Assalamu’alaikum, Kiai.
Saya adalah perempuan yang sudah menikah, tetapi kemudian bercerai karena suami saya berselingkuh dengan sahabat dekat saya yang kebetulan bekerja sekantor dengan suami saya. Saya tidak tahu, apakah karena dalam Islam laki-laki dibolehkan menikahi empat perempuan lantas ia dengan semaunya menjalin hubungan dekat dengan perempuan lain di belakang istrinya? Mulanya saya coba bersabar dan menerima, tetapi akhirnya, sebulan yang lalu, karena saya mendapati suami saya mengulangi kesalahannya, saya memilih untuk bercerai.
Di sini saya hanya ingin curhat, Kiai. Tidak ingin bertanya. Saya hanya ingin ada yang mau mendengar keluh kesah saya. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.
Annisa Haurany, Cirebon
Terima kasih curahatannya, Mbak Annisa.
Semoga Allah Swt. senantiasa memberi Mbak Annisa kesabaran, ketabahan, dan kekuatan dalam mengarungi hidup yang penuh lika-liku ini.
Tetap semangat dan optimis. Selama kita selalu bersandar kepada Allah Swt., Zat Yang Mahakuasa dan Maha Perkasa, semua akan baik-baik saja. Amin…
Kita sering mendengar tentang laki-laki yang telah beristri berselingkuh dengan seorang perempuan lajang, dan akhir dari hubungan ini berbeda-beda seiring dengan perkembangannya: berakhir dengan kembalinya laki-laki tersebut kepada istrinya, atau berakhir dengan perceraian dan laki-laki itu menikahi “kekasih gelapnya”.
Ada yang bertanya, apakah laki-laki yang sudah menikah dianggap berkhianat jika ia menjalin “hubungan cinta” dengan perempuan selain istrinya? Tidak perlu mengutip ayat atau hadits, karena jawabannya “qath’îy” (pasti), bahwa hubungan apa pun yang dijalin seseorang yang sudah menikah di luar pernikahannya tidak bisa dianggap kecuali sebagai “pengkhianatan”!
Sekalipun hubungan tersebut tidak berkembang menjadi “hubungan badan”, tidak ada dalil yang membenarkan laki-laki atau perempuan melakukan pengkhianatan atas pernikahannya. Banyak orang yang membenarkan pengkhianatannya dengan apa yang sering disebut sebagai “cinta suci” untuk menutupi perbuatannya yang “buruk atau hina”.
Ketika seorang laki-laki mengkhianati istrinya dengan berkata kepada perempuan lain, “Aku mencintaimu”, ia akan segera mencari pembenaran yang tidak ada habisnya untuk membuat hubungan yang ia jalin “secara gelap” itu menjadi hubungan yang seolah-olah dilegitimasi oleh “cinta suci”.
Ia akan berkata bahwa ia tidak dapat menahan perasaannya terhadap “kekasih gelapnya”, dan bahwa itu berada di luar kendalinya, dan seterusnya. Di sini kita berhadapan dengan masalah sangat mendasar, yang terletak pada kenyataan bahwa hubungan tersebut, bagaimanapun, tidak bisa dibenarkan.
Tidak ada kata yang lebih pantas untuk itu kecuali “pengkhianatan”. Tidak ada alasan yang meringankan apalagi membenarkan, dan tidak bisa disebut “cinta suci” untuk bisa terbebas dari “suara hati nurani”, setulus apapun cinta laki-laki tersebut terhadap “kekasih gelapnya”.
Mungkin kita bisa menyebutnya “pengkhianatan yang dimotivasi oleh cinta”, tetapi itu tidak mengurangi beban pengkhianatan dan juga tidak bisa mendistorsi kebenaran bahwa itu adalah pelanggaran terhadap aturan pernikahan.
Motif Selingkuh
Ada sederet motif yang membuat seorang laki-laki “mencintai” perempuan selain istrinya. Sebagian terkait dengan pernikahannya, dan sebagian lain terkait dengan kepribadiannya. Tetapi harus digarisbawahi, bahwa apa-apa yang disebutkan di bawah ini tidak bisa dianggap sebagai pembenaran bagi seseorang untuk memasuki “hubungan cinta” di luar biduk pernikahannya.
Dalam beberapa kasus, selain karena krisis psikologis yang mendorong seorang laki-laki menjalin “hubungan cinta” dengan beberapa perempuan, hubungan yang kurang baik dengan istri termasuk di antara motif yang bisa membuat laki-laki mencari “cinta” di luar rumah. Bila hubungan dengan istrinya baik, potensi untuk menjalin “hubungan cinta” lain akan lebih kecil.
Umumnya, laki-laki sering menganggap problem-problem di dalam rumah tangganya sebagai alasan utama untuk menjalin “hubungan cinta” dengan perempuan lain. Terkadang ia melihat dirinya, setelah beberapa tahun menikah, perlu merasakan “pengalaman cinta” yang lain, yang tidak ia rasakan bersama istrinya, bahkan meskipun istrinya sangat tulus mencintainya.
Laki-laki juga mencoba melemparkan tanggungjawab kepada “stres” yang dialaminya, seperti masalah pekerjaan atau krisis keuangan, dan lain sebagainya. Ia akan memanfaatkan semua itu sebagai alasan ketika ia terlibat dalam cinta dengan perempuan lain supaya ia dapat “berdamai” dengan dirinya sendiri dan lepas dari “perasaan bersalah”.
Memang, perasaan “cinta” atau “suka” muncul tanpa “dikehendaki”. Tetapi kalau seseorang membiarkannya berkembang dengan menyatakannya secara terbuka dan ia memutuskan untuk melanjutkan hubungan itu meski ia sadar bahwa ia telah mempunyai pasangan, maka itu berarti telah “dikehendaki”, dan dengan demikian ia telah jatuh ke dalam “perselingkuhan” yang berarti ia telah mengkhianati pernikahannya.
Keputusan Mbak Annisa yang memilih untuk bercerai adalah keputusan yang tepat!
Kau menyukai suatu makanan, lalu kau memakannya, hingga masuklah makanan itu ke dalam perutmu. Jika setelah itu ternyata perutmu sakit, tentu kau akan buru-buru ke kamar kecil untuk mengeluarkannya—makanan yang kau santap itu telah menjadi kotoran yang harus kau keluarkan, kau ikhlas membuangnya. Dan perutmu pun menjadi nyaman.
Demikian juga, kau mencintai seseorang, lalu kau memasukkannya ke dalam kehidupanmu. Bila di kemudian hari ternyata ia mengkhianati dan menyakiti hatimu, keluarkanlah segera—anggaplah ia seperti kotoran yang telah menodai kehidupanmu, kau harus melupakannya agar hatimu tenang dan tenteram.
Itu yang bisa kami sampaikan. Terima kasih…
Tinggalkan Komentar