Info Sekolah
Selasa, 25 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
7 Januari 2026

Suara Kebenaran: Dakwah, Kritik, dan Kepedulian Sosial Syaikh Abdul Qadir al-Jailani

Rab, 7 Januari 2026 Dibaca 25x Tokoh Islam

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Meskipun sepenuhnya mengabdikan diri dalam pengajaran dan pembinaan para pendidik, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani tidak pernah menghentikan kegiatan dakwahnya kepada khalayak luas. Ia meluangkan waktu secara khusus selama tiga hari dalam seminggu untuk tujuan mulia ini: pada pagi hari Jumat dan malam hari Selasa dilaksanakan di lingkungan sekolah, sedangkan pada pagi hari Minggu di Ribat tempat ia berdiam (al-Ghunyah 2/81/86).

Diriwayatkan bahwa para hadirin yang hadir dalam majelisnya begitu bersemangat mencatat setiap nasihat dan khutbah yang disampaikannya, hingga dikabarkan terdapat sekitar 400 wadah tinta yang digunakan dalam satu kali pertemuan. Sebagian besar dari khutbah dan pengajaran tersebut—atau yang sering disebut sebagai majelis nasihat—telah dibukukan dalam karya berjudul al-Fath al-Rabbânîy, yang disusun lengkap dengan keterangan waktu dan tempat penyampaiannya.

Dalam setiap penyampaiannya, Syaikh Abdul Qadir al-Jailani terlihat memiliki kecintaan yang mendalam terhadap ajaran Islam serta kepedulian yang tinggi terhadap kondisi pelaksanaannya di tengah masyarakat. Ia sangat berharap dapat menggerakkan hati seluruh umat untuk senantiasa membela dan menegakkan agama Allah. Dalam salah satu majelisnya, ia berkata:


Tembok-tembok agama Muhammad Saw. mulai rapuh, dan pondasinya pun terasa goyah. Marilah, wahai segenap penduduk bumi, kita bangun kembali apa yang telah runtuh, dan perbaiki apa yang telah tercabut. Wahai matahari, wahai bulan, wahai pergantian siang dan malam, saksikanlah niat dan usaha kami ini!” (al-Fath al-Rabbânîy, hal. 295).


Dalam kesempatan lain, ia juga menyampaikan:


Maha Suci Allah yang telah menanamkan dalam hatiku dorongan untuk senantiasa memberi nasihat kepada segenap manusia, dan menjadikannya sebagai perhatian utamaku. Aku hanyalah seorang penasihat yang tidak mengharapkan imbalan apa pun atas apa yang aku sampaikan. Kehidupan akhiratku telah terjamin di sisi Tuhanku Yang Mahakuasa. Aku bukanlah hamba bagi dunia maupun akhirat, melainkan hanya hamba bagi-Nya semata. Kebahagiaanku terwujud ketika kalian meraih kebaikan, dan kesedihanku timbul ketika kalian terjerumus dalam kerugian. Apabila aku melihat seorang pencari kebenaran yang tulus berhasil mencapai tujuannya melalui bimbingan ini, hatiku terasa tenang, terpenuhi, dan diliputi rasa syukur. Bagaimana mungkin aku akan membiarkannya tanpa perlindungan dan bimbingan?” (Hâkadzâ Zhahara Jayl Shalâh al-Dîn, hal. 196).


Ia juga pernah menyampaikan:


Sesungguhnya kedudukanku di hadapan kalian bagaikan gembala bagi kawanan ternaknya, penunjuk jalan, dan pelindung selama aku masih berada di sisi kalian. Aku berusaha memperlihatkan apa yang bermanfaat dan apa yang membahayakan bagi kalian, setelah terlebih dahulu melenyapkan segala rintangan dengan pedang ketauhidan. Aku telah mengikatkan diriku pada tugas ini. Pujian maupun celaan yang kalian berikan, kehadiran maupun kepergian kalian, semuanya sama saja di mataku. Banyak orang yang semula mencela, namun akhirnya berubah memuji; semuanya itu datang dari kehendak Allah, bukan dari diriku. Kehadiranku di tengah kalian adalah karena perintah-Nya, dan apabila aku pergi pun itu adalah kehendak-Nya. Seandainya aku mampu, aku rela masuk ke dalam kubur bersama setiap orang di antara kalian, dan menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir demi kasih sayang dan belas kasihan kepada kalian semua.” (al-Fath al-Rabbânîy, dikutip dari Hâkadzâ Zhahara Jayl Shalâh al-Dîn, hal. 197).


Dengan semangat yang menyala-nyala, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani terus mengajak umat Islam untuk bersatu di bawah naungan ajaran Islam, menyeru mereka kembali melaksanakan syariat-Nya serta menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Ia meyakini bahwa kesempurnaan iman hanya dapat dicapai apabila hati senantiasa disucikan dan dibebaskan dari belenggu keinginan duniawi, sifat-sifat tercela, serta segala hal yang dapat menjauhkan hamba dari Tuhannya. Oleh sebab itu, setiap khutbah dan nasihatnya senantiasa mengajak pendengarnya untuk terus memperdalam ajaran agama demi pertumbuhan rohani dan kesucian jiwa. Sebagian penyampaiannya juga ditujukan untuk mengingatkan para pemuka agama dan penguasa agar senantiasa berlaku adil, serta memperjuangkan hak dan kesejahteraan kaum lemah serta rakyat biasa.


Kritik terhadap Ulama

Pada zamannya, sebagian besar ulama saling berlomba-lomba memperebutkan kesempatan untuk berdakwah dan menyampaikan pandangan di tempat-tempat yang memiliki pengaruh luas. Tak jarang di antara mereka berusaha menjatuhkan nama baik sesamanya di hadapan Khalifah, pejabat negara, dan para penguasa. Sebagian terlihat terjebak dalam sifat-sifat yang kurang terpuji, sementara yang lain sibuk terlibat dalam perselisihan antar-kelompok. Menyaksikan kenyataan ini secara langsung, Syaikh Abdul Qadir melancarkan seruan tegas guna meluruskan kondisi tersebut; ia menilai bahwa ulama semacam itu telah menjadikan agama sebagai barang dagangan dan turut mendukung hal-hal yang dilarang syariat.

Dalam salah satu khutbahnya yang membahas persoalan ini, ia berkata:


Wahai sekalian yang meraih keuntungan duniawi dengan mengatasnamakan urusan akhirat! Wahai kalian yang belum memahami hakikat kebenaran! Sesungguhnya kalian lebih berkewajiban untuk kembali bertaubat dibandingkan orang biasa, dan lebih pantas mengakui kesalahan yang telah kalian perbuat. Tidak ada manfaat yang nyata dalam perbuatan dan sikap kalian saat ini.”


Pada kesempatan lain, dalam khotbah yang disampaikannya di sebuah lembaga pendidikan pada tanggal 9 Rajab tahun 546 H atau bertepatan dengan 1151 M, ia menegaskan:


Sekiranya ilmu yang kalian miliki benar-benar berbuah dan membawa berkah, niscaya kalian tidak akan meminta pertolongan kepada para penguasa demi memenuhi keinginan dan kepentingan diri sendiri. Ulama yang sebenar-benarnya tidak akan melangkah ke pintu-pintu kekuasaan untuk tujuan duniawi; orang yang zuhud tidak akan menjulurkan tangan meminta harta orang lain; dan orang yang mencintai Allah dengan sepenuh hati tidak akan memalingkan pandangannya kepada selain-Nya.”


Ia juga memperingatkan masyarakat agar berhati-hati dan tidak mudah menghadiri majelis atau mendengarkan nasihat dari golongan tersebut. Ia mengingatkan:


Wahai hamba-hamba Allah, janganlah kalian mendengarkan ucapan orang-orang yang pandai menyanjung, yang merendahkan diri berlebihan di hadapan para pemimpin seolah bagaikan serangga yang lemah, tidak berani menegur kesalahan apalagi melarang perbuatan yang salah. Jika sikap mereka itu didasari kemunafikan dan ingin dipuji manusia, maka Allah dapat membersihkan bumi dari golongan yang demikian, sebagaimana halnya orang-orang munafik lainnya. Namun, Allah juga Maha Pengampun dan senantiasa membuka jalan pertobatan bagi siapa saja yang mau kembali kepada-Nya. Hatiku merasa gelisah mendengar seseorang menyebut nama Allah dengan lisan, namun hatinya dan perbuatannya justru tertuju pada hal-hal lain.” (al-Fath al-Rabbânîy, hal. 245)


Syaikh Abdul Qadir pun meluruskan sikap mereka yang terjebak dalam fanatisme buta terhadap kelompoknya masing-masing, dengan pesan:


Berhentilah memperdebatkan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat bagi diri kalian. Tinggalkanlah sikap membela golongan secara berlebihan tanpa dasar yang benar, dan gunakanlah waktu serta tenaga untuk hal-hal yang membawa kebaikan, baik bagi kehidupan di dunia maupun bekal di akhirat kelak.” (Hâkadzâ Zhahara Jayl Shalâh al-Dîn, hal. 199)


Seruan lurus yang disampaikan Syaikh Abdul Qadir terhadap ulama dan ahli hukum yang menyimpang dari jejak para pendahulu yang saleh tidak pernah surut. Tujuan tegurannya bukanlah untuk merendahkan, melainkan untuk memperbaiki keadaan yang ada, serta membangkitkan generasi ulama yang berintegritas—yang mampu berdakwah dengan lurus, membimbing umat menuju kebaikan, menyucikan hati dan perilaku masyarakat, serta menyebarkan ajaran yang benar ke seluruh penjuru negeri. Melalui generasi yang berkualitas inilah, diharapkan janji Allah akan kemenangan bagi orang-orang yang beriman dapat terwujud. Berkat pertolongan dan rahmat Allah, Syaikh Abdul Qadir berhasil membawa perubahan yang cukup signifikan dalam upaya pembenahan tersebut.


Kritik terhadap Penguasa

Syaikh Abdul Qadir menyampaikan pandangan tegas terhadap para penguasa, sekaligus mengingatkan masyarakat agar tidak menaati mereka dalam hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam salah satu ceramahnya, ia berkata:


Para penguasa telah menjadi seolah-olah berhala bagi banyak manusia. Dunia, harta benda, kedudukan, kekuasaan, dan kekuatan pun turut dijadikan tumpuan. Celakalah kamu sekalian! Kamu telah menjadikan yang hanyalah cabang sebagai akar pokok; yang sekadar perantara seolah-olah pemberi rezeki, penguasa seolah-olah pemilik mutlak, orang lemah seolah-olah berkuasa, dan yang fana seolah-olah abadi. Jika kamu memuliakan para penguasa yang zhalim, orang-orang yang berkuasa, dan mereka yang bergelimang harta, namun melupakan serta tidak memuliakan Allah Yang Maha Kuasa, maka hakikatnya kamu telah menempatkan apa yang kamu sembah sebagai berhala.”


Ia juga menegaskan sikap para pejabat yang melaksanakan perintah penguasa tanpa mempertimbangkan batas kebenaran. Dalam sebuah khutbahnya, ia berkata:


Wahai para pemuda, sembahlah Allah Yang Maha Perkasa, dan janganlah hatimu teralihkan dari-Nya dengan memuliakan mereka yang berkuasa, padahal mereka tidak sanggup memberi manfaat maupun menolak mudarat bagimu. Apa yang sesungguhnya dapat mereka berikan? Dapatkah mereka memberikan sesuatu yang belum ditetapkan menjadi hakmu? Atau dapatkah mereka memberi apa yang belum Allah izinkan dan berikan? Tidak ada satu pun yang benar-benar berasal dari kekuasaan mereka semata. Jika kamu menganggap segala pemberian itu datang sepenuhnya dari mereka, maka sungguh kamu telah menyimpang dari kebenaran.”


Kritik dan nasihat Syaikh Abdul Qadir tidak hanya disampaikan dalam ceramah umum, melainkan juga ditujukan secara tegas ketika melihat adanya ketidakadilan dan penyimpangan yang nyata. Pada tahun 541 Hijriah atau 1146 Masehi, Khalifah al-Muqtafi mengangkat Yahya bin Sa’id—yang dikenal dengan sebutan Ibnu al-Murjam—sebagai hakim. Namun, orang tersebut kemudian bertindak sewenang-wenang, merugikan rakyat, menyita harta mereka, serta menerima suap. Meskipun banyak tulisan yang mengecam perbuatannya tersebar dan dipasang di masjid-masjid serta jalan raya, tidak ada seorang pun yang berani menentangnya secara terbuka.

Menurut riwayat Sibt Ibnu al-Jauzi, ketika Khalifah sedang hadir di sebuah masjid, Syaikh Abdul Qadir berkesempatan berkhutbah dari atas mimbar dan menegurnya dengan lantang:


Engkau telah mengangkat seseorang yang menjadi penindas paling kejam di antara hamba-hamba Allah. Apa jawabanmu kelak ketika dihadapkan kepada Tuhan Semesta Alam?


Mendengar peringatan itu, Khalifah akhirnya mencabut jabatan hakim tersebut. Kejadian serupa juga terjadi dalam hal pengawasan terhadap para pejabat tinggi, penasihat negara, dan pengelola keuangan. Catatan sejarah menyebutkan bahwa mereka tetap mendengarkan nasihat Syaikh Abdul Qadir, karena mengakui kesalehan, ketulusan, serta kedudukan rohani yang dimilikinya. Dalam menjalani hidupnya, ia senantiasa menjaga jarak dan menghindari kedekatan yang berlebihan dengan lingkaran kekuasaan. Bahkan dikisahkan bahwa ia tidak pernah sekalipun melangkahkan kaki ke pintu kediaman atau tempat kedudukan para penguasa.


Kritik Terhadap Kemerosotan Moral Sosial

Syaikh Abdul Qadir memandang kehidupan masyarakat pada zamannya sarat dengan sikap bermuka dua, kepura-puraan, ketidakadilan, serta rasa curiga yang meluas dan tindakan-tindakan yang dilarang. Kondisi ini telah menjadikan segala hal hanya sekadar tampilan luar yang kosong tanpa makna hakiki, dan memengaruhi perilaku baik mereka yang mengaku beragama maupun yang tidak. Dalam salah satu khutbahnya, ia menyampaikan:


Ini adalah masa di mana kemunafikan, kepura-puraan, dan perolehan harta dengan cara yang tidak adil telah merajalela. Banyak orang yang berdoa, berpuasa, menunaikan ibadah haji, menyalurkan zakat, dan berbuat kebaikan—namun semata-mata agar dilihat dan dipuji sesama manusia, bukan karena mengharap keridaan Sang Pencipta. Sebagian besar hati manusia telah menjauh dari keimanan. Hati kalian telah mati, hanya tergerak oleh keinginan dan hawa nafsu, serta sibuk mengejar keuntungan sesaat di dunia.”


Dalam khutbah lainnya, ia juga menegaskan:


Para malaikat pun tertegun melihat keberanian kalian melanggar batas, tertegun melihat kebohongan yang terus kalian ucapkan mengenai keadaan diri, dan tertegun melihat kepalsuan yang kalian kemas dalam pengakuan keesaan Tuhan. Seluruh pembicaraan kalian hanya berputar pada soal untung-rugi, urusan penguasa dan orang kaya: ‘Si A makan enak, si B makin kaya, si C jatuh miskin.’ Semua itu hanyalah buah dari ketamakan, rasa dengki, dan kesia-siaan yang mendatangkan kerugian. Bertobatlah, tinggalkan segala kesalahan, dan kembalilah hanya kepada Tuhanmu. Ingatlah kepada-Nya, dan lepaskanlah segala hal yang lain selain Dia.”


Seruan untuk Keadilan bagi Kaum Miskin dan Rakyat Biasa

Syaikh Abdul Qadir senantiasa menaruh perhatian besar dan memberikan dukungan sepenuhnya kepada rakyat biasa, terutama kaum miskin. Baginya, memenuhi kebutuhan hidup mereka merupakan bagian dari kesempurnaan iman. Ia dengan tegas mengkritik para penguasa yang berlaku sewenang-wenang, serta golongan kaya yang mementingkan diri sendiri: menikmati hidangan terbaik, pakaian paling indah, tempat tinggal yang megah, dan harta yang melimpah, sementara mengabaikan saudara-saudara mereka yang hidup dalam kekurangan. Menurutnya, pengakuan mereka terhadap Islam hanyalah sekadar kedok belaka, semata-mata untuk melindungi kepentingan diri sendiri dengan memegang teguh dua kalimat syahadat tanpa menghayati maknanya.

Ia menjadikan prinsip persamaan derajat antara orang kaya dan miskin sebagai syarat penting bagi seseorang yang ingin melangkah maju dalam perjalanan penyucian jiwa, sekaligus sebagai jalan menuju keselamatan dari hukuman Allah Swt.. Dalam nasihatnya yang termasyhur kepada putranya, Abdur Razzaq, ia menegaskan pentingnya melayani kaum miskin, memperlakukan mereka dengan baik, serta menjunjung tinggi kehormatan mereka:


Cukup bagimu dua hal dalam hidup ini: menjalin persahabatan dengan kaum miskin, dan memberikan penghormatan yang layak kepada orang-orang yang dicintai Allah. Dan ingatlah, wahai anakku, perlakukanlah orang kaya dengan sikap yang terhormat, namun bergaullah dengan kaum miskin dengan kerendahan hati.”


Kepedulian Syaikh Abdul Qadir tidak hanya terucap dalam dakwah, tetapi juga diwujudkan dalam perbuatan nyata. Ia senantiasa membuka pintu rumahnya bagi siapa saja yang membutuhkan, baik kaum miskin maupun orang yang merantau jauh, menyediakan tempat tinggal dan makanan bagi mereka. Mereka dapat mengikuti pengajian yang ia sampaikan, serta menerima bantuan sesuai dengan keperluan masing-masing. Baginya, inilah salah satu amal paling mulia. Diriwayatkan bahwa ia pernah berkata:


Aku telah meneliti segala macam amal kebaikan, namun tidak kutemukan amal yang lebih utama daripada memberi makan orang yang kelaparan, dan tidak ada sifat yang lebih luhur daripada akhlak yang mulia. Andai saja seluruh kekayaan dunia ada di tanganku, pasti akan kugunakan untuk memberi makan mereka yang membutuhkan. Hatiku terbuka lebar dan tidak terikat pada harta benda; sekalipun seribu dinar datang kepadaku, tidak akan kubiarkan ia menginap semalam di rumahku.”


Atas sikap dan perjuangannya itu, hati rakyat biasa dan kaum miskin tertuju sepenuhnya kepada Syaikh Abdul Qadir dengan penuh rasa hormat dan kepercayaan. Banyak sekali penduduk kota Baghdad yang kembali ke jalan benar melalui bimbingannya. Bahkan diriwayatkan ia pernah menyampaikan:


Lebih dari seratus ribu orang yang dulunya berbuat kerusakan dan kejahatan telah bertaubat dan memperbaiki diri melalui tanganku, dan ini adalah karunia yang sangat besar dari Allah.”[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar