Info Sekolah
Senin, 23 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
8 November 2025

Kuasa dan Hidayah Allah

Sab, 8 November 2025 Dibaca 38x Hikmah

Oleh: Ust. Moh. Hidayat, Lc., S.Th.I., Pimpinan Majelis Dzikir Al-Fattah


Allah Swt. berfirman,


قُلۡ هَلۡ مِنۡ شُرَكَآٮِٕكُمۡ مَّنۡ يَّبۡدَؤُا الۡخَـلۡقَ ثُمَّ يُعِيۡدُهٗ​ ؕ قُلِ اللّٰهُ يَـبۡدَؤُا الۡخَـلۡقَ ثُمَّ يُعِيۡدُهٗ​ؕ فَاَنّٰى تُؤۡفَكُوۡنَ. قُلۡ هَلۡ مِنۡ شُرَكَآٮِٕكُمۡ مَّنۡ يَّهۡدِىۡۤ اِلَى الۡحَـقِّ​ؕ قُلِ اللّٰهُ يَهۡدِىۡ لِلۡحَقِّ​ؕ





Katakanlah, ‘Adakah di antara sekutumu yang dapat memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?’ Katakanlah, ‘Allah memulai (penciptaan) makhluk, kemudian mengulanginya. Maka bagaimana kamu dipalingkan (menyembah selain Allah)?’ Katakanlah, ‘Apakah di antara sekutumu ada yang membimbing kepada kebenaran?’ Katakanlah, ‘Allahlah yang membimbing kepada kebenaran,” [Q.S. Yunus: 34 – 35].


Firman Allah ini mengandung dua hal: Pertama, tantangan kepada kaum Quraisy agar mereka menunjukkan sekutu atau berhala-berhala yang mereka sembah mampu membangkitkan orang yang sudah mati.

Nabi Muhammad Saw. datang membawa ajaran yang aneh pada saat itu. Makanya kita sering mendengar para pencerah mengutip hadits yang berbunyi, “Islam datang sebagai sesuatu yang aneh, dan nanti akan kembali menjadi sesuatu yang aneh.”

Kenapa kehadiran Islam menjadi sesuatu yang aneh? Karena pada masa itu masyarakat Jahiliyah banyak yang menyembah berhala, patung, bahkan makanan.

Suatu ketika Nabi Saw. berkumpul bersama para sahabat. Saat itu beliau bertanya, “Adakah di antara kalian yang punya cerita menyedihkan dan menyenangkan?” Para sahabat diam semua.

Kemudian Sayyidina Umar bin al-Khaththab ra. mengacungkan tangannya, “Ya Rasulullah, saya punya cerita. Dulu, sebelum masuk Islam, saya benar-benar bodoh. Saat bepergian ke mana pun, saya selalu membawa makanan yang saya bentuk seperti dewa, dan saya anggap makanan itu sebagai tuhan yang saya sembah. Di perjalanan, ketika saya lapar, makanan itu saya makan.”

Tradisi masyarakat Arab di zaman Jahiliyah memang seperti itu. Mereka biasa membuat makanan berbentuk dewa untuk disembah. Saat mereka lapar, mereka makan makanan itu. Ini suatu bentuk kebodohan yang nyata. Tuhan kok dimakan?!

Mereka terbiasa dengan tradisi tersebut sehingga kehadiran Islam, sebagai agama baru yang membawa ajaran tauhid, terlihat aneh bagi mereka.

Ketika manusia keukeuh ingin menyembah, maka Tuhan yang ingin mereka sembah itu harus Maha Kuasa. Di sini Allah memberikan tantangan sebagaimana disebutkan ayat di atas, “Adakah di antara sekutumu yang dapat memulai penciptaan (makhluk), kemudian mengulanginya (menghidupkannya) kembali?

Maksudnya jelas, seolah Allah berkata, “Kalau kalian menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan, mampukah benda-benda itu menciptakan makhluk, lalu mematikannya, dan kemudian membangkitkannya kembali?

Lebih susah mana, menciptakan atau membangkitkan kembali? Tentu saja lebih susah menciptakan, karena harus mulai dari nol. Dan Allah adalah Tuhan yang Kuasa menciptakan makhluk, lalu mematikannya, dan kemudian membangkitkannya kembali. Kuasa menciptakan berarti kuasa membangkitkan!

Di bagian belakang tubuh manusia ada yang namanya “tulang ekor”. Tulang ekor ini fungsinya sama dengan CCTV dan perekam (recorder). Ketika manusia meninggal dan tubuhnya hancur, tulang ekor itu tidak hancur. Kenapa? Karena tulang ekor itu adalah rekaman perjalanan hidup manusia. Dan dari sinilah manusia akan dihidupkan/dibangkitkan kembali. Membangkitkan kembali lebih mudah daripada menciptakan.

Kaum Quraisy waktu itu tidak mempercayainya. Bagi mereka, hidup hanya sekali, makanya harus dinikmati, karena tidak akan hidup kembali. Tidak akan ada kehidupan setelah kematian. Keyakinan ini membuat mereka melakukan banyak dosa dan kemaksiatan.

Berbeda dengan kita, umat Muslim, yang percaya bahwa akan ada hari kebangkitan. Kita manfaatkan waktu kita hidup di dunia ini untuk melakukan ibadah dan kebaikan, sebagai bekal menghadapi kehidupan setelah kematian. Segala hal yang kita lakukan di dunia ini akan Allah mintai pertanggungjawaban kelak di hari kemudian.


Kedua, tantangan kepada kaum Quraisy agar mereka menunjukkan sekutu atau berhala-berhala yang mereka sembah mampu memberi hidayah (petunjuk) kepada kebenaran.

Kita bersyukur kepada Allah Swt. karena kita diarahkan oleh-Nya menuju Islam yang merupakan agama kebenaran.

Hidup ini bagaikan hutan belantara, dan ilmu agama bagaikan lentera. Orang yang tidak punya ilmu agama bagaikan memasuki hutan dalam keadaan gelap tanpa tahu arah yang harus ditujunya.

Oleh Allah kita diberi iman dan ilmu agama, dan itu adalah nikmat yang sangat luar biasa. Makanya, di Lengkong ini, kalau wiridan sehabis shalat, setelah salam, yang pertama kali kita baca adalah:


الحمد لله الذي أنعم علينا بالإيمان وهدانا على دين الإسلام

“Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita anugerah berupa iman dan menuntun kita kepada Islam.”


Kita bersyukur kepada Allah, karena di saat banyak orang meninggalkan shalat, kita masih diberi hidayah untuk melaksanakannya.

Hidayah itu tidak mudah. Tidak semua orang bisa mendapatkannya. Banyak ilmuan dan orientalis yang hafal al-Qur’an dan hadits, tetapi sampai akhir hayat mereka tidak pernah menjadi muslim.

Itulah mahalnya sebuah hidayah. Karena hidayah itu mahal, dan kita sudah diberi hidayah Islam, maka kita harus memperkuat keislaman dan keimanan kita dengan ilmu agama.

“Kalau iman bagaikan tumbuhan, maka ilmu bagaikan siraman”. Iman tidak akan tumbuh kuat di dalam hati tanpa disiram dengan ilmu. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin kuat imannya.

Hidayah itu milik Allah. Dia bisa memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Kita sudah mendapatkan hidayah, dan kita harus mempertahankan dan menguatkannya dengan selalu berdoa kepada Allah.[RG]


*) Disampaikan dalam pengajian Jum’at pagi, di Kantor SDIT Al-Fattah, 7 November 2025

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar