Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Di dalam kelas, tempat para siswa duduk berdesakan, menatap papan tulis yang dipenuhi informasi yang tampaknya tak ternilai harganya, suara riuh mereka, diselingi seruan “Pak Guru!” dan “Ibu Guru!”, tak pernah berhenti. Namun, yang tidak disadari, di hati mereka terdapat keinginan kuat untuk segera keluar dari kelas, melarikan diri ke ruang terbuka, menghirup udara segar alam, di mana mereka dapat menemukan pelepasan untuk mimpi-mimpi polos mereka.
Di dalam kelas, ada satu dunia yang tersembunyi di sudut-sudutnya, dan dunia lain yang penuh dengan cinta dan dedikasi. Di antara kedua dunia ini terdapat suara-suara tenang, wajah-wajah tersenyum, pikiran-pikiran cemerlang, dan tangan-tangan yang dengan penuh semangat menulis di papan tulis, tempat kalender mencatat kehidupan sehari-hari para siswa tanpa perlu membaca ulang cerita yang berbeda. Kehidupan di sana hampir tidak identik, namun membawa cita rasa sukacita dan kemarahan, tawa dan kelelahan.
Tulisan ini adalah ekspresi dari kehidupan yang memudar itu, yang kemanusiaannya terkikis oleh kebijakan distorsi dan prasangka sosial terhadap kehidupan sekolah. Ini bukanlah krisis sosial atau politik, melainkan manifestasi dari eksploitasi kejam terhadap kemanusiaan di dalam sebuah ruangan yang seharusnya menyediakan dunia bagi para pelajar, alih-alih mencuri mimpi-mimpi indah mereka.
Tablet Suci
Di antara empat dinding, rak yang penuh sesak dengan buku, poster yang menghiasi dinding, dan meja serta kursi yang berserakan, Kekacauan yang melanda tempat itu hanya memperdalam absurditasnya, karena para siswa tidak memandang papan tulis sebagai tablet suci yang merangkum beragam pengetahuan dan aspek-aspek kehidupan yang kontradiktif. Ini adalah tempat bertemunya esensi kehidupan murni dan kemegahan pencapaian umat manusia sejak awal keberadaannya.
Para siswa berada di tengah-tengah empat dinding kelas sebagai anak-anak, terpikat oleh warna-warna cerah, suara-suara yang saling terkait, dan kepribadian guru yang berubah-ubah antara keseriusan dan keceriaan; itulah esensi dari kepuasan hidup yang kita takutkan akan dicuri, atau direduksi menjadi dunia kecil yang mengisolasi mereka.
Di dalam kelas, setiap orang menerima sesuatu dari papan tulis yang dipajang di salah satu dindingnya, berbicara, dan mendengarkan, tidak melakukan apa pun selain mencatat pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang diwariskan. Di sana, berbagai informasi tidak bersaing untuk mendapatkan tempat di papan tulis, karena semuanya disajikan dalam baris-baris lurus yang seragam, diselingi angka-angka berwarna hijau yang menyenangkan.
Apa yang ditawarkan papan tulis kelas—sebagai alat komunikasi yang efektif antara guru dan siswa—bukan hanya huruf-huruf berdasarkan sistem pendidikan yang kaku dan terarah. Sebaliknya, nilai-nilai yang tersembunyi di balik judul mata pelajarannya hampir tidak ada di saat siswa diliputi keinginan untuk mendapatkan nilai sempurna, atau bergegas keluar dari kelas, dan mengejar kenyamanan buatan yang terus-menerus dijejalkan ke dalam kehidupan mereka.
Jadi, apa yang telah mengubah sesuatu yang dulunya sakral menjadi sekadar tablet kering yang merangkum perjalanan intelektual dan moral siswa, dalam kegiatan yang dianggap penting oleh pengawas pendidikan untuk mencapai kompetensi komprehensif?
Ruang-ruang pendidikan telah menjadi penjara lunak tempat ambisi anak-anak dicuri dan bakat mereka dibungkam. Di antara jam-jam membosankan duduk di sekolah dan kembali ke rumah yang bahkan kekurangan dialog dan komunikasi paling dasar antar anak, mimpi-mimpi kita diam-diam dirampas di depan mata kita, sementara kita tetap tidak menyadari betapa seriusnya apa yang terjadi pada masyarakat yang bahkan lebih bingung daripada generasi yang sedang tumbuh, generasi yang mengalami keterasingan masa kecil dari tempatnya: keluarga, sekolah, dan tanah air.
Penjara yang Lembut
Kesalahan dapat ditimpakan pada sistem pendidikan yang kaku, yang mereproduksi masyarakat sesuai dengan kebijakan-kebijakan tertentu yang kurang memperhatikan “humanisasi pendidikan” dan pengejaran nilai-nilai kebebasan dan keadilan. Tidak ada yang memberikan efektivitas pada nilai-nilai ini kecuali keyakinan bahwa inovasi adalah jalan untuk melestarikan prinsip-prinsip dasar masyarakat.
Anak-anak senang menikmati waktu mereka dan menyimpan banyak hal yang hanya ada dalam imajinasi mereka. Ingatan mereka lebih terkait dengan kecemasan mereka daripada kenyataan, dan mereka melihat ruang kelas sebagai penjara tempat harapan dan keinginan mereka terkurung, mengisolasi mereka dari lingkungan sekitar yang seharusnya menjadi perpanjangan dari kehidupan sekolah mereka.
Mereka melihat orangtua mereka, taman bermain, papan tulis, dan guru sebagai musuh yang berusaha merampas masa kecil mereka yang bahagia dan sederhana di sebuah penjara yang lembut; oleh karena itu, mereka menolak upaya-upaya terus-menerus untuk menjinakkan mereka. Akar dari keyakinan ini terletak pada narasi keluarga tentang komunitas pendidikan, serta sejak saat pertama mereka memasuki dunia sekolah.
Pendekatan kognitif terhadap siswa tidak boleh direduksi hanya pada kurikulum pendidikan dan kompetensi akhir, sebagai hasil dari segala jenis pengetahuan; sebaliknya, kita harus memandang siswa sebagai seorang anak, bukan sebagai komoditas yang didaur ulang dalam program-program sementara, yang sebagian di antaranya dengan cepat dikritik dan digantikan oleh program lain.
Memanusiakan Sistem Pendidikan
Sangat sulit untuk membimbing anak-anak yang hiperaktif dan membujuk mereka untuk menerima sistem pendidikan yang membatasi mereka di ruang kelas yang tanpa dimensi manusiawi dan estetis. Masalahnya bukan hanya terkait dengan perbedaan individu di antara siswa, tetapi juga dengan kurikulum itu sendiri, jam pelajaran, dan ruang yang dialokasikan untuk mereka—faktor-faktor yang berkontribusi pada reproduksi model yang gagal mewakili identitas, sejarah, atau warisan nasional mereka.
Keengganan anak-anak terhadap pendidikan memiliki banyak penyebab; di satu sisi, subjektif, terkait dengan ketidakmampuan mereka untuk mencapai kualifikasi yang diperlukan untuk maju, dan di sisi lain, objektif, yang berasal dari seluruh sistem pendidikan. Ini tidak hanya merujuk pada kurikulum, kerangka kerja, dan struktur, tetapi juga pada tanggungjawab moral dan sosial terhadap kesejahteraan psikologis anak, karena hal itu merupakan landasan dari setiap proyek progresif dan manusiawi.
Kita mungkin tidak sepenuhnya memahami bahaya tersembunyi yang mengintai di balik akumulasi kebijakan sistem pendidikan dan fluktuasinya selama ini. Dampaknya jauh melampaui gelar pendidikan tinggi, betapapun pentingnya gelar tersebut. Kurangnya kreativitas dan perkembangan humanistik di kalangan pelajar merupakan kemerosotan budaya yang tersembunyi, di mana tanggungjawab individu menjadi prioritas sejak seorang anak memasuki dunia sekolah.
Secara alami, pelajar melihat kehidupan sekolah sebagai dunia di mana jati diri dan keberadaan manusiawi mereka hilang. Mereka melihat kita semua—tanpa terkecuali—sebagai musuh yang telah mencuri mimpi sederhana mereka, kehidupan damai mereka, dan semangat hidup mereka.
Anak-anak bukanlah mesin, atau proyek yang didaur ulang dalam kerangka ekonomi yang menghabiskan mereka. Mereka, pertama dan terutama, adalah manusia dengan kehadiran unik di berbagai dunia, dan bakat yang mungkin belum kita kenali.[]
Tinggalkan Komentar