Info Sekolah
Senin, 23 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
21 Januari 2026

Kualitas untuk Menjadi Hebat

Rab, 21 Januari 2026 Dibaca 30x Edukasi

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Pada tahun 1980, seorang pemuda Kanada bernama Terry Fox memulai perjalanan luar biasa. Ia baru berusia 22 tahun, dan kaki kanannya telah diamputasi karena kanker. Alih-alih menyerah, ia memutuskan untuk berlari melintasi Kanada, lebih dari 5.000 kilometer, untuk mengumpulkan dana bagi penelitian kanker.

Terry tidak menyelesaikan jalanannya karena penyakit itu kembali menyerang tubuhnya dan merenggut nyawanya. Tetapi sebelum meninggal dunia, ia menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia dan menjadi simbol ketekunan, tekad, dan kekuatan pendorong yang tak pernah padam.

Richard John, penulis buku 8 Qualities to Be Great, telah bertemu dengan ratusan orang sukses dari berbagai bidang, dan Terry Fox adalah salah satu contoh paling menonjol yang ia sebutkan ketika membahas kualitas keempat: kekuatan pendorong (push), yaitu energi batin yang mendorong seseorang untuk terus maju meskipun lelah, menghadapi keadaan sulit, kekecewaan, dan terkadang bahkan rasa sakit.

Kekuatan pendorong, atau motivasi intrinsik, bukanlah antusiasme sesaat; melainkan kegigihan yang terus-menerus yang mendorong kita maju ketika kekuatan kita melemah dan mengingatkan kita pada titik awal ketika kita kehilangan arah. Itulah yang membuat kita bangkit setelah kegagalan dan memulai lagi ketika orang lain menyerah. Itulah suara batin yang berkata, “Kamu bisa melakukannya, satu langkah lagi.”

Orang-orang hebat yang dipelajari Richard John tidak berhasil karena jalannya mudah, tetapi karena mereka memiliki sesuatu di dalam diri mereka yang mendorong mereka untuk mengatasi rintangan. Ada yang menyebutnya motivasi intrinsik, ada yang menyebutnya tekad, tetapi intinya sama: sebuah kekuatan yang mendorong kita ketika tidak ada orang lain yang mau.

Jacqueline Novogratz, pendiri Acumen Fund, yang bekerja selama bertahun-tahun di Afrika di tengah kesulitan keuangan dan psikologis yang parah, mengatakan, “Saya menangis hampir setiap malam, tetapi di pagi hari saya akan bangun dan memulai lagi.” Inilah kekuatan pendorong yang memungkinkan proyek kemanusiaannya untuk mengubah kehidupan ribuan orang.

Martha Stewart, pengusaha dan tokoh media ternama, menghadapi kemunduran dan kerugian yang signifikan, tetapi ia sering mengulangi ungkapan terkenalnya: “Tidak ada yang memotivasi saya selain diri saya sendiri.”

Individu-individu ini, seperti yang digambarkan Richard John, memiliki kesamaan: masing-masing menemukan dalam diri mereka kekuatan pendorong yang memotivasi mereka lebih dari rangsangan eksternal apa pun.

Terkadang, kekuatan pendorong ini berasal dari rasa sakit; rasa sakit dapat menjadi bahan bakar. Terry Fox kehilangan kakinya, tetapi dalam kehilangan itu, ia menemukan alasan untuk hidup. Banyak orang hebat lahir dari luka, dari mimpi besar. Mimpi saja tidak cukup, tetapi mimpi menghasilkan energi batin yang membuat kita bertahan dalam kesulitan demi mimpi itu. Mereka yang memiliki tujuan yang berharga menemukan dalam diri mereka dorongan untuk berhasil.

Kecintaan kita pada apa yang kita lakukan adalah lokomotif yang menarik kita maju, tetapi kekuatan pendorong adalah mesin yang mencegah lokomotif itu berhenti.


Bagaimana Cara Menumbuhkan Motivasi dalam Hidup?

Selalu ingat mengapa kita memulai. Ketika kita merasa lelah atau bosan, tanyakan pada diri sendiri: Mengapa saya memulai? Jawabannya akan mengisi kembali energi kita.

Bagi tujuan besar kita menjadi langkah-langkah yang lebih kecil. Pencapaian sebagian akan menghasilkan motivasi baru untuk melanjutkan.

Kelilingi diri dengan orang-orang yang mendorong kita maju, bukan orang-orang yang mengecilkan hati kita. Lingkungan yang mendukung akan memicu motivasi kita.

Belajarlah dari setiap kegagalan. Setiap kali bangkit, kita menjadi lebih kuat, dan kebangkitan yang berulang menciptakan dorongan batin yang tak terkalahkan.

Beri penghargaan pada diri sendiri atas kemajuan, bukan kesempurnaan. Motivasi tidak membutuhkan kesempurnaan; yang dibutuhkan adalah konsistensi.

Sebagian orang mengandalkan pujian atau penghargaan untuk terus maju, dan mereka sering menyerah pada tanda pertama kurangnya pengakuan. Tetapi mereka yang memiliki motivasi intrinsik tidak menunggu tepuk tangan; mereka didorong oleh keyakinan mereka pada diri sendiri, ide-ide mereka, dan nilai dari apa yang mereka lakukan. Seperti yang dikatakan Richard John, “Orang-orang hebat memiliki pelatih kecil di dalam diri mereka yang tidak pernah berhenti menyemangati mereka.”

Jika gairah adalah mencintai apa yang kita lakukan, kerja adalah mengerahkan upaya untuk mencapainya, dan fokus adalah tetap mengarah pada tujuan, maka kekuatan pendorong adalah apa yang membuat kita terus maju ketika cinta lemah, usaha lelah, dan fokus goyah. Itu adalah bahan bakar yang menghidupkan kembali mesin di tengah jalan, dan tanpanya, semuanya berhenti.

Tidak seorang pun dilahirkan dengan kekuatan pendorong; itu dibangun dengan setiap tantangan yang kita hadapi. Ingatlah bahwa orang-orang hebat bukanlah manusia super, tetapi orang-orang biasa dengan kekuatan luar biasa untuk bertahan. Lain kali kita merasa telah mencapai batas kita, ingatlah Terry Fox yang berlari dengan satu kaki. Ia bisa saja berhenti setelah kilometer pertama, tetapi ia terus berlari sampai ia menjadi simbol kehebatan.

Kekuatan pendorongnya bukanlah pada otot atau tubuh, melainkan pada niat yang tulus, tekad yang kuat, dan kemampuan untuk berkata pada diri sendiri setiap pagi: Saya tidak akan berhenti sekarang.[]

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar