Info Sekolah
Kamis, 26 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
12 Januari 2026

Mengapa Manusia Modern Kehilangan Semangat Hidupnya?

Sen, 12 Januari 2026 Dibaca 24x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Saat saya mengobrol dengan salah seorang teman, dan saat ia mengenang masa lalu dengan penuh nostalgia tentang kunjungannya ke tempat lama yang pernah kami kunjungi cukup lama—salah satu tempat yang selalu ingin kukunjungi kembali setelah meninggalkannya—saya menyadari, untuk sesaat, bahwa saya tidak lagi merasakan apa pun terhadap tempat ini, yang dulunya memiliki tempat yang begitu penting dalam masa lalu.

Untuk sesaat, saya menyadari bahwa hubungan saya dengan masa lalu menjadi kaku dan mati rasa, hubungan yang tidak kutanggapi secara negatif maupun positif. Lebih seperti mimpi, mimpi yang memudar begitu mata terbuka.

Awalnya, saya menganggapnya sebagai akibat dari bertambahnya usia di mana orang biasanya lebih dipandu oleh akal daripada emosi. Saya mulai mencari kenangan-kenangan indah dan menyenangkan, berharap dapat terhubung kembali secara spiritual atau sekadar berharap kenangan itu kembali, meskipun hanya sesaat. Tetapi itu tidak terjadi.

Saya merasa seperti bersandar pada kehampaan. Dulu saya percaya bahwa segala sesuatu yang dialami seseorang membentuk fondasi tempatnya membangun hidupnya, tetapi saya tidak menemukan apa pun dalam puluhan tahun hidup saya yang menunjukkan hal itu.

Saya teringat percakapan yang saya lakukan belum lama ini dengan salah seorang profesor universitas tentang masyarakat dan bangsa. Ia memberi tahu saya tentang istilah “keputusasaan diam”. yang belakangan populer di kalangan masyarakat saat ini. Saya mulai melihat gejala-gejalanya pada diri saya sendiri, berharap dapat mendiagnosis kondisi saya.

Di antara hal-hal yang disebutkan profesor itu tentang istilah ini adalah bahwa orang-orang saat ini bahkan kehilangan kemampuan untuk mengeluh dan menggerutu.


Apakah Munculnya Ponsel Pintar Berperan dalam Hal Ini? 

Apakah orang-orang akhirnya menyadari bahwa hanya menyebutkan masalah saja tidak cukup untuk menyelesaikannya, tetapi sebaliknya, hal itu dapat menghilangkan kemampuan manusia untuk melampaui batasan, yang membantu seseorang bergerak maju dan menjauh dari masalah tersebut, sebesar dan seberat apa pun itu?

Tampaknya, ponsel pintar dan keadaan stagnasi peradaban telah menciptakan manusia baru di dunia yang terbelakang: manusia yang putus asa dan pendiam, yang tidak merindukan masa lalu maupun menantikan masa depan, tersesat dalam lingkaran kosong masa kini, mengejar kebutuhan sehari-hari yang cukup untuk membuatnya hidup di saat itu dan tidak lebih; ​​tanpa nostalgia dan tanpa ambisi yang berorientasi ke masa depan.


Jadi, Apa Solusinya? Dan Model Terapi Mana yang Paling Sesuai?

Saat mencoba menemukan solusi untuk dilema ini, saya teringat sebuah episode serial komedi yang saya tonton Kairo di awal tahun 2000-an berjudul “Dhay’ah Dhayi’ah” (Desa yang Hilang). Dalam salah satu episode, berjudul “Zhawahir Gharibah” (Fenomena Aneh), penduduk desa pegunungan terbangun dengan semacam kehilangan minat pada kehidupan, keadaan yang mirip dengan keadaan emosional Meursault dalam novel “The Stranger” karya Albert Camus ketika ia menerima kabar kematian ibunya di panti jompo.

Pihak berwenang, yang diwakili oleh kepala kantor polisi, berusaha mengembalikan penduduk desa ke cara hidup mereka sebelumnya, ketika mereka merangkul kehidupan dengan sepenuh hati, meskipun kesederhanaan desa “pra-modern” mereka. Tetapi bahkan ancaman kekerasan dari pihak berwenang pun terbukti tidak efektif.

Tampaknya episode serial komedi itu, yang ditayangkan lebih dari puluhan tahun yang lalu, telah meramalkan situasi kita saat ini. Saat ini, di antara rutinitas harian kita, ponsel pintar kita, dan istirahat sesekali untuk makan, batas-batas pikiran kita—batas-batas yang coba didefinisikan oleh Kant—telah menjadi sangat sempit.

Alam bawah sadar, yang tersembunyi di sudut gelap dalam jiwa manusia, seperti yang dikatakan Freud, telah meluas hingga menempati sebagian besar jiwa manusia, sementara kesadaran telah menurun dan menyusut, sehingga membalikkan peran dalam aspek psikologis seseorang di dunia masa kini.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar