Info Sekolah
Jumat, 23 Okt 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
30 Agustus 2026

Hikmah Ilmiah di Balik Larangan Nabi Saw. untuk Meniup Makanan dan Minuman

Ming, 30 Agustus 2026 Dibaca 40x Hikmah

Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian sedang minum, janganlah ia meniup ke dalam wadah tersebut.” Ucapan beliau bukanlah perkataan semata-mata atas kemauan pribadi, melainkan wahyu yang diturunkan kepadanya. Kini, ilmu pengetahuan modern semakin menegaskan dan membuktikan kebenaran sabda yang mulia ini: kebiasaan meniup atau menghembuskan napas ke dalam makanan dan minuman ternyata dapat menjadi sumber berbagai penyakit serius yang disebabkan oleh jenis kuman tertentu.

Salah satunya adalah “helicobacter pylori”, bakteri berbentuk spiral yang juga dikenal sebagai bakteri penyebab gangguan lambung. Bakteri ini mampu bertahan hidup di dalam lambung manusia maupun hewan berdarah panas, karena memiliki mekanisme perlindungan yang istimewa agar tidak musnah oleh asam lambung. Bakteri ini menghasilkan enzim urease dalam jumlah banyak, yang selanjutnya membantu pembentukan amonia guna menetralisir keasaman di sekitarnya. Dengan demikian, bakteri seakan terlindungi oleh lapisan yang bersifat menetralkan asam, sehingga tidak ikut rusak bersama zat lain yang terbakar oleh cairan lambung yang tajam. Bakteri ini juga mampu menembus lapisan lendir pelapis dinding lambung yang berfungsi melindungi jaringan lambung dari korosi asam.

Sebagian jenis bakteri ini hidup di dalam rongga mulut manusia dan dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, antara lain tukak lambung. Meniup makanan atau minuman yang masih panas agar cepat dingin memang terlihat sebagai kebiasaan yang lumrah. Namun sesungguhnya hal itu sangat berbahaya, karena dapat—semoga Allah melindungi kita—menjadi penyebab terjadinya radang lambung maupun tukak lambung, serta diduga berkaitan pula dengan timbulnya penyakit kencing manis.

Dari Ibnu Abbas ra., diriwayatkan bahwa Nabi Saw. melarang meniup makanan maupun minuman. Larangan ini bermakna agar seseorang tidak menghembuskan napasnya ke dalam wadah tempat minumnya, baik ia minum sendirian maupun bersama orang lain. Hal ini merupakan salah satu adab luhur yang diajarkan Nabi Saw. kepada umatnya, sebagai langkah nyata dalam menapaki jalan kesempurnaan akhlak dan kesehatan.

Perlu diketahui bahwa tubuh manusia sesungguhnya mengandung jumlah bakteri yang bahkan melebihi jumlah sel penyusun tubuh itu sendiri. Namun berkat rahmat dan ketetapan Allah, sebagian besar bakteri tersebut bersifat menguntungkan dan tidak berbahaya, bahkan berperan penting dalam membantu kelancaran berbagai proses biologis, termasuk proses pencernaan. Akan tetapi, di antara jutaan bakteri yang hidup di rongga mulut, terdapat pula jenis seperti helicobacter pylori yang dapat menjadi sangat berbahaya jika berpindah tempat, bahkan berpotensi menimbulkan penyakit berat yang dapat mengancam nyawa.

Ketika seseorang meniup makanan yang masih panas, bakteri yang ikut terhembus keluar akan merespons suhu panas tersebut dengan cara membentuk lapisan pelindung diri semacam selubung agar tetap lestari. Dengan demikian, bakteri tersebut tetap hidup di dalam makanan. Bayangkan berapa kali seseorang melakukan kebiasaan demikian, dan betapa banyaknya jumlah bakteri yang ikut masuk bersama makanan yang dikonsumsi!

Setelah ditelan, makanan yang mengandung bakteri tersebut akan turun melewati kerongkongan hingga sampai ke lambung. Di sanalah pelindung bakteri itu bekerja secara aktif, mengeluarkan enzim urease yang memicu peradangan pada lapisan dinding lambung. Peradangan inilah yang lama-kelamaan merusak jaringan pelindung lambung, sehingga asam lambung mulai melukai dinding lambung itu sendiri dan menimbulkan keluhan yang menyakitkan.

Lebih dari itu, keberadaan bakteri ini juga diduga dapat mengganggu fungsi pankreas dalam memproduksi hormon pengatur gula darah, sehingga kadar gula darah menjadi naik dan rentan memicu terjadinya penyakit kencing manis.

Sesuai dengan pepatah bijak yang menyatakan bahwa “mencegah jauh lebih baik daripada mengobati”, maka jalan pencegahannya pun telah tersedia bagi kita, yaitu dengan senantiasa menjaga kebersihan rongga mulut—baik dengan menggunakan siwak, sikat gigi beserta odol, maupun sekadar berkumur-kumur sebagaimana yang dilakukan ketika berwudhu. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dan seluruh pembaca dari segala macam penyakit dan bahaya. Amin.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar