Info Sekolah
Jumat, 23 Okt 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
10 Oktober 2026

Di Ujung Nalar dan Bahasa: Batas Pemahaman Manusia atas Realitas dan Sang Pencipta

Sab, 10 Oktober 2026 Dibaca 17x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)



Ada dua titik balik paling fundamental dalam sejarah pemikiran manusia: pertama, ketika manusia menyadari pemisahan antara realitas dan akal; dan kedua, ketika manusia menyadari pemisahan antara bahasa dan realitas.

Pada momen pertama, pemikiran manusia sadar bahwa realitas tidak selalu beroperasi sesuai dengan hukum logika manusia. Hukum akal hanya mengatur akal itu sendiri, namun tidak memiliki otoritas atas realitas objektif. Ketika akal berkata “harus”, “mungkin”, atau “tidak mungkin”, ia sebenarnya sedang berbicara tentang hukumnya sendiri—tentang kebutuhan, kemungkinan, dan ketidakmungkinan relatif terhadap nalar, bukan terhadap dunia. Tidak ada paksaan bagi realitas untuk tunduk pada hukum akal.

Pada momen kedua, manusia menyadari bahwa ketika menggunakan kata-kata, ia sering kali hanya merujuk pada konsep yang ada di dalam pikirannya, bukan pada realitas eksternal. Tidak ada kesesuaian mutlak antara kata-kata, kalimat, dan hubungan nyata di dunia luar. Struktur bahasa tidak pernah sepenuhnya mampu memetakan struktur realitas.

Meskipun realitas sejati—dalam pengertian yang relatif—pada akhirnya tetaplah sebuah konstruksi mental (sebuah hipotesis yang tidak ada di luar jangkauan indra dan akal), hal ini tidak serta-merta membuat realitas tersebut tunduk pada hukum akal. Dengan kata lain, cara manusia berpikir belum tentu merupakan hukum alam. Bahkan jika alam semesta dan “seluruh keberadaan” pada akhirnya hanyalah sebuah ide, tetap akan ada hukum-hukum yang mengatur ide/alam tersebut, dan hukum akal manusia tidak menguasainya, melainkan mungkin hanya menjadi bagian kecil darinya.

Kemerdekaan hukum alam dari akal manusia ini berarti bahwa jawaban yang benar atas pertanyaan tentang dunia terletak di dalam dunia itu sendiri, bukan di dalam pikiran manusia. Inilah yang membuat semua teori rasional tentang dunia bergantung pada eksperimen dan observasi untuk memperoleh validitas faktual. Ini juga berarti bahwa jawaban yang benar atas pertanyaan pikiran tentang dunia bisa saja bertentangan dengan “akal sehat” dan mengabaikan berbagai aksioma nalar kita. Tidak ada yang memaksa alam untuk berperilaku rasional menurut standar manusia, meskipun alam dan hukum-hukumnya dapat dipahami—sebuah kemungkinan yang pada akhirnya melahirkan ilmu pengetahuan alam.


Bahasa, Kesadaran, dan Ilusi Makna

Bahasa, pada hakikatnya, tak pernah ada terpisah dari kemanusiaan. Makna selalu menjadi bagian dari kesadaran manusia, bukan bagian dari realitas eksternal. Kata-kata tidak menuntun kita langsung ke dunia luar, melainkan ke dunia batin, ke kesadaran dan pikiran kita sendiri.

Ketika kita memikirkan kata-kata seperti “penciptaan”, “sebab”, “awal”, dan “eksistensi”, makna dari kata-kata tersebut adalah bagian dari pengalaman sadar kita. Pengalaman ini pada akhirnya dibatasi secara eksistensial oleh batas-batas kemanusiaan. Jika kemanusiaan lenyap, makna-makna ini, beserta seluruh konsep lainnya, juga akan lenyap. Lalu, dari mana konsep-konsep ini memperoleh legitimasi ontologisnya untuk mendefinisikan sesuatu di luar batas kemanusiaan?

Pertanyaan tentang penerapan konsep-konsep ini pada eksistensi di luar batas manusia bukanlah pertanyaan tentang eksistensi absolut yang melampaui nalar. Tidak ada gunanya memikirkan sesuatu di luar kesadaran. Ini merujuk pada eksistensi sebagaimana yang hadir dalam kesadaran, yang meskipun demikian, tidak dipaksa untuk tunduk pada akal dan bahasa. Yang tunduk pada hukum akal adalah ide; yang tunduk pada aturan bahasa adalah kata-kata. Eksistensi, yang bukan ide maupun kata-kata, adalah independen.

Untuk mengilustrasikan hal ini, bayangkan sebuah peradaban makhluk lain yang memiliki bahasa dan kata-kata untuk menafsirkan dunia dari perspektif mereka. Makna kata-kata itu ada dalam kesadaran mereka, namun tidak berarti apa-apa bagi manusia, dan dunia tampaknya tidak berkewajiban untuk sesuai dengan makna-makna tersebut.

Contoh sederhananya adalah frasa “matahari terbit”. Kita menggunakannya untuk menggambarkan fenomena yang kita alami. Namun, jika matahari memiliki kesadaran, ia tidak akan memahami konsep “matahari terbit”, karena ia tidak mengalami fenomena tersebut dari perspektif planet Bumi.

Demikian pula, ketika kita mengucapkan kata “penciptaan”, alam semesta tidak memahami kata ini. Ketika kita mengatakan “eksistensi” atau “ada”, kita sedang berbicara tentang sifat yang terkait dengan kesadaran kita sendiri, bukan dengan dunia eksternal. Dalam gagasan bahwa “eksistensi adalah kesadaran”, konsep “eksistensi” itu sendiri tidak merujuk pada apa pun di luar kesadaran manusia.

Jika kita bukan segalanya, maka kita haruslah menjadi bagian dari keseluruhan; inilah yang didiktekan oleh hukum akal. Dan jika kita adalah bagian dari keseluruhan, maka konsep-konsep kita juga merupakan bagian yang terbatas. Konsep “penciptaan”, misalnya, adalah sesuatu yang ada dalam kesadaran kita yang terbatas, sehingga ia tidak akan pernah mampu merangkum alam semesta secara utuh. Sama seperti “matahari terbit” adalah kata duniawi yang tak bermakna di luar Bumi, “penciptaan” adalah kata manusiawi yang tak bermakna di luar kesadaran manusia.

Adapun hal-hal yang nyata dalam jangkauan indra kita—seperti keyboard yang sedang saya ketik saat ini—kita tidak dapat melampaui persepsi indrawi tersebut untuk mencapai “benda-diri” (the thing-in-itself) yang diwakilinya. Sebagai data indrawi, ia hanya merujuk pada dirinya sendiri. Demikian pula ide dan makna di dalam kesadaran; kita tidak pernah bisa melampaui makna tersebut untuk menyentuh realitas aktual yang diwakilinya. Ketika kita memikirkan kata “penciptaan”, kita hanya berputar di dalam makna itu sendiri. Kita hanya memiliki kata dan maknanya, dan tidak lebih dari itu.


Di Ujung Kata: Ketika Filsafat Berujung pada Iman

Pertanyaan filosofis tentang “eksistensi Sang Pencipta” sering kali terjebak dalam zaman di mana manusia menganggap bahasa sebagai sesuatu yang universal. Menurut pemahaman yang keliru ini, kata “eksistensi” memiliki satu makna mutlak yang berlaku bahkan untuk Sang Pencipta, dan kata “Pencipta” itu sendiri dianggap memiliki makna universal yang independen dari manusia.

Padahal, kata “eksistensi” bahkan tidak cukup memadai untuk menggambarkan kesadaran manusia itu sendiri. Jika konsep eksistensi yang kita gunakan untuk menilai kesadaran hanyalah sesuatu yang subjektif dan merujuk pada sesuatu di dalam kesadaran itu sendiri, bagaimana kita bisa mendefinisikan kesadaran menggunakan konsep yang ada di dalam kesadaran?

Demikian pula, kata “Pencipta” memperoleh makna dan signifikansinya dari pengalaman manusia yang terbatas. Bagaimana mungkin alam semesta—atau Sang Pencipta—didefinisikan oleh sebuah kata yang merupakan bagian kecil dari alam semesta itu sendiri?

Masalah ini mengandaikan universalitas dan absolutitas akal, dengan keliru menganggap seluruh “eksistensi” tunduk pada hukum nalar manusia. Ini adalah konsekuensi alami dari ilusi linguistik. Jika kita menganggap bahasa dan pikiran sebagai alam semesta itu sendiri, maka wajar jika kita berpikir eksistensi tunduk pada penilaian akal. Namun realitasnya, bahasa dan pikiran manusia hanyalah sebagian kecil yang tak berarti dari bentangan alam semesta.

Ketika kita menyadari ketidakcukupan bahasa dan keterbatasan akal untuk menjangkau Sang Pencipta, di situlah perasaan religius yang sejati bangkit.

Di mana filsafat berujung, di situlah iman bermula.

Di mana kata-kata kehilangan dayanya, di situlah keheningan berbicara.

Dan di sinilah dimulainya pencarian akan kebenaran yang melampaui nalar (non-kognitif).[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar