Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Sejarah tak pernah sepenuhnya lurus dan sempurna, demikian pula sejarah Islam. Sejarah adalah pantulan realitas yang beragam, dengan tokoh dan peristiwa yang terus berubah. Meski setiap zaman memiliki corak khasnya, pada hakikatnya manusia tetaplah sama: memiliki dorongan, perasaan, dan keinginan untuk berkuasa—baik laki-laki maupun perempuan. Sejak masa-masa awal Islam, perempuan telah memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan, ikut mengarahkan jalannya pemerintahan, dan memengaruhi kehidupan serta nasib kaum laki-laki.
Masa kekhalifahan Abbasiyah yang dimulai dari Abu al-Abbas al-Saffah, diteruskan oleh Abu Ja’far al-Manshur, hingga putra dan cucunya seperti al-Hadi, al-Rasyid, al-Amin, al-Ma’mun, al-Mu’tashim, al-Watsiq, dan al-Mutawakkil—yang berlangsung lebih dari satu abad—dikenal sebagai zaman kejayaan, kemajuan ilmu pengetahuan, dan persatuan wilayah setelah masa kemunduran Bani Umayyah.
Namun di balik kemegahan zaman keemasan Abbasiyah (132–247 H), terdapat sejumlah perempuan di lingkungan istana yang turut berperan besar. Yang paling menonjol di antaranya adalah Khaizuran binti Atha’, seorang perempuan asal Yaman, istri Khalifah al-Mahdi bin Abi Ja’far al-Manshur (w. 169 H), sekaligus ibu dari dua khalifah: Musa al-Hadi (w. 170 H) dan Harun al-Rasyid (w. 193 H).
Selama puluhan tahun, Khaizuran ikut memegang kendali urusan politik dan istana—baik di masa suaminya al-Mahdi, maupun di masa kedua putranya. Hingga akhirnya meletus perselisihan yang masyhur antara dirinya dan putra sulungnya, Musa al-Hadi. Sang putra merasa muak dengan campur tangan ibunya dalam segala hal, bahkan dalam menyelesaikan perkara rakyat dan memenuhi kebutuhan mereka.
Akibatnya, di mata masyarakat maupun kalangan elit, al-Hadi tampak bagaikan khalifah yang lemah dan tak berwenang. Maka timbul pertanyaan: siapakah sebenarnya Khaizuran al-Yamani? Bagaimana nasibnya berubah hingga menjadi istri Khalifah al-Mahdi? Dan bagaimana pengaruhnya tumbuh sedemikian rupa, sehingga orang-orang berbondong-bondong mendatangi pintu kediamannya?
Dari Seorang Hamba hingga Menjadi Ibu Khalifah
Khaizuran binti Atha’ al-Jarsiyah al-Yamaniyah adalah satu-satunya perempuan yang melahirkan dua khalifah besar Abbasiyah. Awalnya ia adalah seorang hamba sahaya yang dipersembahkan kepada Khalifah al-Mahdi Muhammad bin Abi Ja’far al-Manshur (berkuasa 158–169 H). Dikisahkan bahwa al-Mahdi tertarik kepadanya dan berkata: “Demi Allah, wahai hamba perempuan, engkau sungguh perempuan yang sangat diinginkan, namun kakimu terlihat lemah.” Khaizuran menjawab dengan bijak: “Tuanku, justru engkau sangat membutuhkannya, namun engkau belum menyadarinya.” Terpesona oleh kecerdasannya, al-Mahdi pun membelinya. Ia lalu meraih kedudukan mulia di hati sang khalifah, dan melahirkan dua putra: Musa dan Harun.
Kasih sayang al-Mahdi yang begitu besar mengangkat derajat Khaizuran semakin tinggi. Lama-kelamaan, ia mulai memainkan peran politik yang nyata dan berpengaruh. Utusan dan rombongan sering kali mendatangi kediamannya bahkan sebelum menghadap sang khalifah sendiri. Sebagian sejarawan menyebutkan: “Khaizuran memegang kendali penuh atas urusan pemerintahan di masa al-Mahdi. Ia berhak memberi perintah dan melarang, memberi persetujuan dan membatalkan ketetapan. Orang-orang terus berdatangan berdesakan di depan pintunya.”
Berkat pengaruhnya, Khaizuran akhirnya membujuk al-Mahdi untuk menetapkan Harun al-Rasyid sebagai putra mahkota, menggantikan kakaknya Musa al-Hadi—semata karena kasih sayangnya kepada Harun dan ketaatan putra bungsunya itu kepadanya. Namun rencana itu belum sempat terlaksana saat al-Mahdi wafat, di saat Musa al-Hadi sedang berada di wilayah Jurjan, Iran Utara, untuk menumpas pemberontakan.
Kematian al-Mahdi nyaris memicu krisis besar. Pasukan yang menginginkan kekosongan kekuasaan berusaha memanfaatkan situasi. Namun dengan kecerdikan dan keteguhan hati, Khaizuran berhasil mengatasinya. Ia segera memanggil para pejabat tinggi, termasuk Wazir al-Rabi’ dan Yahya bin Khalid al-Barmaki, untuk menyusun langkah penyelamatan. Khaizuran mengeluarkan sejumlah harta untuk membayar gaji prajurit selama dua tahun penuh. Dengan demikian, amarah pasukan pun mereda dan ketertiban segera pulih.
Pertentangan Ibu dan Anak
Meski Khaizuran berperan besar dalam melancarkan peralihan kekuasaan kepada Musa al-Hadi, peristiwa itu justru menjadi titik awal pertikaian antara ibu dan anak. Al-Hadi merasa kesal dan cemburu melihat para tokoh negara terus berdatangan menemui ibunya. Padahal, selama empat bulan pertama masa kekuasaannya, al-Hadi masih sangat berbakti dan patuh kepada ibunya. Namun pengaruh Khaizuran terus meluas, sehingga sejarawan al-Mas’udi menulis dalam kitabnya, Murûj al-Dzahab: “Rombongan tak pernah putus dari depan pintunya. Sebuah syair pun menggambarkan hal itu: Wahai Khaizuran, segala urusan berputar di tanganmu, sebab rakyat diperintah oleh kedua putramu.”
Lama-kelamaan, yang datang bukan hanya rakyat biasa, melainkan para panglima, pejabat, dan tokoh negara—termasuk kepala kepolisian Abdullah bin Malik—yang memohon agar Khaizuran memohonkan hajatnya kepada khalifah. Hal inilah yang akhirnya meledakkan kemarahan al-Hadi. Terjadilah pertemuan yang penuh ketegangan antara ibu dan anak. Al-Mas’udi mencatat:
Khaizuran berkata: “Kau harus mengabulkan permintaanku.”
Al-Hadi menjawab: “Aku tidak akan melakukannya.”
Khaizuran bersikeras: “Aku telah menjamin pengabulannya untuk Abdullah bin Malik.”
Al-Hadi murka dan berseru: “Celaka! Demi Allah, aku tidak akan menuruti satu pun permintaanmu!”
Khaizuran pun berkata: “Kalau begitu, demi Allah, aku takkan pernah meminta apa pun lagi kepadamu.”
Al-Hadi menjawab: “Silakan saja, aku pun tak peduli.”
Al-Hadi kemudian memperingatkan ibunya dengan tegas: “Tetaplah di rumahmu dan pahamilah kata-kataku. Demi Allah, jika ada panglimaku, orang kepercayaanku, atau pelayanku yang berani berdiri di depan pintumu, akan kupenggal lehernya dan kurampas hartanya. Apakah setiap hari harus ada rombongan yang datang ke pintumu? Tidakkah kau memiliki alat tenun untuk menyibukkan dirimu, atau al-Qur’an untuk mengingatkanmu, atau rumah untuk berlindung? Berhati-hatilah, jangan kau campuri urusan siapa pun yang berada di bawah perlindunganmu.”
Tak berhenti di situ, al-Hadi pun mengumpulkan para panglima dan pejabat yang biasa mendatangi ibunya. Ia bertanya: “Siapakah yang lebih baik, aku atau kalian?” Mereka menjawab: “Engkau, wahai Amirul Mukminin.” Lalu ia bertanya lagi: “Siapakah yang lebih baik, ibuku atau ibu kalian?” Mereka menjawab: “Ibumu, wahai Amirul Mukminin.” Al-Hadi pun berkata: “Maka manakah di antara kalian yang rela jika ibumu dibicarakan orang ke sana kemari? Tidakkah kalian membenci hal itu?” Mereka menjawab: “Benar, kami tidak menyukainya.” Al-Hadi menegaskan: “Lalu mengapa kalian mendatangi ibuku dan memperbincangkannya?” Sejak saat itu, para pejabat berhenti mendatangi Khaizuran. Sang ibu pun merasa sedih, menjauh dari putranya, dan bersumpah takkan pernah berbicara dengannya lagi.
Pertentangan itu makin memuncak. Dikisahkan bahwa al-Hadi berniat mencabut hak suksesi Harun al-Rasyid dan menyerahkannya kepada putranya sendiri yang masih kecil. Hal ini membuat Khaizuran berang. Hubungan keduanya menjadi penuh kecurigaan. Al-Thabari mencatat bahwa al-Hadi pernah mengirimkan hidangan makanan kepada ibunya sambil berkata: “Aku merasa makanan ini lezat, maka kau pun boleh memakannya.” Namun pelayan Khaizuran curiga dan mencobanya kepada seekor anjing—ternyata anjing itu mati seketika. Khaizuran pun memanggil putranya dan berkata: “Bagaimana menurutmu makanan itu?” Al-Hadi menjawab: “Sangat lezat.” Khaizuran menegur: “Kalau begitu, mengapa engkau tidak memakannya sendiri? Jika aku memakannya, tentulah engkau telah menyingkirkanku. Adakah seorang anak yang beruntung dengan perlakuan seperti itu terhadap ibunya?”
Tak lama kemudian, al-Hadi jatuh sakit. Di saat-saat terakhirnya, ia mengirim pesan kepada ibunya, memohon agar datang. Ia berkata: “Aku akan berpulang malam ini, dan saudaraku Harun akan menggantikanku. Segala perintah dan larangan yang kukemukakan kepadamu sebelumnya adalah demi kebijakan pemerintahan, bukan karena kurang bakti kepadamu. Aku tetaplah anak yang berbakti dan mencintaimu.” Tak lama setelah itu, Musa al-Hadi berpulang ke Rahmatullah di usia yang masih sangat muda—dua puluh lima tahun.
Kembali Berkuasa dan Akhir Hayatnya
Setelah wafatnya al-Hadi, Khaizuran segera mengambil alih kendali. Ia memanggil panglima pasukan Hartsamah bin A’yan untuk mengamankan sumpah setia kepada Harun al-Rasyid, sekaligus memanggil Yahya bin Khalid al-Barmaki untuk menjadi penasihat dan wazir. Kembalilah Khaizuran ke puncak kekuasaannya. Selama tiga tahun pertama kekhalifahan Harun al-Rasyid—yang sekaligus menjadi tiga tahun terakhir hidupnya—Khaizuran memegang kendali pemerintahan. Al-Thabari mencatat: “Segala urusan negara berada di bawah tanggung jawab Khaizuran. Yahya al-Barmaki pun senantiasa berkonsultasi dengannya dan melaksanakan segala pandangannya.”
Selama hampir dua puluh tahun, dari masa al-Mahdi hingga awal masa Harun al-Rasyid, para pejabat tinggi negara tunduk pada kata-kata Khaizuran. Bahkan Harun al-Rasyid sendiri pernah mengakui kepada wazirnya setelah wafatnya ibunya: “Aku berniat mengangkatmu ke jabatan tinggi pada suatu malam, namun ibuku mencegahku. Maka aku pun menuruti perintahnya.”
Pada tahun 173 H, Khaizuran—perempuan yang melahirkan dua khalifah dan menjadi perempuan pertama yang memimpin politik Abbasiyah dengan penuh keberanian—berpulang ke Rahmatullah. Ia telah berjuang sekuat tenaga untuk menjaga kedudukan dan pengaruhnya, bahkan hingga masa pemerintahan Harun al-Rasyid, yang pun tak berani menentang kehendak ibunya. Hingga kini, nama Khaizuran tetap tercatat dalam sejarah sebagai sosok luar biasa yang dari seorang hamba sahaya, mampu mengangkat derajatnya hingga memegang kendali kekuasaan di atas takhta kekhalifahan terbesar pada masanya—semata-mata dari balik layar.[]
Tinggalkan Komentar