Info Sekolah
Senin, 23 Feb 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
29 Oktober 2025

Hidayah Datang dari Allah, Lantas Apa Peran Orangtua dalam Mendidik Anak?

Rab, 29 Oktober 2025 Dibaca 50x Edukasi

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah


Meskipun keluarga memainkan peran krusial dalam menanamkan nilai-nilai pada anak, tetapi harus diakui bahwa hidayah dan pertolongan pada akhirnya berasal dari Allah. Dengan premis sentral ini, sebuah majalah Amerika menyajikan lima kunci praktis untuk membantu orangtua memengaruhi nilai-nilai anak secara positif.

Menurut majalah “Greater Good“, nilai-nilai bukanlah aspek sampingan dalam membesarkan anak, melainkan bagian integral dari perkembangan spiritual dan psikologis anak. Banyak penelitian menunjukkan tanda-tanda dari nilai-nilai ini sudah tampak sejak dini, di mana kasih sayang orangtua kepada anaknya dapat memengaruhi pandangan anak terhadap dunia. Dan pada usia lima atau enam tahun, ciri-ciri identitas moral pada anak mulai tampak lebih jelas.

Namun, identitas ini tetap cair hingga anak mengembangkan pengendalian diri lebih besar dan memahami perspektif orang lain. Seiring waktu, di bawah pengaruh keluarga, teman, sekolah, dan media, serta seiring perkembangan kemampuan mereka untuk berpikir dan mengelola emosi, nilai-nilai mereka menjadi lebih jelas, lebih stabil, dan lebih selaras dengan perilaku mereka.


Hubungan Orangtua adalah Titik Awal
Sebagaimana semua aspek pengasuhan anak, pengembangan nilai-nilai didasarkan pada hubungan kuat antara orangtua dan anak. Ketika hubungan ini dibangun atas dasar dukungan dan inklusi, perkembangan moral akan berakar dan menghasilkan perilaku sehari-hari yang konsisten.

Studi ilmiah menunjukkan bahwa prioritas orangtua seharusnya adalah menunjukkan kasih sayang kepada anak dan meluangkan waktu bersamanya, sebuah naluri yang selaras dengan prinsip-prinsip pengasuhan yang baik.


Memimpin Jalan
Orangtua adalah otoritas moral pertama bagi anak, yang dapat memengaruhi cara anak menyerap nilai-nilai dan caranya membuat keputusan etis. Oleh karena itu, konsistensi orangtua dalam menunjukkan kasih sayang, keadilan, dan nilai-nilai luhur lainnya akan tetap hidup dan tertanam dalam diri anak, bahkan ketika pengaruh teman sebaya dan masyarakat tumbuh di tahap-tahap perkembangan anak selanjutnya.

Secara naluriah anak akan mengamati dan mengawasi orangtua untuk belajar darinya. Keselarasan ucapan dan tindakan orangtua menjadi ujian sehari-hari bagi anak. Ketika seorang anak bertanya, “Mengapa aku dilarang melakukan ini sementara kamu melakukannya?” Hal ini mengingatkan kita akan kewajiban untuk terus-menerus meninjau dan mengoreksi perilaku, agar nasihat yang kita sampaikan tidak bertentangan dengan perilaku kita, yang menyebabkan kebingungan pada anak dan memperkuat nilai-nilai negatif.


Menjelaskan Pilihan
Anak-anak tidak selalu mengerti apa yang kita inginkan dari mereka hanya dengan melihat kita bertindak dengan cara tertentu. Mereka juga perlu mendengar mengapa kita memilih tindakan itu: Apa yang terjadi? Pilihan apa yang kita pertimbangkan? Apakah keputusan itu sulit? Apakah kita puas dengannya? Jika kita melakukan kesalahan, kita berkata, “Aku melakukan kesalahan, aku minta maaf, dan aku akan memperbaikinya dengan cara berikut.”

Anak tidak akan merespon pidato panjang kita atau membicarakan perbuatan heroik kita, baik nyata maupun khayalan. Ceritakan kisah dengan sederhana, buka pintu untuk pertanyaan anak, dan minta ia untuk menceritakan kisahnya juga: “Apa yang akan kamu lakukan jika kamu di posisiku?” Ini akan mengubah percakapan tentang nilai-nilai menjadi pengalaman nyata, dan anak akan memahami makna di balik perilaku tersebut, bukan sekadar teori yang kaku.

Contoh singkat: “Aku akan memberi tahu penjual bahwa ia salah menghitung, dan aku akan menghubunginya besok dan memberinya uang tambahan.” Kejujuran dan rezeki yang halal lebih penting daripada keuntungan.


Belajar Bersama dan Bertukar Peran
Ini bukan lagi soal transfer nilai sepihak dari orang dewasa kepada anak-anak. Realitasnya lebih dekat dengan pertukaran yang hidup di mana masing-masing pihak saling memengaruhi. Memang benar bahwa orangtua memiliki tanggungjawab yang lebih besar dan lebih banyak pengalaman, tetapi anak-anak memiliki kepribadian dan minat mereka sendiri, dan mereka mungkin akan mengatur ulang prioritas dalam rumah tangga. Singkatnya, anak-anak juga dapat mengubah kita, dan ini normal dan sehat.

Oleh karena itu, anak-anak perlu diberi lebih banyak ruang untuk mengekspresikan minat mereka yang sebenarnya, dan kemudian mempertimbangkan untuk mempraktikkannya, contohnya: silaturrahim ke sanak saudara dan keluarga, menabung untuk inisiatif kecil, peran mingguan melayani keluarga. Yang terpenting, kita belajar dari mereka dengan cara yang sama: kita mendengarkan, kita bertanya, dan kita bereksperimen bersama, sampai nilai-nilai tersebut menjadi pilihan sadar yang menunjukkan identitas anak, bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar.


Realitas dan Kesenjangan
Kita percaya pada nilai-nilai luhur, namun kita tidak mempraktikkannya sebagaimana mestinya. Kita mengetahui kekurangan dari perilaku tertentu tetapi kita malah terjerumus ke dalamnya. Kita ingin disiplin dan meluangkan waktu, tetapi kita tersesat saat menjelajahi platform media sosial setiap hari. Kesenjangan antara apa yang kita yakini dan apa yang kita lakukan ini sudah ada sejak lama dan telah dibahas oleh para filsuf, serta tetap menjadi bagian dari pengalaman manusia.

Kesenjangan ini bukan lagi sekadar masalah “kelemahan kemauan”, karena tindakan kita dipengaruhi oleh emosi, naluri, kebiasaan, dan lingkungan di sekitar kita. Oleh karena itu, kekuatan diri saja tidak cukup untuk membangun sistem nilai yang kokoh. Menghafal daftar nilai-nilai saja tidak cukup untuk membuat keputusan besar di bawah tekanan. Solusinya praktis dan sederhana, yaitu implementasi bertahap:

  • Bangun kebiasaan-kebiasaan kecil untuk mendukung nilai-nilai tersebut, seperti: segera meminta maaf ketika melakukan kesalahan, memperbaiki kerusakan sebelum memburuk, dan menepati janji.
  • Ciptakan lingkungan yang kondusif untuk komitmen, seperti mengurangi kecanduan media sosial, mengatur waktu penggunaan gadget, dan mengembangkan rencana alternatif untuk situasi yang berulang.
  • Jadikan nilai-nilai sebagai topik pembicaraan sehari-hari dan praktikkan di rumah, sehingga menjadi bagian dari kepribadian, sebagaimana belajar mengemudi mobil melalui latihan-latihan singkat harian yang menjadi perilaku intuitif tanpa berpikir.[]
Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar