Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)
“Tunggu sebentar” atau “tunggu dulu” mungkin adalah kalimat yang paling sering diucapkan orang tua, namun sekaligus menjadi kalimat yang paling sulit diterima oleh anak-anak. Alih-alih sabar, mereka cenderung terus mendesak. Bukan semata-mata karena mereka kurang sabar, melainkan karena mereka belum tahu bagaimana cara menyibukkan diri di tengah menit-menit menunggu yang terasa begitu lama dan membosankan.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: Apakah anak-anak generasi ini memang tumbuh menjadi pribadi yang kurang sabar? Atau jangan-jangan, dunia yang serba cepat ini justru semakin minim memberikan mereka kesempatan untuk belajar melatih kesabaran?
Benarkah Anak Zaman Sekarang Kurang Sabar?
Desakan anak untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan secara instan sering kali memberi kesan bahwa mereka kurang sabar dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, riset tidak selalu mendukung anggapan tersebut.
Sebuah studi dalam jurnal Developmental Psychology yang membandingkan kemampuan 840 anak dalam menunda kepuasan (delay gratification) pada era 1960-an, 1980-an, dan 2000-an, justru menemukan fakta mengejutkan: anak-anak dari generasi yang lebih baru rata-rata mampu menunggu dalam durasi yang lebih lama.
Meski demikian, kemampuan menunggu ini sangat bergantung pada usia dan pemahaman kognitif. Anak kecil belum memahami konsep abstrak seperti “menunggu sepuluh menit” layaknya anak yang lebih besar, sehingga mereka sering kali butuh bantuan untuk mengelola rasa kecewa.
Psikolog Gina Vias-Lee, seperti dilansir The Guardian, menegaskan bahwa anak-anak tidak serta-merta kehilangan kesabaran. Lingkungan yang serba cepatlah yang justru memangkas kesempatan mereka untuk melatih ketekunan. Jadi, masalahnya bukan pada anak yang “manja”, melainkan pada hilangnya ruang dan waktu bagi mereka untuk mempraktikkan keterampilan menunggu.
Ketika Ponsel Menjadi “Obat” Pengusir Bosan
Saat keinginan anak tidak langsung terpenuhi, mereka akan memasuki fase frustrasi. Idealnya, momen jeda inilah yang menjadi kesempatan emas bagi mereka untuk belajar mengelola emosi dan mencari cara sendiri untuk menyibukkan diri.
Sayangnya, jika ponsel atau gawai selalu menjadi “penyelamat” pertama saat anak mulai merengek, mereka kehilangan kesempatan emas tersebut. Mereka tidak lagi terlatih untuk mencari hiburan dari imajinasi atau lingkungan sekitarnya.
Studi tahun 2023 dalam jurnal JAMA yang mengamati anak usia 3-5 tahun selama enam bulan menemukan fakta yang cukup mengkhawatirkan. Anak yang orang tuanya rutin menggunakan layar untuk menenangkan mereka saat tantrum cenderung memiliki reaksi emosional yang lebih meledak-ledak dibandingkan teman-temannya.
Peneliti Jacqueline Nesi dari UNICEF menyoroti bagaimana fitur seperti autoplay dan infinite scrolling menyajikan hiburan instan tanpa menuntut anak untuk berpikir atau membuat keputusan. Akibatnya, otak anak terbiasa dengan kepuasan instan, dan mencari layar menjadi respons otomatis setiap kali rasa bosan melanda.
Kepercayaan dan Seni Mengalihkan Perhatian
Ternyata, kemampuan menunggu juga berkaitan erat dengan rasa percaya. Dalam studi klasik dari peneliti Celeste Kidd (2012), anak-anak dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama dijanjikan perlengkapan seni baru dan peneliti menepati janji tersebut. Kelompok kedua juga dijanjikan hal yang sama, namun peneliti mengingkari janji itu.
Ketika diuji dengan pilihan: menerima satu camilan sekarang atau menunggu untuk mendapatkan dua camilan, kelompok pertama yang percaya pada janji peneliti mampu menunggu hingga 12 menit. Sementara kelompok kedua yang merasa dikhianati, hanya bertahan selama 3 menit. Ini membuktikan: anak akan lebih sabar jika mereka percaya bahwa penantian mereka akan berbuah hasil.
Riset tahun 2024 juga menambahkan bahwa kemampuan menunggu bisa dilatih melalui pengalihan perhatian. Mengalihkan pandangan dari objek yang diinginkan atau larut dalam sebuah permainan bisa sangat membantu anak melewati masa penantian.
Orang tua bisa membantu dengan mengonversi waktu tunggu menjadi sesuatu yang konkret dan mudah dipahami anak. Alih-alih berkata “tunggu ya”, cobalah katakan, “Kita akan berangkat setelah lagu ini selesai,” atau “Tunggu sampai kita selesai makan.”
Memaknai Ulang Kata “Aku Bosan”
Rasa bosan bukanlah musuh yang harus segera dibasmi. Sering kali, “Aku bosan” adalah sebuah kode. Bisa jadi mereka lapar, butuh koneksi dan perhatian dari orang tuanya, atau sekadar bingung harus mulai bermain dari mana.
Psikolog Stephanie Lee dari Child Mind Institute menyarankan agar orang tua tidak buru-buru menjadi “penghibur” atau memberikan aktivitas yang sudah diatur. Berikan mereka ruang untuk memilih.
Mulailah dari hal sederhana, seperti memberikan dua pilihan: “Adik mau main balok atau menggambar?” Jika mereka memilih balok, temani mereka di beberapa menit awal, lalu perlahan mundurlah. Biarkan mereka bereksperimen—bahkan jika itu berarti merobohkan susunan balok dan memulainya dari awal.
Di sinilah letak keindahan rasa bosan: ia mengajarkan anak untuk berimajinasi, mencoba sebuah ide, dan beradaptasi jika ide itu gagal. Tentu saja, tidak realistis mengharapkan anak yang sudah kecanduan layar untuk tiba-tiba bisa bermain mandiri dalam waktu lama. Diperlukan proses dan pembiasaan.
Untuk situasi di mana anak “terjebak” dan tidak bisa bergerak bebas (seperti saat mengantre atau di dalam mobil), libatkan mereka dalam permainan sederhana. Cari benda berwarna tertentu, obrolkan apa yang terlihat di luar jendela, atau sediakan buku kecil favorit mereka. Pada akhirnya, mengajarkan anak untuk menunggu bukanlah tentang membuat mereka diam dan pasif. Ini adalah tentang membekali mereka dengan ketangguhan mental untuk menghadapi dunia yang tidak selalu berputar sesuai kecepatan keinginan mereka.[]

Tinggalkan Komentar