Info Sekolah
Selasa, 25 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
29 Juni 2026

Ibnu Sina: Sang Bijak Timur dan Fondasi Ilmu Kedokteran Dunia

Sen, 29 Juni 2026 Dibaca 32x Tokoh Islam

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin Sina—yang dikenal di dunia Barat sebagai Avicenna—lahir sekitar tahun 970–980 M di Afshana, sebuah desa kecil yang kini berada di wilayah Uzbekistan, tempat asal ibunya. Ia tumbuh dalam lingkungan Dinasti Samanid, kekuasaan yang membentang luas dari Khurasan hingga Transoxiana dan menjadi pusat kebangkitan intelektual serta budaya di dunia Islam saat itu. Ayahnya berasal dari Balkh, wilayah yang kini masuk Afghanistan, yang merantau demi kesempatan hidup yang lebih baik dan menduduki jabatan administratif di daerah tersebut.

Keluarga ini kemudian pindah ke Bukhara, ibu kota kekuasaan Samanid yang sedang berada di puncak kejayaannya. Secara strategis terletak di jalur utama Jalur Sutra, kota ini tidak hanya makmur secara ekonomi, tetapi juga setara dengan Baghdad—pusat peradaban Abbasiyah—dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan, perpustakaan, dan pertukaran gagasan. Kondisi ini menciptakan lingkungan subur bagi perkembangan bakat luar biasa yang dimiliki Ibnu Sina sejak dini.

Pada usia yang baru menginjak 10 tahun, Ibnu Sina telah menunjukkan kecerdasan yang melampaui anak seusianya. Tidak hanya menghafal dan memahami kandungan al-Qur’an serta prinsip-prinsip dasar ajaran Islam, ia juga telah menguasai dasar-dasar Aljabar dan geometri. Keunggulan ini bukan sekadar bakat alami, melainkan hasil interaksi antara potensi individu dengan ekosistem keilmuan yang terbuka dan makmur, yang menjadikan Bukhara sebagai tempat lahirnya salah satu pemikir paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia.


Jejak Ketekunan dan Puncak Penguasaan Ilmu di Bukhara

Perjalanan intelektual Ibnu Sina dimulai dengan ketekunan yang luar biasa. Ia kerap mendatangi ulama terkemuka, Abu Abdullah al-Natili, untuk mendalami ilmu pengetahuan. Bersama gurunya itu, ia mempelajari Isagoge—pengantar logika warisan pemikir Yunani—sebelum melanjutkan kajiannya ke karya-karya dasar matematika karya Euclid dan astronomi karya Ptolemaeus. Kemampuan serapnya sedemikian cepat sehingga tak lama kemudian ia justru melampaui tingkat pengetahuan gurunya sendiri; bahkan mampu menjelaskan konsep-konsep rumit dan persoalan yang sebelumnya belum dapat dipahami oleh al-Natili, sebagaimana yang dicatat oleh Ibnu Sina dalam catatan otobiografinya.

Setelah menguasai ilmu dasar tersebut, perhatiannya beralih ke bidang kedokteran. Ia mendalami berbagai referensi terbaik yang tersedia pada masanya, lalu segera menerapkan ilmunya semata-mata karena dorongan rasa cinta dan keinginan untuk memahami hakikat kehidupan, bukan demi keuntungan materi. Hal ini ditegaskan oleh hakim dan sejarawan terkemuka, Syamsuddin ibn Khallikan (1211–1282 M), yang menulis: “Dalam waktu singkat, ilmunya melampaui para ulama terdahulu maupun sezaman; ia menjadi sosok yang tak tertandingi. Selama masa belajarnya, ia jarang menikmati tidur yang tenang sepanjang malam. Setiap kali menghadapi persoalan yang sulit, ia akan bersuci, pergi ke tempat ibadah, mendirikan shalat, dan memohon kepada Allah Swt. agar diberikan kemudahan serta dibukakan jalan menuju kebenaran yang tersembunyi.”

Sebelum genap berusia dua puluh tahun, Ibnu Sina telah menguasai beragam cabang ilmu pengetahuan. Namun, seiring dengan perjalanannya melintasi berbagai wilayah dan menjalin hubungan dengan para penguasa serta bangsawan untuk memberikan konsultasi dan pengobatan, fokusnya semakin terarah. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengakses perpustakaan-perpustakaan pribadi yang menyimpan koleksi karya langka. Di tengah kekayaan sumber ilmu yang ia temukan, dua bidang pengetahuan menjadi prioritas utamanya dan menjadi landasan pemikirannya selanjutnya: kedokteran dan filsafat.


Revolusi Penerjemahan: Warisan Ilmiah Tersembunyi di Balik Perpustakaan Para Penguasa

Gerakan penerjemahan besar-besaran yang berlangsung pada masa Keamiran Bani Abbasiyah, terutama yang berpusat di kota Baghdad, menjadi tonggak penting yang mengubah wajah peradaban Islam secara mendasar. Berbagai karya ilmu pengetahuan dari wilayah sekitar—yang ditulis dalam beragam bahasa—dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab, mencakup disiplin ilmu mulai dari matematika, astronomi, filsafat, hingga bidang pengetahuan lainnya. Seperti halnya lembaga terkemuka Baitul Hikmah yang menjadi pusat penyimpanan dan pengembangan ilmu, istana serta kediaman para sultan dan pangeran di berbagai penjuru dunia Islam juga turut menyimpan koleksi buku dan naskah terjemahan yang bernilai tinggi.

Salah satu perpustakaan kerajaan yang tercatat memiliki kekayaan ilmu luar biasa adalah milik Pangeran Nuh ibn Nashr al-Samani (memerintah tahun 964–997 M). Di dalamnya tersimpan sejumlah karya langka yang kemudian menjadi sumber pengetahuan utama bagi Ibnu Sina. Namun, warisan berharga itu tidak bertahan lama; perpustakaan ini akhirnya musnah terbakar, menghanguskan sekaligus harta karun ilmiah yang terkandung di dalamnya. Peristiwa ini pun memunculkan dugaan di kalangan sejarawan, yang menyebutkan kemungkinan kebakaran itu disengaja agar pengetahuan yang tersimpan tidak dapat diakses oleh orang lain.

Dalam catatan sejarah yang disampaikan oleh Ibnu Sina sendiri, pada usia delapan belas tahun ia telah menguasai seluruh khazanah ilmu yang ada di perpustakaan tersebut. Penguasaan itu kemudian mendorongnya untuk menyusun karya-karya orisinalnya sendiri. Ia pertama kali menulis kitab al-Majmû’, yang merangkum hampir seluruh cabang ilmu pengetahuan kecuali matematika. Berikutnya, ia melahirkan karya berjudul al-Hâshil wa al-Mahshûl yang mencapai dua puluh jilid, membuat banyak orang terkagum melihat kedalaman wawasan dan produktivitasnya. Diperkirakan Ibnu Sina telah menyusun sekitar 450 judul karya, namun hingga masa kini hanya sekitar 240 naskah yang berhasil terlestarikan dan dapat dipelajari oleh generasi selanjutnya.


Ketika Kualitas Melampaui Pasar: Jejak Pemikiran Ibnu Sina di Tengah Gejolak Zaman

Ketenaran Ibnu Sina meluas hingga melampaui batas zamannya, bahkan nama panggilan dan gelarnya justru lebih dikenal luas dibandingkan nama aslinya. Hal ini tercatat oleh sejarawan sekaligus dokter Jamaluddin al-Qifthi (1172–1248) dalam karyanya berjudul Ikhbâr al-Ulamâ` bi Akhbâr al-Hukamâ`. Ia lebih akrab disapa Abu Ali, dan dikenal dengan gelar Ibnu Sina, serta sebutan terhormat al-Syaykh al-Ra`îs yang berarti “Pemimpin Utama Para Cendekiawan”. Di dunia Barat, namanya tercatat sebagai “Bapak Ilmu Kedokteran Modern”, sebuah pengakuan atas sumbangsih pemikirannya yang abadi.

Namun, masa hidup tokoh agung ini berlangsung di tengah situasi yang jauh dari damai. Konflik kekuasaan antara Dinasti Samanid dan Dinasti Ghaznavid memuncak pada masanya, memaksanya berpindah tempat dari satu kota ke kota lain yang sedang dilanda gejolak politik. Beban hidupnya pun bertambah dengan kondisi keuangan yang sering kali sulit serta gangguan kesehatan yang terus mendera. Dalam salah satu perjalanannya menuju wilayah Dehistan, yang kini berada di wilayah Iran, ia jatuh sakit cukup parah sehingga terpaksa kembali ke Jurjan. Di tengah kondisi fisik yang lemah itu, murid setianya, Abu Ubaid al-Juzjani, mendampinginya dan membacakan sebuah puisi yang menggambarkan ironi nasib para pemikir besar:


Ketika akal dan pemikiranku menjelma begitu luas, negeri Mesir pun terasa tak cukup menampungnya.

Ketika nilai dan kualitas diriku melambung tinggi, justru tak ada lagi yang sanggup membelinya.”


Ungkapan itu bukan sekadar keluhan, melainkan cerminan realitas pahit: kualitas pemikiran yang tinggi sering kali tidak mendapatkan tempat atau penghargaan yang setimpal di tengah lingkungan yang terpecah belah. Namun, ironi itu tidak melumpuhkan semangatnya. Justru dalam keterbatasan dan ketidakpastian itulah Ibnu Sina membuktikan ketangguhannya sebagai salah satu cendekiawan paling produktif sepanjang sejarah.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa sebagian karya monumentalnya, Kitâb al-Syifâ`, sempat disusunnya dalam waktu singkat—bahkan sekitar seratus halaman dituliskannya hanya dalam satu malam, tanpa merujuk pada literatur lain. Lebih dari itu, ia menjadikan setiap momen sebagai kesempatan untuk berkarya: saat menunggang kuda dalam perjalanan, saat beristirahat sejenak, bahkan ketika mengikuti perjalanan militer penguasa Ala al-Daulah, ia tetap terus mencurahkan pemikirannya ke dalam tulisan. Bagi Ibnu Sina, hambatan ruang, waktu, maupun kondisi fisik bukanlah alasan untuk berhenti melahirkan ilmu yang bermanfaat.


Kitâb al-Syifâ`: Penyembuhan bagi Jiwa dalam Bingkai Pemikiran Aristoteles

Ibnu Sina merupakan salah satu tokoh ilmuwan dan filsuf terbesar dalam sejarah peradaban Islam, yang meninggalkan warisan karya tulis yang sangat luas dan tersebar luas ke berbagai penjuru dunia, bahkan banyak di antaranya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Dari sekian banyak karyanya, terdapat dua buku yang mencapai ketenaran luar biasa dan melampaui karya-karyanya yang lain. Salah satunya adalah Kitâb al-Syifâ` atau yang sering diterjemahkan sebagai “Kitab Penyembuhan”. Meskipun judulnya memberikan kesan bahwa isi buku ini berfokus pada bidang kedokteran, hal tersebut sesungguhnya tidak tepat.

Ulama agung ini memberikan judul al-Syifâ` dengan makna mendalam: buku ini dimaksudkan sebagai penawar bagi “ketidaktahuan jiwa”, bukan sekadar obat bagi penyakit fisik. Dalam menyusun gagasannya, Ibnu Sina mengadopsi kerangka berpikir dan metodologi yang dikembangkan oleh Aristoteles—yang ia anggap sebagai guru utama dalam bidang filsafat—namun tidak berhenti sekadar meniru. Ia melengkapi dan memperkaya sistem pemikiran tersebut dengan memadukannya secara mendalam dengan pandangan Islam, terutama dalam membahas persoalan hakikat eksistensi serta keesaan dan keagungan Sang Pencipta. Karya agung ini terangkum dalam 22 jilid besar yang terstruktur menjadi empat bidang kajian utama: logika, ilmu alam, matematika, dan metafisika.

Penyusunan gagasan di dalamnya tidak berdiri sendiri; Ibnu Sina banyak merujuk, menelaah ulang, menyempurnakan, serta menyajikan kembali pemikiran-pemikiran terdahulu, lengkap dengan penafsiran dan komentarnya sendiri. Sumber rujukannya meliputi karya Aristoteles dan Ptolemaeus, serta pemikiran para cendekiawan Muslim pendahulunya seperti al-Kindi, al-Farabi, dan al-Biruni. Proses penyusunan keseluruhan buku ini memakan waktu yang cukup panjang, yaitu sekitar delapan tahun, berlangsung antara tahun 1020 hingga 1027 Masehi. Catatan ini didasarkan pada keterangan murid sekaligus penolongnya dalam penulisan naskah, al-Jauzani, yang tercatat mendampingi dan belajar langsung kepada Ibnu Sina selama lebih dari 25 tahun.


Al-Qânûn fî al-Thibb: Jembatan Ilmu Antara Tradisi Yunani, Islam, dan Eropa

Al-Qânûn fî al-Thibb menempati posisi istimewa sebagai salah satu risalah kedokteran paling sistematis dan lengkap pada masanya. Karya ini baru mencapai puncak pengaruhnya secara luas setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada permulaan abad ke-12; sejak saat itu, teks ini menjadi landasan utama kurikulum kedokteran di universitas-universitas Eropa, dan posisinya bertahan selama lebih dari lima abad hingga menjelang abad ke-17.

Proses penerjemahan karya ilmiah ini tidak semata-mata bertujuan menyebarkan pengetahuan ke dunia Barat. Pada tahap awalnya, para sarjana yang menggunakan bahasa Arab—baik dari kalangan Muslim, Kristen, maupun Yahudi—menerjemahkan naskah-naskah klasik ini terutama untuk melestarikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dalam lingkup komunitas mereka sendiri. Di antara tokoh penting dalam rantai penyampaian ilmu ini adalah Maimonides, sarjana sekaligus tabib asal komunitas Yahudi, serta Bar Hebraeus, Uskup Agung dari Persia yang juga dikenal luas sebagai ilmuwan.

Seiring berjalannya waktu, terutama setelah gelombang Perang Salib Keempat, aliran ilmu pengetahuan ini semakin meluas masuk ke benua Eropa. Di sana, muncul perbedaan pola penerimaan yang menarik: komunitas Yahudi di Eropa cenderung lebih mengakui dan mengkaji pemikiran filsuf dan ilmuwan Muslim Ibnu Rusyd. Sebaliknya, lingkungan intelektual Katolik Roma justru menempatkan Ibnu Sina pada posisi yang sangat terhormat. Penghargaan ini tergambar jelas dalam karya seni masa silam, di mana Ibnu Sina digambarkan setara dengan dua tokoh pendiri ilmu kedokteran klasik: Hippokrates dan Galen, bahkan sering kali diletakkan di posisi sentral di antara keduanya. Hal ini menunjukkan bagaimana karya Ibnu Sina dipandang sebagai kelanjutan sekaligus penyempurnaan tradisi kedokteran Yunani yang telah mapan.


“Manusia Melayang di Angkasa”: Argumen tentang Perbedaan Hakiki Jiwa dan Tubuh

Ibnu Sina tidak sekadar mengadopsi warisan pemikiran Aristoteles; ia melampauinya dengan mengembangkan, menyempurnakan, dan mengoreksi berbagai gagasan filsafat yang diterimanya. Salah satu kontribusi paling orisinal dan tajamnya adalah upaya membuktikan keberadaan jiwa sebagai entitas yang terpisah dari tubuh. Untuk itu, ia merumuskan sebuah eksperimen pemikiran yang brilian, yang kemudian dikenal sebagai konsep “Manusia Melayang di Angkasa”.

Eksperimen ini diajukan dengan cara membayangkan keberadaan seseorang yang telah mencapai kedewasaan akal dan kematangan fisik, namun sepenuhnya terputus dari segala rangsangan lingkungan. Orang ini berada dalam keadaan melayang bebas di ruang hampa atau udara, sehingga tidak ada satu pun indranya yang berfungsi: ia tidak melihat, tidak mendengar, tidak mencium, dan tidak merasakan sentuhan apa pun. Lebih jauh lagi, seluruh bagian tubuhnya terpisah satu sama lain, sehingga tidak ada kontak atau persentuhan antar-anggota tubuh. Dalam kondisi yang sepenuhnya terasing dari persepsi lahiriah ini, Ibnu Sina mengajukan pertanyaan kritis: apakah orang tersebut tetap sadar akan keberadaan dirinya sendiri? Jawabannya tegas: “Ya, tanpa keraguan sedikit pun!”.

Dalam karyanya yang berjudul al-Isyârât wa al-Tanbîhât, ia menjelaskan secara rinci: “Bayangkanlah seseorang diciptakan secara seketika dan dalam keadaan sempurna, namun penglihatannya tertutup dari segala hal di luar dirinya. Ia melayang di ruang hampa sedemikian rupa sehingga aliran udara pun tidak menyentuhnya hingga menimbulkan sensasi apa pun. Anggota tubuhnya terpisah dan tidak bersentuhan satu sama lain. Renungkanlah: apakah ia tetap memastikan keberadaan dirinya sendiri? Pasti demikian. Namun, ia tidak memastikan keberadaan salah satu bagian tubuhnya, jantung, otak, atau apa pun yang berada di luar dirinya. Ia menegaskan keberadaan dirinya tanpa mengaitkannya dengan ukuran panjang, lebar, maupun kedalaman. Jika dalam keadaan itu ia sempat membayangkan tangan atau anggota tubuh lainnya, hal itu tidak akan dipahaminya sebagai bagian hakiki dari dirinya sendiri. Jelaslah bahwa apa yang dipastikan keberadaannya berbeda sepenuhnya dengan apa yang tidak dipastikan keberadaannya. Dengan demikian, hakikat dirinya adalah entitas yang terpisah dan berbeda dari tubuh materiilnya.”

Dari eksperimen pemikiran ini, Ibnu Sina menarik kesimpulan logis: kesadaran akan keberadaan diri tetap ada meskipun segala aspek jasmani dihilangkan dari persepsi. Hal ini membuktikan bahwa jiwa bukanlah sekadar fungsi atau bagian dari tubuh, melainkan realitas yang berdiri sendiri dan memiliki hakikat yang berbeda.

Gagasan ini mengandung kesamaan mendasar dengan rumusan pemikiran filsuf Pencerahan asal Prancis, René Descartes, yang mengemukakan prinsip terkenal: “Aku berpikir, maka aku ada.” Meskipun keduanya merumuskan argumen melalui jalur sejarah dan konteks yang berbeda, keduanya sampai pada kesimpulan yang searah: kesadaran diri adalah bukti paling utama akan keberadaan hakiki manusia, yang secara hakiki terpisah dari wujud fisiknya.


Prinsip “Wajib Ada”: Menyempurnakan Argumen Kausalitas Menuju Keesaan Sang Pencipta

Pembahasan mengenai pembuktian keberadaan Sang Pencipta dapat ditelusuri kembali ke pemikiran filsuf Yunani, Aristoteles. Pandangannya muncul sebagai tanggapan atas gagasan Herakleitos—filsuf sebelum masa Sokrates—yang meyakini bahwa alam semesta beserta seluruh isinya senantiasa berada dalam keadaan bergerak secara terus-menerus dan teratur. Berbeda dengan pandangan tersebut, Aristoteles berargumen bahwa gerak tidaklah melekat pada setiap benda secara mutlak; setiap perubahan atau perpindahan keadaan senantiasa memiliki alasan atau dorongan tertentu. Melalui kerangka berpikir kausalitas dan hukum sebab-akibat, ia memandang alam semesta sebagai rangkaian peristiwa gerak yang saling terhubung, di mana satu gerakan selalu bermula dari gerakan sebelumnya.

Dalam karyanya yang berjudul Fisika, Aristoteles merumuskan dalil: “Setiap benda yang bergerak pasti memiliki penggerak.” Dari prinsip ini, ia menarik kesimpulan logis bahwa rantai sebab-akibat tidak dapat berlangsung tanpa batas; pada akhirnya harus ada satu entitas yang menjadi titik awal, yakni Penggerak Pertama yang tidak digerakkan oleh apa pun selain dirinya sendiri. Konsep ini kemudian menjadi landasan awal untuk memahami hakikat Sang Pencipta dalam perspektif filsafat.

Namun, kerangka pemikiran ini kemudian disempurnakan dan diperdalam oleh Ibnu Sina, yang dikenal dengan gelar al-Ra’is. Ia tidak hanya ingin membuktikan keberadaan Sang Pencipta, melainkan juga memperkuat argumen mengenai keesaan-Nya melalui pendekatan logika yang lebih ketat. Ia merumuskan konsep yang dikenal sebagai “Prinsip Wajib Ada”, yang tertuang secara rinci dalam karyanya, Kitâb al-Syifâ`.

Ibnu Sina menjelaskan bahwa keberadaan secara umum dapat dibagi menjadi dua kategori logis: keberadaan yang “mungkin ada” dan keberadaan yang “wajib ada”. Jika sesuatu itu bersifat wajib ada, maka keberadaannya tidak bergantung pada apa pun dan menjadi kenyataan yang mutlak. Jika sesuatu itu hanya bersifat mungkin ada—artinya ia dapat ada atau tidak ada, dan keberadaannya bergantung pada faktor lain—maka keberadaannya tidak dapat berdiri sendiri. Rantai ketergantungan ini tidak dapat berlanjut tanpa akhir; pada akhirnya, ia harus bermuara pada satu entitas yang berdiri sendiri, yaitu yang bersifat wajib ada.

Dengan demikian, kesadaran kita akan keberadaan segala sesuatu yang bersifat terbatas dan bergantung, justru menjadi jalan untuk memahami hakikat keberadaan yang mutlak. Pengetahuan mengenai benda-benda yang mungkin ada secara logis akan mengarahkan akal kepada pengakuan akan keberadaan yang menjadi dasar bagi segala sesuatu itu ada.

Lebih lanjut, Ibnu Sina merumuskan definisi hakiki dari yang “wajib ada”: ia adalah entitas yang ada karena dirinya sendiri, bukan disebabkan oleh hal lain apa pun. Keberadaannya tidak bersyarat, sehingga mustahil bagi akal untuk membayangkan bahwa ia dapat tidak ada.


Akar dan Pengaruh

Ibnu Sina adalah salah satu tokoh pemikir paling berpengaruh dalam sejarah peradaban, yang warisan gagasannya melampaui batas ruang dan waktu, serta membentuk cara pandang intelektual baik di dunia Timur maupun Barat. Pemikiran filsafat dan teologinya tidak hanya diterima secara luas di lingkungan pemikir Muslim, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi para sarjana Eropa abad pertengahan. Salah satu contoh paling nyata terlihat dalam karya Thomas Aquinas, teolog dan filsuf terkemuka Italia pada abad ke-13. Ketika Aquinas merumuskan argumen logisnya yang terkenal sebagai “Lima Jalan” atau “Quinque Viae” untuk menjelaskan keberadaan Tuhan, ia secara eksplisit mengandalkan konsep inti yang dikembangkan Ibnu Sina, yakni gagasan mengenai “Keberadaan yang Mutlak”. Bahkan salah satu rangkaian penjelasannya secara jelas diakui sebagai pengembangan dari “Argumen Keharusan Keberadaan” yang dirintis oleh filsuf besar tersebut.

Dalam membangun sistem pemikirannya sendiri, Ibnu Sina tidak sekadar mengumpulkan pendapat orang lain, melainkan melakukan sintesis yang mendalam dan kritis. Ia mengambil inspirasi dari berbagai sumber: pemikiran filsuf Muslim pendahulunya seperti al-Kindi dan al-Farabi, ajaran fisika dan metafisika Aristoteles, pandangan dunia Platonis, serta kerangka kosmologi Ptolemaeus. Melalui pendekatan analitis yang tajam, ia menyusun semua unsur tersebut menjadi satu kesatuan pemikiran yang utuh, logis, dan koheren. Ia tidak segan menolak atau meluruskan pandangan-pandangan yang dinilainya mengandung kekeliruan atau tidak selaras dengan prinsip akal dan wahyu, demi menjaga konsistensi sistem yang ia bangun. Perjalanan intelektual Ibnu Sina berlangsung hingga akhir hayatnya. Kondisi kesehatan yang sering menurun sejak lama akhirnya memuncak ketika ia terserang penyakit usus akut saat mendampingi perjalanan militer pada tahun 1037 Masehi. Meskipun demikian, gagasan yang telah ia susun tidak ikut berhenti. Murid setianya, al-Juzjani, melanjutkan dan menyempurnakan karya-karya yang belum rampung, memastikan warisan pemikiran Ibnu Sina tetap terpelihara dan terus dikaji oleh generasi sesudahnya.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar