Info Sekolah
Sabtu, 04 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
19 Maret 2026

Saat-saat Terakhir Ramadhan

Kam, 19 Maret 2026 Dibaca 32x Hikmah

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Di saat-saat terakhir bulan Ramadhan terdapat hikmah mendalam yang menginspirasi orang-orang yang tulus, karena keengganan untuk berpisah bercampur dengan harapan besar untuk bertemu kembali di hati orang-orang yang taat. Akhir Ramadhan menjadi ukuran sejati, mencerminkan keikhlasan ibadah dan ketawadhuan seorang hamba di hadapan limpahan kemurahan Ilahi.


Rahmat Malam Terakhir

Siapa pun yang merenungkan hakikat hari-hari terakhir bulan Ramadhan akan menyadari bahwa Allah Swt. telah menyimpan rahasia-rahasia di balik penutupannya yang tidak ditemukan di permulaannya. Akhir adalah saat di mana manifestasi Ilahi paling mungkin terjadi, dan hasil amal perbuatan adalah timbangan penerimaan. Inilah pemahaman yang harus dimiliki oleh seorang Muslim yang ikhlas, karena di hari-hari terakhir Ramadhan, seorang hamba berjalan di antara dua sayap, yaitu keinginan untuk segera melakukan amal kebaikan dan rasa takut tidak diterimanya amal perbuatan, berdasarkan firman Allah Swt.:


وَٱلَّذِینَ یُؤۡتُونَ مَاۤ ءَاتَوا۟ وَّقُلُوبُهُمۡ وَجِلَةٌ أَنَّهُمۡ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ رَٰجِعُونَ

Dan orang-orang yang melakukan [kebaikan] yang telah mereka kerjakan dengan hati penuh rasa takut [karena mereka tahu] bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya,” [Q.S. al-Mu’minun: 60].


Diriwayatkan dari Sayyidina Ali ra., bahwa ia berkata: “Lebih pedulilah pada penerimaan amal perbuatanmu daripada amal perbuatan itu sendiri. Tidakkah kamu mendengar firman Allah ‘Azza wa Jalla: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa,’ [Q.S. al-Ma’idah: 27]?”

Diriwayatkan dari Fadhalah ibn Ubaid bahwa ia berkata: “Bagiku, mengetahui bahwa Allah menerima amal seberat biji mustard pun lebih kusukai daripada dunia dan segala isinya, karena Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima amal dari orang-orang yang bertakwa.'”

Ibnu Dinar berkata: “Ketakutan bahwa amal perbuatan tidak akan diterima lebih besar daripada amal perbuatan itu sendiri,” [Latha’if al-Ma’arif, Dar Ibn Hazm, hal. 209].

Seorang mukmin sejati tidak membanggakan amal perbuatannya, tetapi merendahkan diri di hadapan Tuhannya, memohon ampunan atas kekurangannya. Karena yang benar-benar penting adalah kemurahan dari Zat Yang Maha Menerima, bukan kualitas amal perbuatan.

Dan ketika cahaya malam terakhir Ramadhan bersinar terang, Allah Swt. membuka perbendaharaan karunia dan rahmat serta nikmat-Nya yang melimpah. Malam itu adalah malam yang kemurahannya melebihi kemurahan seluruh hari di bulan Ramadhan. Sebagaimana disebutkan, bahwa Nabi Saw. bersabda:


فإنَّه إذا كان آخِرُ لَيلةٍ غفر اللهُ لَهمْ جَميعًا فقال رجلٌ من القَومِ: أهِيَ لَيلةُ القدْرِ؟ فقال: لا، ألَمْ تَرَ إلى العُمَّالِ يَعملُونَ، فإذا فَرَغُوا من أعمالِهِمْ وُفُّوا أُجورَهُمْ

Allah Swt. mengampuni mereka semua pada malam terakhir [Ramadhan].’ Lalu seorang laki-laki di antara kaum bertanya: “Apakah itu malam Lailatul Qadar?” Rasulullah Saw. menjawab: “Tidak, apakah engkau tidak melihat para pekerja yang bekerja? Jika mereka telah menyelesaikan pekerjaan mereka, niscaya mereka akan mendapatkan upah (penuh) mereka,” [Imam al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, no. 3603].

Malam itu adalah malam Allah menyembuhkan hati yang terluka dari orang-orang yang tertindas, dan diakhiri dengan pembebasan orang-orang yang berpuasa dari api neraka, di mana Dia membebaskan di dalamnya beberapa orang yang telah Dia bebaskan sejak awal hingga akhir bulan, seperti disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Rajab. [Lathā’if alMa‘ārif, Dar Ibn Hazm, hal. 210].


Rahmat di Saat-saat Terakhir

Adapun saat terakhir Ramadhan, itu adalah saat kebersamaan yang mendahului berlalunya bulan yang agung ini; saat kesedihan karena perpisahan bercampur dengan harapan akan diterimanya amal perbuatan. Ini adalah saat di mana doa-doa dikabulkan dan rahmat melimpah, karena di saat inilah janji Nabi Muhammad Saw. terpenuhi:


إنَّ للَّهِ عندَ كلِّ فِطرٍ عتقاءَ وذلِك في كلِّ ليلةٍ

Sesungguhnya Allah membebaskan beberapa orang dari neraka saat buka puasa, dan itu terjadi setiap malam,” [H.R. Ibnu Majah, no. 1643].


Rahmat ini terwujud di saat-saat terakhirnya sebagai kemurahan ilahi yang terbesar. Orang bijak adalah orang yang memanfaatkan menit-menit ini dengan bersujud kepada Allah, menyadari bahwa ukuran sebenarnya terletak pada akhir, dan bahwa Allah dekat, mengabulkan doa orang yang memohon kepada-Nya.


Pelajaran dari Penutup dan Buah Puasa

Penutup Ramadhan meluluhkan jiwa orang beriman, mengantarkannya ke dalam pelukan Idul Fitri dalam arti sebenarnya. Idul Fitri bukan hanya soal penampilan fisik, tetapi, sebagaimana yang dinyatakan oleh Umar ibn Abdil Aziz: “Idul Fitri adalah bagi mereka yang ketaatannya bertambah dan dosa-dosanya diampuni,” [Latha’if al-Ma’arif, hal. 209].

Imam Qatadah berkata: “Dikatakan, ‘Orang yang tidak diampuni di bulan Ramadhan, tidak akan diampuni di waktu lain.’ Dan dalam hadits lain: ‘Jika ia tidak diampuni di bulan Ramadhan, kapan ia akan diampuni? Siapa yang akan menerima orang yang ditolak pada Malam Lailatul Qadar? Kapan orang yang tidak bertaubat di bulan Ramadhan akan bertaubat, sehingga orang yang ditimpa dua penyakit, yaitu kebodohan dan kelalaian, dapat bertaubat di bulan itu? Pohon apa pun yang tidak berbuah pada musimnya harus ditebang dan dibakar. Barangsiapa lalai menanam pada saat menabur, ia tidak akan menuai apa pun selain penyesalan dan kerugian pada hari panen.”

Imam Qatadah menyitir sebuah syair:


Bulan kesabaran dan rahmat telah berlalu, dan orang-orang yang menjalankannya telah dipilih untuk meraih kemenangan di surga.


Orang lalai yang malang telah menjadi hancur, seperti aku. Sungguh celaka! Betapa besar apa yang telah dirampas darinya!


Orang yang lalai menabur pada musim tanam, ia tidak akan menuai apa pun selain kesedihan dan penyesalan selamanya.


Ibnu Mas’ud ra. berkata di akhir bulan Ramadhan: “Siapakah di antara kita yang diterima, sehingga kita dapat mengucapkan selamat kepadanya? Dan siapakah di antara kita yang tidak diterima, sehingga kita dapat menyampaikan belasungkawa kepadanya? Wahai orang-orang yang diterima, selamat kepada kalian! Wahai orang-orang yang ditolak, semoga Allah menghibur kalian dalam kehilangan kalian,” [Lathā’if alMa’ārif, hal. 211].

Jalan yang benar bagi seorang Muslim adalah keluar dari Ramadhan dengan hati yang sehat, lisan yang basah dengan dzikir, dan tekad yang tulus untuk berbuat baik, menjadi hamba Allah, bukan hanya hamba Ramadhan, terhubung dengan cahaya Allah setiap saat dan di setiap tempat.


Wahai pencari jalan Tuhan, jadikan akhir bulanmu sebagai pendakian jiwamu menuju keistiqamahan. Allah Swt. menginginkanmu menjadi hamba Allah, bukan hamba musim. Maka, tekunlah dalam adab ketaatan agar berkah penerimaan terus berlanjut bagimu. Siapa pun yang mengenal Tuhan di bulan Ramadhan, ia akan tahu bahwa Dia menyertainya setiap saat dan di setiap tempat.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar