Info Sekolah
Kamis, 26 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
10 Januari 2026

Membaca di Era Kecepatan Digital

Sab, 10 Januari 2026 Dibaca 25x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Saat menjelajahi Facebook, saya menemukan sebuah unggahan yang menampilkan gambar sampul buku cerita silat karya Kho Ping Hoo yang diterbitkan oleh Gema Nusantara, sebuah buku cerita serial yang sangat populer di kalangan anak-anak muda pada era 60-an hingga 80-an.

Saya berhenti sejenak, termenung, air mata menggenang di mata saya, dan pikiran saya melayang kembali ke masa ketika membeli satu dari buku-buku cerita itu, atau menerimanya sebagai hadiah dari ibu saya—semoga Allah merahmatinya—seperti mendapatkan harta karun yang berharga, atau meraih semua kegembiraan dan kesenangan dunia.

Ini bukan sekadar nostalgia, meskipun saya tidak dapat menyangkalnya. Hal ini bertepatan dengan diskusi bersama sejumlah teman. Saya berpartisipasi dalam diskusi tersebut dan merenungkan topik ini secara panjang lebar.


Membaca dan Menikmatinya

Meskipun membaca bersifat opsional, kenikmatan adalah urusan pribadi, tergantung pada selera dan kecenderungan, dan saya benar-benar menikmatinya. Bagian ini umumnya tidak termasuk dalam ujian sekolah, dan segera setelah saya menerima buku pelajaran untuk setiap tahun ajaran baru, saya akan mulai membaca semua teks di setiap unit, mendahului perkembangan yang ditentukan.

Saya mungkin menemukan beberapa teks sulit dipahami, dan yang lain membosankan, tetapi secara keseluruhan, saya merasa nyaman dan menikmatinya, dan pengetahuan saya, atau repertoar ilmiah dan linguistik saya, atau apa pun sebutannya, meningkat. Perjalanan melalui halaman-halaman kurikulum itu memberi saya rasa aman dan melindungi saya dari momok ketidaktahuan atau kebodohan.


Apa yang Menyenangkan dari Membaca di Zaman Sekarang?

Kembali pada diskusi dan refleksi yang baru-baru ini saya dan teman-teman lakukan, di era AI (Artificial Intelligence) dan video yang beragam, mulai dari edukatif hingga menghibur dan segala sesuatu di antaranya, apakah masih ada kesenangan dalam membaca teks dan buku? Dan jika tujuan utamanya adalah pengetahuan dan manfaat, bukan kesenangan, bukankah teknologi modern menggantikan buku dan artikel tertulis?

Dalam sebuah diskusi bersama teman-teman, saya bertanya: Jika para penulis dan pengarang sebelum era teknologi modern memiliki kamera, peralatan penyiaran, ponsel pintar, dan teknologi lainnya, apakah mereka masih akan menggunakan pena dan kertas, mengisi halaman dengan tinta, atau bahkan menggunakan layar komputer dengan perangkat lunak pengolah kata?

Saya berkesempatan bertemu dengan seorang tokoh terkenal yang memiliki beberapa buku yang diterbitkan tetapi berbagai videonya di-like oleh banyak orang di berbagai platform media sosial. Selama pertemuan itu, ia bercerita tentang sebuah penerbit terkemuka yang ingin menugaskannya untuk menulis serangkaian artikel tentang topik yang sangat ia kuasai. Namun, ia menolak, dengan menjelaskan: “YouTube ada, dan orang-orang tidak lagi membaca!”

Apakah penjelasannya menjawab pertanyaan yang saya ajukan? Maksud saya, mengapa para penulis menggunakan pena karena kamera modern belum tersedia?

Dikatakan bahwa teknologi modern tidak menggantikan membaca buku cetak karena buku cetak melibatkan beberapa indra: penglihatan, penciuman (aroma kertas), sentuhan (membalik halaman), dan pendengaran (suara halaman). Ditambah lagi imajinasi, yang bekerja efektif saat membaca teks dari buku. Kita mungkin menanggapi hal ini dengan mengatakan: kita di sini bukan untuk kursus pelatihan sensorik, karena tujuan kita adalah untuk memperoleh informasi dan pengetahuan.

Ini adalah perdebatan yang tak berkesudahan; beberapa orang menyamakannya dengan kecanduan makanan cepat saji, menggantikan makanan rumahan dengan makanan tersebut. Meskipun makanan cepat saji mungkin terasa lezat dan memberikan sensasi dopamin, makanan tersebut juga dapat menimbulkan risiko kesehatan, seperti yang diperingatkan banyak dokter, dan tidak menyediakan nutrisi yang dibutuhkan.


Perspektif Lama

Sebagai seseorang dari generasi yang menonton televisi hitam putih, kemudian televisi berwarna, hingga menonton pemutar video yang terhubung ke layar televisi besar dan Internet, saya ingat pernah menonton segmen program anak-anak di televisi siaran terbatas, sambil membaca dan menikmati buku-buku cerita silat dan dongeng yang populer di masa lampau.

Pada tahun 2004, di sebuah pameran buku di Kairo, Mesir, saya mendapati diri saya membaca buku yang tidak mampu saya beli—saya tidak melebih-lebihkan; ini benar-benar terjadi, bukan metafora. Hal ini menarik perhatian salah satu pengawas pameran, yang menegur saya, dengan mengatakan, “Membaca buku dilarang di sini, anak muda!”

Saat ini, rak-rak perpustakaan di sekolah tempat saya mengajar penuh dengan buku-buku yang belum saya baca sama sekali, dan buku-buku lain yang belum saya selesaikan. Di komputer saya, ada file PDF yang menunggu untuk dibaca. Dan di samping kepala saya di kamar tidur, di laci meja saya di tempat kerja, dan di tempat lain, saya memiliki buku fisik yang saya baca kapan pun saya bisa.

Waktu yang saya habiskan untuk sampai ke halaman terakhir jauh lebih lama daripada ketika saya memiliki lebih sedikit buku. Mungkin keragaman dan transisi ini menjadikan saya saksi atau hakim yang lebih tepat. Video dan teknologi penyebaran informasi yang cepat tidak menghasilkan seseorang dengan selera pengetahuan yang halus dan pemahaman sains yang canggih, tidak seperti seseorang yang membaca teks tertulis, bahkan dalam kosakata dan perilaku pribadinya.

Saya ingin memberikan contoh praktis, dengan sedikit keraguan, tetapi ini akan memperjelas gagasan dan perbedaannya: al-Qur’an dijaga secara ilahi, dan salinannya tersedia dalam berbagai ukuran, warna, dan edisi cetak, serta versi elektronik. Ada juga rekaman dan video dengan suara yang indah dan berbagai bacaan. Namun, semua ini tidak akan menggantikan keinginan kita, sebagai seorang Muslim, untuk menghafal sebanyak mungkin ayat dari Kitab Suci tersebut.

Semakin banyak ayat yang kita hafal, semakin banyak manfaat yang kita peroleh, bukan hanya dari pahala dan amal baik yang kita kumpulkan untuk setiap huruf, tetapi juga pada tingkat pikiran, hati, lisan, pemikiran, perilaku, dan cara kita menangani berbagai hal. Memiliki salinan al-Qur’an yang jelas dan detail memang baik, tetapi menghafal sebanyak mungkin isinya jauh lebih baik.

Membaca buku dan materi tertulis secara umum, seperti artikel yang diterbitkan, menumbuhkan pikiran analitis dengan kosakata yang kuat, kesabaran, disiplin, dan metodologi penelitian. Bahkan jika ada kesalahan, kesalahan tersebut terus-menerus dikoreksi, ditinjau, dan dievaluasi. Ini adalah proses pengembangan intelektual jangka panjang.

Faktanya, jika kita melihat materi ilmiah atau informatif yang disajikan dalam video, sumbernya adalah buku, referensi, dan manuskrip atau penelitian yang dicetak. Kita jarang menemukan video yang menyajikan informasi dari sumber yang sama sekali berbeda. Untuk menghindari kesan melawan arus, kita dapat mengalokasikan waktu untuk belajar dari teknologi modern dan waktu lain untuk membaca buku dan referensi, dimulai dengan hal yang lebih sulit: membaca.

Terakhir, kita perhatikan bahwa harga buku tetap tinggi dibandingkan dengan pendapatan rata-rata masyarakat Indonesia, dan para penulis—kecuali mereka memiliki kesempatan untuk menerjemahkan—masih mendapatkan penghasilan yang sangat sedikit dari karya-karya mereka yang diterbitkan. Jika mereka hanya bergantung pada penjualan buku, mereka akan menjadi miskin. Alasannya bukan hanya pembajakan dan salinan elektronik gratis, seperti yang umum diyakini; ada faktor lain yang lebih signifikan yang berperan.

Kita masih menunggu inisiatif resmi dan dari akar rumput guna mendorong anak-anak dan kaum muda untuk membaca, seperti yang terjadi di masa buku-buku cerita di masa lalu. Terlepas dari semua itu, faktanya, saat ini ada penurunan minat baca di dunia pendidikan, khususnya di Indonesia.[]

Artikel Lainnya

Oleh : Roland Gunawan

Toleransi Islam

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar