan pendudukan. Kekuasaan yang mengaku melindungi kehidupan kini mengawal proyek kolonial yang tumbuh subur dengan meniadakan “yang lain”.

Di sini, apa yang dapat digambarkan, meminjam istilah Slavoj Žižek, sebagai “penguraian struktur imajiner”. Wacana yang menciptakan citra Israel sebagai korban yang rasional dan adil tak lagi mampu melindungi diri dari kebenaran yang terpancar dari celah-celahnya.

Citra nyata—adegan kehancuran, pembunuhan, dan pengungsian—meluap-luap sistem simbolis yang telah memonopoli penafsiran berbagai peristiwa. Fungsi narasi lama runtuh, karena realitas itu sendiri memberontak terhadap narasinya.

Media sosial memainkan peran fundamental dalam transformasi ini. Kesadaran publik tak lagi bergantung pada siaran saluran-saluran utama Barat; “warga digital” menjadi saksi sekaligus hakim.

Banjir gambar mematahkan monopoli narasi. Ketika gambar berlipat ganda, hegemoni pun runtuh, karena gambar yang mewakili satu-satunya kebenaran menjadi satu di antara jutaan kesaksian.

Dengan demikian, narasi Israel runtuh bukan akibat pernyataan politik, melainkan akibat tontonan kemanusiaan yang tak terbantahkan.

Kesadaran global telah menjadi lebih resisten terhadap hipnosis moral yang dipraktikkan oleh media dan institusi politik Barat selama beberapa dekade.


Dunia Melihat Kemunafikan
Mungkin kemunafikan terbesar yang disebabkan oleh perang ini adalah kemunafikan Barat sendiri di hadapan cermin Gaza. Bagaimana mungkin dunia yang memperjuangkan kemanusiaan di Ukraina membenarkan pembunuhan di Gaza? Bagaimana “nilai-nilai universal” yang diterapkan di banyak negara besar justru menjadi alat selektif yang menyingkirkan populasi yang tidak diinginkan?

Slavoj Žižek berbicara tentang “tontonan kekerasan yang berlebihan”, di mana banyaknya gambar yang mengejutkan berubah menjadi anestesi kolektif. Namun, Gaza telah mematahkan pola ini karena kekerasan di sana tidak lagi dikonsumsi secara diam-diam; melainkan, telah mengungkap struktur moral yang membenarkan dirinya sendiri dengan kemanusiaan. Barat dipaksa untuk melihat wajah aslinya: dunia yang mengutuk pendudukan Rusia karena “melanggar hukum internasional” tetapi memberi penghargaan kepada pendudukan Israel karena “melindungi dirinya sendiri”.

Inilah yang Chomsky sebut “kemunafikan terorganisir”: ketika pembelaan kebebasan bergantung pada geografi dan warna kulit korban.

Perang ini tidak hanya mengungkap Israel, tetapi juga kekosongan wacana moral global, yang telah lama menggunakan hak asasi manusia sebagai kedok keseimbangan kekuasaan.

Mungkin ironi yang menyakitkan adalah bahwa hati nurani yang diciptakan untuk melindungi umat manusia dari kebrutalan justru menjadi alat untuk melanggengkan kebrutalan, selama pelakunya adalah sekutu politik atau perpanjangan budaya Barat.


Israel sebagai Cermin Model Kolonial
Untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade, elit intelektual Barat mulai berbicara tentang Israel bukan sebagai kasus pengecualian, melainkan sebagai perpanjangan dari sistem kolonial yang belum mati.

Israel bukan lagi “benteng demokrasi,” melainkan cermin yang memperlihatkan kelemahan proyek Barat itu sendiri: kecenderungan untuk membenarkan kekerasan ketika itu melayani kepentingan, dan klaim superioritas moral untuk membenarkan dominasi.

Pertanyaan yang muncul di sini adalah: Apakah Israel adalah “kita” dalam wujud yang telanjang?

Pertanyaan ini merupakan pergeseran yang berbahaya, karena menggeser perdebatan dari politik ke etika, dari pembenaran tindakan ke introspeksi.

Ketika Israel melepaskan bajunya sebagai korban, di mata banyak orang, ia telah jatuh sebagai perwujudan dari apa yang telah lama ingin dilupakan Barat: masa lalu kolonialnya.

Apa yang terjadi saat ini bukan sekadar kritik terhadap kebijakan Israel; melainkan sebuah pertanyaan tentang fondasi moral yang mendasari gagasan Zionis itu sendiri: gagasan tentang keselamatan kolektif melalui pengucilan terhadap yang lain.

Dalam imajinasi global, Israel telah bertransformasi dari simbol kelangsungan hidup menjadi cermin hegemoni dan alat genosida, dari model modernitas demokratis menjadi laboratorium kekerasan terorganisir yang dipraktikkan atas nama keamanan.

Dalam pengertian ini, Israel bukan lagi isu Timur Tengah; ia telah menjadi isu dunia.


Pergeseran Diam-diam dalam Kesadaran Global
Dari universitas-universitas Amerika hingga alun-alun di Eropa, dari seniman di Amerika Latin hingga gerakan mahasiswa di Kanada, sebuah kesadaran baru sedang terbentuk yang tidak selalu mencerminkan posisi politik, melainkan penolakan moral.

Generasi baru tidak memandang Palestina sebagai isu nasional yang jauh, melainkan sebagai cermin untuk menguji kebenaran nilai-nilai yang mereka anut: keadilan, kebebasan, dan martabat manusia.

Transformasi diam-diam ini tidak didorong oleh pemerintah, melainkan oleh hati nurani individu yang lelah dengan standar ganda dan logika “hidup yang layak diratapi” dan “hidup yang tidak layak dijalani,” seperti yang dikatakan filsuf Judith Butler.

Ini bukan sekadar kebangkitan politik, melainkan kebangkitan moral.

Masyarakat yang menyaksikan Gaza terbakar menyadari bahwa diam bukan lagi netralitas, melainkan keterlibatan dalam kejahatan.

Sementara para politisi bersikeras mengulang bahasa lama, sebuah kesadaran baru sedang terbentuk, yang memandang Palestina bukan sebagai krisis, melainkan sebagai tolok ukur kemanusiaan.


Penutup
Bisakah kesadaran global muncul dari reruntuhan? Sebuah pertanyaan yang tampak puitis, tetapi pada intinya, ini adalah ujian bagi nurani umat manusia: Mampukah kita belajar dari rasa sakit, ataukah kita hanya melihatnya ketika itu adalah penderitaan kita sendiri?

Gaza mungkin tidak menang dalam arti militer yang lazim, tetapi ia memenangkan pertempuran yang lebih mendalam: pertempuran makna. Kemenangan ini mengungkapkan bahwa kekuasaan bukanlah hak istimewa bagi moral, dan bahwa menjadi korban bukanlah identitas abadi. Kemenangan ini memaksa dunia untuk memandang dirinya bukan sebagai penengah tragedi yang jauh, melainkan sebagai bagian dari struktur yang mereproduksi ketidakadilan atas nama nilai-nilai.

Ketika simbol-simbol lama runtuh, dunia tak lagi sama. Israel, yang citranya dibangun di atas mitos penindasan (sebagai korban), kini berada dalam dilema moral eksistensial: Bagaimana status korban historisnya dapat membenarkan kekejamannya saat ini? Dan bagaimana mungkin sebuah kekuatan yang mengaku membela diri menghancurkan segala sesuatu yang melegitimasi pembelaan?

Topengnya telah jatuh: kekuasaan tidak menjamin kepolosan, dan kelangsungan hidup tidak membenarkan kejahatan.

Dalam citra Gaza, dunia melihat pantulan dirinya sendiri: dunia melihat bahwa seorang korban dapat menjadi algojo ketika ia gagal menghadapi ingatannya, bahwa peradaban dapat berkolusi dengan kebrutalan ketika ia mati rasa dengan bahasa hukum, dan bahwa kebenaran dapat berbicara dengan suara kaum tertindas, bukan suara kaum berkuasa.
Ini bukan perang melawan Gaza semata; ini adalah perang melawan citra dunia tentang dirinya sendiri.

Perang mungkin belum berakhir, tetapi ada sesuatu yang telah merusak kesadaran manusia, dan itu tidak akan mudah diperbaiki.

Dunia tidak lagi memandang Israel sebagaimana adanya, dan mungkin—untuk pertama kalinya setelah sekian lama—dunia mulai memandang dirinya sendiri sebagaimana adanya: sebuah entitas yang terbelah antara tuntutan moralitas dan pelaksanaan dominasi, antara retorika kemanusiaan dan realitas ketidakpedulian.

Di tengah puing-puing dan cermin, sebuah momen kebenaran lahir: bukan hanya tentang Gaza, tetapi tentang apa artinya menjadi manusia di masa ketika makna menjadi manusia sedang terkikis.[RG]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar