Info Sekolah
Selasa, 25 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
26 Desember 2025

Cahaya Nishapur: Kisah Perjalanan Ilmu dan Karya Agung Imam Muslim

Jum, 26 Desember 2025 Dibaca 17x Tokoh Islam

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Keduanya nyaris tak pernah terpisahkan; bahkan, keterikatan mereka menjadi tak terpisahkan—seperti keteraturan matahari dan bulan, serta keabadian siang dan malam. Mereka adalah dua tokoh agung ilmu hadits: Imam al-Bukhari dan Imam Muslim. Hubungan keduanya dengan sabda Rasulullah Saw. terukir abadi dalam catatan waktu dan lembaran sejarah.

Masing-masing memiliki kisah hidup yang khas serta warisan ilmu yang berbeda, yang menjadikan sosok mereka unik satu sama lain—meskipun keduanya menyimpan hasrat yang sama besarnya terhadap pencarian ilmu, serta pengabdian tulus untuk menjaga dan menyebarkan hadits yang mulia. Setelah wafatnya Imam al-Bukhari, Imam Muslim tampil sebagai ahli hadits terkemuka, otoritas utama dalam bidang Sunnah, serta kebanggaan bagi penduduk Nishapur: kota tempatnya menghabiskan masa kecilnya, dan tanah yang kelak memeluk jasad mulianya saat wafat. Antara masa kelahiran dan kepergiannya, ia meninggalkan warisan cemerlang yang terus bersinar melintasi generasi dan abad.


Nishapur: Jejak Imam Muslim, Dari Keluarga Terhormat Menuju Pelita Hadits

Di Nishapur, kota yang menjadi pusat berkumpulnya para ulama dan ahli hadits, lahir Imam Muslim ibn al-Hajjaj pada tahun 206 Hijriah. Ia berasal dari keturunan Arab murni yang sebelumnya telah berhijrah ke wilayah-wilayah Islam bagian timur. Ayahnya adalah sosok yang berilmu, berakhlak mulia, dan saleh; seorang tokoh yang dihormati dalam setiap majelis ilmu, serta dikenal luas karena kebaikan dan kebajikannya di mata orang-orang sezamannya.

Sang ayah memberikan perhatian penuh terhadap pendidikan putranya, Muslim, dengan senantiasa membimbing kecerdasan dan mengarahkan minatnya sedari muda menuju jalan pencarian ilmu. Pada masa itu, ilmu hadits berkembang pesat di Nishapur, sehingga orang-orang dari berbagai penjuru berbondong-bondong datang ke sana untuk mempelajarinya. Ketika menginjak usia delapan tahun, Muslim sudah tampak duduk dalam majelis ilmu ulama besar Nishapur, Imam Yahya ibn Yahya al-Tamimi al-Naisaburi. Di sana, beliau menyerap ilmu dengan penuh ketekunan, terkesan oleh akhlak guru yang luhur, dan hatinya pun semakin terikat erat dengan ilmu hadits.

Memasuki usia empat belas tahun, ia pun memulai perjalanan jauh untuk menuntut ilmu hadits ke berbagai negeri dan daerah. Meskipun lahir dari keluarga yang kaya raya, memiliki harta benda, aset, serta usaha dagang yang menguntungkan dan menjamin kedudukan tinggi, hal itu tidak membuatnya terlena. Bagi Imam Muslim, cita-citanya jauh lebih besar dan mulia: meraih derajat yang lebih tinggi dalam jalan kebenaran dan pelestarian sunnah Rasulullah Saw..


Perjalanan Menuntut Ilmu: Jejak Ketaatan dan Kebijaksanaan Imam Muslim kepada Imam al-Bukhari

Al-Dzahabi meriwayatkan bahwa perjalanan menuntut ilmu pertama Imam Muslim dilakukan saat ia berusia sekitar delapan belas tahun. Dua tahun kemudian, tepat saat ia menginjak usia dua puluh tahun, ia menunaikan ibadah haji dalam keadaan masih berusia muda.

Semangat yang tak pernah padam untuk menggali ilmu serta kecintaannya yang mendalam terhadap tradisi Nabi Saw. membawanya menjelajah ke berbagai penjuru negeri, mulai dari wilayah Hijaz, Mesir, Baghdad, hingga Suriah. Di tempat-tempat inilah ia belajar langsung di bawah bimbingan ratusan ahli hadits dan ulama besar, antara lain Yahya ibn Yahya al-Naisaburi, Muhammad ibn Mihran al-Hammal, Qutaibah ibn Sa’id, Ahmad ibn Hanbal, Ishaq ibn Rahwaih, Ubaidillah al-Qawariri, Ibrahim ibn Musa al-Farra’, Ali ibn al-Ja’d, Khalaf ibn Hisyam, Suraij ibn Yunus, Abdullah ibn Maslamah al-Qa’nabi, serta banyak ulama lainnya.

Setelah bertemu dengan Imam al-Bukhari, ia pun menyerahkan diri sepenuhnya untuk menjadi murid beliau, karena sangat kagum pada metode keilmuan, keluhuran budi pekerti, serta kekuatan daya ingat sang guru. Seiring berjalannya waktu, terjalinlah ikatan kasih sayang yang erat keduanya—ikatan yang wajar tumbuh antara seorang guru yang berbudi luhur dengan murid yang saleh dan berbakti. Bahkan menurut riwayat beberapa sejarawan, ia pernah berkata kepada Imam al-Bukhari: “Izinkanlah aku mencium kakimu, wahai Guru Agung, pemimpin para ulama hadits, serta penyempurna ilmu hadits.”

Pengaruh besar Imam al-Bukhari terlihat sangat nyata pada diri Imam Muslim, yang senantiasa mengikuti jejak langkah sang guru dalam hal cara menuntut ilmu, cara menyampaikan ilmu, adab pergaulan, hingga penampilan sehari-hari. Hal ini pun ditegaskan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam ucapannya: “Imam Muslim mengikuti jalan yang ditempuh oleh Imam al-Bukhari, mempelajari ilmu yang beliau ajarkan, dan meneladani segala sifatnya. Ketika Imam al-Bukhari tiba di Nishapur pada masa-masa akhir hayatnya, Imam Muslim pun menetap bersama beliau dan senantiasa datang berkunjung untuk menemani serta belajar darinya.”


Cobaan Terkait Pemahaman Al-Qur’an: Bukti Kesetiaan Mutlak Muslim ibn al-Hajjaj kepada Al-Bukhari yang Terlupakan

Kasih sayang dan kesetiaan yang mendalam yang dimiliki Muslim ibn al-Hajjaj kepada gurunya, al-Bukhari, tidak hanya terbatas pada perasaan belaka. Ia juga memberikan dukungan nyata dan bantuan sepenuh hati ketika al-Bukhari menghadapi tuduhan yang tidak adil serta perselisihan pahit. Salah satu contoh nyata adalah sikap tegasnya menghadapi ulama hadits Nishapur, Imam Muhammad ibn Yahya al-Dzuhli—semoga Allah merahmatinya—yang diduga merasa iri terhadap keilmuan al-Bukhari, lalu berusaha melibatkannya dalam perdebatan terkait pemahaman sifat al-Qur’an. Akibatnya, al-Bukhari harus menghadapi pengucilan dan kesulitan yang sangat berat hingga terpaksa meninggalkan Nishapur.

Catatan sejarah menceritakan: Ketika al-Bukhari menetap di Nishapur, Muslim ibn al-Hajjaj selalu rutin mengunjunginya. Namun, ketika muncul perselisihan antara al-Dzuhli dan al-Bukhari mengenai masalah sifat wahyu yang dituangkan dalam redaksi al-Qur’an, al-Dzuhli mulai mengecam al-Bukhari secara terbuka, bahkan melarang masyarakat untuk hadir dalam majelis ilmu beliau. Hal ini menyebabkan al-Bukhari dikucilkan dan akhirnya harus meninggalkan kota tersebut di masa yang sangat sulit. Hampir semua orang memutus hubungan dengan beliau—hanya Muslim yang tetap setia, tanpa pernah sekalipun melalaikan kunjungan dan dukungannya.

Kabar mengenai kesetiaan Muslim ini sampai kepada al-Dzuhli: meskipun sudah banyak orang yang mencela sikapnya di berbagai daerah seperti Irak dan Hijaz, ia tetap teguh berdiri di samping al-Bukhari dan tidak sedikit pun mengubah pendiriannya. Suatu hari di akhir majelis ilmu al-Dzuhli, ia bersabda: “Barangsiapa masih berpegang pada pendapat terkait redaksi al-Qur’an yang telah kita bahas, maka tidak diperkenankan baginya untuk kembali hadir dalam majelis kita.” Mendengar hal itu, Muslim segera merapikan pakaiannya, berdiri di hadapan para hadirin, dan meninggalkan majelis tersebut. Ia kemudian mengumpulkan seluruh catatan ilmu yang pernah ia terima dari al-Dzuhli, lalu mengirimkannya kembali ke rumahnya melalui seorang utusan. Sejak saat itu, perpisahan keduanya menjadi nyata: Muslim menjauh dari majelis al-Dzuhli dan tidak lagi berkunjung ke tempatnya, sebagai bukti kesetiaannya yang tak tergoyahkan kepada al-Bukhari.


Pengakuan Para Ahli Hadits: Kesaksian Para Syaikh, Penghafal, dan Sejarawan atas Keutamaan Imam Muslim ibn al-Hajjaj

Para ulama dan sejarawan Islam seluruhnya mengakui kedudukan luhur serta peran penting Imam Muslim ibn al-Hajjaj. Sejak masa awal perjalanannya menuntut ilmu, kecerdasan yang cemerlang, ketajaman berpikir, daya ingat yang luar biasa, semangat menuntut ilmu yang tak pernah padam, serta akhlak yang patut dicontoh telah memikat hati para gurunya. Salah satu gurunya, sang penghafal Ishaq ibn Rahwaih, begitu kagum hingga berseru penuh takjub, “Sungguh sosok yang luar biasa!” Sementara itu, gurunya yang lain, Ishaq ibn Manshur al-Kausaj, berpesan kepadanya, “Selama Allah menjagamu untuk umat Muslim, niscaya kebaikan tidak akan pernah putus dari kita.”

Dalam karyanya yang berjudul Shiyânah Shahîh Muslim min al-Ikhlâl wa al-Ghalath wa Himâyatuh min al-Isqâth wa al-Saqth, Ibnu al-Shalah memberikan pujian yang tinggi: “Di kalangan para ulama hadits, ada yang setara dengannya, namun tak sedikit pula yang tertinggal jauh darinya. Tetapi, Allah Swt. telah mengangkat derajatnya melalui kitab sahih ini setinggi bintang-bintang di langit. Ia pun menjadi rujukan utama, patokan yang pasti, serta sumber petunjuk dalam ilmu hadits dan berbagai disiplin ilmu yang bermanfaat lainnya. Demikianlah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.”

Al-Hafizh Muhammad ibn Basyar menempatkan Imam Muslim di jajaran ulama hadits terbesar pada masanya, bahkan menggolongkannya sebagai salah satu dari empat tokoh terkemuka dalam bidang ini menurut pandangannya: Abu Zur’ah al-Razi di Ray, Muslim ibn al-Hajjaj di Nishapur, Abdullah al-Darimi di Samarkand, dan Muhammad ibn Ismail al-Bukhari di Bukhara.

Di wilayah Maghrib, al-Qadhi Iyadh menggambarkan Imam Muslim sebagai salah satu tokoh ulama Muslim yang paling terkemuka, ahli hadits yang mendalam, serta penyusun kitab yang sangat mahir. Pujian ini disampaikan pula oleh para imam yang hidup sebelum maupun sesudahnya, yang seia sekata mengakui kepemimpinannya, kedudukannya yang mulia, keabsahan hadits yang ia riwayatkan, ketajaman analisisnya, kepercayaan yang layak diberikan kepadanya, serta penerimaan luas terhadap riwayat-riwayat yang ia sampaikan.


Shahîh Muslim: Intisari Hadits-Hadits Otentik dari Karya Besar Imam Muslim

Ketenaran Imam Muslim memang lekat dengan kitab agungnya, Shahîh Muslim, namun karya ilmiahnya dalam bidang ilmu hadits tidak terbatas pada satu karya itu saja. Ia meninggalkan berbagai karya tulis yang mendalam, mencakup aspek periwayatan maupun pemahaman hadits. Di antara karya-karya tersebut adalah: al-Kunâ wa al-Asmâ`, ‘Ilal al-Ahâdîts, Thabaqât al-Tâbi’în, Rijâl ‘Urwah ibn al-Zubayr, al-Munfaridât wa al-Wuhdân, dan al-Tamyîz.

Meski demikian, kedudukan dan nama harum Imam Muslim paling terpatri melalui kitab Shahîh Muslim yang menjadi rujukan utama umat Muslim. Sebagaimana ungkapkan ulama besar Imam Yahya bin Syaraf al-Nawawi dalam penjelasannya terhadap kitab ini: “Semoga Allah senantiasa melestarikan kenangan mulia dan pujian yang agung untuknya hingga hari kiamat.”

Berbagai catatan sejarah dan karya para ahli hadits menyebutkan bahwa Imam Muslim meluangkan waktu selama lima belas tahun untuk mengumpulkan, menyeleksi, serta menyempurnakan kitab shahîh ini. Ia berhasil menyelesaikannya pada tahun 250 Hijriah, saat usianya menginjak empat puluh empat tahun. Dari ratusan ribu hadits yang beliau miliki—baik dari hasil periwayatan maupun hafalan pribadi—yang berjumlah lebih dari 300.000 buah, ia melakukan penyaringan dan pemeriksaan mendalam. Hasilnya, terpilihlah 3.033 hadits murni yang saling melengkapi tanpa pengulangan. Apabila seluruh bagian dan pengulangan hadits yang mendukung dimasukkan, jumlah keseluruhan dalam kitab ini mencapai 7.395 hadits yang mulia.


Metodologi Pengumpulan Hadits dalam Shahîh Muslim: Keteraturan dan Kemudahan Akses sebagai Keunggulan Utama

Dalam pengantar kitabnya, Imam Muslim menjabarkan secara rinci prinsip yang ia gunakan saat mengumpulkan dan menyeleksi hadits: “Kami merangkum seluruh riwayat yang bersumber dari Rasulullah Saw., lalu mengelompokkannya menjadi tiga kategori yang disesuaikan dengan tingkatan para perawinya, tanpa menumpuk riwayat yang sama berulang-ulang. Kami hanya mengulang penyajian suatu hadits jika terdapat makna tambahan yang terkandung di dalamnya, atau jika sanadnya terhubung dengan riwayat lain. Sebab, setiap makna tambahan yang dibutuhkan setara dengan satu hadits yang utuh. Oleh karena itu, kami akan mengulang hadits yang memuat makna baru, atau memisahkan makna tersebut dari bagian lain hadits dan menyajikannya secara ringkas jika memungkinkan. Namun, jika pemisahan itu sulit dilakukan, maka menyajikannya secara utuh adalah langkah yang lebih hati-hati. Kami berjanji, Insya Allah, tidak akan melakukan pengulangan yang tidak memiliki tujuan yang jelas.”

Shahîh Muslim dikenal dengan susunan yang sistematis, bahasa yang lugas, serta penerapan kaidah yang konsisten. Hal ini menjadikan kitab tersebut unggul dalam hal kerapian dan pengorganisasian materi jika dibandingkan dengan Sahih al-Bukhari, meskipun Shahîh al-Bukhârîy tetap lebih unggul dalam hal ketelitian verifikasi keshahihan riwayat.

Imam al-Nawawi juga menyoroti keistimewaan Shahîh Muslim: “Shahîh Muslim memiliki keunggulan yang sangat baik dan khas, yaitu kemudahan untuk dipelajari dan dicari isinya. Setiap hadits diletakkan pada bab yang paling tepat, lengkap dengan berbagai sanad dan variasi redaksi yang diterima dan dipilihnya. Hal ini memudahkan para penuntut ilmu untuk memahami berbagai sisi hadits tersebut, mengambil manfaat darinya, serta meyakini keabsahan seluruh jalur riwayat yang disajikan. Berbeda dengan Shahîh al-Bukhârîy yang seringkali menyebarkan pembahasan satu hadits ke dalam bab-bab yang berbeda dan berjauhan, bahkan terkadang ditempatkan pada bab yang sekilas tidak berkaitan—hal ini didasari oleh pertimbangan mendalam yang dipahami khusus oleh Imam al-Bukhari, namun menjadikan para penuntut ilmu kesulitan untuk merangkai keseluruhan isi dan sisi hadits tersebut.”


Syarh Shahîh Muslim: Karya Pencerah dari Samudra Ilmu Imam Muslim

Para ulama sepanjang masa telah mencurahkan perhatian yang besar terhadap kitab Sahih Muslim, baik dengan cara menghafal, menjelaskan maknanya, maupun mengajarkannya kepada generasi selanjutnya. Salah satu karya penjelas yang paling masyhur adalah Shiyânah Shahîh Muslim min al-Ikhlâl wa al-Ghalath wa Himâyatuh min al-Isqâth wa al-Saqth karangan Ibnu al-Shalah.

Selain itu, terdapat pula karya berjudul al-Mu’allim bi Fawâ`id Muslim karya al-Mazari, yang kemudian disempurnakan oleh al-Qadhi Iyadh melalui kitabnya yang diberi nama Ikmâl al-Mu’allim. Selanjutnya, Muhammad ibn Khalifah al-Ubi menyempurnakan kembali karya tersebut dengan menulis Ikmâl Ikmâl al-Mu’allim. Tak lama kemudian, Muhammad al-Sanusi melengkapinya pula dalam kitab Mukammil Ikmâl al-Ikmâl. Keseluruhan karya ini membentuk rangkaian penjelasan yang teratur dan saling melengkapi satu sama lain.

Masih banyak karya penjelas lainnya, salah satunya adalah al-Minhâj fî Syarh Shahîh Muslim Ibn al-Hajjâj yang disusun oleh Imam Yahya ibn Syaraf al-Nawawi, beserta berbagai karya ulama lainnya.


Malam Lampu: Berakhirnya Perjalanan di Antara Sekeranjang Kurma dan Halaman Hadits

Kehidupan Imam Muslim ibn al-Hajjaj terbilang singkat, tak lebih dari 55 tahun, namun diisi dengan aktivitas dan sumbangsih ilmu pengetahuan yang luar biasa. Para ulama terkemuka dan ahli hadits dari berbagai penjuru berdatangan untuk menimba ilmu kepadanya. Ia pun senantiasa setia menemani pena, kertas, dan peralatan tulisnya hingga akhir hayatnya. Kisah menyebutkan, ia menghembuskan napas terakhirnya di tengah malam yang ia habiskan untuk meneliti—tepat sebelum fajar menyingsing—saat sedang berupaya melacak asal-usul sebuah hadits yang pernah ia dengar namun belum diketahui sumbernya.

Al-Khathib dalam karyanya, Târîkh Baghdâd, meriwayatkan kisah wafatnya Imam Muslim melalui keterangan Ahmad ibn Salamah: “Suatu kali, dalam sebuah majelis ilmu, disebutkanlah sebuah hadits yang belum aku ketahui. Setelah acara selesai, aku pulang, menyalakan lampu, dan berpesan kepada mereka yang hadir: ‘Jangan ada yang masuk ke ruangan ini.’ Tak lama kemudian, diberitahukan kepadaku bahwa ada seseorang yang menghadiahkan sekeranjang kurma. Aku pun berkata: ‘Bawalah kepadaku.’ Setelah kurma itu ada di hadapanku, aku pun mulai mencarikan sumber hadits tersebut, sambil sesekali mengambil dan memakan kurma itu satu per satu. Menjelang pagi, kurma itu habis tak bersisa, dan bertepatan dengan saat itu pula aku berhasil menemukan sumber hadits yang dicari. Konon, kesungguhan inilah yang menjadi penyebab berakhirnya masa hidupnya.”

Imam Muslim wafat di Nishapur pada malam hari menjelang hari Senin, dan dikebumikan pada hari Senin, tanggal 25 Rajab tahun 261 Hijriah. Seolah-olah nyala lampu yang menerangi malam penelitiannya itu padam bersamaan dengan berakhirnya tugas duniawinya, namun bintang keabadian ilmu yang ia tinggalkan tetap bersinar terang, melintasi batas waktu dan tempat hingga masa kini.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar