Info Sekolah
Sabtu, 04 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
18 Maret 2026

Mahlan, ya Ramadhan…

Rab, 18 Maret 2026 Dibaca 23x Hikmah

Oleh: Kiai Moh. Hidayat, Lc., S.Th.I., Dewan Pengasuh dan Pimpinan Majelis Dzikir dan Pikir Pondok Pesantren Al-Fattah Kuningan



Ketika Ramadhan baru hadir di tengah-tengah kita, kita katakan, “Marhaban, ya Ramadhan” (Selamat datang, wahai Ramadhan). Dan saat Ramadhan hendak meninggalkan kita, kita katakan, “Mahlan, ya Ramadhan,” (Pelan-pelan, wahai Ramadhan).

Bagi orang beriman, Ramadhan laksana kekasih, yang kehadirannya sangat dinantikan. Kala datang, ia disambut dengan suka cita dan bahagia. Saat akan berakhir, akan segera pergi, kesedihan akan mendera hati, “Jangan buru-buru pergi, tinggallah lebih lama,” berat sekali untuk dilepaskan.

Ramadhan hanya datang sekali dalam setahun. Bagi hamba yang beriman, yang tahu nikmatnya Ramadhan, jangankan setahun, sehari saja adalah waktu yang sangat lama untuk sebuah penantian dalam kerinduan. Begitu bertemu, merasakan manis dan lezatnya, lalu akan berpisah, itu pasti menyisakan duka batin yang mendalam. Tidak tahu, apakah tahun depan masih bisa bertemu? Apakah semua ibadah dan amal kebaikan yang dilakukannya selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah Swt.?

Ada dua ciri dan indikasi ibadah dan amal kebaikan Ramadhan seorang hamba diterima oleh Allah Swt.:

Pertama, mu’awadah al-khayr (kembali melakukan kebaikan), menggambarkan konsistensi atau pembiasaan diri untuk terus berbuat kebaikan (istiqamah). Artinya, kebaikan seorang hamba tidak hanya dilakukan di bulan Ramadhan saja, tetapi terus belanjut dan menjadi kebiasaan di bulan-bulan selain Ramadhan.

Ibnu Rajab al-Hanbali di dalam kitab Latha’if al-Ma’arif mengatakan,


فإن الله إذا تقبل عمل عبد وفقه لعمل صالح بعده، كما قال بعضهم: ثواب الحسنة الحسنة بعدها. فمن عمل حسنة ثم اتبعها بعد بحسنة، كان ذلك علامة على قبول الحسنة الأولى. كما أن من عمل حسنة ثم اتبعها بسيئة، كان ذلك علامة رد الحسنة و عدم قبولها ​

“Jika Allah menerima amalan seorang hamba, niscaya Dia memberikan taufik (kemudahan/kemampuan) untuk melakukan amal saleh setelah itu.​ Sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama, ‘Balasan dari kebaikan adalah kebaikan selanjutnya.’ Oleh karena itu, orang yang melakukan kebaikan lantas diikuti dengan kebaikan selanjutnya, maka itu tanda amal kebaikan yang pertama diterima. Sedangkan orang yang melakukan kebaikan lantas setelahnya melakukan keburukan, maka itu tanda tertolaknya kebaikan tersebut dan tanda tidak diterimanya.”


Ibnu Katsir berkata di dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim,


مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan keburuka adalah keburukan selanjutnya.”


Kedua, ‘adam al-ruju’ ila al-‘ishyan (tidak lagi melakukan perbuatan maksiat). Menjaga konsistensi ketaatan dengan tidak kembali melakukan maksiat setelah Ramadhan adalah tanda diterimanya ibadah dan amal kebaikan, karena tujuan puasa adalah mendidik jiwa untuk meraih takwa.

Sebagai hamba yang beriman, kita harus mempertahankan dan meningkatkan kualitas ibadah dan amal kebaikan di luar bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan, di tengah suasana dan atmosfer puasa, kita mudah melakukan ibadah dan amal kebaikan. Kita mampu shalat 11 atau bahkan 23 rakaat Tarawih dan Witir setiap malam, ditambah shalat Tahajjud dan shalat Nawafil lainnya, berpuasa setiap hari selama sebulan penuh.

Namun, di luar bulan Ramadhan, kebiasaan itu kita tinggalkan. Jangankan puasa 30 hari, sekadar puasa Senin-Kamis saja kita malas. Jangankan shalat 11 atau 23 rakaat, semata shalat Tahajjud 2 rakaat saja kita merasa berat. Padahal, Ramadhan adalah madrasah (tempat pelatihan) untuk membentuk ketaqwaan yang konsisten sepanjang tahun. 

Mari kita berdoa semoga Ramadhan tahun ini bukan Ramadhan terakhir bagi kita. Semoga Allah memberi kita kesehatan dan panjang umur agar kita dapat bersua dengan Ramadhan di tahun-tahun mendatang. Amiiiin…


اَللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْهُ آخِرَ الْعَهْدِ مِنْ صِيَامِنَا إِيَّاهُ، فَإِنْ جَعَلْتَهُ فَا جَعَلْنِي مَرْحُوْما وَلَا تَجْعَلْنِي مَحْرُوْمًا

“Ya Allah, jangan jadikan Ramadhan ini bulan terakhir bagi puasa kami. Jika Engkau menjadikannya seperti itu (Ramadhan terakhir), maka jadikanlah aku orang yang Engkau kasihi, bukan yang Engkau jauhi.”



*) Disampaikan dalam Kultum Tarawih di Pendopo Al-Fattah, Al-Fattah III, Kp. Kaliwon, Ds. Windujanten, Kec. Kadugede, Kab. Kuningan, Selasa, 17 Maret 2026

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar