Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Allah Swt. menciptakan manusia dan menanamkan dalam kodrat mereka perasaan dan emosi. Dia memberi mereka hati yang terkadang bersukacita dan terkadang berduka, terkadang menemukan penghiburan dan terkadang kesusahan. Dia menganugerahi emosi-emosi ini dengan fungsi-fungsi yang berkontribusi pada pembangunan keseimbangan psikologis dan sosial di dalam diri mereka.
Kegembiraan dalam kehidupan manusia adalah kebutuhan bawaan yang memulihkan ketenangan jiwa, memperbarui vitalitasnya, dan mendorongnya menuju tindakan dan kontribusi yang lebih besar. Oleh karena itu, berbicara tentang kegembiraan berarti berbicara tentang kebutuhan mendesak dan aspek penting dari kodrat manusia.
Namun, beberapa kesalahpahaman telah berakar dalam pikiran sebagian orang, yang membuat mereka percaya bahwa religiusitas sama dengan kekeringan hidup, bahwa komitmen identik dengan kemurungan, dan bahwa asketisme mengharuskan seseorang untuk melepaskan diri dari semua manifestasi kegembiraan dan kesenangan. Dari sini, kesan yang terbentuk adalah bahwa Islam menentang kegembiraan, atau bahwa Islam hanya membolehkannya dalam batas-batas yang sangat sempit.
Dengan merenungkan al-Qur’an dan Sunnah, menjadi jelas bahwa kegembiraan dalam Islam merupakan bagian integral dari kerangka pendidikan yang berupaya mencapai keseimbangan antara kebutuhan jiwa dan raga, antara hak dan tanggungjawab individu terhadap diri sendiri dan masyarakat, serta antara berusaha meraih akhirat dan menikmati manfaat dunia.
Nabi Muhammad Saw. memberikan penerapan praktis dari keseimbangan ini. Kehidupan beliau merupakan teladan unik yang menggabungkan kerja, ibadah, spirit kegembiraan, menunjukkan keseriusan dalam menyampaikan risalah serta kebaikan dan sikap ceria dalam interaksinya dengan orang-orang di sekitarnya.
Kegembiraan adalah emosi jiwa yang dampaknya terwujud dalam tubuh. Kegembiraan adalah kebalikan dari kesedihan, dan kesedihan adalah pengalaman universal; orang tidak berbeda dalam pemahaman mereka tentangnya, pengalaman mereka tentangnya, atau cara mereka mengungkapkannya.
Apa yang membawa kegembiraan bagi orang dewasa tidak sama dengan apa yang membawa kegembiraan bagi anak-anak, dan apa yang membawa kegembiraan bagi seorang perempuan mungkin tidak membawa kegembiraan bagi perempuan lain. Orang mungkin berbeda dalam cara mereka mengungkapkan kegembiraan, tetapi mereka semua sepakat bahwa kenikmatan dan kesenangan yang mereka rasakan disebut kegembiraan.
Sebagian orang mungkin keliru percaya bahwa kegembiraan tidak memiliki tempat dalam Islam, bahwa Islam memusuhi kehidupan duniawi dan mengadopsi sikap negatif terhadapnya, bahwa Islam menganjurkan asketisme yang kaku, mengenakan pakaian sederhana, dan hidup hemat, dan bahwa umat Muslim sangat keras terhadap diri mereka sendiri, terus-menerus menghakimi dan menghukum diri mereka sendiri untuk setiap hal kecil. Ini adalah kesalahpahaman yang serius.
Islam mengarahkan umat Muslim menuju akhirat dan menyeru mereka untuk berkarya demi itu, sekaligus mendorong mereka untuk terlibat dengan dunia melalui pekerjaan, kesenangan, dan kreativitas dengan cara yang seimbang dan moderat. Moderasi ini merupakan salah satu ciri paling menonjol dari pendekatan Islam terhadap berbagai masalah.
Islam adalah agama yang realistis yang tidak mengabaikan atau terlepas dari kenyataan. Islam tidak mendorong para pengikutnya untuk berperilaku seperti malaikat atau idealis. Sebaliknya, Islam adalah agama yang datang untuk membangun jembatan komunikasi antara manusia dan kenyataan, dengan mempertimbangkan naluri dan sifat bawaan manusia.
Islam tidak membatasi gerakan dan perilaku mereka sampai pada titik di mana mereka hanya berbicara tentang Tuhan, hanya mendengar tentang-Nya, atau menghabiskan waktu luang mereka hanya di masjid. Sebaliknya, Islam mendorong mereka untuk menghabiskan waktu sesuai dengan fitrah manusiawinya, terlibat dalam keseriusan dan humor, kegembiraan dan tawa, dan sebagainya, sehingga mereka dapat menemukan perlindungan dari kekerasan dan kekejaman hidup.
Nabi Saw. memberikan teladan sangat indah dalam menggabungkan kehidupan duniawi dan agama. Meskipun hidup beliau singkat dan tanggungjawab beliau sangat besar dalam menyampaikan agama ini dan mengajarkan prinsip-prinsipnya kepada para sahabat dan pengikut beliau, hidup beliau merupakan contoh yang indah dan luar biasa tentang bagaimana seharusnya kehidupan manusia. Beliau tidak keras atau kaku, tidak kejam atau kasar. Beliau bercanda, bergembira, ceria, dan bermain, membawa kegembiraan dan kebahagiaan ke hati para pengikutnya dengan segala cara yang mungkin.
Pelayan beliau, Anas bin Malik ra., sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidziy, bercerita bahwa ketika Nabi Saw. ingin bercanda dengannya, beliau memanggilnya, “يا ذا الأذنين” (Wahai orang yang bertelinga dua!) (Jami’ al-Tirmidziy, Hadits No. 1992). Ini adalah cara beliau yang menawan dan cerdas, untuk berbicara kepada seseorang, karena setiap orang memiliki dua telinga. Hal ini juga menyoroti poin lain: Nabi Saw., tidak pernah berbicara selain kebenaran sepanjang hidupnya, dan oleh karena itu, beliau jujur bahkan dalam leluconnya.
Lebih lanjut, untuk membawa kegembiraan dan kebahagiaan ke hati Ummul Mukminin, Aisyah ra., Nabi Saw. berlomba lari dengannya dua kali, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Sunan-nya.. Aisyah ra. memenangkan perlombaan yang pertama, dan Nabi Saw. memenangkan yang kedua. Nabi Saw. tertawa sembari berkata, “هذه بتلك” (Ini [kemenanganku sekarang] menggantikan kekalahan [di perlombaan yang pertama]).(Sunan Abi Dawud, Hadits No. 2578).
Ini menunjukkan bahwa tindakan beliau menciptakan suasana gembira dan bahagia bersama keluarganya tidak terbatas pada lingkungan rumah saja, tetapi melampaui itu hingga berlomba dengan istrinya. Ketika beliau bersama para sahabat, beliau menggabungkan antara keseriusan dalam menyampaikan risalah dan melaksanakan apa yang telah Allah amanahkan kepada beliau, dengan kesenangan dan menciptakan kegembiraan bagi semua orang.
Nabi Saw. memiliki cara berinteraksi dengan anak-anak yang berbeda, yaitu dengan cara yang penuh canda dan kasih sayang, sehingga membuat mereka tersenyum dan merasakan sukacita di hati mereka. Salah satu contohnya adalah ketika Nabi Saw. mendatangi seorang anak yang sedang bermain dengan seekor burung. Burung itu mati. Beliau datang menghiburnya, dan dengan lembut bertanya, “Wahai Abu Umair, apa yang terjadi pada burung kecil itu?” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Hadits No. 6129).
Dalam Musnad Ahmad, diriwayatkan bahwa Nabi Saw. biasa mengumpulkan sepupu-sepupunya, anak-anak Abbas, dan berkata, “Siapa pun yang sampai kepadaku lebih dulu akan menerima ini dan itu.” Kemudian mereka akan berlomba menghampiri beliau, jatuh ke punggung dan dada beliau, dan beliau akan mencium dan memeluk mereka. Sudah diketahui betapa gembira dan bahagianya anak-anak dalam permainan dan aktivitas seperti itu, yang memenuhi hati mereka dengan sukacita dan kebahagiaan.
Di momen hari raya, yang telah Allah Swt. jadikan sebagai manifestasi agama dan salah satu ritual besar yang disukai dan dirayakan oleh manusia, adalah bagian dari kebiasaan Nabi Saw. untuk bersukacita dan merayakan hari bahagia tersebut.
Di dalam Shahih al-Bukhariy, diriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa ia berkata: “Rasulullah Saw. masuk menemuiku ketika aku sedang bersama dua gadis kecil yang sedang menyanyikan lagu-lagu Bu’ats (perang antara Aus dan Khazraj). Beliau berbaring di tempat tidur dan memalingkan wajahnya. Abu Bakar masuk dan menegurku, katanya, ‘Apakah pantas musik setan di hadapan Nabi Saw.?’ Beliau menjawab, ‘Biarkan mereka.'” Dalam riwayat lain: “Wahai Abu Bakar, setiap kaum mempunyai perayaannya masing-masing, dan inilah perayaan kita.”
Di dekat rumah Nabi Saw., ada perayaan yang digambarkan oleh Aisyah ra.: “Pada suatu hari raya, orang-orang kulit hitam bermain perisai dan tombak. Aku bertanya kepada Rasulullah Saw. – atau mungkin beliau yang bertanya – ‘Apakah kamu ingin melihatnya?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau kemudian menempatkanku di belakangnya, pipiku menempel pada pipinya, dan beliau berkata, ‘Silakan bermain, wahai Bani Arfada.’ Ketika aku merasa bosan, beliau bertanya, ‘Sudah cukup?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau kemudian berkata, ‘Kalau begitu, ayo pergi.’” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Hadits No. 2906).
Hadits ini menunjukkan pentingnya mengekspresikan kegembiraan selama perayaan dan acara-acara khusus, yang mengarah pada relaksasi dan kenikmatan. Hal ini terlihat dari kehadiran Nabi Saw. dan partisipasinya bersama mereka, dorongannya, dan tetap bersama mereka bahkan setelah Aisyah ra. pergi.
Islam telah berupaya pada berbagai kesempatan untuk memastikan bahwa umat Muslim berada di tengah pemandangan yang indah, dengan wajah berseri-seri penuh sukacita, sehingga senyum dan kegembiraan hari raya terpancar, anak-anak bermain riang di jalanan, dan kegembiraan menyebar ke seluruh desa, kota, dan tempat-tempat lainnya.
Oleh karena itu, merupakan Sunnah (praktik yang dianjurkan) dalam Islam selama hari raya untuk memakai parfum, mempercantik diri, mengenakan pakaian terbaik, bertemu orang, berjabat tangan, memberi salam, melupakan perbedaan, dan menghindari segala sesuatu yang menimbulkan permusuhan dan kebencian.
Karena hari raya selalu mengikuti ibadah—Idul Fitri setelah bulan Ramadhan dan Idul Adha setelah sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah—Allah Swt. telah menjadikan keduanya sebagai musim kegembiraan, dan Dia telah menjadikan kegembiraan itu sendiri sebagai ibadah. Allah Saw. berfirman: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira,'” [Q.S. Yunus: 58].
Singkatnya, kegembiraan dalam Islam bukanlah keadaan sementara, juga bukan penyimpangan dari keseriusan atau penyimpangan dari semangat dan esensi ibadah. Sebaliknya, itu adalah cara hidup yang mempertimbangkan semua perasaan dan keadaan seseorang.
Islam menginginkan kehidupan yang seimbang bagi umat manusia, kehidupan di mana terdapat ruang yang cukup untuk kegembiraan, tawa, dan keceriaan, serta waktu untuk refleksi dan kontemplasi, dan saat-saat untuk istirahat dan relaksasi, sebagaimana ada waktu untuk bekerja dan tekun.
Nabi Saw. mewujudkan pendekatan ini dalam hidupnya. Di rumah, beliau adalah suami yang lembut; terhadap anak-anak, beliau penyayang dan suka bermain; dalam momen hari raya, beliau ikut serta dalam kegembiraan; dan dalam menyampaikan risalah, beliau serius dan teguh. Dengan demikian, hidupnya menggabungkan peningkatan spiritual dengan pertimbangan terhadap fitrah manusia, menegaskan bahwa agama tidak meniadakan atau menekan emosi manusia, tetapi justru mengangkatnya.
Dalam Islam, kegembiraan adalah nilai yang disyariatkan, perasaan yang legal, ibadah yang terkait dengan rasa syukur, dan perilaku halus yang diwujudkan dalam membawa kebahagiaan kepada orang lain. Islam datang sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, menghormati fitrah bawaan mereka dan membangun individu yang seimbang di dunia dan akhirat.[]
Tinggalkan Komentar