Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Saat kita melangkah masuk ke dalam perjalanan spiritual, dahaga akan pengetahuan mulai tumbuh subur di sanubari. Ia meruntuhkan kebiasaan lama, mengupas gagasan-gagasan yang selama ini mengakar kuat tanpa pernah kita ragukan. Hasrat untuk memahami ilmu—bahkan rahasia alam semesta—semakin membara, menuntun kita menyentuh hakikat diri yang sejati. Perlahan kita sadar: pola pikir, keyakinan, dan segala pengetahuan yang selama ini kita bangun, ternyata banyak yang telah dibentuk dan dipengaruhi oleh hal-hal di luar kebenaran murni.
Satu per satu kita tinggalkan pandangan lama, menggantinya dengan pemahaman baru yang lebih jernih. Kita mencabut keyakinan yang rapuh, mengguncang fondasi hidup yang selama ini kita anggap pasti—demi melahirkan perubahan sejati dan semakin dekat dengan kebenaran hakiki.
Hari demi hari, kita disuguhi wawasan baru yang mendalam, yang memicu rasa ingin tahu yang tak pernah padam. Kita membalik halaman buku, menelusuri perpustakaan, menjelajahi ruang informasi di dunia maya, hingga pikiran seakan menjadi lautan pengetahuan yang tak pernah berhenti mengalir, memperbarui diri setiap detiknya.
Pergulatan batin ini terasa mengguncang seluruh keberadaan kita—pikiran, jiwa, hingga raga. Hidup mendatangkan kejutan yang tak terduga, perubahan besar yang membuat kita terhuyung. Kita merasa seperti orang asing di tengah keramaian, sulit mengimbangi energi baru yang perlahan menyelimuti diri.
Rasa terasing ini adalah bagian dari perjalanan pulang, namun jalannya masih samar. Kita diliputi cemas akan apa yang akan datang, sebab tak ada jejak yang pernah kita lalui sebelumnya. Bahkan kita pun ragu: apakah kebenaran yang kini kita temui kelak akan terbukti sama kelirunya dengan apa yang kita tinggalkan? Keraguan dan ketakutan bergandengan, seakan ingin menghentikan langkah kita menuju kesadaran yang baru.
Padahal, perjalanan menuju kesadaran ini sejatinya adalah proses penyucian jiwa. Semakin dalam penyucian itu, semakin besar pula rindu kita pada kebenaran sejati. Kita pun mulai merenung, mempraktikkan jalan penyembuhan dan pengembangan diri—seperti meditasi, yoga, atau penyaluran energi—demi memurnikan hati.
Penyucian ini membuka tirai baru dalam hidup, menuntun kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Kita mulai merasakan panggilan lembut Tuhan untuk kembali kepada-Nya dengan hati yang tenang dan yakin. Pemurnian ini adalah cara Tuhan mendidik kembali jiwa kita yang selama ini terbiasa dengan pandangan yang usang dan terbatas.
“Tidak pantas bagi seorang manusia yang telah diberi Kitab Suci, hikmah, dan kenabian oleh Allah, lalu ia berkata kepada manusia: ‘Jadilah penyembahku, bukan penyembah Allah.’ Akan tetapi ia berkata: ‘Jadilah orang-orang yang berilmu dan berakhlak, karena kamu selalu mengajarkan Kitab Suci dan karena kamu selalu mempelajarinya,’” [Q.S. Ali Imran: 79].
Inilah langkah pertama bagi siapa saja yang mencari kebenaran: masuk ke dalam lingkaran bimbingan Ilahi. Jalan keluar dari kebingungan ini ditempuh lewat pendidikan yang bertahap, lembut, dan penuh kasih—nasihat yang tulus tanpa tergesa-gesa. Jika tidak, kita bisa terjebak terburu-buru, seperti kaum yang meninggalkan tuntunan Nabi Saw. lalu menyembah patung lembu emas.
Siapa yang melangkah terburu-buru di jalan ini, tak akan meraih kepastian hati. Ia akan tetap terperangkap dalam bayang-bayang dirinya sendiri, yang memperindah hal-hal semu seolah itulah jalan yang lurus. Di tahap ini, godaan sering datang menyamar sebagai pencerahan, untuk menjauhkan kita dari jalan yang diridhai Allah.
Memutuskan ikatan dengan kebiasaan dan pengaruh yang keliru bukanlah hal yang mudah. Dulu kita pernah terjalin erat dengannya, dan melepaskan ikatan itu butuh pengorbanan yang tak sedikit. Jika kita terburu-buru membebaskan diri, getaran jiwa kita masih akan bergaung dengan sisa-sisa kegelapan yang pernah ada. Bahkan terkadang, hal yang kita kira sebagai tanda keberhasilan—seperti penglihatan atau kemampuan yang tiba-tiba muncul—ternyata hanyalah tipuan agar kita merasa telah sampai di jalan Tuhan, padahal belum tentu demikian.
Lingkaran bimbingan Ilahi menuntut kesabaran yang panjang—bertahun-tahun, bahkan mungkin seumur hidup—untuk membersihkan sisa-sisa ingatan yang tertanam lama di sanubari. Tak ada jalan pintas; setiap kenangan keliru harus dihapus perlahan, digantikan dengan pemahaman yang murni dan jernih.
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, diliputi oleh ombak, di atasnya ada ombak lagi, di atasnya ada awan. Gelap gulita berlapis-lapis. Apabila ia mengulurkan tangannya, hampir-hampir ia tidak melihatnya. Dan barangsiapa yang tidak dianugerahi Allah cahaya, niscaya ia tidak mempunyai cahaya sama sekali,” [Q.S. al-Nur: 40].
Menghapus kenangan yang menyakitkan sungguh terasa perih. Ia membangkitkan kembali rasa yang pernah kita rasakan, muncul berulang kali karena akarnya yang begitu dalam—terkumpul selama bertahun-tahun, seberat hantaman ombak di tengah kegelapan samudra.
Seringkali kita merasa tak mampu melihat jalan ke depan, seolah tangan yang kita ulurkan pun tak tampak. Untuk benar-benar terbebas, kita harus berani kembali menghadapi jejak masa lalu—seperti menonton ulang lembaran hidup yang telah berlalu. Peristiwa-peristiwa itu bisa saja terulang kembali bersama keluarga, sahabat, sesama makhluk, maupun dalam menghadapi kenyataan hidup di sekitar kita—semua sebagai cara menyadarkan kita akan hakikat perbuatan dan akibatnya.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya, dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir,” [Q.S. al-Baqarah: 286].
Rasa sakit yang kita rasakan saat ini adalah tanda penyembuhan—saat ikatan kelam yang selama ini mengikat kita perlahan terputus, digantikan oleh benang-benang cahaya yang suci. Perih itu muncul karena kita sedang meninggalkan dunia yang gelap, dan menapak ke dunia yang terang—dua hal yang sama-sama membutuhkan penyesuaian jiwa yang mendalam. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda kegelapan itu dan Kami jadikan tanda cahaya itu terang benderang, agar kamu mencari karunia dari Tuhanmu, dan agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan,” [Q.S. al-Isra: 12].
Kesengsaraan bukanlah hukuman semata, dan kebahagiaan bukan sekadar kebetulan. Keduanya adalah buah dari apa yang kita tanam—dan sekaligus jalan yang Tuhan siapkan untuk menyucikan jiwa, hingga kita sampai pada cahaya-Nya yang abadi.[]
Tinggalkan Komentar