Info Sekolah
Selasa, 25 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
20 Juli 2026

Di Manakah Letak Dorongan Destruktif dalam Jiwa?

Sen, 20 Juli 2026 Dibaca 21x Hikmah

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Hawa (hasrat dan kecenderungan jiwa) adalah arah tujuan dan apa yang didambakan oleh hati manusia; dalam bahasa sehari-hari, hal ini sering disamakan dengan watak atau pembawaan. Seseorang bisa memiliki kecenderungan untuk menuntut ilmu, berkelana, dermawan, atau menolong sesama—ciri jiwa yang terus tumbuh ke arah kebaikan. Namun bisa juga ia mendambakan ketenaran, pujian, gemar berghibah, memfitnah, atau menebar perpecahan—kecenderungan yang menjerumuskan pada kehancuran. Maka pada hakikatnya, hawa itu sendiri tidak tercela.

Mungkin ada yang bertanya: “Jika demikian, bagaimana makna firman Allah: ‘Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya,’ [Q.S. al-Nazi’at: 40 – 41]?”

Makna ayat ini bukan berarti kita harus membuang atau melawan setiap keinginan yang muncul. Sebaliknya, saat hawa mendesak, itulah waktu terbaik untuk berhenti sejenak, berdialog dengan diri sendiri, dan menimbang: apakah keinginan ini selaras dengan keridhaan Allah? Jika hawa itu baik, maka laksanakanlah; jika menjurus ke buruk, maka tahanlah diri. Hanya mereka yang senantiasa sadar akan kehadiran Allah yang mampu menahan diri dari hawa yang buruk, dan bagi merekalah surga menjadi tempat kembali.

Jadi inti masalahnya bukan pada keberadaan hawa nafsu itu sendiri, melainkan pada sikap kita: apakah kita membiarkan hawa yang jahat menguasai jiwa dan mendorong kita berbuat salah, atau kita yang mengendalikannya.

Orang yang bertakwa cepat mengenali bisikan setan, sebagaimana firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka disentuh oleh sesuatu pikiran dari setan, mereka segera ingat [kepada Allah], maka tiba-tiba mereka melihat [kesalahannya],” [Q.S. al-A’raf: 201].

Kekuatan sejati bukanlah tidak memiliki keinginan sama sekali, melainkan kemampuan mengendalikannya agar selaras dengan petunjuk Sang Pencipta. Orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri tidak akan menemukan tantangan yang terlalu berat untuk dihadapi. Rasulullah Saw. pun bersabda: “Bukanlah orang kuat yang pandai bergulat, melainkan orang kuat adalah yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah,” [H.R. al-Bukhari dan Muslim].

Manusia diberi kemampuan penuh untuk mengubah diri sendiri jika ia berkehendak. Allah Swt. menegaskan: “Demi jiwa dan penyempurnaan [ciptaan]nya, lalu Dia mengilhamkak kepadanya kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya,” [Q.S. al-Syams: 7 – 10].

Salah satu keajaiban penciptaan adalah sifat ganda jiwa manusia: kita siap menerima kebaikan maupun keburukan, petunjuk maupun kesesatan, serta mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Di samping itu, ada kekuatan akal dan hati nurani yang sadar dan mampu membimbing. Siapa yang memanfaatkannya untuk memurnikan diri, mengembangkan kecenderungan baik, dan menekan keinginan buruk, ia akan beruntung. Sebaliknya, siapa yang membiarkan kekuatan ini lemah, ia akan gagal.

Maka tugas utama kita adalah memelihara kekuatan kesadaran itu agar mampu memilih dan membimbing kecenderungan hati—inilah kebebasan yang membedakan manusia dari makhluk lain.

Karena kasih sayang-Nya, Allah tidak membiarkan manusia berjalan sendiri hanya mengikuti kecenderungan bawaan atau akal semata. Ia mengutus wahyu untuk menetapkan standar yang pasti, memperjelas tanda-tanda kebenaran, dan menerangi kegelapan keinginan agar kita melihat hakikat sesuatu dengan jernih. Dengan demikian, jalan menjadi terang, dan kita paham bahwa nasib kita ditentukan oleh apa yang kita lakukan sendiri.

Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri,” [Q.S. al-Ra’d: 11]. Inilah tanggung jawab besar yang mengharuskan kita senantiasa kembali pada prinsip Ilahi yang kekal, agar kita tidak tertipu oleh keinginan sendiri dan tergelincir ke arah kehancuran.

Rasulullah Saw. pun mengingatkan: “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai keinginannya selaras dengan apa yang aku bawa,” [H.R. al-Baghawi dan al-Hakim].[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar