Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Muhammad bin Ismail semasa kecil pernah melangkah di lorong-lorong kota kelahirannya, Bukhara, dengan tubuh yang lemah dan penglihatan yang hilang. Ia menjalani hari-hari yang penuh kesulitan, layaknya seorang anak yang kehilangan cahaya mata karena penyakit. Namun, melalui doa tulus dan kasih sayang ibunda yang penuh kesabaran, Allah Swt. mengembalikan penglihatannya, sekaligus menerangi hati dan pandangan batinnya. Maka, mulailah perjalanan seorang sosok yang warisannya senantiasa semakin agung, mulia, dan abadi seiring berjalannya waktu. Sesungguhnya, nama dan jasanya akan tetap hidup selama seruan azan terus berkumandang, serta selama Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada para ulama hadits yang berilmu dan berdedikasi.
Demikianlah permulaan kisah perjalanan hidup al-Bukhari. Cerita perjuangannya terus bergema melintasi masa dan terukir abadi dalam lembar sejarah. Inilah awal mula ikatan yang tak terpisahkan antara ia dan kitab yang disusunnya: keduanya saling melengkapi dan dikenal melalui satu sama lain. Kitab itu pun menyandang namanya, dan mengangkat nama sang penyusun menuju puncak keabadian yang kekal.
Sebuah Keajaiban Ilmu dari Seorang Ulama Hadits
Abu Abdullah, Imam Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn al-Mughirah ibn Bardizbah, lahir pada tahun 194 Hijriah di kota Bukhara—kini bagian dari Republik Uzbekistan. Pada masa itu, Bukhara sedang berada di puncak kejayaannya, menjadi pusat berkumpulnya para ulama, mufti, dan pendakwah yang mencerahkan peradaban Islam. Ayahnya wafat saat ia masih berusia muda, sehingga ia tumbuh sebagai anak yatim yang diasuh oleh seorang wanita saleh. Sosok inilah yang merawat benih-benih cita-citanya dan membimbingnya melangkah di jalan pencarian ilmu. Sejak usia belia, ia telah mendalami berbagai bidang pengetahuan di Bukhara, kota yang masyhur dengan menara-menara masjidnya yang menjulang serta menjadi saksi lahirnya warisan-warisan ilmu keislaman yang abadi.
Salah satu keistimewaan yang paling menonjol dari sosok ini adalah daya ingatnya yang luar biasa tajam. Konon, ia pernah menyampaikan: “Aku telah menghafal seratus ribu hadits sahih, serta dua ratus ribu hadits yang derajatnya tidak sahih.” Kecerdasan yang tajam disertai daya ingat yang begitu luas terkadang membuat rekan-rekan sesama penuntut ilmu merasa heran sekaligus cemas. Ketika mereka sibuk mencatat setiap perkataan para guru, ia tidak pernah menuliskan satu pun; ketika mereka berulang-ulang melafalkan dan berlatih menghafal dengan susah payah, ia tampak begitu ringan dalam menyerap dan menyimpan segala ilmu yang didengar. Karena hal itu, mereka pernah bertanya kepadanya: “Kamu ikut bersama kami menemui para ulama, namun kamu tidak pernah mencatat apa yang disampaikan. Apa sebenarnya yang kamu lakukan?”
Desakan mereka terus berlanjut hingga akhirnya ia pun merasa terganggu. Setelah berlalu enam belas hari, ia berkata kepada mereka: *“Kalian begitu gigih menanyakan hal ini. Cobalah perlihatkan apa yang telah kalian tuliskan selama ini.”* Ketika mereka memperlihatkan catatan yang berisi lebih dari lima belas ribu hadits, ia pun melafalkan keseluruhan isinya satu per satu dari ingatannya sendiri. Luar biasanya, catatan mereka yang tadinya dianggap lengkap itu justru banyak yang dikoreksi berdasarkan apa yang ia sampaikan. Saat itulah mereka sepenuhnya menyadari: tidak ada seorang pun yang mampu melampaui kemampuannya dalam hal menghafal dan menjaga kesucian sanad hadits.
Belum lagi kecerdasan yang luar biasa itu disandingkan dengan ambisi yang tinggi, tekad yang tak tergoyahkan, serta keteguhan hati yang murni. Hal inilah yang mendorong remaja berusia enam belas tahun itu melintasi padang pasir yang gersang dan menempuh perjalanan jauh ke berbagai kota, untuk berguru kepada para ulama ahli di Balkh, Nishapur, Mekah, Madinah, Baghdad, wilayah Mesir, hingga ke Syam. Tak lama kemudian, ia pun mulai duduk di majelis pengajaran. Murid-murid datang berbondong-bondong dari segala penjuru negeri untuk menimba ilmu darinya, hingga akhirnya kemasyhurannya memicu rasa tidak senang di kalangan sebagian ulama sezamannya—dan dari sanalah bermula kisah perjalanan Imam al-Bukhari, semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya.
Keandalan Perawi dan Rantai Transmisi yang Tak Terputus Kembali kepada Nabi
Dalam karyanya yang agung, Shahih al-Bukhârîy, Imam al-Bukhari merintis sebuah metodologi yang belum pernah ada sebelumnya dalam skala dan kedalamannya. Dari sekitar 600.000 hadits yang menjadi bahan pertimbangan, ia memilih dan menyaringnya dengan sangat teliti, memeriksa satu per satu rantai transmisi serta kepercayaan setiap perawinya. Proses penyempurnaan koleksi yang mendalam ini terus berlangsung hingga akhirnya terkumpul 7.275 hadits—termasuk bagian yang berulang—dalam bentuk yang sempurna.
Seluruh proses penyusunan kitab ini memakan waktu enam belas tahun penuh. Setelah rampung, para ulama generasi selanjutnya mendedikasikan diri untuk menghafalkannya, menguraikan maknanya, serta meneliti dan menuliskan berbagai karya penjelasan yang mendalam tentangnya. Seperti yang dikemukakan oleh Imam Ibnu Khaldun dalam kitabnya, al-Muqaddimah: “Para guru kami dahulu berkata: ‘Menjelaskan isi Shahih al-Bukhârîy adalah kewajiban yang harus dipikul oleh seluruh umat ini.’”
Dalam menetapkan keaslian hadits, Imam al-Bukhari mendasarkan diri pada sejumlah kriteria utama, antara lain: (1). Riwayat yang disampaikan secara langsung oleh perawi, dengan rantai sanad yang tersambung utuh kembali kepada Nabi Saw.; (2). Keandalan, kefasihan dalam menyampaikan, kejujuran, ketepatan ingatan, keluasan ilmu, serta ketakwaan setiap perawi.
Merespons berbagai pandangan yang menilai kitab ini, Imam al-Hafizh Ibnu Hajar menyampaikan: “Barangsiapa yang berpikiran adil dan menelaah apa yang telah saya tuliskan tentang kitab ini, niscaya ia akan semakin menyadari kemuliaan Shahih al-Bukhârîy dan mengangkat derajatnya dengan tinggi. Ia pun akan memahami mengapa para ulama terdahulu menerimanya dengan sepenuh hati, menjadikannya rujukan utama, dan mendahulukannya di atas segala kitab hadits maupun karya terdahulu lainnya. Tidak sama orang yang menilai dengan tergesa-gesa—yang kerap tergelincir ke dalam prasangka—dengan orang yang menilai dengan adil, yang berpegang pada prinsip yang disepakati dan penelitian yang teliti.”
Kitab-kitab Syarh Shahîh al-Bukhârîy: Lautan Ilmu yang Tak Habis-habisnya Sepanjang Zaman
Shahîh al-Bukhârîy adalah kitab hadits paling utama dan terkemuka dalam tradisi Islam, sehingga para ulama dari setiap masa berlomba-lomba menyusun penjelasan, kajian, dan syarh (tafsir/penjelasan) terhadapnya. Berikut adalah daftar syarh yang sangat masyhur dan bernilai tinggi:
Di antara seluruh kitab syarh yang ada, Fath al-Bârîy karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menempati kedudukan yang paling istimewa. Ia dianggap sebagai “mahkota” dari seluruh kitab syarh, karena mengumpulkan berbagai pandangan ulama terdahulu, menjelaskan dalil-dalil yang tersembunyi, menyelesaikan pertentangan antar hadits, serta merangkum berbagai ilmu yang berkaitan dengan setiap bab dalam Shahîh al-Bukhârîy.
Sepanjang sejarah, umat Muslim sangat menghormati Imam al-Bukhari dan kitabnya. Namun, tak jarang pula muncul berbagai pihak yang berusaha menuduh kitab ini mengandung pemalsuan atau rekayasa. Serangan-serangan ini pada akhirnya selalu dapat dijawab dan digagalkan oleh para ulama pembela sunnah, karena tuduhan-tuduhan tersebut sering kali datang dari pihak yang tidak memahami metode penulisan, perjalanan hidup, serta keilmuan yang dimiliki oleh Imam al-Bukhari secara mendalam.
Kekayaan ilmu yang tertuang dalam kitab-kitab syarh tersebut membuktikan bahwa Shahîh al-Bukhârîy adalah lautan ilmu yang tidak akan pernah kering, dan akan terus menjadi rujukan utama bagi umat Muslim hingga hari akhir.
Kecemburuan Para Ulama dan Keterasingan Sang Imam
Dunia ilmu pengetahuan merangkul sosok Imam al-Bukhari. Namanya pun kian masyhur, dikenal luas di berbagai penjuru kota dan di kalangan ulama terkemuka mazhab Sunni. Para penuntut ilmu berbondong-bondong menyerap kelimpahan ilmunya, menyaksikan pancaran keimanan yang teguh, serta merasakan limpahan kedermawanan yang ia salurkan tanpa pamrih. Keberhasilan ini justru memicu rasa iri hati di kalangan sebagian ulama sezaman di wilayah Timur Islam, yang kemudian melontarkan tuduhan keliru bahwa ia meyakini al-Qur’an adalah makhluk.
Cobaan yang dihadapinya kian berat seiring semakin banyaknya hati dan perhatian yang beralih kepadanya. Para murid dan pendengar memenuhi majelis ilmu yang ia selenggarakan. Hal ini membuat majelis Syaikh Muhammad ibn Yahya al-Dzuhli—yang sebelumnya menjadi ulama rujukan utama di seluruh Khurasan—kian sepi dari pengikutnya. Tergerus rasa iri, ia melancarkan serangan fitnah yang bertubi-tubi terhadap al-Bukhari, menghasut rakyat biasa maupun kalangan terpandang untuk memusuhinya, hingga akhirnya menyerukan pengusiran al-Bukhari dari tanah Khurasan dengan ucapan yang kini tercatat dalam sejarah: “Orang ini tidak akan tinggal di kotaku.”
Penderitaan Imam al-Bukhari belum usai. Ia kembali diperlakukan dengan tidak adil oleh gubernur Bukhara, yang menolak memberikan izin bagi ia untuk mengadakan majelis hadits secara khusus di kediamannya tanpa dihadiri orang lain. Tak lama kemudian, gubernur pun mengasingkan Imam Muhammad ibn Ismail ke desa Khartank. Di sana ia berdiam dalam kesedihan yang mendalam, hingga rasa sakit yang dirasakannya memuncak; di saat itulah ia memanjatkan doa kepada Allah agar dipanggil kembali ke sisi-Nya.
Imam al-Dzahabi dalam kitabnya, Siyar A’lâm al-Nubalâ`, mengisahkan masa-masa akhir kehidupan al-Bukhari dengan mengutip keterangan Ibnu Adi: “Aku mendengar Abdul Quddus ibn Abdil Jabbar al-Samarqandi berkata: ‘Muhammad ibn Ismail tiba di Khartank—sebuah desa berjarak dua farsakh dari Samarkand—di mana ia memiliki kerabat. Ia menetap bersama mereka. Suatu malam, setelah menunaikan shalat malam, aku mendengar ia berdoa: “Ya Allah, seberapa luas pun bumi ini, ia kini terasa sempit bagiku. Maka panggillah aku pulang kepada-Mu.” Ia berpulang ke Rahmatullah sebelum bulan itu berakhir. Makamnya pun tetap berdiri di desa Khartank hingga kini.’”
Taman Imam Para Ahli Hadits
Abu Manshur Ghalib ibn Jibril—di kediamannya, Imam al-Bukhari pernah singgah—menceritakan: “Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail menetap bersama kami selama beberapa hari, hingga akhirnya ia jatuh sakit, dan kondisi kian memburuk. Kami pun mengirim utusan ke Samarkand untuk menjemput keluarganya. Ketika utusan itu tiba, ia bersiap untuk berangkat: mengenakan alas kaki dan melilitkan sorban. Namun baru berjalan sekitar dua puluh langkah, saat aku memegang lengannya dan orang lain bersiap membantunya naik ke atas tunggangan, ia berdoa dengan penuh kerendahan hati: ‘Biarkanlah aku pergi, sesungguhnya aku kini sangat lemah.’ Ia pun melantunkan beberapa doa, lalu berbaring dan menghembuskan napas terakhir—semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya yang paling luas kepadanya. Tubuhnya mengeluarkan keringat yang begitu deras, dan keringat itu tak berhenti mengalir hingga kami selesai memakaikan pakaian pengurusannya.
Di antara pesan dan wasiat yang ia sampaikan sebelum wafat adalah: agar ia dikafani dengan tiga helai kain putih saja, tanpa kemeja maupun sorban. Kami pun melaksanakannya. Ketika pemakaman berlangsung, terciumlah aroma yang sangat harum—lebih manis daripada wangi kesturi—yang keluar dari tanah tempat ia dimakamkan. Wangi itu bertahan berhari-hari lamanya. Tak lama kemudian, muncul pilar-pilar putih yang menjulang tinggi di langit, tepat di atas makamnya, membuat siapa saja yang melihatnya merasa takjub dan penuh kekaguman.
Namun, hal itu pula yang membawa ujian: orang-orang mulai berbondong-bondong datang dan berusaha mengambil tanah dari makamnya. Kami tak sanggup lagi menjaga dan mengawasi tempat itu sendiri. Akhirnya, kami memasang pagar kayu pembatas agar tak ada yang bisa mendekat terlalu jauh. Meski ada yang berusaha membersihkan tanah di sekitarnya, tak ada yang mampu menyentuh makamnya secara langsung.”
Wangi yang menyejukkan itu pun terus menyebar, hingga seluruh penduduk kota membicarakannya dengan rasa heran dan hormat. Bahkan mereka yang dulu berselisih pandangan dengannya pun akhirnya menyadari kebenaran setelah ia tiada. Sebagian dari mereka datang ke makamnya, memohon ampun kepada Allah, dan menyatakan penyesalan mendalam atas tuduhan serta pandangan yang keliru yang pernah mereka sampaikan terhadap ajaran dan pemikiran Imam al-Bukhari.
Di tengah keharuman yang tak ternilai dan wangi kesturi yang senantiasa terasa, nama Imam al-Bukhari beserta kitab Shahîh-nya tetap bergema membawa cahaya iman, warisan kenabian, dan jejak peradaban yang abadi. Suara ajarannya terus terdengar setiap kali umat Muslim meriwayatkan dan merenungkan pesannya—semoga Allah melimpahkan berkah dan keselamatan yang tak terputus kepadanya: “Semoga Allah memberkati hamba yang mendengar perkataanku, memahaminya, lalu menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya.”[]

Tinggalkan Komentar