Info Sekolah
Kamis, 26 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
16 Oktober 2025

Pesantren, Kiai, dan Harapannya

Kam, 16 Oktober 2025 Dibaca 96x Edukasi

Oleh: K.H. Mukti Ali Qusyairi, M.A., alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri tahun 2001


Sejak semula pesantren hadir membersamai kaum marginal, lemah, jauh dari akses pada kekuasaan dan sumberdaya, miskin, dan pedesaan.

Pesantren adalah lembaga pendidikan alternatif bagi orangtua yang menginginkan anaknya bisa bersekolah dan mesantren agar menjadi anak saleh dengan keuangan keluarga yang lemah, dan lembaga yang dianggap oleh masyarakat bisa menjadi solusi dalam menyelesaikan kenakalan remaja.

Dalam tulisan pendek ini saya mencoba menjelaskan tentang landasan teologis dan sosiologis tiga tradisi pesantren yang penting diketahui publik.


Ndalem

Yang paling terasa dan kentara adalah kiai menjadi bapak asuh bagi anak-anak santri dari kalangan masyarakat kurang mampu. Sebagai anak-anak asuh, sebagian dari mereka rela menjadi ndalem. Dalam tradisi pesantren Jawa ndalem sangat terkenal. Ndalem biasanya diberi pekerjaan-pekerjaan tertentu, misalnya menjaga kantin, memasak, belanja bahan mentah untuk memasak, menjaga tokoh kitab, mengurus sapi ternak, membersihkan rumah dan pekerjaan yang lain.

Imbalan yang didapat dari kiai adalah para ndalem bisa makan dan minum gratis. Biaya sekolah dan pesantren juga gratis. Mendapatkan jamu atau obat untuk kesehatan. Ini baru dari aspek materi.

Ada aspek non materi jauh lebih berharga. Pertama, seorang ndalem punya kesempatan dekat dengan kiai dibanding santri-santri yang lain.

Pandangan seorang ulama yang dituangkan dalam sebuah syair menyebutkan bahwa “obat hati itu di antaranya adalah bergaul dan dekat dengan ulama saleh”.

Kedua, mempelajari skill dan keahlian yang digeluti. Ini bisa menjadi modal atau bekal kelak saat sudah pulang kampung.

Contoh konkret, saya punya teman sekelas namanya Jumeno. Dulunya ia adalah ndalem yang bekerja menjaga toko kitab. Selama menjaga toko, ia belajar bisnis jualan kitab. Ia tahu tempat membeli kitab dengan harga paling murah, grosiran, dan jaringan. Dari hulu ke hilir bisnis tokoh kitab ia kuasai dengan baik.

Akhirnya ilmu bisnis itu sangat bermanfaat saat ia pulang kampung. Ia merintis bisnis toko kitab dan maju.

Ketiga, memiliki mentalitas yang tangguh dan spiritualitas yang kokoh. Kempat, keberkahan. Berkah adalah bertambahnya kebaikan di atas kebaikan. Boleh dibilang keberkahan adalah kebaikan yang terus mengalir. Ada banyak kisah tokoh yang waktu mesantren dulu menjadi abdi dalem kiai. Di antaranya adalah K.H. Azizi Hasbullah, ahli Bahtsul Masail yang dulu menjadi abdi dalem Romo K.H. Ahmad Idris Marzuki. Ia adalah Rais Syuriah PBNU, dan pengasuh pondok pesantren Blitar Jawa Timur. Dan masih banyak yang lain.


Penghormatan

Semua tradisi body language (bahasa tubuh) para santri saat berada di hadapan atau di dekap kiai adalah bagian dari cara menghormati dan memuliakan kiai. Para santri akan pemposisikan diri lebih rendah dari kiai. Secara teknik, ketika kiai sedang duduk di kursi yang rendah, maka para santri akan memposisikan dirinya duduk di lantai. Ini etika penghormatan santri kepada kiai, sama sekali bukan kultus individu kepada kiai. Sama seperti tradisi di sebagian daerah di mana seorang anak menghormati orangtuanya.

Penghormatan dan pemuliaan kepada kiai dilandasi pada sikap kecintaan lantaran kiai adalah orangtua yang mengeluarkannya dari kebodohan menuju pencerahan, dan dari akhlak buruk menuju akhlak baik. Lebih dari itu, kiai adalah seorang yang berilmu, saleh, dan berakhlak mulia yang dalam pandangan Islam layak mendapatkan penghormatan.

Para ulama menyatakan bahwa disunnahkan mencium tangan guru, ulama, orang-orang saleh, dan orang-orang mulia. Imam al-Nawawi dalam kitab Fatâwâ al-Imâm al-Nawawîy menyatakan bahwa “disunnahkan mencium tangan orang-orang saleh dan orang-orang alim yang agung”.

Penghormatan kepada guru, orangtua, orang alim, asketis/zahid, dan sesama adalah bagian dari urusan keagamaan, bukan urusan duniawi.

Dalam hadits Sunan Abî Dâwûd dikatakan bahwa tangan Kanjeng Nabi Saw. dicium oleh para sahabat dan anak cucunya. Sebagaimana Abu Ubaidah mencium tangan Sayyidina Umar bin al-Khatthab yang merupakan sahabat dekat Nabi Saw..

Syaikh Dr. Ahmad Syarbushi dalam kitab Yas`alûnaka fî al-Dîn wa al-Hayâh menyatakan bahwa mencium tangan orang mulia adalah mulia. Mencium tangan kedua orangtua, guru, mursyid rohaniyah, orang saleh, kekasih Allah/wali, atau orang yang agung penebar manfaat adalah mulia, baik, dan dianjurkan.

Syaikh Muhammad Ali Al-Shabuni, di dalam kitab Rawâ`i’ al-Bayân fî Tafsîr Âyât al-Ahkâm, ketika menafsirkan Q.S. Al-Mujadalah: 110, menyebut pendapat jumhur ulama bahwa berdiri atau body language yang lain boleh untuk memuliakan orang lain dari golongan orang-orang mulia dan saleh. Sikap menghormati atau penghormatan adalah wajib bagi seorang muslim. Karena sejatinya menghormati itu adalah jalan cinta dan kasih-sayang.

Sikap ta’zhim dan penghormatan para santri kepada kiai merujuk pada al-Qur`an, hadits, prilaku para sahabat dan pandangan para ulama di dalam kitab kuning.

Penghormatan beragam caranya. Masing-masing punya keunikannya sendiri-sendiri. Misalnya penghormatan dalam dunia militer dan kepolisian, yaitu dengan meletakkan tangan terbuka di samping kepala sebagai tanda hormat. Sama seperti seperti kita hormat kepada bendera negara.

Dalam tradisi negara lain, contoh Jepang, di mana cara menghormati dan menyampaikan ucapan terimakasih adalah dengan membungkukkan badan seperti sedang rukuk dalam shalat.

Ucapan terimakasih dalam tradisi Jepang dan China bahkan kadang diekspresikan dengan bersimpuh di lantai atau bahkan bersujud.

Itu semua adalah ekspresi rasa hormat, cinta dan rasa syukur. Bukan kultus individu. Bukan pula feodalisme. Ekspresi etika, rasa syukur, suka cita, berterimakasih dan cinta adalah bahasa rasa dan intuisi. Karena basis dunia pesantren adalah etika, tasawuf, teologi dan syariat yang dipadukan dengan kearifan lokal.


Bisyarah untuk Kiai

Santri sowan ke kiai di awal tahun ajaran baru pasca liburan di kampung halaman adalah tradisi pesantren yang masih lestari hingga saat ini. Biasanya, berdasar pengalaman saya pribadi, orangtua menitipkan oleh-oleh dan bisyarah (berupa uang) dalam amplop untuk kiai.

Ada empat alasan. Pertama, lillâhi ta’âlâ, semata hanya karena Allah. Sedekah/hadiah atau bisyarah adalah baik kepada siapapun, apalagi kepada kepada guru kita, orangtua kita.

Kedua, seperti dalam bahasa orangtua dulu, untuk titip awak (menitipkan diri). Orangtua yang mengantarkan anaknya untuk bermukim di pesantren, akan bilang ke kiai, “Saya titip anak saya, Kiai.” Orangtua saya sering bilang, “Kita kudu pintar nitipake awak” (Kita wajib pintar menitipkan diri sendiri).

Ketiga, berterimakasih kepada kiai yang sudah direpotkan dan tersita waktunya untuk mendidik santri 24 jam dan bertahun-tahun.

Keempat, meraih keikhlasan dan keberkahan. Karena keikhlasan guru bisa menjadikan santri futuh (terbuka) akal pikirannya sehingga mudah mempelajari pelajaran, mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah.

Amplop yang hanya berisi tak seberapa yang setahun sekali itu sungguh tidak seimbang dengan apa yang sudah diberikan kiai kepada santri. Dan pemberian santri itu inisiatif santri sendiri. Kiai tidak mengharapkan imbalan apapun dari santri-santrinya.

Harapan terbesar kiai adalah santri-santrinya betah di pesantren, rajin belajar dan mengaji, dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Kiai mendoakan dan menirakati (laku spiritual) santri-santrinya. Di malam yang sunyi, kiai memohon kepada Allah supaya santri-santrinya dibukakan akal pikirannya sehingga mudah memahami pelajaran dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah.[]





Jakarta, 16 Oktober 2025

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar