Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Sepak bola bukan sekadar permainan; dunia seakan tak terbayangkan tanpa kehadirannya, sebagaimana halnya tanpa bola basket, bola voli, tenis, atau futsal. Namun, gairah yang ditimbulkan sepak bola tak tertandingi oleh olahraga tim lainnya, begitu pula dampak dari kekalahannya. Sangat jarang seseorang menangis atau pingsan karena tim bola tangannya kalah, atau suatu negara meledak dalam sukacita dan turun ke jalan merayakan kemenangan—kecuali jika itu adalah sepak bola.
Hal ini karena sepak bola bukan sekadar permainan, melainkan sebuah kepercayaan, bahkan bisa disebut sebagai “agama positif” sebagaimana istilah yang digunakan Emile Durkheim. Ia mewujudkan jati diri kolektif, terjalin dengan berbagai ritual, dan berakar pada identitas nasional maupun global. Kekuatannya tidak hanya terletak pada keajaiban di lapangan, melainkan pada keyakinan para penggemar dan keterikatan mendalam mereka padanya—kepercayaan yang bahkan meluas hingga ke kalangan pemerintah.
Bahkan Amerika Serikat, yang dulunya menjauhkan diri dari sepak bola—meski memiliki permainan bernama serupa dan menyebut olahraga ini dengan istilah khusus “soccer”—kini pun merangkulnya. Mereka membentuk tim nasional yang disegani, mendirikan liga profesional, dan menjadi tuan rumah dua kali Piala Dunia, didorong oleh semangat dan pandangan baru terhadap olahraga ini.
Secara hipotetis, jika kepercayaan ini runtuh di suatu negara atau bahkan secara global, sepak bola pun akan ikut musnah. Bukan sepak bola yang menciptakan penggemar, melainkan penggemarlah yang menjadikan sepak bola apa adanya saat ini.
Pada awal kemunculannya di Inggris pertengahan abad ke-19, sepak bola hanyalah gabungan dari permainan tradisional yang dimainkan para pekerja di luar pabrik sebagai sarana hiburan. Tak lama kemudian, ia menyebar ke seluruh Eropa, menyeberang ke Amerika Latin, dan mulai dikenal dunia secara luas pada tahun 1904. Pasca Perang Dunia I dan diselenggarakannya Piala Dunia pertama pada tahun 1930, sepak bola pun mengalami transformasi: menjadi wadah penyaluran dampak kekerasan yang dialami umat manusia selama perang besar tersebut.
Semangatnya diambil langsung dari dunia peperangan: keyakinan, mobilisasi massa, serta taktik menyerang, bertahan, hingga membalas serangan. Pelatih berperan layaknya kepala staf tempur, ucapannya dicermati saksama, dan ia pun boleh menggunakan strategi penyamaran atau tipu daya. Sepak bola adalah perang yang berwujud berbeda.
Itulah sebabnya kemenangan tim disambut kebanggaan setara kemenangan dalam pertempuran bagi sebuah bangsa, sementara kekalahan membawa duka yang dirasakan bukan hanya oleh tim, melainkan seluruh negeri. Pemain yang membawa tim juara—baik lewat gol gemilang maupun penyelamatan krusial—diangkat menjadi pahlawan. Sebaliknya, mereka yang dianggap bertanggung jawab atas kekalahan jarang sekali dimaafkan penggemar.
Pada Piala Dunia 1994, seorang pemain Kolombia mencetak gol bunuh diri, dan luka itu tak pernah sembuh di hati para pendukungnya. Yang paling tragis, ia akhirnya tewas ditembak oleh seorang penggemar. Nasib tak kalah berat menimpa mereka yang gagal mengeksekusi penalti penentu, seperti yang dialami Roberto Baggio dari Italia pada final yang sama melawan Brasil. Kegagalannya membuat ia dianggap merugikan negara, hingga akhirnya memilih mengasingkan diri dari sorotan publik.
Karena berfungsi sebagai sistem kepercayaan, akal sehat sering kali terpinggirkan. Semangat sportivitas yang seharusnya menjadi jiwa sepak bola pun memudar, tinggal menjadi serangkaian ritual tanpa makna kebersamaan yang sesungguhnya.
Sepak bola terus berevolusi, bukan hanya dalam aturan mainnya, melainkan pada hakikatnya sendiri. Pemerintah pun tak ragu menjadikannya alat politik. Di satu sisi, hal ini membawa dampak positif: memperkuat rasa kebersamaan dan kebanggaan nasional. Contohnya, setelah Prancis menjuarai Piala Dunia 1998, slogan “Hitam, Putih, Arab” mencerminkan identitas baru bangsa tersebut—sebuah kemenangan bagi seluruh elemen masyarakat, dilambangkan oleh sosok Zinedine Zidane. Slogan ini sekaligus menjadi jawaban atas maraknya isu rasisme dan perpecahan sosial saat itu.
Namun di sisi lain, sepak bola juga bisa berbalik merugikan: mengalihkan perhatian masyarakat dari masalah mendasar, bahkan memicu sikap tidak toleran. Hal ini membuat sejumlah intelektual menyebutnya sebagai “candu bagi massa”—menutupi kekurangan dan kesulitan nyata yang dihadapi rakyat, meski penilaian ini tentu sangat ekstrem.
Di tengah dunia yang kembali diwarnai kekerasan dan perang, sepak bola hadir sebagai “perang yang bersih”. Ia menawarkan semangat juang, kejayaan, dan mobilisasi yang sama seperti perang nyata, namun tanpa pertumpahan darah, kehancuran, atau duka yang mendalam.
Meski begitu, kekurangan yang melekat tak bisa diabaikan. Kepercayaan buta bisa berubah menjadi fanatisme, penolakan terhadap pihak lain, hingga fitnah. Energi yang seharusnya tersalurkan secara beradab justru meluap menjadi kekerasan kasar—baik di lapangan, tribun, maupun di luar stadion—yang dibalut kebencian.
Selain itu, sepak bola kini tergerus oleh uang. Klub, perusahaan, dan industri iklan perlahan mengatur arah kebijakannya. Bahkan identitas nasional pun menjadi samar, karena ikatan pemain dengan negara hanya kuat saat turnamen internasional berlangsung.
Karena itulah sepak bola perlu ditinjau kembali dengan kacamata filsafat: apa tujuan sejatinya? Tidak mungkin puluhan negara berlomba tanpa mengingat misi utamanya: menjembatani pemahaman dan rekonsiliasi antar bangsa. Sepak bola sejatinya menyalurkan energi kekerasan, bukan menyulutnya. Ia perlu dikaji mendalam agar sistem kepercayaan yang tumbuh di dalamnya dapat diarahkan untuk menyatukan bangsa-bangsa, bukan memecah belah.
Kita sendiri mungkin pernah mengubah pandangan terhadap sepak bola: dari kepercayaan mutlak, menganggapnya sekadar candu, hingga kini melihatnya sebagai bentuk peperangan yang beradab di tengah kian maraknya konflik dunia. Namun, kita tak boleh menutup mata atas risiko distorsi: ketika kepercayaan menjadi buta, ia bisa menjauhkan kita dari realitas dan berubah menjadi sarang kebencian.
Peran jurnalis dan tokoh publik pun sangat penting dalam menjaga arah ini. Mereka menjadi saksi sekaligus pengingat bahwa kemenangan di lapangan tak serta-merta menghapus kemiskinan dan ketimpangan sosial di dunia nyata, dan kekalahan tak boleh memadamkan semangat sportivitas. Tujuan dari perayaan olahraga unik ini tetap satu: menyatukan manusia, bukan menabur perselisihan di antara mereka.[]
Tinggalkan Komentar