Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Dalam sebuah wawancara pers, Foucault mengutip sebuah kalimat dari seorang sejarawan bernama Garcia, yang ditulis pada tahun 1860: “Kesehatan telah menggantikan keselamatan di zaman kita.”
Dari Langit ke “Di Sini dan Sekarang”
Pemikiran tentang “apa yang ada di sini dan sekarang” telah menggantikan pemikiran tentang “apa yang ada di balik kematian”. Orang Eropa telah meninggalkan gagasan tentang surga setelah kematian dan kehidupan setelah kematian, dan menjadi terlalu sibuk dengan kehidupan mereka saat ini. Seperti yang dikatakan Hegel: “Mereka menurunkan Tuhan dari langit ke parlemen.” Kehidupan adalah yang utama. Mengobati, menyembuhkan atau mengatasi masalah-masalah sosial, ekonomi, dan politik adalah yang terpenting, bukan keselamatan (al-khalash).
Pengobatan (al-‘ilaj) selalu dikaitkan dengan rasionalitas, perhitungan (saya memiliki kepentingan, dan Anda memiliki kepentingan), dan pengujian (tidak ada wujud kecuali apa yang dapat diuji). Untuk mengobati penyakit, harus ada hubungan yang saling menguntungkan antara dokter dan pasien, dan keduanya harus bergantung pada pemahaman bersama tentang sifat penyakit tersebut, yang disebabkan oleh sesuatu yang dapat diamati, bukan sihir atau kekuatan supranatural.
Pengorbanan dan Pengobatan
Revolusi (seperti Revolusi Bolshevik) dan perang (seperti dua Perang Dunia) di Eropa didasarkan pada penanganan masalah dan penerapan pendekatan pengobatan tertentu. Namun, masalahnya terletak pada kenyataan bahwa pengobatan tidak berfokus pada individu tetapi pada kelompok, tidak seperti keselamatan yang berfokus pada individu sebagai individu. Allah Swt. berfirman:
يَوۡمَ يَفِرُّ الۡمَرۡءُ مِنۡ اَخِيۡهِۙ، وَاُمِّهٖ وَاَبِيۡهِۙ، وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيۡهِؕ، لِكُلِّ امۡرِیءٍ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَٮِٕذٍ شَاۡنٌ يُّغۡنِيۡهِؕ
“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya,” [Q.S. ‘Abasa: 34 – 37].
Lebih lanjut, pengobatan atau solusi tidak dapat memaksakan perspektifnya pada masyarakat tanpa menuntut pengorbanan dari individu, dan di sinilah letak kontradiksinya. Pengorbanan pada dasarnya tidak rasional, karena orang yang memerintahkannya bergantung pada emosi dan harapan [untuk membangun masa depan yang lebih baik], sementara orang yang mengorbankan diri mengabaikan pertimbangan kepentingan diri sendiri dan gagal mengajukan pertanyaan rasionalitas dan solusi: Apa yang akan saya peroleh dari pengorbanan ini?
Itulah mengapa Nietzsche mengkritik budaya Barat modern, menganggapnya sebagai budaya religius dan nihilistik yang menyamar sebagai sekuler. Ia pernah menggambarkan Kant sebagai seorang pendeta yang berpura-pura sekuler, sehingga karenanya beberapa orang menyebut Nietzsche sebagai sekularis sejati.
Namun, kontradiksi tersebut tidak berhenti di situ. Seperti yang telah kita katakan, pengobatan menyangkut kelompok, bukan individu. Tetapi, ketika berusaha membangun fondasi baru, ia beralih kepada individu, kepada harapan dan aspirasinya, yang pemenuhannya tetap tidak pasti, berada di ranah yang tidak diketahui, bukan di sini dan sekarang.
Pengobatan Bersifat Rasional tetapi Membutuhkan Irasionalitas
Kesimpulan yang dapat diamati, dan yang telah dicatat oleh banyak orang, seperti Weber, Tocqueville, dan Fukuyama, adalah bahwa pengobatan bersifat rasional tetapi membutuhkan irasionalitas. Ia menggunakan leksikon keselamatan untuk membangun dirinya sendiri, mengandalkan istilah-istilah irasional yang terkait dengan keselamatan, seperti: surga di bumi, kemartiran, keabadian dalam sejarah, dan “semoga kedamaian menyertai jiwanya”.
Pengobatan tidak dapat konsisten dengan dirinya sendiri, karena pada dasarnya ia merupakan penjagaan positivis, yaitu, yang bertentangan dengan metafisika. Namun, ia meninggalkan penjagaannya sendiri dan secara parasit mengadopsi penjagaan keselamatan.
Pertanyaan yang selalu muncul adalah: bagaimana pengobatan akan meyakinkan individu untuk mempertahankannya dari keruntuhan, mengingat bahwa ia mengajarkan mereka perhitungan yang menguntungkan diri sendiri dan ketergantungan semata-mata pada pengalaman? Bagaimana ia akan tetap utuh tanpa berbicara tentang janji-janji yang tidak terkait dengan pengalaman dan manfaat nyata, tetapi lebih kepada manfaat yang tertunda? Dan janji itu adalah istilah yang sangat menyelamatkan.
Jika kita melihat sejarah, kita mungkin bertanya, misalnya: apa yang diperoleh orang-orang yang mengorbankan diri mereka untuk membangun sistem komunis, yang menjanjikan mereka surga di bumi? Jutaan orang mati demi harapan itu! Tetapi apa yang mereka peroleh? Kita bisa mengatakan mereka berkorban agar generasi mendatang dapat memiliki sistem komunis, tetapi generasi-generasi itu tidak mendapatkannya. Jadi, apakah pengorbanan mereka sia-sia? Dan apakah pengobatan itu gagal melindungi harapan mereka?
Keselamatan Tidak Bertentangan dengan Dirinya Sendiri
Di sini, perlu diklarifikasi bahwa ketika pengobatan mengandalkan keselamatan, ia bertentangan dengan dirinya sendiri, menjual ilusi yang tidak dipercayainya kepada individu agar dapat terus berlanjut. Kita tidak akan menyangkal bahwa pengobatan itu mencapai efektivitas, tetapi itu terjadi dengan mengorbankan kepentingan orang lain.
Sebaliknya, keselamatan, dapat bergantung pada pengobatan tanpa bertentangan dengan dirinya sendiri. Keselamatan seringkali mengandalkan rasionalitas dan menghubungkannya dengan hal yang irasional, seperti berbicara tentang perhitungan dan mengaitkannya dengan moralitas, atau mengatakan bahwa setiap individu harus memperhatikan kepentingan duniawi mereka karena di situlah letak keselamatan mereka di akhirat.
Keselamatan ditawarkan kepada individu, dan jika menuntut pengorbanan, ia menjanjikan apa yang terjadi setelah kematian. Kita mungkin menganggap ini sebagai ilusi, tetapi keselamatan mempercayainya dan itu tidak bertentangan dengan dirinya sendiri. Ketika individu akan berkorban, ia yakin akan menerima sesuatu yang lebih baik setelah kematian.
Itu berarti bahwa keselamatan memandang dunia ini—di sini dan sekarang—hanya sebagai momen sesaat, bukan keadaan permanen. Apa yang kita bangun di dunia ini adalah untuk memfasilitasi pekerjaan menuju keselamatan, yang terkait dengan keadaan kekal yang tertinggi. Oleh karena itu, siapa pun yang mati di sini saat membangun fondasi keselamatan tidak bertentangan dengan diri mereka sendiri, tidak seperti mereka yang hanya percaya pada pengobatan dan penyembuhan.
Keselamatan Itu Selalu Kembali
Keselamatan dapat membangun kehidupan berdasarkan kosakata yang melimpah, yang menghibur individu mengenai kehidupan setelah kematian. Hal ini berbeda dengan pengobatan, yang terbatas pada kehidupan dan memperluas cakupannya ke leksikon keselamatan, mengabaikan prinsip-prinsip awalnya dan melampaui kehidupan menuju kehidupan setelah kematian.
Banyak yang gagal menyadari bahwa keselamatan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan; meskipun sempat surut untuk sementara waktu, ia akan selalu kembali. Pemisahan agama dan negara yang dianjurkan oleh sekularisme termasuk dalam kerangka ini. Sekularisme menolak campur tangan agama dalam pemerintahan negara, namun ia bergantung pada agama untuk kelangsungan hidupnya sendiri.
Ketika presiden Amerika mengatakan, “Tuhan bersama kita,” apakah pernyataan ini hanya berlaku untuk negara, atau apakah juga mencakup agama? Dan ketika jabatan presiden Prancis dipegang secara eksklusif oleh seorang Katolik, sampai-sampai seorang Protestan tidak dapat memimpin Prancis, apakah ini tetap terbatas pada negara, atau apakah juga mencakup agama? Dapatkah negara bertahan tanpa konsep-konsep keagamaan?
Kesalahan yang dilakukan oleh kaum sekularis adalah keyakinan mereka bahwa kaum agamis hanyalah kelompok yang muncul sebagai akibat dari anomali budaya, sosial, ekonomi, politik, atau bahkan sejarah yang disebabkan oleh kolonialisme, dan bahwa mereka dapat dihilangkan dengan mengubah kondisi yang menghasilkan mereka. Namun, kaum sekularis gagal menyadari bahwa doktrin agama terkait erat dengan aturan Tuhan yang gaib.
Meskipun sebagian orang berpikir mereka sudah selesai dengan agama, mereka pasti akan kembali kepada agama. Dunia Barat memahami hal ini lebih baik daripada kaum sekularis di dalam masyarakat mereka sendiri. Seorang Muslim tidak dapat meninggalkan keselamatan setelah kematian demi janji-janji duniawi yang pemenuhannya tidak pasti. Taruhan Pascal selalu menghantui umat manusia, meskipun secara publik disangkal.[]
Tinggalkan Komentar