Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)
Kita kerap dihadapkan pada sebuah ironi di dunia pendidikan: lulusan universitas dinilai kurang siap menghadapi dunia kerja, sementara pihak kampus mengelak bahwa lulusan sekolah menengah—meski berprestasi—sebenarnya belum matang untuk menempuh pendidikan tinggi. Lebih memprihatinkan lagi, banyak tenaga pengajar yang tampak kehilangan gairah untuk mengembangkan diri, padahal kita hidup di tengah badai evolusi teknologi informasi yang tak terbendung.
Intinya, ada satu benang merah yang mengkhawatirkan: hilangnya hasrat untuk belajar. Bagaimana kita bisa mengharapkan kemajuan bagi bangsa ini, jika api semangat belajar itu sendiri telah redup? Untuk mengatasinya, kita harus berani menelusuri akar persoalan dan menemukan titik krusial yang selama ini terabaikan, asalkan kita sungguh-sungguh berkomitmen untuk mencari solusinya.
Ruang Kelas: Antara Idealita dan Realita
Seharusnya, terdapat simbiosis yang indah antara siswa dan guru. Siswa perlu merasa aman untuk membagikan gagasan, yang kemudian dapat diasah lebih dalam di bawah bimbingan sang guru. Guru sejatinya adalah pelita yang menerangi jalan, mitra dalam diskusi yang bermakna, dan pendorong yang membantu siswa menemukan potensi kreatifnya.
Namun, realita di lapangan sering kali jauh dari harapan. Pengelola sekolah kerap luput menyadari bahwa fondasi utama pendidikan adalah hubungan bermakna antara murid dan guru—sebuah ikatan yang seharusnya mengantar siswa menuju puncak intelektualitas.
Ironisnya, “puncak pengetahuan” kini telah bergeser menjadi “puncak kekayaan”. Pemilihan jurusan lebih didikte oleh prospek finansial semata, bukan oleh kecintaan pada ilmu atau keinginan untuk memajukan peradaban. Padahal, berbagai perangkat untuk belajar dan merenungkan masa depan telah berkembang luar biasa, terutama dengan hadirnya era kecerdasan buatan (AI) dalam beberapa tahun terakhir.
Persimpangan Jalan: Memilih Jurusan atas Nama Siapa?
Masa akhir sekolah menengah seharusnya menjadi momen penentuan arah akademik dan profesional. Namun, banyak siswa yang justru terjebak dalam kebingungan: “Aku tidak tahu apa yang aku inginkan, atau apa yang bermakna bagiku!”
Penundaan memilih jurusan sering kali bukan sekadar masalah waktu, melainkan hilangnya ruang refleksi diri. Pilihan jatuh ke tangan orang lain: ada yang menyarankan jurusan “yang tidak butuh banyak pemikiran”, ada yang menjanjikan “gaji besar” sebagai ilusi jaminan masa depan. Ujung-ujungnya, siswa menyadari, “Ini bukan yang aku inginkan.”
Di sisi lain, ada siswa yang tahu apa yang ia cintai, namun dibungkam oleh ekspektasi keluarga: “Nilaimu bagus, kamu harus jadi dokter atau insinyur!” Demi menyenangkan orang tua, mereka menempuh jalan tersebut. Ada yang berhasil meraih predikat istimewa, hanya untuk kemudian meletakkan ijazahnya dan berkata, “Ini untuk kalian, sekarang izinkan aku mengejar apa yang benar-benar aku cintai”—yang ironisnya, justru di bidang itulah mereka menemukan kesuksesan sejati.
Ada pula potret ironi lainnya. Bayangkan seorang mahasiswa berprestasi yang merasa salah memilih jurusan teknik. Alih-alih menghadapi tantangan mata kuliah yang sulit dan belajar dari kegagalan, ia memilih pindah jalur atau bahkan pindah universitas. Saat ditanya alasannya, ia memberikan jawaban yang mengejutkan: ia melakukan perubahan tersebut hanya agar Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya tidak turun. Ia lebih memilih menyelamatkan angka kesempurnaan daripada menghadapi esensi dari belajar itu sendiri.
Bandingkan dengan mahasiswa yang sejak awal memiliki hasrat belajar yang membara. Kecintaannya pada ilmu terus terasah hingga ia masuk ke jurusan teknik komputer. Ia tidak hanya puas dengan buku teks, tetapi menyelami berbagai referensi di perpustakaan untuk risetnya sendiri. Meski sempat menghadapi kendala, bimbingan dosen yang suportif membantunya bangkit dan meluruskan langkah. Meski mungkin bukan lulusan dengan IPK tertinggi, kecintaan sejati pada ilmulah yang memuluskan jalan kariernya dan memberinya banyak pelajaran berharga di dunia profesional.
Pendidik: Ujung Tombak yang Tak Boleh Kehabisan Bahan Bakar
Pendidik dituntut untuk jauh lebih adaptif daripada murid-muridnya. Jika siswa membutuhkan penuntun untuk menggali potensi, pendidik membutuhkan pembaruan diri untuk mengimbangi dinamika zaman. Mengeluh atas kesulitan kecil adalah hal yang manusiawi, namun beradaptasi dengan hambatan mendasar adalah tanda profesionalisme sejati yang akan membedakan seorang pendidik dari yang lain.
Ada jurang pemisah antara guru yang sekadar membacakan buku teks dengan guru yang memancing nalar melalui pertanyaan-pertanyaan kritis. Begitu pula dengan dosen yang mendaur ulang materi kuliahnya selama bertahun-tahun, dibandingkan dengan mereka yang terus haus akan pembaruan ilmu.
Masalahnya bukanlah karena dunia bergerak terlalu cepat, melainkan karena sebagian dari kita memilih untuk tetap diam di tempat sementara segala sesuatu di sekitar kita terus berlari. Siswa butuh semangat yang mendorong mereka untuk belajar; pendidik butuh semangat untuk benar-benar memahami muridnya; dan dosen butuh semangat untuk terus belajar—jauh sebelum mereka menuntut muridnya melakukan hal yang sama. Semangat sejati bukanlah sekadar kecintaan pada profesi, melainkan dahaga yang tak pernah surut untuk menimba ilmu, bereksperimen, dan terus bertumbuh.[]
Tinggalkan Komentar