Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Kendati buta huruf lazim terjadi di Jazirah Arab sebelum Islam, bukti sejarah menunjukkan bahwa orang Arab pra-Islam mengetahui seni menulis. Muhammad ibn Ishaq al-Nadim (w. 380 H), penulis kitab al-Fihrist, mencatat bahwa orang Arab pra-Islam mengetahui cara menulis dalam aksara Abyssinia, di samping kemampuan mereka untuk menulis dalam aksara suku-suku selatan Jazirah Arab, seperti Saba dan Himyar, serta mempelajari seni kaligrafi.
Perjalanan Buku dan Kertas
Penggunaan bahan tulis yang dikenal pada era pra-Islam berlanjut setelah Islam datang. Saat itu wahyu (al-Qur’an) yang turun ditulis pada batang pohon palem, tulang lebar, kulit, dan bahan lainnya.
Pujian patut diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. atas penggunaan pertama sistem segel (stempel) di Jazirah Arab. Beliau juga dikenal sering menggunakan dokumen tertulis dalam mengelola urusan negara, karena beliau mendiktekan dokumen tersebut kepada para juru tulis yang dipekerjakan khusus untuk itu.
Hal ini terus berlangsung hingga bangsa Arab mengadopsi kertas dan teknik pembuatannya dari Tiongkok. Kertas merevolusi pendidikan, penulisan, dan kaligrafi di dunia Islam. Pembuatan kertas berkembang pesat di Baghdad hingga Menteri Dinasti Abbasiyah, Ja’far ibn Yahya al-Barmaki, mengganti perkamen dengan kertas dalam semua transaksi resmi negara.
Seiring dengan meluasnya penggunaan dan peningkatan produksinya, harga kertas menjadi lebih terjangkau daripada perkamen, papirus, dan bahan lainnya. Pabrik kertas berkembang di seluruh dunia Islam, yang menyebabkan pasar buku berkembang pesat dan memunculkan bisnis budaya yang berkembang sejak abad ke-2 Hijriah.
Mereka yang menjalankan bisnis ini disebut warraqin (pembuat kertas/penjualnkertas/juru tulis/penyalin buku) yang memiliki toko dan tempat khusus mereka sendiri di ibu kota kekhalifahan. Lebih jauh lagi, mereka memiliki pengaruh sangat kuat terhadap penyebaran budaya dan pengetahuan dalam peradaban Islam.
Dalam penyusunan buku Tarikh Baghdad, al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H) melibatkan sejumlah juru tulis untuk catatan sejarah, yang muncul di lebih dari 850 tempat dalam karyanya tersebut.
Muhammad ibn Ishaq al-Nadim, penulis al-Fihrist (bibliografi Arab tertua, yang diketahui ditulis pada abad ke-4 H), awalnya adalah seorang warraq (juru tulis dan penyalin buku). Ia menggabungkan profesi penjualan, penerbitan, dan penyalinan dengan penyusunan buku.
Buku al-Fihrist melestarikan ilmu-ilmu dan pengetahuan terpenting, serta judul-judul buku dan karya tulis di berbagai bidang keilmuan hingga paruh kedua abad ke-4 H—lebih dari seribu tahun yang lalu.
Di dalam ensiklopedia luar biasa ini, kita menemukan minat umat Muslim pada semua bidang ilmu pengetahuan, yang diklasifikasikan secara cermat pada periode awal, seperti buku-buku tentang syariat, nahwu (tata bahasa), bahasa (linguistik), sejarah, nasab (silsilah), fikih, hadits, tafsir, filsafat, mantiq (logika), ilmu alam, kimia, dan lain sebagainya. Di dalamnya bahkan disebutkan buku-buku tentang khurafat, mantra, sihir, dan ilmu hitam, selain karya-karya tentang aliran pemikiran dan kepercayaan agama.
Peran para penjual buku sangat menonjol pada periode awal peradaban Islam. Khalifah Dinasti Abbasiyah, al-Muqtadir (282-320 H/895-932 M), mengumpulkan mereka untuk memperingatkan mereka agar tidak membeli, menyalin, atau menyebarkan karya-karya al-Hallaj. Mereka mematuhi peringatan ini, yang menunjukkan peran penting mereka sebagai kekuatan budaya dan informasi yang sangat penting pada saat itu.
Perpustakaan dalam peradaban Islam merupakan mercusuar pembelajaran, lembaga independen yang didukung oleh para pangeran, orang kaya, dan cendekiawan untuk menyebarkan pengetahuan, terutama di era sebelum percetakan.
Buku-buku disalin oleh juru tulis khusus, sehingga harganya sangat mahal bagi pelajar dan cendekiawan, apalagi bagi mereka yang ingin mengoleksi buku-buku di bidang yang mereka minati. Dengan demikian, pendirian perpustakaan di masyarakat kita berasal dari keharusan etis ini untuk memenuhi kebutuhan intelektual yang sangat vital.
Jenis-jenis Perpustakaan
Peradaban Islam mengenal berbagai jenis perpustakaan, yang tersebar di seluruh dunia Islam. Perpustakaan ditemukan di istana para khalifah, di sekolah-sekolah umum, sekolah-sekolah al-Qur’an, dan masjid-masjid. Perpustakaan juga ditemukan di seluruh ibu kota kekhalifahan, serta di desa-desa terpencil dan tempat-tempat yang jauh.
Pertama, perpustakaan akademik (al-maktabah al-akadimiyyah), yang termasuk perpustakaan paling terkenal dalam peradaban Islam. Di antara yang terpenting adalah perpustakaan Baitul Hikmah di Baghdad, dan perpustakaan Darul Hikmah di Kairo.
Kedua, perpustakaan pribadi (al-maktabah al-khashshah), yang tersebar luas dan sukses di seluruh dunia Islam. Contohnya adalah perpustakaan Khalifah al-Mustansir, dan perpustakaan al-Fath ibn Khaqan. Ada juga perpustakaan Ibnu al-Amid, Menteri Dinasti Buwaihiyah yang terkenal.
Sejarawan terkenal Ibnu Miskawaih menyebut dirinya bekerja sebagai pustakawan di perpustakaan Ibnu al-Amid. Ia menceritakan sebuah kejadian di mana rumah Ibnu al-Amid, yang di dalamya ada perpustakaan, dirampok. Ibnu al-Amid sangat sedih saat mengetahui hal itu, sebab ia mengira perpustakaannya telah dicuri bersamaan dengan harta-harta lain miliknya.
Ibnu Miskawaih mengungkapkan alasan kesedihan mendalam Ibnu al-Amid. Ia berkata, “Wazir Ibnu al-Amid sangat sibuk dengan buku-bukunya, dan tidak ada yang lebih berharga baginya selain buku-buku itu. Bukunya sangat banyak, berisi setiap cabang ilmu pengetahuan dan setiap jenis kebijaksanaan dan sastra, cukup untuk memenuhi seratus muatan unta. Ketika ia melihatku, ia bertanya tentang buku-buku itu, dan aku menjawab, ‘Buku-buku itu persis seperti semula; tidak ada tangan yang menyentuhnya.’ Ia merasa lega dan berkata, ‘Aku bersaksi bahwa engkau diberkati. Harta benda lain bisa diganti, tetapi yang ini tidak bisa.’ Aku melihat wajahnya berseri-seri.”
Ketiga, perpustakaan umum (al-maktabah al-‘ammah), yang paling terkenal adalah perpustakaan Cordoba, yang didirikan oleh Khalifah Dinasti Umayyah, al-Hakam al-Mustanshir Billah, pada tahun 350 H/961 M. Di dalamnya terdapat sejumlah staf yang ditunjuk khusus untuk mengelolanya, mengumpulkan juru tulis, dan mempekerjakan sejumlah besar penjilid buku.
Perpustakaan ini menjadi pusat perhatian para cendekiawan dan pelajar ilmu pengetahuan di Andalusia, dan orang Eropa berbondong-bondong mengunjunginya untuk membaca. Perpustakaan ini berisi empat puluh empat katalog yang mencantumkan buku-buku, setiap katalog terdiri dari dua puluh halaman yang hanya berisi judul-judul koleksi buku.
Lainnya adalah perpustakaan Banu Ammar di Tripoli, Suriah. Perpustakaan ini memiliki agen-agen khusus yang melakukan perjalanan ke seluruh dunia Islam untuk mencari karya-karya agung untuk ditambahkan ke dalam koleksi perpustakaan. Sebanyak delapan puluh lima juru tulis dipekerjakan siang dan malam untuk menyalin buku.
Para khalifah, gubernur, dan ulama mendirikan perpustakaan di sekolah dan perguruan tinggi. Sekolah-sekolah ini tersebar di seluruh dunia Islam, dan sebagian besar memiliki perpustakaan yang berfungsi sebagai referensi bagi para pelajar untuk mempelajari karya-karya terbaru dalam bidang seni, ilmu pengetahuan, dan sastra.
Para sultan, cendekiawan, bahkan masyarakat sipil, termasuk pedagang besar, dermawan, dan para putri sultan, serta lainnya, berlomba-lomba mendirikan perpustakaan.
Nuruddin Mahmud membangun sebuah sekolah di Damaskus dan menghubungkannya dengan perpustakaan, seperti yang dilakukan juga oleh Shalahuddin al-Ayyubi. Adapun al-Qadhi al-Fadhil, menteri Dinasti Ayyubiyah, ia mendirikan sebuah sekolah di Kairo bernama al-Fadhiliyah, yang di dalamnya tersimpan sekitar dua ratus ribu jilid buku.
Keempat, perpustakaan yang didirikan sebagai bangunan tambahan untuk masjid. Jenis perpustakaan ini dianggap sebagai yang tertua dalam Islam, karena perpustakaan dalam Islam muncul bersamaan dengan masjid dan setidaknya dua abad sebelum berdirinya sekolah. Seperti perpustakaan Masjid Al-Azhar dan perpustakaan Masjid Agung di Kairouan.
Masjid Nabawi di Madinah juga terkenal karena perpustakaannya yang besar, yang didanai untuk kepentingan para siswa yang tinggal di sekitarnya. Tragisnya, perpustakaan tersebut hancur pada tahun 886 H (1487/1488 M) akibat sambaran petir, sebuah fenomena alam yang langka dan tidak biasa.
Demikian pula, Masjid Umayyah di Damaskus terkenal karena perpustakaannya yang unik, yang terbuka untuk siapa saja yang ingin membaca dan belajar.
Perpustakaan masjid di Andalusia melampaui perpustakaan masjid di bagian Timur dunia Islam. Masjid Agung Cordoba dianggap sebagai salah satu masjid terbesar dan termegah. Masjid ini dibangun oleh Khalifah Dinasti Umayyah, Abdurrahman I. Pada tahun 170 H/786 M, sejumlah besar buku dan al-Qur’an dihancurkan, sebagian besar hilang selama invasi oleh pasukan Raja Ferdinand II pada tahun 634 H/1236 M. Sejarawan al-Maqqari menyebutkan peristiwa ini. Ia menyatakan bahwa di antara al-Qur’an yang dibakar oleh pasukan penyerang adalah satu yang ditulis oleh Khalifah Utsman bin Affan ra..
Sebagian besar umat Muslim di Andalusia berusaha mendukung dan memelihara perpustakaan masjid. Sejarawan Spanyol Julian Ribera menyebutkan bahwa Ibnu Lubb al-Malaqi, yang tinggal lama di Granada, mewariskan sebagian besar perpustakaan pribadinya kepada perpustakaan Masjid Agung di kota kelahirannya, Malaga.
Demikian pula, ulama Ibnu Marwan al-Baji menyumbangkan seluruh bukunya ke Masjid Agung Sevilla. Untuk memastikan pelestariannya, ia mempercayakannya kepada khatib masjid, Syaikh Abdurrahman al-Lakhmi, yang tampaknya bertanggungjawab mengelola perpustakaan masjid.[]
Tinggalkan Komentar