Info Sekolah
Minggu, 22 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
16 Oktober 2025

Langkah Kecil Menuju Perubahan Besar

Kam, 16 Oktober 2025 Dibaca 31x Edukasi

Oleh: Ustadzah Yulianawati, M.Pd., Humas Pesantren Terpadu Al-Fattah


Di suatu sore, di sebuah SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) berbasis pesantren/boarding school yang berlokasi di pinggiran Kabupaten Kuningan, tawa para santri menghiasi senja. Mereka bermain bola di lapangan, bercanda di asrama, atau sekadar duduk-duduk di teras. Selain belajar di kelas di pagi hari, nyaris tak ada kegiatan istimewa yang dapat meningkatkan literasi. Hampir tak ada santri yang membaca buku di waktu-waktu luang.

Kondisi ini memantik kegelisahan Ustadzah Ana, seorang guru Bahasa Inggris sekaligus wali asrama yang mendampingi para santri dan membimbing mereka dalam setiap kegiatan baik di pesantren maupun sekolah.

Dalam pandangan Ustadzah Ana, para santri, sebagai tunas dan harapan bangsa, tidak hanya harus unggul di bidang akademik tetapi juga harus pintar secara spiritual. Sayangnya, belum ada kegiatan benar-benar bisa dijalan untuk meningkatkan prestasi akademik, salah satunya kemampuan literasi.

Ustadzah Ana melihat rak buku di kantor. Selain beberapa buku pelajaran, ia tidak menemukan buku-buku yang lain. Ia pun berbisik di dalam hati, ‘Bagaimana para santri bisa mencintai ilmu bila mereka tak pernah tersentuh bacaan?

Suatu hari, ia memberanikan diri berbicara dengan Kepala Sekolah. Ia mengungkapkan keinginan dan evaluasi kegiatan pesantren.

“Ustadz,” katanya dengan nada hati-hati, “Saya melihat minat baca santri kian menurun. Mereka tidak punya tempat ataupun media untuk membaca. Kalau begini terus, saya khawatir masa depan pesantren ini. Saya ingin ada perpustakaan di sini.”

“Saya paham, Ustadzah Ana. Tapi kita harus realistis. Anggaran sekolah terbatas. Membangun perpustakaan itu butuh biaya besar.”

“Baik, Ustadz,” jawabnya singkat penuh kebingungan.

Beberapa bulan berlalu,

Tekad Ustadzah Ana untuk merealisasikan impiannya menyediakan media atau tempat yang dapat menarik minat santri membaca, tidak pernah pudar. Pada pertemuan rutin bersama para guru, ia menawarkan sebuah ide kepada Kepala Sekolah.

“Ustadz, bagaimana kalau kita mulai dari langkah kecil dulu. Misalnya, pojok baca di setiap kelas atau di asrama. Tidak perlu banyak buku, asal konsisten,” ungkap Ustadzah Ana penuh semangat dan optimis.

Kepala Sekolah menatapnya penuh keyakinan dan merespon baik. “Baiklah, coba jalankan. Saya percaya kalau ini sungguh-sungguh, akan ada jalan.”

Beberapa pekan berlalu,

Dengan dukungan dari kepala sekolah, akhirnya Ustadzah Ana memutuskan bekerja sama dengan para wali kelas. Ia mengajak mereka berkumpul dan berdiskusi tentang kegelisahan, keresahan, dan keinginannya meningkatkan literasi santri. Ia pun menjelaskan rencananya, yaitu mengumpulkan kardus dan menyusun menjadi rak sederhana untuk Pojok Baca Kelas.

Kabar baiknya, semua guru menyambut baik rencana dari Ustadzah Ana sebagai langkah kecil dan bentuk kepedulian terhadap masa depan santri.

Setiap pekan semua guru musyawarah tentang bagaimana cara menyukseskan dan mensosialisasikan Pojok Baca Kelas kepada para santri. Sebagian besar buku didapat dari para santri yang dengan suka rela menyumbangnya. Saat ini, Pojok Baca Kelas menjadi magnet baru. Di sela istirahat, para santri asyik membuka halaman buku.

Selain itu, ada Taman Literasi yang juga dibangun sebagai fasilitas yang dapat digunakan santri untuk bermain dengan teman sekaligus belajar.

Ustadzah Ana sangat senang melihat perubahan menakjubkan ini. Terlebih melihat anak-anak menikmati dan mengikuti kegiatan belajar khususnya dalam pembiasaan membaca. Bahkan, terbesit dalam pikirannya sebuah ide lain. Ia menghubungi Dinas Perpustakaan Daerah untuk mendatangkan mobil Perpustakaan Keliling. Waktu berselang, akhirnya kabar baik datang.

Para santri bersorak gembira melihat mobil perpustakaan penuh buku tiba di halaman pesantren. Mereka langsung menghampiri dan mencari buku sesuai minat. Ada yang memilih ensiklopedia, ada yang mengambil cerita bergambar, ada juga yang penasaran dengan buku sejarah.

“Asyiik, ternyata membaca itu menyenangkan!” seru seorang santri kecil.

Saat itu tidak hanya petugas dari Perpustakaan Keliling saja, tetapi ada Duta Baca Kuningan yang ikut membersamai para santri, memberikan semangat dan dukungan agar mereka lebih menyukai dunia membaca.

Ustadzah Ana dan guru-guru yang lain ikut mendampingi dan memberikan kesempatan kepada para santri untuk bercengkrama dengan Duta Baca. Sejak hari itu, setiap semester mobil Perpustakaan Keliling menjadi tamu paling ditunggu. Keberadaan Pojok Baca Kelas dan Taman Literasi, serta kunjungan mobil perpustakaan memberi keberanian untuk melangkah lebih jauh.

Seiring berjalannya waktu, Ustadzah Ana merencanakan langkah selanjutnya yaitu membuat kegiatan pekanan yang fokus pada literasi. Setelah melakukan beberapa pembiasaan di sekolah, Kepala Sekolah menjadwalkan setiap Jum’at pagi seluruh santri wajib membaca satu buku. Menariknya, para santri tidak hanya membaca, tetapi juga diminta untuk menceritakan kembali isi bacaan di depan teman-temannya.

Awalnya, beberapa santri tampak malu-malu. Tapi lama-lama, mereka menikmati kegiatan itu. Bahkan ada santri yang berinisiatif menulis ringkasan cerita dengan penuh semangat.

“Kegiatan pekan literasi ini banyak sekali manfaatnya,” ujar Ustadzah Ana memotivasi santri.

Melalui kegiatan pekanan ini, para santri mendapatkan pengalaman langsung. Mereka didorong berani tampil di depan untuk menceritakan kepada teman-temannya apa yang telah mereka baca. Dengan demikian, mental mereka menjadi terasah.

Perubahan ini membuat pihak sekolah semakin yakin. “Kalau begini, sudah saatnya kita punya perpustakaan sendiri,” kata Kepala Sekolah dalam rapat guru.

Berbekal tekad yang kuat, ditambah kehadiran seorang konsultan dari forum TBM (Taman Baca Masyarakat) Kuningan yang siap membantu, akhirnya pihak sekolah membuat proposal pengajuan 1000 buku kepada Perpustakaan Nasional.

Tak butuh waktu lama, sekolah tidak hanya mendapatkan bantuan 1000 buku berupa buku fiksi, nonfiksi, agama, sains hingga majalah, tetapi juga rak buku.

Semua buku tersusun rapi di rak kayu baru hasil gotong royong guru dan santri. Perpustakaan Sekolah kini menjadi tempat paling nyaman untuk santri meningkatkan kemampuan literasi.

Saat ini, perpustakaan terus berbenah menuju perpustakaan yang besar dan lengkap. Harapannya, ke depan perpustakaan bisa dibuka untuk umum dengan membentuk TBM (Taman Baca Masyarakat) Al-Fattah yang bertujuan memberikan kesempatan kepada anak-anak dari luar untuk dapat merasakan nikmatnya membaca dengan pilihan buku yang menarik, dan secara otomatis dapat meningkatkan kecerdasan mereka.

Beberapa testimoni disampaikan sebagian wali santri.

“Sekarang anak saya sering membaca di rumah. Ia bahkan minta dibelikan buku tambahan,” ujar seorang ayah dengan bangga.

“Ustadzah, anak saya semakin lancar membacanya. Setiap malam sebelum tidur jadi suka baca buku,” ujar wali santri yang lain.

Ada juga masukan, saran bahkan kritik dari sebagian wali santri. Pihak sekolah dan pesantren sangat terbuka dan menerima semua itu. Karena apapun yang disampaikan wali santri, kami menganggapnya sebagai bentuk kepedulian agar sekolah maupun pesantren dapat maju dan berkembang. Perjuangan ini tak akan berhasil tanpa dukungan kepala sekolah, guru, santri, wali santri, bahkan pihak luar. Semua bergerak bersama, demi membangun budaya baca di kalangan santri khususnya, dan masyarakat luas umumnya.[Yuli]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar