Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Dalam sebuah percakapan santai seputar kegemaran membaca, muncul pertanyaan yang akhir-akhir ini begitu sering kita dengar: Mengapa anak-anak kita tak lagi gemar membaca, sebagaimana kita di masa kecil dahulu?
Pertanyaan itu tampak sederhana, namun terus membekas di benak. Mungkin karena kita terbiasa memandang persoalan ini hanya dari satu sudut pandang: anak-anak telah berubah, gawai menjadi penyebab utama, dan zaman pun telah berlalu begitu saja.
Namun, bagaimana jika persoalannya jauh lebih dalam dan rumit? Bagaimana jika sesungguhnya anak-anak kita tidak membenci kegiatan membaca—melainkan kitalah yang tak lagi menyajikannya dengan cara yang membuat mereka jatuh cinta padanya?
Saat mengenang masa kecil kita sendiri, kita teringat betapa buku adalah bagian tak terpisahkan dari keseharian. Cerita menjadi hiburan, majalah membuka jendela dunia, dan lembaran-lembaran buku menjadi teman di kala senggang. Kita membukanya bukan karena ada yang berkata bahwa membaca mencerdaskan atau memperluas wawasan; kita membaca semata karena ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya.
Dan hal kecil inilah yang justru paling berarti.
Seorang anak menjalin pertemanan dengan buku bukan karena ia memikirkan “manfaatnya”, melainkan karena rasa ingin tahunya yang menyala.
Ketika Membaca Berubah dari Kesenangan Menjadi Beban
Mungkin kesalahan pertama yang kita lakukan adalah mengharapkan anak memetik manfaat dari sebuah buku—bahkan sebelum mereka sempat belajar menyukainya.
Kita memilihkan buku yang kita anggap baik, menentukan berapa halaman yang harus dibaca, lalu menguji pemahamannya: menyuruhnya membuat ringkasan, memastikan ia menangkap gagasan utama, pesan, serta pelajaran yang tersirat di dalamnya.
Padahal, meskipun hal-hal tersebut bermanfaat dalam dunia pendidikan, belum tentu cara demikian efektif untuk menumbuhkan cinta membaca dalam hati anak.
Bayangkan seorang anak baru saja membuka halaman pertama sebuah buku, namun sudah terbayang bahwa setelah halaman terakhir, ia harus menjawab pertanyaan demi pertanyaan. Wajar jika perlahan ia mulai memandang buku itu bukan sebagai teman, melainkan tugas yang harus diselesaikan.
Maka, ketika kita berkata: “Bacalah, karena membaca itu menyenangkan”—ia mungkin tak lagi memahami makna kalimat itu.
Kita ingin anak mencintai buku, namun ia justru merasa terbeban olehnya.
Di sinilah letak keanehannya: semakin kita sibuk menekankan manfaat membaca, semakin kita menjauhkannya dari kenikmatan—padahal kenikmatan itulah alasan sejati seseorang jatuh cinta pada bacaan.
Ketika seorang anak membaca kisah petualangan, buku tentang antariksa, atau majalah olahraga, ia jarang berpikir apakah kegiatan itu akan memperbagus bahasanya atau memperluas wawasannya. Ia hanya ingin tahu, menemukan hal baru, atau sekadar larut dalam cerita.
Dan itu saja sudah cukup sebagai awal yang indah.
Kita tak boleh meremehkan buku-buku pilihan anak, sekalipun bagi kita tampaknya sederhana saja. Ia mungkin memulai dari buku bergambar, cerita pendek, atau topik yang sama sekali tak menarik bagi kita. Yang terpenting: ia menemukan sesuatu yang memikat hatinya, hingga dengan sendirinya tangannya terus membalik halaman demi halaman.
Selera bacaannya akan tumbuh seiring berjalannya waktu.
Anak yang gemar membaca tak akan terpaku pada satu jenis bacaan saja. Minatnya akan melebar seiring kedewasaannya; dan buku yang hari ini tampak sederhana, kelak bisa menjadi jembatan yang menuntunnya ke karya-karya yang lebih dalam dan bermakna.
Persoalan sesungguhnya bukanlah karena ia memulai dari bacaan yang mudah—melainkan karena sejak awal ia dihadapkan pada buku-buku yang terasa seolah-olah bukan ditujukan untuknya.
Layar Bukanlah Satu-satunya Penyebab
Sangat mudah bagi kita untuk menyalahkan gawai dan layar. Ada banyak alasan yang membuat kita demikian. Hari ini, seorang anak dapat berpindah dari satu video, satu permainan, satu gambar ke yang lain seketika—tanpa menunggu. Sedangkan buku? Buku menuntut waktu, kesabaran, dan ketenangan.
Namun, adilkah jika kita membandingkan keduanya sedemikian rupa?
Layar dirancang untuk langsung menarik perhatian. Sedangkan buku? Buku justru menuntut pembacanya yang terlebih dahulu memberikan perhatiannya.
Maka persoalannya bukan sekadar keberadaan layar itu sendiri. Persoalannya adalah anak kini hidup di dunia yang nyaris tak menyisakan ruang bagi rasa bosan atau jeda waktu tunggu. Setiap kali hatinya terasa sepi atau kosong, seketika itu pula ia mencari sesuatu untuk mengisinya.
Mungkin di sinilah hal yang perlahan lupa kita ajarkan: betapa berharganya sedikit rasa bosan. Karena dari keheningan dan jeda itulah, rasa ingin tahu lahir dan tumbuh.
Membaca membutuhkan ketenangan hati, serta kemampuan untuk mengikuti alur yang tak langsung mengungkapkan segala rahasianya sekaligus.
Namun, bagaimana mungkin kita menuntut ketenangan itu dari anak—jika kita sendiri, orang tuanya, tak pernah lepas dari layar?
Inilah kenyataan yang barangkali berat untuk kita akui.
Kita berpesan kepadanya: “Letakkan gawaimu dan bacalah buku.” Namun di saat yang sama, ia melihat kita sendiri yang terus-menerus meraih layar setiap kali ada sepi sejenak.
Kita menuntut fokus darinya, padahal mata kita sendiri terus berpindah dari pesan ke berita, dari berita ke video.
Kita mengajarkan bahwa buku itu penting—tetapi ia tak pernah melihat betapa pentingnya buku itu bagi kehidupan kita sendiri.
Anak tak hanya mendengarkan kata-kata kita. Mereka lebih banyak mengamati tingkah laku kita.
Maka, cara terbaik untuk menumbuhkan cinta membaca di rumah mungkin bukan dengan menumpuk buku di rak, melainkan membiarkan anak melihat bahwa kita pun duduk tenang, menikmati lembaran demi lembaran buku yang terbuka di hadapan kita.
Bukan berarti rumah harus berubah menjadi perpustakaan, atau teknologi harus dilarang sepenuhnya. Kita tak bisa memutar kembali waktu, dan memang tak perlu demikian.
Anak-anak kita akan tumbuh di dunia yang serba digital, dan mereka memang membutuhkan bekal yang berbeda dari apa yang dulu kita perlukan.
Namun ada sesuatu yang tak akan pernah berubah: mereka tetap membutuhkan kemampuan untuk tenang, untuk membayangkan, untuk berpikir mendalam, dan untuk berdiam sejenak dengan satu pemikiran—tanpa harus berpindah-pindah setiap beberapa detik.
Di sinilah letak keistimewaan buku: bukan karena ia tanpa layar, melainkan karena buku melatih hati dan pikiran untuk menjalin hubungan yang lebih bermutu dengan waktu dan perhatian.
Bagaimana Jika Kita Mengubah Pertanyaannya?
Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya kepada anak: “Mengapa kamu tak suka membaca?”
Dan mulailah bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang telah kita lakukan, agar membaca menjadi sesuatu yang ia sukai?”
Hal ini bukan sekadar tanggung jawab keluarga di rumah.
Sekolah pun bisa menjadi jembatan yang mendekatkan anak pada buku—atau sebaliknya, menjauhkannya. Jika setiap bacaan selalu diakhiri ujian, dan setiap cerita diubah menjadi tugas, wajar jika dalam benak siswa, buku bukan lagi menyiratkan kesenangan, melainkan kewajiban.
Bagaimana jika di sekolah disediakan waktu khusus untuk membaca dengan bebas? Waktu di mana setiap anak bebas memilih apa yang ingin dibacanya—tanpa kewajiban membuat laporan atau ringkasan?
Bagaimana jika kita membiarkannya berkata dengan jujur: “Aku belum menyukai buku ini”?
Bagaimana jika kita memperlakukan perpustakaan bukan sekadar ruangan penuh rak dan debu, melainkan tempat penuh penemuan dan kejutan?
Begitu pula di rumah. Tak butuh banyak hal. Cukup biarkan ia memilih bukunya sendiri; sediakan waktu singkat setiap hari untuk membaca bersama; izinkan ia menutup buku yang tak disukainya; dan sesekali biarkan ia menceritakan isi bacaannya kepadamu—tanpa merasa sedang diuji atau dinilai.
Sepuluh menit membaca dengan hati yang senang jauh lebih berharga daripada satu jam penuh yang dijalani dengan terpaksa.
Tujuannya bukan agar ia kelak dapat melaporkan berapa banyak buku yang telah dibacanya. Tujuannya adalah hingga tiba suatu saat—di tengah hari yang lengang—ia sendiri meraih buku, karena ia menginginkannya.
Kembali kepada pertanyaan yang sempat membekas di hati: Mengapa anak-anak kita tak lagi gemar membaca sebagaimana kita dahulu?
Mungkin karena kita membandingkan dunianya dengan dunia kita dulu, dan lupa bahwa zaman yang mereka tinggali kini sungguh berbeda.
Dahulu, kita yang mencari sesuatu untuk diisi—dan buku hadir menjawabnya. Kini, justru segala sesuatu yang datang menghampiri mereka, memburu perhatiannya. Namun bukan berarti peran buku telah usang.
Mungkin yang berubah hanyalah caranya memperkenalkan buku. Bukan dengan berkata bahwa buku itu penting—melainkan membiarkan ia sendiri menemukan alasan mengapa buku itu berharga. Bukan dengan memaksanya membaca apa yang kita pilihkan—melainkan memberinya ruang untuk memilih sendiri. Bukan dengan menghukumnya di balik larangan bermain gawai hingga ia selesai membaca—melainkan menuntunnya menyadari bahwa ada kesenangan lain yang tak kalah indah, yang tak butuh layar. Bukan pula menuntutnya menjadi persis seperti kita—melainkan memberinya kesempatan untuk menemukan jalannya sendiri menuju dunia bacaan.
Anak itu tak pernah kehilangan kecintaannya pada sebuah kisah.
Ia tetap ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya. Rasa ingin tahunya tak pernah surut. Dan ia tetap mampu larut dalam cerita, merasakan suka dan duka bersama para tokoh di dalamnya.
Mungkin yang sejatinya ia butuhkan hanyalah menemukan buku yang mampu menyentuh hatinya, dan membangkitkan rasa ingin tahunya.
Maka tak perlu lagi berkata: “Pergilah dan bacalah.” Biarkan kelak ia sendiri yang datang kepada kita, dan bertanya dengan mata berbinar: “Apakah ada buku lain yang serupa?” Kalimat sederhana itu saja sudah cukup menjadi tanda—bahwa kita tak berhasil memaksanya membaca, melainkan kita berhasil membuatnya menemukan kegembiraan yang tersimpan di dalam lembaran-lembaran buku.[]
Tinggalkan Komentar