Info Sekolah
Selasa, 25 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
12 Juli 2026

Kisah Terusirnya Tentara Salib dari Dunia Islam

Ming, 12 Juli 2026 Dibaca 39x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Meski Pertempuran Hattin menjadi titik balik yang mematikan bagi kekuatan Tentara Salib di wilayah Syam—menghancurkan kekuatan militer mereka, meruntuhkan wibawa di medan perang, dan membuka jalan bagi umat Muslim untuk merebut kembali Yerusalem setelah berpuluh tahun berada di bawah pendudukan—kisah kemenangan itu baru menjadi lengkap sepenuhnya saat kota Akko jatuh ke tangan umat Muslim. Peristiwa itu menjadi pukulan terakhir yang melenyapkan keberadaan mereka hingga ke akar-akarnya, sekaligus menandai ditutupnya tirai konflik berdarah yang telah berlangsung selama dua abad lamanya, berkat keberanian dan keteguhan Dinasti Mamluk.

Ada benang merah yang mengaitkan dua peristiwa besar ini: Hattin dan Akko, yang layak disebut sebagai “Hattin Kedua”. Pertempuran pertama adalah momen kebangkitan yang mengubah seluruh strategi perjuangan umat Muslim, sedangkan pertempuran kedua adalah penutup indah yang mengakhiri segala jejak kekuasaan asing di tanah Syam. Dua nama itu terukir abadi dalam ingatan sejarah Islam, menjadi simbol kemenangan tekad yang tak akan pernah padam, di atas segala upaya invasi dan perpecahan yang ditanamkan musuh.

Selama dua abad masa pendudukan itu, tanah Syam menjadi saksi derita yang tak terbayangkan. Darah rakyat tumpah di mana-mana, kesucian tempat-tempat suci dilanggar, dan umat Muslim hidup dalam penindasan kekuatan asing. Namun, di tengah kepungan itu, api perlawanan terus menyala. Perjuangan itu bermula dari keberanian Dinasti Seljuk dan Bani Buri, lalu berlanjut melalui kekuatan Negara Zengid. Di sinilah muncul dua sosok besar: Imaduddin Zengi dan putranya, Nuruddin Mahmud, yang membentuk barisan terdepan jihad yang terorganisir dan kokoh melawan penjajah.

Gelombang perjuangan ini kemudian mencapai puncaknya sebagai sebuah proyek besar yang utuh di bawah kepemimpinan Shalahuddin al-Ayyubi. Di tangannya, kemenangan gemilang diraih di Hattin, dan Yerusalem kembali ke pangkuan Islam. Namun, kepergian Shalahuddin sempat membuat momentum pembebasan sedikit melambat. Namun, perjuangan itu tidak berhenti. Panji-panji kebenaran kembali dikibarkan oleh Dinasti Mamluk, yang bertekad menyelesaikan misi suci tersebut. Al-Zahir Baibars merebut kembali benteng-benteng penting di pesisir, diteruskan oleh al-Manshur Qalawun, hingga akhirnya putranya, al-Asyraf Khalil bin Qalawun, mengukir sejarah terakhir dengan menggulingkan Kerajaan Akko dan menghapus sisa-sisa kekuasaan Tentara Salib dari bumi Islam.


Akko: Benteng Terakhir Penjajah

Keputusan tegas untuk menyerang dan merebut kembali Akko sejatinya telah diputuskan oleh al-Manshur Qalawun sendiri. Langkah ini dipicu oleh kecerobohan dan pengkhianatan Tentara Salib yang terus melancarkan serangan ke desa-desa Muslim di sekitar wilayah itu, serta berani melanggar perjanjian damai yang telah disepakati bersama. Meski para panglima senior Mamluk menyarankan kesabaran—mengingat kekuatan pertahanan kota yang sangat kuat serta bantuan angkatan laut yang terus mengalir dari Eropa—Qalawun tetap berdiri teguh. Ia mengerahkan seluruh pasukannya dan bersiap untuk pertempuran penentuan nasib. Namun, takdir berkata lain; beliau wafat di perkemahan pinggir Kairo pada awal bulan Dzulqa’dah 689 H, sebelum sempat menyaksikan sendiri jatuhnya benteng terakhir musuh itu.

Sebelum akhirnya jatuh ke tangan al-Asyraf Khalil pada tahun 693 H/1294 M, kota Akko telah mengalami perjalanan sejarah yang luar biasa panjang dan kelam. Kota ini menjadi tempat perlindungan terakhir bagi sisa-sisa Tentara Salib yang berlarian menyelamatkan diri dari Antiokhia, Tripoli, dan berbagai benteng lain yang telah direbut kembali oleh umat Muslim. Dari kerumunan pengungsi ini, terbentuklah apa yang disebut sebagai Kota Akko, sebuah wilayah semi-otonom yang dihuni oleh berbagai ordo militer Kristen saat itu—mulai dari Ksatria Templar, Ksatria Santo Yohanes, hingga Ksatria Teuton dari Jerman. Akko berubah menjadi benteng yang sangat padat dan kuat, namun di dalamnya tersimpan bibit-bibit perpecahan yang mematikan.

Kekuasaan atas kota ini pernah berada di bawah Kerajaan Napoli, hingga akhirnya diserahkan kepada para pangeran Tentara Salib sekitar tahun 685 H. Dalam masa itu, Akko diperintah oleh raja-raja keturunan Anjou dari Prancis. Namun, wafatnya penguasa tanpa pewaris langsung, ditambah dengan jauhnya pusat kekuasaan Napoli dari tanah Timur, membuka jalan bagi pergantian kekuasaan. Terjadi tawar-menawar politik yang rumit antara Kerajaan Sisilia dan kelompok-kelompok militer yang menguasai kota, yang berakhir dengan diserahkannya kekuasaan Akko kepada Raja Sisilia, Henry II dari Lusignan.

Henry II masuk ke kota itu pada bulan Jumadil Ula 685 H/1286 M, disambut dengan kemeriahan layaknya seorang raja besar Eropa. Penduduk dan berbagai kelompok militer merayakan kedatangannya, berharap ia akan membawa kestabilan politik dan kekuatan pertahanan setelah bertahun-tahun dilanda kekacauan. Namun, harapan itu pupus begitu saja. Perselisihan antar kelompok militer kembali meletus, dan Henry II terbukti lemah dalam memimpin serta ragu mengambil keputusan. Wibawa pemerintahannya runtuh, dan perpecahan kembali merajai jantung benteng terakhir Tentara Salib di Timur, sebagaimana dicatat oleh sejarawan Steven Runciman dalam bukunya, A History of the Crusades.


Jalan Menuju Jatuhnya Akko

Dinasti Mamluk sejatinya telah berulang kali berupaya merebut kota ini, dimulai sejak masa Sultan Al-Zahir Baibars dan diteruskan oleh al-Manshur Qalawun. Namun, sang ayah wafat saat sedang bersiap melakukan pengepungan besar. Maka, tugas berat melanjutkan dan menyelesaikan apa yang telah dirintis itu jatuh ke tangan putranya, al-Asyraf Khalil bin Qalawun.

Langkah pertama al-Asyraf adalah menggelar dewan perang, sebuah sidang besar yang hanya diselenggarakan saat menghadapi momen bersejarah. Seperti yang dicatat sejarawan al-Maqrizi dalam kitab al-Suluk, al-Asyraf “mengumpulkan para ulama, hakim, tokoh masyarakat, dan pembaca al-Qur’an di Kubah Manshuriyah, di antara dua istana Kairo, dekat makam ayahnya, pada malam Jumat, 18 Safar 690 H. Mereka bermalam di sana untuk merumuskan keputusan paling penting”. Peristiwa ini memberikan landasan agama dan hukum yang kokoh bagi langkah militer, sekaligus mengikatkan kembali semangat perjuangan masa Dinasti Ayyubiyah dengan misi pembebasan Dinasti Mamluk.

Setelah itu, al-Asyraf Khalil mengumumkan mobilisasi besar-besaran di seluruh Mesir dan Syam, memerintahkan pengumpulan pasukan serta persiapan senjata dari setiap provinsi. Para panglima dan tokoh besar ikut serta, termasuk Raja al-Mu’ayyad, penguasa Hama yang saat itu menjabat sebagai putra mahkota dengan pangkat militer tinggi.

Sejarawan dalam kitab al-Mukhtashar fî Akhbâr al-Basyar mencatat keterlibatan besar penguasa Hama, Raja al-Muzhaffar bin al-Manshur al-Ayyubi. Ia mengirimkan bantuan berupa ketapel raksasa bernama al-Manshuri, yang sangat besar hingga harus dibagi menjadi 100 bagian dan ditarik oleh 100 roda. Raja al-Mu’ayyad menceritakan bahwa satu bagian saja—yang beratnya setara satu roda—membutuhkan waktu satu bulan penuh ditarik oleh sepuluh orang prajurit. Hal ini membuktikan betapa canggih dan besarnya persiapan perang saat itu.

Panglima dan sejarawan Baibars al-Manshuri juga menuliskan pengalamannya. Saat itu ia menjabat penguasa Karak. Begitu mendengar perintah sultan untuk bersiap, ia menulis surat memohon izin ikut berperang. Ia menulis: “Aku sedang di Karak, dan saat berita perang ini tiba, jiwaku merindukan jihad … Aku minta izin untuk ikut serta demi pahala dan kemenangan. Setelah diizinkan, aku menyiapkan kuda, peralatan, pemanah, tukang batu, dan tukang kayu, lalu berangkat menemui Sultan yang sudah berada di Gaza … dan aku berbaris bersama rombongannya menuju Akko.”

Al-Asyraf Khalil memimpin serangan ini dengan tangan besi. Ia mengawasi setiap detail operasi dan bahkan menahan beberapa panglima yang diragukan kesetiaannya, demi menjaga keamanan dari pengkhianatan. Sebaliknya, beliau menaruh kepercayaan penuh pada sekelompok komandan berpengalaman, terutama para panglima Shalihi—pasukan yang telah berjuang di bawah bendera Ayyubiyah dan Mamluk di berbagai medan perang, serta telah menorehkan banyak kemenangan gemilang.

Dari sisi persiapan militer, pasukan al-Asyraf tampil dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya. Mereka dilengkapi berbagai jenis senjata canggih saat itu, dengan kekuatan utama berupa ketapel dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah konflik ini. Para sejarawan mencatat jumlahnya mencapai 72 hingga 92 buah, beragam jenis dan ukuran. Jumlah yang luar biasa ini menjadi bukti keseriusan pengepungan, serta tekad bulat al-Asyraf Khalil untuk mencabut keberadaan musuh dari akarnya.


Pengepungan yang Menutup Sejarah

Serangan yang dipimpin al-Asyraf Khalil ini bukan sekadar operasi militer biasa, melainkan sebuah gerakan nasional yang menyatukan seluruh kekuatan bangsa. Sumber daya manusia dan materi digerakkan sepenuhnya: insinyur, dokter, tukang bangunan, pengrajin, dan tenaga ahli dari segala bidang ikut bergabung bersama tentara sebagai pasukan pendukung. Ini adalah bukti nyata bahwa negara Mamluk sadar betul: kemenangan hanya bisa diraih jika seluruh elemen masyarakat bergerak bersama demi satu tujuan suci, pembebasan tanah air.

Mengingat laut adalah jalur utama dan penentu bagi musuh, al-Asyraf Khalil sangat memperhatikan kekuatan angkatan laut. Ia menyiapkan armada besar yang terdiri dari 60 kapal perang, terutama kapal-kapal besar, yang bertugas memblokir akses laut dan mencekik kota Akko dari segala arah.

Namun, Sultan Khalil tidak melupakan kekuatan yang paling utama: kekuatan iman. Beliau ingin melibatkan seluruh rakyat dalam suasana kebangkitan rohani yang akan mengangkat moral setinggi langit. Bantuan makanan, uang, dan pakaian dibagikan kepada kaum miskin dan para ulama, serta mengajak setiap warga negara untuk ambil bagian. Sejarawan Alamuddin al-Barzali menggambarkan suasana haru itu: “Doa bersama digelar di Masjid Damaskus pada malam Jumat, 17 Jumadil Ula. Semua orang berdoa kepada Allah dengan hati yang bersatu. Imam memimpin shalat Jumat, dan pada hari itulah, takdir kemenangan tiba: Akko jatuh ke tangan umat Muslim.”

Suasana kebersamaan ini membuat rakyat biasa dan para sukarelawan berbaur dengan pasukan reguler. Penggembala unta, pedagang pasar, ulama, hingga guru sekolah turut serta mendorong mesin-mesin perang. Sejarawan Ibnu Katsir menuliskan dalam kitab al-Bidayah wa al-Nihayah:

“Surat perintah datang ke Damaskus awal Rabi’ul Awal untuk menyiapkan alat pengepungan bagi Akko. Seruan bergema di seluruh kota: ‘Wahai para pejuang di jalan Allah, bergeraklah menuju Akko!’ Maka bergeraklah ketapel-ketapel besar menuju wilayah Jasura. Rakyat berbondong-bondong keluar, bahkan para ahli hukum, pendidik, dan orang-orang saleh pun ikut berjuang … Pasukan dari segala penjuru berkumpul, termasuk tentara dari Tripoli. Al-Asyraf bergerak dari Mesir membawa pasukannya. Semua bersatu di sana, lalu menyerang pada hari Kamis, 4 Rabi’ul Akhir. Ketapel-ketapel menghujani kota dari segala arah, dan seluruh kekuatan dikerahkan untuk menundukkan kota dan membebaskan penduduknya.”

Mobilisasi ini sangat lengkap dan belum pernah terjadi sebelumnya. Pasukan Mamluk berjumlah lebih dari 160.000 prajurit, ditambah 60.000 pasukan pendukung. Di dalamnya tergabung tentara reguler, serta elemen-elemen dari suku Arab, Kurdi, Turkmenistan, dan Sirkasia. Jeda waktu yang cukup panjang—sejak pelanggaran perjanjian damai oleh musuh hingga persiapan matang yang dimulai al-Manshur Qalawun pada bulan Syawal 689 H—menjadi kunci sukses pengumpulan kekuatan besar ini, hingga pengepungan dimulai pada Rabi’ul Awal 690 H.

Saat pasukan Mamluk tiba di pinggiran kota Akko, suasana itu terasa seperti puncak dari dua abad perjuangan yang tak pernah putus. Pertempuran ini bukan lagi sekadar merebut kota pesisir; ini adalah perjuangan kolektif yang mewakili seluruh ingatan pahit umat Muslim: tentang penindasan, pembantaian, perampasan, dan penderitaan panjang yang dialami di tanah Syam selama masa pendudukan.

Berdasarkan catatan para sejarawan besar seperti al-Aini, al-Maqrizi, Ibnu Katsir, dan Abu al-Fida, pasukan Muslim mengepung kota rapat-rapat dari darat, sementara laut dikendalikan untuk memutus jalan keluar. Sesuai strategi andalan Mamluk, pasukan dibagi menjadi tiga sayap utama:

  • Sayap kanan: Dipimpin Raja al-Muzhaffar bin al-Manshur, penguasa Hama. Bertugas menghadang armada musuh dari laut sekaligus menyerang pertahanan tembok kota. Di sini terjadi pertempuran paling sengit, bahkan saat Ksatria Templar melancarkan serangan mendadak di malam hari, pasukan ini berhasil menggagalkannya dan menawan banyak musuh.
  • Sayap kiri: Dipimpin panglima veteran Badruddin Bektash, ditempatkan di sisi barat daya Teluk Akko.
  • Pasukan pusat: Menjadi inti kekuatan dan komando utama. Sultan al-Asyraf Khalil mendirikan tenda komandonya tepat di seberang Menara Kepausan, di dataran tinggi dekat pantai. Posisi ini memungkinkan beliau melihat dan mengendalikan seluruh jalannya pertempuran.

Rencana perang Mamluk didasarkan pada dua kekuatan: melemahkan musuh dari jauh dengan hujan panah, dan menembus pertahanan menggunakan parit serta alat penghancur tembok. Sebanyak 92 ketapel berbagai ukuran ditempatkan mengelilingi kota. Siang dan malam tanpa henti, mereka melemparkan batu raksasa dan bejana berisi minyak bakar, menghancurkan menara-menara pertahanan dan rumah-rumah penduduk selama 44 hari berturut-turut. Para insinyur terus mencari titik lemah di tembok pertahanan, sementara api pembakaran menerangi langit Akko.


Adegan Terakhir: Berakhirnya Sebuah Era

Di tengah gempuran yang semakin dahsyat, Tentara Salib akhirnya sadar bahwa Akko sudah tak mungkin lagi dipertahankan. Mereka menghadapi kekuatan manusia yang luar biasa besar, didukung oleh para ahli teknik yang tak kenal lelah merobohkan benteng, sementara hujan batu tak pernah berhenti menghujani mereka. Menghadapi kenyataan pahit ini, para pemimpin musuh tak punya pilihan selain mencoba bernegosiasi dengan Sultan al-Asyraf Khalil, berharap bisa menghentikan serangan dengan cara damai.

Pada 16 Jumadil Ula 690 H (16 Mei 1291 M), utusan musuh datang ke perkemahan Sultan. Mereka menawarkan kesepakatan: Mamluk menarik pasukan dengan imbalan pembayaran upeti tahunan dan hadiah-hadiah mewah, seperti yang biasa dilakukan di masa lalu. Namun, setelah bermusyawarah dengan para panglima, ulama, dan tokoh agama, keputusan mutlak dijatuhkan: Penolakan Tegas.

Mereka sepakat bahwa gencatan senjata apa pun tidak ada gunanya, karena kemenangan sudah berada di depan mata. Apalagi, al-Manshur Qalawun, ayah Sultan, telah berwasiat sebelum wafatnya untuk menaklukkan kota ini hingga tuntas. Sejarawan Badruddin al-Aini menuliskan momen itu dalam kitabnya, ‘Iqd al-Juman, mengutip salah satu tokoh ulama yang hadir:

“Kota ini adalah benteng terbesar mereka, dan tak ada lagi kekuatan kafir tersisa di pesisir selain di sini. Mendiang ayah al-Asyraf telah bertekad menaklukkannya, dan Sultan pun telah memutuskannya, sesuai wasiat sang ayah. Banyak Muslim yang terluka dan gugur demi ini, maka damai bukan lagi pilihan. Kita hampir menang, dan mereka sudah terdesak. Tiba-tiba, terdengar seruan lantang dari rakyat jelata, para prajurit, dan sukarelawan: ‘Wahai Sultan kami, demi makam ayahmu yang mulia, kami tak akan pernah berdamai dengan kaum terkutuk ini!’”

Sultan pun menjawab tegas kepada para utusan: “Kami tidak akan berdamai, kecuali jika kalian menyerahkan kota ini dengan sukarela.” Utusan itu pun pulang dengan tangan kosong.

Itulah akhir dari upaya terakhir mereka mencegah kehancuran. Pagi hari Jumat, 17 Jumadil Akhir 690 H (18 Juni 1291 M), saat yang ditunggu pun tiba. Tim teknik telah selesai membuat celah di tembok dan mengisi parit penghalang. Pasukan Mamluk melancarkan serangan besar-besaran, menyapu bersih pertahanan tembok dan menara-menara. Pasukan musuh runtuh satu per satu, komunikasi terputus, dan ribuan orang terperangkap di dalam menara besar tanpa jalan keluar.

Di tengah kekacauan itu, sekitar sepuluh ribu pasukan musuh menyerah dan mencari perlindungan. Namun, Sultan membagi mereka di antara para panglima senior dan memerintahkan agar mereka dilenyapkan. Laut menjadi satu-satunya jalan pelarian, namun justru menjadi jebakan maut. Warga dan prajurit berdesak-desakan ke kapal dalam kepanikan, menjadikan mereka sasaran empuk pasukan berkuda Mamluk yang mengejar dan membinasakan mereka di tepi pantai.

Panglima sekaligus sejarawan Baibars al-Manshuri, yang turut serta langsung dalam pertempuran bersejarah ini, menuliskan gambaran itu dalam bukunya: “Suara gemuruh memenuhi udara. Para pahlawan maju menerjang, bertarung sengit melawan kaum Frank. Dari tusukan tombak hingga hantaman pedang, mereka memanjat tembok pertahanan, menancapkan bendera kemenangan tinggi-tinggi. Ketakutan menyelimuti musuh, dan pedang kami menyambar nyawa mereka. Muslimin memberikan pukulan mematikan, menewaskan banyak dari mereka, meratakan benteng dan tempat tinggal mereka. Menara-menara besar—Menara Templar, Rumah Sakit, dan Menara Ksatria—hancur lebur. Tak ada lagi yang bisa menahan, tak ada lagi bantuan datang. Semuanya musnah.”

Ia menambahkan: “Yang mendorong mereka menyerah adalah kepanikan luar biasa dan ketakutan mati. Mereka buntu, tak ada jalan keluar. Mereka mengunci gerbang menara dan menunggu nasib, lalu mencari perlindungan namun sia-sia. Mereka ditangkap, diusir, dibagi-bagi, dan dihukum mati. Kemenangan besar ini terjadi pada hari Jumat, tujuh belas Jumadil Akhir.” Dengan jatuhnya Akko, Dinasti Mamluk secara resmi menutup lembaran panjang Perang Salib yang telah berlangsung hampir dua abad lamanya. Selama itu, musuh sempat menguasai pesisir dan benteng-benteng di wilayah Syam. Namun, akhir kisah ini bukan sekadar kemenangan militer; ini adalah pembebasan jiwa, penghapusan jejak pendudukan, dan balasan atas segala derita, penjarahan, serta pembantaian yang pernah terjadi. Akko telah jatuh, dan bersama itu, sejarah mencatat kemenangan kedua yang agung, setara dengan kebesaran Pertempuran Hattin.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar