Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah
Ada yang bertanya, kenapa santri harus menulis? Santri, sebagai generasi Muslim, perlu melihat masa lalu dengan kaca mata masa kini, bukan sebaliknya. Sebagian dari umat Muslim ada yang senang mewarnai kehidupan saat ini dengan hiasan-hiasan masa lalu. Tentu, ini adalah sikap yang tidak selaras dengan logika sejarah.
Santri perlu menyadari bahwa di hadapan mereka ada dua peradaban: peradaban “nenek moyang” di satu sisi, dan peradaban masa kini di sisi lain. Tetapi kedua peradaban ini saling bertolak belakang, sehingga kita tidak mungkin menerima keduanya sekaligus.
Peradaban pertama, peradaban Islam, secara mendasar berkutat pada moralitas-moralitas perilaku yang diridhai Tuhan. Sementara peradaban kedua, peradaban Barat, berkutat pada sains berikut bidang-bidang pekerjaan yang dihasilkannya. Peradaban pertama adalah peradaban “teks”, sedang yang kedua adalah peradaban “alat”. Peradaban pertama menghasilkan manusia-manusia yang seragam, adapun yang kedua menghasilkan pabrik-pabrik serta roket-roket yang menari-nari di angkasa.
Tugas santri adalah menyelaraskan keduanya. Dan tugas ini tidak pernah ditargetkan oleh Barat. Karena Barat hanya memiliki satu peradaban; peradaban modern seperti yang kita lihat saat ini. Santri mengambil dari peradaban Barat apa yang bisa diambil, bahwa kalau ingin membentuk peradaban baru, santri harus mengubah standar-standar atau pola-pola yang sudah tidak sesuai dengan kehidupan saat ini. Maka demi terwujudnya perubahan itulah santri harus menulis.
Perlu disampaikan di sini, bahwa penulis itu bisa dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, menulis apa yang ingin dibaca oleh banyak orang. Kedua, menulis apa yang harus diketahui oleh para pembaca. Kelompok pertama menulis dengan tujuan mencari kerelaan dari para pelanggannya, sedang kelompok kedua memberikan arahan dan petunjuk meskipun harus menuai kemarahan dan kebencian dari banyak orang.
Kelompok pertama adalah pemegang cermin agar pada permukaannya bisa memantulkan gambaran manusia sebagaimana adanya. Adapun kelompok kedua adalah pemegang lampu atau lentera guna menerangi jalan di hadapan manusia; jalan baru yang sebelumnya kurang atau bahkan tidak terpikirkan sama sekali (allâ mufakkar fîhi). Dan santri harus memilih—meskipun sulit—untuk menjadi seperti kelompok kedua, sebab santri harus senantiasa berusaha menuju ke arah tatanan kehidupan yang lebih baru.
Tak soal menulis untuk siapa, santri tidak punya hak untuk memilih pembaca. Santri hanya menulis bagi siapa saja yang sudi membacanya. Dan santri tidak bisa mengklaim bahwa ia mampu melenyapkan segenap kegelisahan yang ada di masyarakat. Bahkan, mungkin, dengan apa yang ditulisnya, justru akan menambah kegelisahan-kegelisahan lain.
Santri tidak boleh menjadi penjilat atau mencari muka. Kalau ia melihat masyarakat—yang ia adalah bagian dari mereka—merasa perlu untuk melakukan perubahan, maka ia menulis dalam rangka menunaikan amanah pemikiran. Perkara nanti apa yang ditulisnya salah atau benar, itu soal lain. Tetapi yang pasti, santri harus berusaha menorehkan pemikirannya dengan penuh kejujuran dan ketulusan.[]
Tinggalkan Komentar