Kini, Rabiul Awal—bulan lahirnya sang kekasih, yang terpilih—telah datang. Dari cahayanya memancar segala sinar; bulan-bulan menerima penerangan dari cahaya wajahnya, dan matahari pun bersinar terang karena terbitnya. Beliaulah Tuan serta Guru kita Muhammad, sang penghias para utusan mulia. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat, salam, dan kemuliaan atas beliau, keluarga yang suci, serta para sahabat yang saleh, sepanjang silih bergantinya malam dan siang.
Telah hadir pula musim semi bagi hati kita, membawa semerbak angin cinta kepada sang kekasih. Cinta beliau menjadi nyawa bagi jiwa dan kekuatan bagi hati; mengingat beliau adalah penawar bagi dada, dan doa serta salam kepada beliau terasa ringan namun penuh makna.
Inilah kekasih yang dipilih Allah sejak semula, diangkat menjadi pemimpin keturunan Adam, serta dianugerahi keberkahan, akhlak mulia, dan ucapan yang sarat makna. Melalui beliau, Allah meninggikan derajat umat Muslim di atas segala bangsa.
Selamat datang, bulan yang penuh wangi kesturi dan keharuman sejak terbitnya hilal!
Selamat datang, bulan yang paling mulia! Bersama terbitnya mentari kebenaran dan cahaya.
Selamat datang, bulan anugerah; di dalamnya Allah telah melimpahkan kebaikan yang luas.
Selamat datang, bulan kasih! Segala waktu di dalamnya penuh kenyamanan, ketenangan, dan kasih sayang.
Selamat datang, bulan kelahiranmu! Kebahagiaan telah menyingsing di alam semesta.
Selamat datang, bulan syafaat! Melalui beliau, kabar gembira telah hadir di dunia.
Selamat datang, bulan wahyu! Cahaya petunjuk menerangi jalan kami di dalamnya.
Selamat datang, bulan persahabatan! Engkau datang membawa kebaikan yang melimpah.
Bulan yang terkasih ini adalah musim semi hati. Di dalamnya, hati para pencari terbuka lebar menerima rahmat, serta kedatangan kelembutan, kerinduan, dan cinta yang turun menyapa. Janganlah kita melewatkan limpahan rahmat dan cahaya ini; tanamkanlah di dalam hatimu cinta kepada sang kekasih, sumber segala cahaya.
Beliau adalah mentari pagi, harta karun karunia, dan pemimpin para utusan. Cahaya beliau begitu luhur sehingga para malaikat tunduk hormat, dan benda-benda langit tunduk serta berputar menurut ketetapannya. Benarlah firman-Nya: “Jika bukan karena engkau, niscaya Aku tidak menciptakan alam semesta.” Demi kemuliaan beliau, Allah menciptakan segala makhluk dan melimpahkan nikmat yang tiada putusnya. Allah senantiasa memberkati beliau.
Berbahagialah hamba yang hatinya terikat pada cinta Allah, lidahnya rutin mengingat-Nya, dan jiwanya diterangi cahaya petunjuk beliau. Sebagaimana firman Allah: “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.”
Berbahagialah orang yang sepenuh hati berupaya mendekatkan diri kepada Rasulullah, memahami dan mengamalkan ajaran beliau. Rahmat dan salam tercurah kepada makhluk Allah yang paling mulia, yang hidupnya penuh dengan kasih sayang, mengisi hati orang miskin dan lemah dengan sukacita, serta menghiasi penampilan dengan adab yang diridhai-Nya.
Rasulullah tidaklah jauh atau terpisah dari kita; beliau senantiasa menyertai kita, bahkan lebih dekat daripada diri kita sendiri. Allah berfirman: “Dan di antaramu ada Rasulullah.” Artinya, di dalam sanubari kita tersimpan rahasia-Nya dan cahaya-Nya. Namun, tabir gelap jiwa seringkali menghalangi kita untuk memandang cahaya dan keindahan abadi beliau. Jika tabir itu dapat disingkap dengan usaha yang tulus dan keikhlasan, maka akan terbitlah fajar pertemuan dan kedamaian. Janganlah kita terjebak dalam kekeringan batin atau kesepian jiwa yang membelenggu.
Bukankah di dalam diri kita ada kerinduan akan pertemuan, dan di dalam jiwa ada kerinduan akan bulan purnama? Bagaimana mungkin kita tidak merindukan beliau, padahal segala sesuatu diciptakan dari cahaya beliau? Bagaimana mungkin hati kita tak tergetar, ketika melihat bukti keagungan beliau: batu dan pohon tunduk hormat, awan melindungi, bulan terbelah sebagai mukjizat, dan gunung bergetar bahagia saat beliau berpijak di atasnya.
Bagaimana mungkin kita menganggap diri kita lebih pantas daripada alam semesta ini? Allah telah memuliakan kita, menjadikan kita umat pilihan beliau, dan mengangkat derajat kita sebagai pengikut risalah beliau. Sungguh, Rasulullah begitu merindukan kita: “Umatku, umatku,” begitulah selalu terucap dari bibir mulia beliau. Ketika menerima karunia, beliau bertanya: “Apakah umatku juga merasakannya?” Di saat-saat sulit, beliau berseru: “Ya Allah, ringankanlah beban umatku.” Di akhirat kelak, beliau akan bangkit dengan seruan: “Umatku, umatku!” dan di hari kiamat beliau akan memohon syafaat: “Ya Tuhanku, umatku.”
Melihat kasih sayang, kelembutan, dan cinta yang begitu besar, masihkan kita mengabaikan beliau? Masihkan hati kita berpaling, melalaikan sunnah beliau, atau menelantarkan ajaran dan akhlak beliau demi urusan dunia?
Kita wajib memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, mengisinya dengan dzikir dan kasih kepada beliau. Kita persembahkan diri dan harta kita sebagai tanda cinta, berjalan menuju kehadirat-Nya hingga kita tenggelam dalam kasih sayang-Nya dan menyerap sifat-sifat luhur beliau.
Meski kita masih tertutup kabut kegelapan dan terhalang jarak yang jauh, namun ketulusan doa dan kesabaran mengetuk pintu kebaikan siang dan malam pasti akan membuahkan hasil. Semoga Allah yang Maha Pemberi membukakan pintu rahmat-Nya, mengangkat tabir penghalang, dan mempertemukan kita dengan sang kekasih. Bangkitlah dengan serius dan ikhlaslah dalam berusaha, karena barangsiapa mencari dengan sungguh-sungguh, ia akan menemukannya.
Mari kita jadikan bulan Rabi’ul Awal ini sebagai musim di mana kita membasuh hati dengan wangi-wangian rahmat Allah. Di dalam bulan ini, kita perbanyak shalawat dan salam kepada Nabi kita—manusia pilihan yang menjadi perantara ampunan bagi Adam dan seluruh keturunannya. Sebagaimana dijanjikan: “Barangsiapa bershalawat satu kali, Allah akan membalas sepuluh kali lipat.” Dengan shalawat dan doa para malaikat, kita pun beranjak dari kegelapan menuju cahaya terang. Hati kita pun menjadi bercahaya dengan cahaya beliau.
Mari kita lestarikan majelis shalawat di rumah dan di tempat ibadah—pertemuan yang membawa ketenangan, dikelilingi para malaikat, dan memancarkan aroma surga. Terutama di masa kini yang penuh ujian, kita sangat membutuhkan berkah dan kekuatan. Ujian seringkali datang karena kita melalaikan dzikir dan cinta kepada Nabi. Jika ingin hujan rahmat turun, maka perbanyaklah shalawat kepada penutup para nabi, yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Marilah kita menjaga adab dan kesucian diri di bulan kelahiran beliau, serta berjuang untuk mengabdi pada agama dan seruan beliau. Kita sebarkan kegembiraan di hati orang-orang yang lemah dan membutuhkan, sebagaimana sabda beliau: “Barangsiapa menghibur hati seorang muslim, maka Allah akan ridha kepadanya.” Bukankah kita ingin menyenangkan hati Rasulullah, yang senantiasa memohon ampun bagi kita setiap hari? Tanpa perantaraan dan kasih sayang beliau, kita tidak akan menemukan jalan pulang.
Mari kita jadikan bulan kelahiran ini sebagai titik terang bagi hati kita, dan biarkan sukacita meluap di seluruh dunia atas kelahiran Sang Nabi. Semoga semboyan kita selalu: “Mencintai Nabi adalah penyemangatku, dan bershalawat kepadanya adalah berkah serta bekal hidupku.”[]
Tinggalkan Komentar