Info Sekolah
Selasa, 25 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
29 Oktober 2025

Kenapa Santri Perlu Menulis?

Rab, 29 Oktober 2025 Dibaca 129x Edukasi

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah


Sering muncul pertanyaan mendasar: mengapa santri perlu terlibat dalam kegiatan menulis? Sebagai generasi penerus ajaran Islam, santri dituntut untuk memandang warisan masa lampau dengan cara pandang yang relevan dengan kondisi masa kini, bukan sebaliknya menilai realitas saat ini hanya dengan kacamata masa lalu. Sebagian kalangan umat Muslim cenderung melapisi kehidupan kontemporer dengan ornamen dan tafsir yang kaku dari masa silam; sikap semacam ini pada hakikatnya tidak selaras dengan dinamika dan logika perkembangan sejarah.

Santri perlu menyadari bahwa di hadapan umat manusia berdiri dua realitas peradaban yang memiliki karakteristik sangat berbeda: di satu sisi terdapat warisan peradaban Islam, dan di sisi lain berkembang pesat peradaban modern yang bersumber dari pemikiran Barat. Kedua entitas ini memiliki landasan dan orientasi yang bertolak belakang, sehingga tidak mungkin diterima secara mentah-mentah tanpa penyaringan dan penyesuaian.

Peradaban Islam pada hakikatnya dibangun di atas fondasi nilai-nilai moral dan etika perilaku yang diridai oleh Tuhan. Ia adalah peradaban yang berpusat pada makna teks, ajaran, dan pembentukan karakter manusia. Sebaliknya, peradaban Barat modern lebih berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta hasil-hasil penerapannya. Ia adalah peradaban yang berpusat pada alat, sarana, dan kemajuan materi. Jika peradaban Islam mencetak manusia-manusia yang memiliki konsistensi nilai, maka peradaban Barat telah melahirkan kemajuan nyata berupa pabrik, sarana transportasi, hingga teknologi antariksa.

Di sinilah letak tanggung jawab besar santri: menjembatani dan menyelaraskan kedua realitas tersebut. Tugas ini tidak menjadi prioritas bagi peradaban Barat, karena mereka hanya memiliki satu arah perkembangan, yaitu kemajuan materi dan teknologi. Santri perlu mengambil hal-hal yang bermanfaat dari kemajuan tersebut, sekaligus berani meninjau ulang pola pikir dan standar lama yang sudah tidak relevan dengan kebutuhan zaman. Untuk mewujudkan perubahan dan pembaruan yang seimbang itulah, kegiatan menulis menjadi kebutuhan mutlak bagi santri.

Dalam dunia kepenulisan, secara umum terdapat dua tipe penulis. Pertama, mereka yang menulis mengikuti selera apa yang disukai dan ingin dibaca khalayak luas. Kedua, mereka yang menulis berdasarkan apa yang seharusnya diketahui dan dipahami oleh masyarakat. Penulis tipe pertama cenderung menyesuaikan gagasannya agar diterima dan disukai pembacanya. Sementara itu, penulis tipe kedua berani menyampaikan arahan dan pandangan mendalam, meskipun hal itu mungkin menimbulkan pertentangan atau ketidaknyamanan bagi sebagian pihak.

Penulis tipe pertama bagaikan cermin: ia memantulkan gambaran keadaan sebagaimana adanya, tanpa mengubah atau mengarahkan. Adapun penulis tipe kedua bagaikan lentera: ia menerangi jalan yang sebelumnya gelap, membuka wawasan terhadap pemikiran-pemikiran baru yang belum banyak terlintas dalam benak orang banyak. Santri harus memilih jalan yang kedua, meskipun terasa lebih berat, karena tugasnya adalah senantiasa mendorong terwujudnya tatanan kehidupan yang lebih baik dan bermakna.

Terlepas dari siapa yang akan membacanya, santri tidak memiliki hak untuk membatasi atau memilih khalayak tulisannya. Ia hanya menulis bagi siapa saja yang bersedia membaca dan merenungkan gagasannya. Santri pun tidak dapat mengklaim bahwa tulisannya akan serta-merta menghilangkan segala kegelisahan yang ada di tengah masyarakat. Bahkan, bisa jadi tulisan tersebut justru memunculkan pertanyaan atau ketidaknyamanan baru sebagai bagian dari proses berpikir. Yang terpenting, santri tidak boleh tergelincir menjadi penulis yang mencari pujian atau menuruti keinginan sesaat semata. Jika ia melihat lingkungannya membutuhkan perubahan dan pemikiran baru, maka menulis adalah cara menunaikan amanah intelektual dan keilmuan. Soal apakah tulisannya kelak dinilai benar atau mengandung kekurangan, itu adalah urusan penilaian di kemudian hari. Namun satu hal yang tidak boleh dikompromikan: santri harus menuangkan gagasannya dengan dasar kejujuran, ketulusan, dan tanggung jawab keilmuan.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar