KUNINGAN – Ujian Sumatif Tengah Semester (STS) Tahsin dan Tahfizh di SDIT Al-Fattah Kuningan resmi dibuka pada Senin (28/09/2026). Rangkaian acara pembukaan ditandai dengan pelaksanaan shalat Dhuha berjamaah dan Tadarus pagi yang berlangsung khidmat di Masjid Al-Azhar, Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan.
Agenda ujian Tahsin dan Tahfizh ini akan berlangsung selama lima hari ke depan, terhitung mulai tanggal 28 September hingga 2 Oktober 2026. Melalui kegiatan ini, para santri akan diuji sejauh mana capaian dan kemampuan mereka dalam bidang Tahsin dan Tahfizh al-Qur’an.
Untuk materi Tahsin, para santri akan diuji melalui tiga aspek utama. Pertama, Makharijul Huruf, yaitu ketepatan melafalkan huruf-huruf al-Qur’an dari tempat keluarnya. Kedua, Hukum Tajwid, yang mencakup penerapan hukum bacaan seperti nun mati/tanwin, mim mati, mad, idgham, ikhfa’, dan lainnya. Ketiga, Teori dan Tartil, yaitu pemahaman konsep dasar ilmu tajwid, serta kemampuan membaca al-Qur’an secara tartil.
Sementara itu, untuk materi Tahfizh, ujian mencakup tiga aspek krusial. Pertama, Kelancaran Hafalan, yang mengukur tingkat kemudahan peserta dalam menyambung ayat tanpa banyak lupa atau terbata-bata. Kedua, Fashahah dan Tajwid, yakni konsistensi penerapan kaidah tajwid dan makhraj saat membawakan hafalan. Ketiga, Tes Sambung dan Potong Ayat, yaitu kemampuan peserta untuk melanjutkan bacaan ketika guru memotong atau membacakan ayat tertentu secara acak di dalam juz yang diujikan.
Kepala SDIT Al-Fattah Kuningan, Ust. Masyhudi, S.Pd., dalam keterangannya menyampaikan pesan penting bagi para santri. Ia menegaskan bahwa kunci utama menghadapi ujian ini adalah Fokus dan Aktif. Para santri harus memahami bahwa ujian sejatinya adalah sarana evaluasi pembelajaran.
“Kalau para santri mulai belajar sampai tertidur, sampai tidak makan itu berarti mereka belajar untuk ujian, bukan ujian untuk belajar. Maka kesuksesan itu datang dengan proses, bertahap, yang tentunya juga harus fokus,” ucap Ust. Masyhudi.
Ustadz asal Cilimus ini juga menekankan pentingnya proses yang sungguh-sungguh dari para santri. Cara belajar yang benar, rutin melakukan muraja’ah (mengulang hafalan) di malam hari, serta aktif bertanya kepada guru mengenai materi yang belum dipahami, merupakan bentuk keaktifan yang mutlak diperlukan untuk meraih kesuksesan.
Menutup keterangannya, Ust. Masyhudi memberikan motivasi sekaligus nasihat spiritual kepada para santri agar menyeimbangkan usaha lahir dan batin.
“Usaha para santri menjadi jembatan kesuksesan mereka. Oleh karena itu, mereka harus menggunakan waktu-waktu terbaik untuk belajar. Belajar di waktu malam, belajar di waktu shubuh, dan belajar di waktu-waktu senggang. Dan tidak lupa untuk beribadah, bermunajat kepada Allah di waktu yang tepat pula,” pungkasnya.
Pelaksanaan STS Tahsin dan Tahfizh ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang penilaian semata, melainkan sebagai momentum bagi para santri untuk semakin mencintai dan memperbaiki kualitas bacaan serta hafalan al-Qur’an mereka.[]
Tinggalkan Komentar