Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)
“Para ahli tafsir al-Qur’an bergantung pada Imam al-Thabari.” Ungkapan ini telah menjadi pepatah yang umum diketahui, keyakinan yang dipegang teguh, sekaligus fakta sejarah yang tak terbantahkan di kalangan para peneliti al-Qur’an.
Ilmu tafsir al-Qur’an sejatinya bermula dari sosok ini, yang lahir di negeri Tabaristan (kini wilayah Iran). Namanya bersinar melampaui zaman, melampaui catatan dan lembaran sejarah. Ia adalah ulama tafsir, sejarawan, dan cendekiawan besar yang pandangan dan riwayatnya sulit ditandingi oleh ulama mana pun setelahnya. Dengan demikian, kedudukannya telah ditetapkan: dialek yang mendahului lebih dulu, dan keunggulan yang hakiki pantas diberikan kepada orang yang membuka jalan di hadapan semua orang.
Anak Tabaristan: Sinar Kecerdasan Sejak Dini
Berbagai riwayat sepakat bahwa al-Thabari terlahir dengan kecerdasan yang luar biasa, pikiran yang tajam, dan akal yang cemerlang. Jiwanya tumbuh dalam limpahan rahmat Ilahi, diperkuat oleh kelahirannya di lingkungan yang senantiasa terhampar cahaya al-Qur’an. Garis keturunan Arabnya bersambung hingga ke suku Azd, yang tersebar luas di seantero wilayah Islam.
Di antara kisah yang menyertai masa kecilnya, terdapat riwayat tentang mimpi ayahnya: sang putra terlihat membawa tas berisi batu-batu, lalu meletakkannya di hadapan Rasulullah Saw. dengan penuh penghormatan. Sejalan dengan kebiasaan para ulama dalam menafsirkan mimpi tersebut, disimpulkan bahwa sang putra kelak akan memegang teguh syariat agama, mengabdi kepadanya, dan menjadi penopang agama yang lurus.
Kisah ini menjadi dorongan kuat yang memantapkan tekadnya, mengantarkannya menuju samudra ilmu dan ladang amal orang-orang saleh. Terlepas dari kebenaran mimpi tersebut, para perawi dan sejarawan sepakat menyaksikan kejeniusan yang luar biasa sejak masa kecilnya—bakat yang membara dan kecerdasan yang tak lazim dimiliki anak seusianya. Berkat karunia Ilahi itu, ia meraih keunggulan yang belum pernah didahului siapa pun. Ia memimpin shalat Tarawih di usia yang masih belia, dan telah menempuh perjalanan jauh untuk menuntut ilmu saat wajahnya belum ditumbuhi bulu halus.
Semangat yang membara dan kerinduan yang mendalam akan ilmu membawanya melintasi berbagai negeri: dari kota Amul di Tabaristan, menuju Hijaz, Baghdad, Syam, hingga ke pusat-pusat keilmuan dan tempat-tempat yang menjadi jantung dunia Islam. Perjalanan panjang ini melahirkan limpahan ilmu yang luas, akhlak yang luhur, serta kewibawaan dan keridhaan Ilahi yang terlihat jelas pada dirinya. Hingga Ibnu Katsir pun menggambarkannya: “Sangat beribadah, zuhud, bertakwa, dan membela kebenaran. Tidak ada celaan yang pantas ditujukan kepadanya; ia termasuk hamba-hamba Allah yang paling saleh.”
Ilmu yang Tak Tertandingi di Zamannya
Imam al-Dzahabi dalam kitabnya, Siyar A’lâm al-Nubalâ`, mengutip penjelasan al-Khathib al-Baghdadi mengenai Ibnu Jarir al-Thabari: “Ia adalah salah satu ulama terkemuka, yang perkataannya menjadi rujukan dan pandangannya dicari karena keluasan ilmunya dan kemuliaan akhlaknya. Ia menghimpun ilmu yang tidak dimiliki oleh siapa pun di masanya. Ia adalah penghafal al-Qur’an, menguasai berbagai qira’at, mendalam maknanya, ahli hukum dalam ayat-ayat hukum, serta menguasai sepenuhnya hadits, sanadnya, riwayat yang sahih dan yang lemah, serta ayat-ayat yang dihapus hukumnya dan yang menetapkan. Ia mengetahui dengan luas perkataan para Sahabat dan Tabi’in, serta sejarah bangsa-bangsa dan kisah-kisahnya. Ia menyusun kitab sejarah yang masyhur, dan kitab tafsir yang sejauh luas dan kedalamannya belum ada yang menyamai. Ia juga menyusun kitab Tahdzîb al-Âtsâr—yang belum pernah saya temukan yang serupa—meskipun belum sempat diselesaikan, serta banyak karya lain tentang prinsip dan cabang ilmu fikih, dan pendapat para ulama terdahulu. Ia sungguh sosok yang unik dalam keilmuan yang ia wariskan.”
Pujian serupa terus mengalir dari para ulama setelahnya. Abu Hamid al-Isfarayini berkata: “Seseorang pun berhak menempuh perjalanan hingga ke Tiongkok hanya untuk mendapatkan salinan tafsir Muhammad ibn Jarir—hal itu sama sekali bukan usaha yang berlebihan.” Demikian pula ulama Andalusia Ibnu Athiyah menuturkan: “Muhammad ibn Jarir al-Thabari—semoga Allah merahmatinya—telah menghimpun tafsir yang tersebar di berbagai tempat, menyatukan pendapat-pendapat yang terpencar, dan menyempurnakan rantai periwayatannya.”
Ungkapan-ungkapan itu dengan jelas menunjukkan betapa tinggi nilai karyanya dan kedudukannya dalam sejarah tafsir al-Qur’an. Syaikh Ibnu Taimiyah pun menegaskan: “Di antara kitab tafsir yang tersebar di kalangan manusia, yang paling dapat diandalkan adalah Tafsîr al-Thabarîy. Sebab ia menyampaikan pendapat ulama-ulama terdahulu dengan sanad yang shahîh, bebas dari hal-hal yang bertentangan dengan syariat, dan tidak mengutip dari sumber-sumber yang lemah seperti Muqatil bin Bukair dan al-Kalbi.”
Karya yang Disempurnakan dan Diterima Secara Luas
Para sejarawan menyampaikan bahwa Tafsîr al-Thabarîy sempat mengalami penyuntingan dan penyempurnaan yang cukup banyak; pada awalnya cakupannya jauh lebih besar daripada yang kita jumpai sekarang. Ia terus memoles, menyempurnakan, dan meringkasnya hingga mencapai bentuk yang akhir, yang kemudian diterima dan diakui keunggulannya secara luas oleh para ulama. Disebutkan pula bahwa ia memohon petunjuk dan pertolongan Allah selama tiga tahun dalam menyusun kitab tersebut, hingga akhirnya Allah melimpahkan rahmat-Nya, dan ia dibimbing oleh cahaya hidayah Ilahi dalam setiap langkah pena-nya.
Dr. Muhammad Husain al-Dzahabi menilai bahwa Imam al-Thabari memiliki keunggulan yang tak ternilai, terutama sebagai perintis—ia adalah penulis tafsir yang pertama dalam sejarah yang kita ketahui saat ini. Sebelumnya memang ada sebagian catatan yang tersusun, namun semuanya telah hilang dan musnah ditelan waktu. Yang tersisa kini hanyalah apa yang dihimpun dan dikutip oleh Ibnu Jarir dalam tafsirnya yang agung melalui rantai periwayatan yang dapat ditelusuri.
Karena keunggulan dan ketelitiannya, ia pun disepakati sebagai “Bapak Sejarah Islam dan Ilmu Tafsir”. Hal ini berkat nilai ilmiah dan kedudukan otoritatif yang dimiliki oleh dua karya agungnya: Târîkh al-Rusul wa al-Mulûk dan Jâmi’ al-Bayân fî Ta`wîl Âyi al-Qur`ân—yang dikenal luas sebagai Tafsîr al-Thabarîy.
Ciri Khas Metode Tafsir al-Tabari
Dalam karyanya, al-Tafsîr wa al-Mufassirûn, Dr. Muhammad Husain al-Dzahabi memaparkan sejumlah ciri khas yang menonjol dari tafsir Ibnu Jarir, antara lain:
Kedudukan Sentral dan Keunggulan Tafsirnya
Dari uraian para ulama di atas, terlihat jelas bahwa Imam al-Thabari mendahului para penafsir lainnya dalam segala hal yang berkaitan dengan penyusunan tafsir secara sistematis. Dr. Khalil al-Yamani menyimpulkan beberapa alasan mengapa Tafsîr al-Thabarîy menempati kedudukan yang sangat sentral:
Karena keunggulan-keunggulan itulah, Imam al-Thabari menjadi rujukan utama yang diikuti oleh para ulama setelahnya. Ia adalah orang pertama yang menyusun tafsir secara lengkap dan menyampaikan pendapat ulama terdahulu dengan sanad yang terjaga. Penafsiran yang dikutip oleh para ulama setelahnya sejatinya bersumber dari karyanya.
Keteguhan Hati dan Kesabaran di Tengah Ujian
Di antara sifat-sifat mulia Imam al-Thabari adalah kemandirian jiwa dan keteguhan hati. Ia menolak menerima pemberian dari para penguasa dan raja, meskipun ia berhak menerimanya. Ia mengembalikan segala pemberian khalifah dan pemimpin di zamannya. Ia menjadi teladan dalam menahan diri saat membutuhkan, berkata jujur saat diperlakukan tidak adil, hidup sederhana dan rendah hati, serta menjauhi segala hal yang tidak bermanfaat. Ia juga menolak membahas perkara-perkara yang memicu perpecahan, demi menjaga persatuan dan keharmonisan umat.
Namun seiring berjalannya waktu, ujian pun datang. Sebagian kelompok yang ekstrem menuduhnya menyimpang dari pendapat mayoritas dan menuduhnya berpaham Syiah. Kerusuhan pun meletus, dan ia dikepung di dalam rumahnya hingga akhir hayat. Di saat-saat terakhir, ia terus mengucapkan dua kalimat syahadat sambil mengusap wajahnya dengan tangan, hingga akhirnya wafat dalam keadaan penuh keteguhan iman.
Meski wafat dalam keadaan dikepung, kedudukannya di hati umat tetap mulia. Ribuan orang menghadiri pemakamannya, dan selama berbulan-bulan orang-orang terus berdatangan ke makamnya untuk mendoakan—sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Dzahabi dalam biografinya. Semoga Allah melimpahkan rahmat yang luas kepada Imam para penafsir, Ibnu Jarir Muhammad bin Jarir bin Yazid al-Thabari, dan menerima ilmu serta amal ibadahnya.[]

Tinggalkan Komentar