Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Kematian orang yang kita cintai mengantar kita kembali merenungkan fenomena kematian, sebuah peristiwa yang dialami setiap orang dengan makna dan rasa yang beragam, tergantung pada latar belakang psikologis, sosial, dan keluarga masing-masing.
Namun, peristiwa ini justru membawa kita bertemu kembali dengan sebuah ayat yang terasa seolah baru saya pahami maknanya, meskipun redaksinya sederhana. Ayat itu membangkitkan kembali kesadaran mendalam tentang hakikat keberadaan manusia yang senantiasa berubah: “Allah-lah Yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian menjadikan kamu kuat setelah lemah, lalu menjadikan kamu lemah dan tua setelah kuat. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.”
Kenyataan bahwa kelemahan menyelimuti manusia dari awal hingga akhir kehidupan—bahkan di masa-masa kekuatannya—semakin ditegaskan oleh firman-Nya yang lain: “Dan manusia diciptakan lemah,” serta: “Dan di antara kamu ada yang dikembalikan ke keadaan paling lemah sehingga mereka tidak mengetahui apa pun setelah mempunyai pengetahuan.”
Ketiga ayat ini menegaskan betapa melekatnya kelemahan pada diri manusia, sekaligus membenarkan hakikat bahwa keadaan kita tidak pernah tetap abadi.
Jika kita memperluas cakupan renungan, akan ditemukan banyak ayat dalam al-Qur’an yang membahas berbagai aspek kemanusiaan—mulai dari dimensi eksistensial, psikologis, hingga moral. Seolah-olah ayat-ayat tersebut, jika disatukan, membentuk sebuah biografi manusia yang berbeda dari gambaran yang biasa kita buat tentang diri sendiri. Jika kata “al-insan” yang digunakan dalam ayat-ayat ini dipahami sebagai spesies manusia secara keseluruhan, maka biografi ini menjadi kisah seluruh umat manusia. Namun jika dipahami sebagai kelompok manusia tertentu sesuai konteksnya, maka ia menjadi gambaran khas dari golongan tersebut.
Salah satu ciri khas gambaran manusia dalam al-Qur’an adalah penjelasannya tentang jiwa dan perubahan perilaku, yang menampakkan sifat asli manusia di tengah riak keadaan yang terus berubah. Di antaranya firman Allah: “Dan ketika kejahatan menimpanya, maka ia akan putus asa,” “Sesungguhnya manusia diciptakan dalam keadaan tidak sabar,” “Manusia diciptakan dalam keadaan tergesa-gesa,” serta “Dan ketika musibah menimpa manusia, ia berdoa kepada Kami, baik saat berbaring, duduk, maupun berdiri. Namun ketika Kami anugerahkan nikmat kepadanya, ia berkata: ‘Aku memperolehnya semata-mata karena ilmusendiri.’ Padahal itu adalah ujian, namun kebanyakan mereka tidak mengetahui.” Juga firman-Nya: “Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat tidak tahu berterima kasih,” “Ketika Kami berikan rahmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauh; namun ketika musibah menimpanya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh,” serta “Manusia tidak pernah lelah memohon kebaikan, namun jika keburukan menyentuhnya, ia menjadi putus asa dan kehilangan harapan.”
Namun ayat kunci yang menjadi landasan seluruh renungan ini adalah ayat tentang pergantian kelemahan dan kekuatan, yang menggambarkan peta perjalanan hidup manusia: hakikat bahwa keberadaan kita pada dasarnya lemah, baik dari segi asal usul penciptaan maupun berbagai tahapan yang dilalui sepanjang hidup yang singkat ini. Kekuatan yang kita miliki sifatnya sementara, terjepit di antara kelemahan di awal kehidupan dan kelemahan di masa tua yang mengantar pada akhir perjalanan dunia—sebagaimana ditegaskan pula: “Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam keadaan penuh perjuangan,” dan “Wahai manusia, sesungguhnya kamu berjerih payah menuju Tuhanmu dengan sungguh-sungguh, dan pasti kamu akan bertemu dengan-Nya.”
Lalu, apa saja bentuk kelemahan yang menjadi ciri khas keberadaan manusia ini?
Secara bahasa, terdapat dua hal menarik dalam ayat tersebut: pertama, kata “lemah” dalam dua bentuk bacaannya—dengan harakat dhammah (dhu’f, dialek Quraisy) dan fathah (dha’f, dialek Tamim)—keduanya bermakna lawan dari kekuatan, namun para ahli bahasa membedakan maknanya: bentuk dengan fathah merujuk pada kelemahan akal dan pertimbangan, sedangkan bentuk dengan dhammahpada kelemahan fisik. Mufassir al-Qur’an sering menafsirkannya sebagai kelemahan asal usul manusia, yaitu dari air mani yang dianggap rendah.
Kedua, pengulangan kata “lemah” dalam bentuk kata benda tak tentu, yang berbeda dari kaidah bahasa Arab pada umumnya—di sini pengulangan itu bermakna kelemahan sebagai kategori umum yang mencakup segala bentuk kelemahan, bukan sekadar contoh terpisah. Hal yang sama berlaku pula untuk kata “kuat” yang berada di antaranya.
Kenyataan bahwa kelemahan adalah ciri umum manusia membuka wawasan luas tentang makna kelemahan dalam al-Qur’an, apalagi disandingkan dengan firman-Nya: “Dan manusia diciptakan lemah.” Secara garis besar, terdapat empat tingkatan kelemahan manusia:
Pertama, kelemahan dibandingkan dengan makhluk yang lebih tinggi. Seperti tersirat dalam pertanyaan Allah: “Apakah kamu lebih sulit diciptakan ataukah langit?” Manusia tidak sebanding dengan kebesaran ciptaan Allah yang lain.
Kedua, kelemahan mandiri. Manusia tidak mampu berdiri tegak tanpa pertolongan dan dukungan Allah. Seperti yang dikemukakan Imam al-Raghib al-Isfahani, manusia sebenarnya adalah makhluk yang paling mulia dan kuat jika berdiri di atas kekuatan dan petunjuk Allah—yang memungkinkannya menjadi wakil Allah di bumi dan meraih kebahagiaan akhirat—namun ia menjadi sangat lemah jika dilihat dari kemampuannya sendiri tanpa dukungan Ilahi.
Ketiga, kelemahan karena banyaknya kebutuhan. Manusia tidak bisa hidup sendiri, sehingga ia terikat dengan orang lain dan menjadi makhluk sosial. Oleh karena itu, ia diperkuat dengan ibadah bersama seperti salat berjamaah, serta hukum dan etika yang mengatur hubungan antarmanusia. Bahkan keseluruhan fikih Islam dapat diringkas menjadi pembagian hak: hak Allah, hak manusia, hak yang bersifat campuran, serta hak makhluk lain seperti hewan.
Keempat, kelemahan yang tampak pada pergantian tahapan kehidupan. Mulai dari diciptakan dari setetes air yang hina, hingga masa tua yang membuat seseorang kembali lemah: “Dan di antara kamu ada yang dikembalikan ke keadaan paling lemah, sehingga setelah mengetahui banyak hal, ia menjadi tidak tahu apa-apa lagi.”
Uban dan kemunduran fisik serta mental adalah pertanda jelas bahwa kekuatan manusia sifatnya sementara, dan segala sesuatu di dunia ini senantiasa berubah menuju kehampaan. Karena itulah Rasulullah Saw. sering berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, kemalasan, kelemahan masa tua, siksaan kubur, fitnah Dajjal, serta kesulitan hidup dan mati.”
Kelemahan yang melingkupi kehidupan manusia ini sendiri ditetapkan Allah sebagai bukti dua hal besar:
Pertama, bukti akan ilmu dan kekuasaan Allah yang sempurna. Dia tidak lemah, tidak lupa, dan tidak pernah berubah. Keadaan manusia serta fenomena alam lain seperti angin dan awan adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama tafsir seperti Imam Fakhruddin al-Razi.
Kedua, bukti kemungkinan kebangkitan di hari kiamat. Allah yang mampu menciptakan manusia dari ketiadaan, tentu pula mampu menghidupkannya kembali setelah mati dan hancur, sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Muhammad al-Thahir ibn Asyur.
Selain itu, penyebutan kelemahan manusia juga memiliki dua tujuan pendidikan yang mendalam:
Pertama, sebagai peringatan dan nasihat. Manusia cenderung lupa diri, sombong, dan menindas jika merasa kuat atau memiliki kedudukan tinggi. Allah memperlihatkan kelemahan kita agar kita tetap rendah hati, menyadari bahwa kekuatan apa pun hanyalah anugerah yang sewaktu-waktu dapat dicabut. Seandainya kekuatan manusia terus bertambah tanpa batas, pasti akan melahirkan kesewenang-wenangan yang luar biasa.
Kedua, sebagai pengingat bahwa dunia ini fana. Kehidupan dunia penuh perubahan dan tidak ada yang abadi. Hal ini mengajarkan kita untuk hidup bijaksana, tidak terbuai oleh kemewahan sesaat, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan kekal di akhirat yang sebenarnya.[]
Tinggalkan Komentar