Info Sekolah
Selasa, 25 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
14 Juni 2026

Ketika Waktu Menjadi Tuan: Laju Hidup dan Hilangnya Diri di Era Modern

Ming, 14 Juni 2026 Dibaca 49x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Pada tahun 1871, seorang penulis yang namanya tidak dicatat menuangkan pengamatannya tentang ibu kota Inggris, London, dengan tulisan yang sangat tajam:


London adalah beban berat yang menindih saraf dan otak manusia. Di sana, orang-orang hidup dalam ketergesaan yang tiada henti, segala sesuatu bergerak dengan kecepatan luar biasa dan berlangsung begitu singkat. Siapa saja yang mencoba bersantai atau merasa bosan akan segera menyadari bahwa ia tak memiliki tempat dan kesempatan di sana; ia akan terseret paksa ke dalam irama yang belum pernah ia kenal sebelumnya, persis seperti kuda yang lesu dan lambat, namun terpaksa berlari kencang di samping kereta yang melaju deras.”


Lebih dari satu abad telah berlalu, namun ironisnya, kita kini menjalani hidup dengan kecepatan yang jauh lebih mengerikan dibandingkan apa yang dirasakan penulis anonim itu. Kita hidup dalam keyakinan penuh bahwa jika kita berhenti sejenak saja, waktu akan berlalu begitu saja dan kita akan tertinggal jauh. Masa kini kita terasa kosong dan membosankan, sementara pikiran kita selalu dipenuhi oleh kecemasan yang tak berkesudahan tentang masa depan yang belum terjadi.

Sungguh sebuah paradoks yang menyakitkan: manusia modern telah menciptakan ribuan perangkat canggih—mulai dari transportasi, teknologi komunikasi, hingga alat bantu rumah tangga—yang semuanya bertujuan untuk mempersingkat waktu kerja dan mempermudah hidup. Namun, di tengah segala kemudahan itu, kita justru mendapati diri kita tidak memiliki waktu luang sedikit pun. Kita tidak pernah benar-benar istirahat; kita hanya berpindah dari satu jenis kesibukan ke kesibukan lain, seolah-olah kita tidak pernah bisa lari dari cengkeraman waktu itu sendiri.

Hal ini membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan mendasar yang harus dijawab: Mengapa paradoks ini bisa terjadi? Mengapa waktu luang yang kita dambakan justru terasa lebih berat dan penuh pekerjaan dibandingkan waktu kerja itu sendiri? Bagaimana laju kehidupan ini berhasil merenggangkan hubungan antara manusia dan ritme alaminya, hingga mengubah seluruh cara kita memahami dan merasakan waktu?


Dilema: Apakah Waktu itu Musuh Kita?

Semakin aku menua, semakin banyak waktu yang kuhabiskan hanya untuk mencoba memahami apa itu waktu, namun aku tetap tidak mengertinya. Karena itu, aku mulai merasa waktu adalah musuh yang tersembunyi, yang menyerangku dari belakang saat aku lengah, dan aku tak punya cara untuk membela diri.”

— Laila al-Juhani, “Fi Ma’na an Akbara


Penulis asal Inggris, Jay Griffiths, pernah mengalami masa-masa sulit, depresi, dan rasa kehilangan arah yang panjang. Untuk menemukan kembali dirinya, ia menghabiskan enam bulan tinggal bersama suku Karen di pedalaman Thailand utara. Dalam bukunya, Wilderness: A Journey into the Heart of Nature, ia menceritakan sebuah pengamatan yang sangat menyentuh: di antara seluruh anggota suku itu, hanya dialah satu-satunya yang memakai jam tangan di pergelangan tangan. Namun, ia merasa justru dialah satu-satunya orang yang tidak bisa benar-benar membaca waktu.

Bagi suku Karen, waktu tidak diukur dari jarum yang berputar melingkar. Mereka memahami waktu lewat perubahan cahaya matahari, pergeseran suhu udara, arah angin, dan suara-suara alam. Pemahaman mereka tentang pergantian waktu jauh lebih dalam, lebih hidup, dan lebih nyata dibandingkan apa pun yang bisa ditunjukkan oleh angka-angka di atas kaca jam.

Pencarian manusia akan hakikat waktu telah membawa kita ke berbagai arah. Di satu sisi, ada penjelasan dari ilmu saraf dan fisika; di sisi lain, ada pengalaman batin dan persepsi kita sebagai manusia. Carlo Rovelli, fisikawan teoretis asal Prancis dan penulis buku The Order of Time, mengingatkan kita bahwa Aristoteleslah orang pertama yang berani bertanya: “Apa itu waktu?”

Aristoteles menyimpulkan bahwa waktu adalah ukuran dari perubahan. Baginya, jika tidak ada apa pun yang bergerak atau berubah, maka waktu pun tidak akan berlalu. Pandangan ini kemudian dibantah oleh Newton, yang mengusulkan konsep waktu mutlak: waktu mengalir dengan sendirinya, tetap, dan konstan, terlepas dari apa pun yang terjadi di alam semesta. Menurut pandangan ini, waktu akan terus berjalan meskipun seluruh alam semesta diam membeku, bahkan jika pikiran dan perasaan manusia pun berhenti bergerak.

Namun, apakah waktu versi Newton ini sama dengan waktu yang kita rasakan? Einstein datang dan mengubah segalanya. Ia membuktikan bahwa waktu dan ruang—yang dianggap Newton sebagai wadah kaku di luar materi—memang ada, namun keduanya tidaklah mutlak atau tetap. Waktu dan ruang terjalin menjadi satu jalinan yang disebut ruang-waktu, yang bentuknya bisa berubah sesuai gravitasi dan kecepatan.

Bagi Einstein, masa lalu, masa kini, dan masa depan bukanlah kebenaran yang tetap sama bagi semua orang. Semuanya bergantung pada posisi dan pandangan pengamat. Ia bersikeras bahwa aliran waktu yang linier dan tak terputus itu hanyalah sebuah ilusi—sebuah ilusi yang melekat dan sulit kita lepaskan.

Di luar dunia fisika, jurnalis Kanada Carl Honoré dalam bukunya, In Praise of Slow, mengungkapkan perbedaan pandangan budaya. Dalam tradisi filosofis seperti Buddhisme, waktu dipahami sebagai sesuatu yang berputar dan berulang, datang dan pergi, memperbarui dirinya terus-menerus seperti napas kita. Ini sangat berbeda dengan pandangan Barat yang—dipengaruhi pemikiran ilmiah tertentu—melihat waktu sebagai garis lurus, seperti anak panah yang terbang pergi dan tak akan pernah kembali lagi.

Pertanyaan terbesar kemudian bukanlah apa kata fisika, melainkan: Apa hakikat waktu menurut otak dan jiwa kita?

Dalam sebuah penelitian penting yang dimuat jurnal Science berjudul “Space and Time in the Brain“, ahli saraf George Buzaky dan Rodolfo Linas menjelaskan bahwa waktu yang dirasakan oleh otak manusia “bukanlah” waktu yang diukur oleh jam. Jam hanyalah penemuan budaya manusia, sebuah alat buatan.

Di dalam otak kita, ada jaringan sel saraf yang bekerja berurutan untuk mencatat urutan peristiwa, sehingga kita bisa mengingat masa lalu dan menyusun ingatan. Namun, persepsi kita tentang waktu sangat bergantung pada emosi dan kondisi batin. Waktu terasa berlalu sangat cepat saat kita sedang gembira atau asyik bekerja, namun terasa berjalan sangat lambat, berat, dan panjang saat kita sedang sedih, takut, atau merasa bosan. Waktu adalah cerminan dari apa yang sedang kita rasakan.


Komodifikasi: Ketika Waktu Menjadi Uang

Jam adalah sistem operasi utama kapitalisme modern. Ia adalah alat yang memungkinkan segala hal lain berjalan: rapat, kontrak, jadwal kerja, hingga nilai hidup manusia itu sendiri.”

— Carl Honoré, “In Praise of Slowness


Penjelasan tentang hakikat waktu di atas mungkin tampak hanya sebagai perdebatan intelektual. Namun, ada satu dimensi waktu yang paling mengubah hidup manusia dalam beberapa abad terakhir: “waktu sebagai barang dagangan”.

Komodifikasi berarti mengubah sesuatu menjadi benda yang bisa dimiliki, dijual, dibeli, dan diberi harga. Sarjana Austria Wolfgang Fellner menulis panjang lebar tentang bagaimana sistem kapitalisme telah mengubah segala hal—barang, jasa, pengetahuan, manusia, dan waktu—menjadi komoditas. Akibatnya, kehidupan manusia itu sendiri kini telah berubah menjadi alat semata, yang fungsinya hanya untuk memproduksi dan mengonsumsi.

Untuk memahami mengapa laju hidup kita begitu cepat dan hampir patologis, kita perlu meneliti pemikiran sejarawan Inggris E.P. Thompson dalam karyanya yang sangat berpengaruh: Time, Labor Discipline, and Capitalism. Thompson menjelaskan bahwa masyarakat kapitalisme telah berhasil mencabut manusia dari ritme alaminya dan menundukkannya sepenuhnya pada perintah jarum jam.

Berbeda dengan masa lalu. Di masyarakat pra-industri, waktu diukur berdasarkan apa yang kini disebut para sosiolog sebagai “waktu alami”. Saat itu, petani bekerja sampai tanaman siap panen, pengrajin bekerja sampai barang jadi atau sampai ia merasa lelah. Mereka tidak melihat jam; mereka melihat hasil kerja dan kondisi alam. Waktu bukanlah penguasa, melainkan pendamping kegiatan.

Ide ini sejalan dengan apa yang dikemukakan fisikawan Carlo Rovelli: “Selama ribuan tahun sebelum jam ditemukan, satu-satunya cara kita mengukur waktu adalah pergantian siang dan malam. Ritme itulah yang mengatur tumbuh-tumbuhan, hewan, dan kehidupan manusia. Ritme adalah sumber utama gagasan kita tentang waktu.”

Segalanya berubah drastis saat kapitalisme tumbuh. Seperti yang diuraikan Thompson, kerja tidak lagi diukur dari selesainya sebuah tugas, melainkan dari habisnya jam kerja yang ditentukan pabrik. Waktu menjadi sesuatu yang seragam, sama rata, dan kaku bagi semua orang. Kapitalisme merasionalisasi waktu, membaginya menjadi potongan-potongan kecil, dan menerapkan disiplin ketat: jam berbunyi, masuk kerja; jam berbunyi lagi, pulang.

Asal-usul sistem yang menindas ini bisa ditelusuri kembali ke kota Cologne, Jerman. Pada tahun 1370, dipasanglah jam umum pertama di kota itu. Empat tahun kemudian, pemerintah kota mengeluarkan undang-undang yang mengatur jam kerja secara ketat, hanya memberikan waktu satu jam untuk istirahat makan siang. Dalam waktu satu generasi saja, penduduk Cologne berubah total: dari hidup mengikuti ritme alam, menjadi hidup yang setiap detiknya diatur oleh mesin. Ini adalah awal mula penaklukan waktu alami oleh mesin.

Tentu saja, mengubah kebiasaan masyarakat bukanlah hal mudah. Untuk memastikan pekerja mau menuruti aturan baru ini tanpa memberontak, lembaga-lembaga kekuasaan—gereja dan sekolah—ikut berperan. Mereka mulai mengajarkan bahwa ketepatan waktu adalah kewajiban warga negara dan kebajikan moral yang paling tinggi. Sebaliknya, keterlambatan dan kelambatan dicap sebagai dosa besar dan aib.

Pada tahun 1891, Perusahaan Jam Sinyal Listrik bahkan menuliskan semboyan ini dalam katalog produknya: “Jika ada satu kebajikan yang harus dimiliki orang sukses, itu adalah ketepatan waktu. Jika ada satu dosa yang harus dihindari, itu adalah ketidaksesuaian dengan zaman.”


Waktu yang Hilang dan Rasa Sepi di Tengah Keramaian

Ada kesepian khusus yang dirasakan mereka yang duduk sendirian di ruang berperabot indah di kota padat. Kesepian itu muncul karena mereka tak punya tujuan, dan tak ada orang yang bisa diajak bicara. Dan kesepian itu terasa begitu hampa, tak berarti apa-apa.”

— George Martin


Dalam bukunya, Alienation and Acceleration, filsuf Jerman Hartmut Rosa berpendapat bahwa dampak paling kejam dari percepatan zaman ini bukanlah kelelahan fisik, melainkan hilangnya rasa memiliki atas waktu itu sendiri. Kita hidup di tengah waktu yang melimpah, namun merasa tidak memilikinya sedikit pun.

Senada dengan itu, filsuf asal Korea-Jerman, Byung-Chul Han, menyoroti bagaimana slogan-slogan positif berlebihan tentang kesuksesan, kerja keras, dan pencapaian telah menjerumuskan manusia modern ke dalam jurang keterasingan dan depresi. Kita dipaksa mengejar standar yang mustahil, dan ketika gagal, kita tidak menyalahkan sistem yang tidak adil, melainkan menyalahkan diri sendiri karena dianggap lambat, malas, atau tidak berharga.

Alain de Botton dalam Status Anxiety mempertegas hal ini: budaya kita memaksa kita melakukan hal-hal yang tidak pernah dipikirkan oleh nenek moyang kita. Standar keberhasilan semakin tinggi, dan manusia diperlakukan seperti mesin yang harus terus berputar. Akibatnya, istirahat, tidur, atau sekadar diam seolah-olah menjadi tanda ketidakefisienan, sebuah kegagalan dalam hidup.

Tidak heran jika sistem ini berperang melawan tidur. Dalam Late Capitalism and the End of Sleep, kritikus seni Jonathan Crary menulis bahwa kapitalisme membenci tidur karena saat kita tidur, kita tidak memproduksi, tidak mengonsumsi, dan tidak menghasilkan uang. Tidur dianggap sebagai kerugian waktu yang besar. Tujuan utamanya jelas: memaksa kita menukar setiap detik hidup kita dengan uang, siang maupun malam. Namun, tidur tetap menjadi pembangkang terakhir—kebutuhan biologis yang tak bisa sepenuhnya ditundukkan oleh pasar.

Crary mengutip sebuah penelitian mengerikan tentang burung pipit mahkota putih. Burung ini bisa tetap terjaga selama tujuh hari penuh saat bermigrasi. Karena kemampuan ini, Departemen Pertahanan Amerika Serikat menanamkan dana besar untuk mempelajari otak burung itu. Tujuannya? Menciptakan konsep “prajurit tanpa tidur”, yang kelak dikembangkan menjadi cita-cita manusia pekerja yang tidak butuh istirahat, tidak butuh beristirahat, dan bekerja terus-menerus.

Teknologi kini menjadi senjata utama dalam perang ini. Cahaya biru layar, notifikasi, dan kebisingan dirancang untuk memecah konsentrasi dan memendekkan tidur kita. Penelitian antropolog David Samson menunjukkan bahwa secara biologis, manusia sebenarnya butuh tidur sekitar 9,5 jam sehari agar tubuh dan otak pulih sepenuhnya. Namun, rata-rata tidur manusia modern kini turun drastis menjadi kurang dari 7 jam—bahkan jauh lebih sedikit dibandingkan kera yang tidur 13 hingga 17 jam sehari.

Yang lebih menarik adalah bagaimana kita merasakan tidur itu sendiri. Pada tahun 2017, Samson meneliti suku Hadza di Tanzania. Mereka rata-rata hanya tidur 6,25 jam, sering terbangun di malam hari, namun 90% dari mereka melaporkan tidur yang sangat nyenyak dan segar. Mengapa? Karena mereka hidup jauh dari layar, di ritme alam, dan malam hari adalah waktu tenang di sekitar api unggun. Kualitas waktu jauh lebih penting daripada kuantitasnya.


Hidup di Ambang Kecemasan: Ketika Cukup Tidak Pernah Cukup

Di luar waktu yang dihabiskan untuk bekerja, manusia juga harus hidup dengan rasa takut: bahwa kedudukannya tidak aman, dan segala sesuatu bergantung pada seberapa keras ia bekerja.”

— Alain de Botton


Masalah ini sudah diamati sejak lama. Sejarawan Prancis Alexis de Tocqueville, saat mengunjungi Amerika Serikat tahun 1830-an, mencatat penyakit aneh yang menggerogoti jiwa warga negara yang makmur itu: Mereka menderita setiap kali melihat orang lain memiliki sesuatu yang mereka tidak miliki.

Alain de Botton menjelaskan bahwa penyakit ini kini telah menyebar ke seluruh dunia. Meskipun kebutuhan dasar kita sudah terpenuhi jauh lebih baik dibandingkan zaman dulu, rasa takut miskin dan rasa tidak puas justru makin memuncak. Kita hidup dengan perasaan bahwa apa yang kita miliki tidak pernah cukup.

Jean-Jacques Rousseau pernah berkata dengan sangat bijak: “Kekayaan sejati bukanlah memiliki banyak, melainkan memiliki apa yang kita inginkan.”

Artinya, jika jiwa kita selalu mendambakan apa yang tidak kita miliki, kita akan merasa miskin dan cemas, betapa pun banyaknya harta kita. Sebaliknya, jika kita puas dengan apa yang ada, kita merasa kaya raya meski sederhana. Rousseau menambahkan: “Ada dua cara untuk membuat seseorang kaya: memberinya lebih banyak uang, atau mengekang keinginannya.”

Masyarakat modern sangat hebat dalam cara pertama, namun justru terus-menerus memicu dan membakar keinginan kita agar makin besar. Kita terjebak dalam ilusi bahwa barang mewah, gawai canggih, atau mobil mahal bisa menggantikan kebutuhan jiwa yang sesungguhnya: ketenangan, persahabatan, kebebasan, dan makna hidup. Sistem kapitalisme tidak mengajarkan kita hierarki kebutuhan manusia; ia hanya menjual hierarki benda dan kemewahan.


Merebut Kembali Waktu yang Dicuri

Ketika segala sesuatu bergerak terlalu cepat, tak ada satu pun yang bisa memastikan apa pun. Tak ada, bahkan tentang diri mereka sendiri.”

— Milan Kundera


Lalu, bisakah kita merebut kembali waktu kita? Bisakah kita melambat tanpa tertinggal?

Carl Honoré dalam bukunya mengingatkan bahwa hidup yang terlalu cepat membuat segalanya menjadi dangkal. Kita bergerak, namun tidak benar-benar ada di tempat kita berada. Kita bertemu orang, namun tidak benar-benar berhubungan hati. Milan Kundera benar: dalam kecepatan, kita kehilangan jati diri.

Byung-Chul Han menggambarkan betapa berbahayanya hilangnya momen hening. Ia mengutip Nietzsche yang memperingatkan: “Dengan menghapus waktu tenang dan renungan, peradaban kita berubah menjadi barbarisme baru. Zaman yang sibuk, tanpa waktu untuk berpikir, membawa dunia menuju bencana.”

Melambat bukan berarti malas atau mundur ke zaman purba. Melambat berarti “memilih ritme”.

Bernadette Murphy dalam Zen Philosophy and Knitting melihat kegiatan sederhana seperti merajut sebagai bentuk perlawanan. Ia menulis: “Budaya kita haus makna, haus hal yang menghubungkan kita dengan dunia dan sesama. Merajut hanyalah cara meluangkan waktu untuk menghargai hidup. Keindahan merajut ada pada kelambatannya; begitu lambat hingga kita bisa melihat keindahan di setiap jahitan kecil.”

Membaca adalah bentuk perlawanan lain. Filsuf Paul Virilio berkata: “Membaca berarti meluangkan waktu untuk berpikir, sebuah perlambatan yang menghancurkan obsesi kecepatan massal.” Sama halnya dengan perpustakaan yang digambarkan Laila Al-Juhani sebagai tempat paling aman: tempat di mana waktu berhenti, di mana kita tidak kehilangan apa pun dan tidak dikejar oleh siapa pun.

Bahkan, kegiatan sederhana seperti “menatap ke luar jendela” kini menjadi sebuah kemewahan yang berbahaya. Banyak orang merasa ini adalah pemborosan waktu, padahal menurut Alain de Botton, ini adalah latihan merenung. Plato menyamakan pikiran kita dengan burung yang berterbangan di dalam sangkar. Agar burung itu tenang, ia butuh keheningan tanpa tujuan. Menatap langit atau cakrawala mengingatkan kita pada betapa kecilnya masalah kita di hadapan luasnya alam semesta, dan hal ini menyembuhkan kecemasan kita.

Berjalan kaki juga adalah cara menyatukan kembali diri kita dengan dunia. Rebecca Solnit dalam Wanderlust menulis bahwa berjalan adalah keadaan di mana pikiran, tubuh, dan dunia saling berbicara. Rousseau pun pernah berkata: “Aku hanya bisa bermeditasi saat berjalan. Begitu aku berhenti, pikiranku berhenti. Akal sehatku berjalan bersamaan dengan kakiku.”

Pada akhirnya, kita harus memahami satu hal penting: merebut kembali waktu bukan berarti melakukan segala sesuatu dengan kecepatan siput, juga bukan menolak kemajuan. Seperti kata Carl Honoré:

“Kamu harus bergegas saat memang perlu bergegas, dan melambat saat memang pantas melambat. Kamu harus mencari apa yang oleh para musisi disebut “tempo giusto”—irama yang tepat, di mana kecepatan dan ketenangan bertemu dalam harmoni.”

Hanya dengan menemukan kembali irama alami ini, kita bisa kembali menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar roda yang berputar tanpa henti di bawah paksaan waktu.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar