Oleh: Dr. K.H. Aang Asy’ari, Lc., M.S.I., Pimpinan dan Pengasuh Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
Kesehatan sebuah lembaga pendidikan tidak dapat diukur semata dari kemewahan gedung atau kelengkapan fasilitas fisiknya. Indikator paling otentik dari vitalitas sebuah sekolah terletak pada denyut nadi intelektual dan spiritual para penghuninya. Sekolah yang sehat, yang memiliki napas panjang untuk berkembang, adalah ruang di mana gagasan, cita-cita, idealisme, dan keyakinan hidup subur. Di sana, antusiasme bukan sekadar kata, melainkan energi yang terlihat jelas; mata-mata peserta didik berbinar saat belajar, dan diskusi-diskusi hangat mengalir deras, baik ketika membedah ide-ide besar maupun menggali hal-hal mendasar yang sering terlupakan.
Jika hari ini banyak lembaga pendidikan terasa “sakit”—ditandai oleh stagnasi kreativitas, rutinitas yang mekanis, atau hilangnya arah—maka obatnya bukanlah renovasi fisik semata, melainkan kembalinya antusiasme terhadap pembelajaran hal-hal yang esensial. Perhatian utama harus kembali dialihkan kepada pengembangan ilmu yang mendalam, penguatan idealisme yang kokoh, penyemaian gagasan kritis, serta pengobaran tekad untuk perubahan yang berpijak pada nilai-nilai fundamental. Dalam ekosistem seperti ini, infrastruktur fisik seperti gedung dan fasilitas teknologi memang penting, namun posisinya bersifat instrumental; ia hadir semata-mata sebagai alat untuk mewujudkan idealisme dan menerjemahkan gagasan menjadi tindakan nyata, bukan sebagai tujuan akhir itu sendiri.
Sebaliknya, tanda-tanda awal “penyakit” dalam sebuah lembaga pendidikan muncul ketika fokus bergeser dari substansi ke permukaan. Lembaga mulai sakit ketika sibuk melakukan kultus individu (penokohan), bergantung secara berlebihan pada figur karismatik, dan mengembangkan kekaguman buta pada pribadi tertentu alih-alih pada nilai yang dibawanya. Gelar-gelar akademis dan jabatan menjadi fetish baru yang dipuja, sementara esensi keilmuan dan integritas moral terabaikan. Ketika seluruh sumber daya dan energi institusi dikerahkan hanya untuk memuliakan satu sosok pemimpin, maka lembaga tersebut telah kehilangan demokratisasi pengetahuan dan kemandirian berpikir. Pujian menjadi lebih lantang daripada kritik konstruktif, dan loyalitas pada tokoh lebih dihargai daripada loyalitas pada kebenaran.
Tahap yang lebih parah, yakni menuju “kematian ruh” atau mati surinya gagasan, terjadi ketika narasi kebanggaan institusi didominasi oleh hal-hal materialistik. Tidak ada lagi yang lebih fasih dibicarakan melebihi kemegahan fasilitas, kemewahan seragam, atau kecanggihan gadget. Kunjungan ke luar negeri atau perusahaan multinasional—yang sering dikemas indah sebagai study tour—menjadi komoditas prestise utama. Kebanggaan itu tidak lahir dari kedalaman wawasan ideologis atau transfer keilmuan yang didapat, melainkan semata-mata dari sensasi bisa menginjakkan kaki di negara orang atau berswafoto di lokasi eksotis. Ini adalah bentuk hedonisme edukatif yang menggerogoti substansi pembelajaran.
Demikian pula dengan adopsi teknologi. Banyak lembaga membangga-banggakan penggunaan tablet, iPad, atau perangkat digital canggih lainnya. Namun, euforia ini sering kali dangkal; bukan didorong oleh alasan pedagogis yang konseptual atau kebutuhan literasi digital yang mendasar, melainkan oleh hasrat untuk tampil “keren” dan modern. Ada ilusi bahwa kepemilikan alat canggih secara otomatis mencerdaskan penggunanya. Padahal, persoalan pokok pendidikan bukanlah pada apa yang dipakai, melainkan bagaimana alat tersebut digunakan untuk menajam nalar, memperluas cakrawala, dan memperdalam pemahaman.
Oleh karena itu, revitalisasi pendidikan menuntut keberanian untuk kembali ke dasar. Kita perlu berhenti tertipu oleh kilau permukaan dan mulai merawat api kecil antusiasme terhadap gagasan. Hanya dengan mengembalikan ruh keilmuan dan idealisme, lembaga pendidikan dapat sembuh dari penyakit narsisme institusional dan kembali menjadi tempat kelahiran peradaban, bukan sekadar pabrik gelar dan pemamer fasilitas.[]
Tinggalkan Komentar