KUNINGAN – Hari ini, Senin, 30 Maret 2026, seluruh santri SDIT Al-Fattah Kuningan kembali ke pesantren setelah libur lebaran Idul Fitri kurang lebih dua pekan sejak 16 Maret lalu.
Menandai kembalinya para santri ke sekolah, SDIT Al-Fattah Kuningan mengadakan Halal Bihalal di Madinah Building, setelah sebelumnya diawali dengan upacara bendera di lapangan Masjid Al-Azhar Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan.
Kegiatan Halal Bihalal ini bertujuan untuk bersilaturrahim, saling memaafkan dan mempererat ukhuwah Islamiyah antara santri, guru, dan seluruh staf pesantren setelah libur panjang lebaran.
Kepala SDIT Al-Fattah Kuningan, Ust. Masyhudi, S.Pd., menyambut hangat kembalinya para santri di SDIT Al-Fattah. Ia berpesan agar para santri tidak membawa fisik semata, tetapi juga membawa hati dan pikiran untuk menimba ilmu di pesantren.
“SDIT Al-Fattah ini adalah madrasah tempat belajar, bukan tempat bekerja atau nguli. Makanya kalian harus hadir di sini bukan hanya tubuh, tetapi juga hati dan pikiran untuk belajar. Hadir di sekolah dalam keadaan utuh; jasadan (tubuh), qalban (hati), wa ‘aqlan (pikiran).”
Ust. Masyhudi mengingatkan agar para santri terus semangat dan tidak malas belajar. Ini adalah prinsip fundamental dalam kehidupan pesantren. Para santri dituntut memiliki etos belajar yang tinggi karena mereka dipersiapkan menjadi generasi berilmu yang bermanfaat bagi umat.
Ust. H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan hadir memberikan taushiyah singkat. Ia menyampaikan sebuah hadits dari Nabi Muhammad Saw. sebagai hikmah Halal Bihalal di hadapan seluruh santri: “Idza mata ibnu adama inqatha’a ‘amaluhu illa min tsalatsin, shadaqatin jariyatin, aw ‘ilmin yuntafa’u bihi, aw waladin shalihin yad’u lahu.”

Menurut Ust. Roland, makna hadits ini adalah: “Jika anak Adam (manusia) wafat atau meninggal, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang saleh/salehah.”
“Pertama, sedekah jariyah, atau sedekah yang pahalanya terus mengalir meski orangnya sudah wafat. Misalnya, kalau kalian punya orangtua yang sudah wafat, dan semasa hidup orangtua kalian itu suka menyumbang, sedikit atau banyak, untuk pembangunan masjid, sekolah, atau rumah yatim, maka selama fasilitas itu dapat dipakai dan dimanfaatkan untuk kepentingan banyak orang, pahalanya akan terus mengalir menjadi penerang di alam kubur orangtua kalian. Oleh karena itu, tugas kalian adalah mendorong orangtua kalian, dan juga diri kalian sendiri, untuk gemar berderma, memberi, dan menyumbang.”
Kedua, lanjut Ust. Roland, adalah ilmu yang bermanfaat. Para santri adalah pencari ilmu. Mereka dengan tekun belajar dan menimba ilmu di pesantren. Untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan berkah, maka harus: (1). Meluruskan niat menuntut ilmu ikhlas karena Allah; (2). Doa dari kedua orangtua, dan; (3). Menghormati dan memuliakan guru.
“Salah satu ciri ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang berbuah. Apa buahnya? Buahnya adalah diajarkan kepada orang lain. Kalian semua belajar di pesantren. Setelah dapat ilmu, lalu lulus dari pesantren, maka tugas kalian berikutnya adalah menyebarkan dan mengajarkan ilmu itu kepada generasi-generasi setelah kalian. Semakin banyak orang yang menerima manfaat dari ilmu yang kalian ajarkan, semakin banyak pula kebaikan dan pahala yang senantiasa akan membanjir menjadi lentara di alam kubur kelak bila kalian sudah wafat,” tuturnya.
Ketiga, kata ustadz asal Madura ini, anak saleh/salehah yang selalu mendoakan orangtuanya. Para santri berada di pesantren. Jauh dari orangtua, sehingga jarang bertemu. Maka untuk menjaga “pertemuan” dengan orangtua, hubungan tersebut harus dijalin dengan doa yang tulus dan ikhlas. Apalagi, jika orangtua sudah meninggal dan tidak mungkin lagi bertemu di dunia, maka doa harus terus dipanjatkan sebagai penyambung hubungan agar tidak terputus.
“Menurut para ulama, doa untuk orang yang sudah wafat itu punya dua makna: (1). Al-du’a’ li shalihi al–mayyit, doa untuk kebaikan orang yang sudah meninggali itu sendiri; semoga diampuni semua dosanya, diterima semua amal kebaikannya selama di dunia, dimudahkan jalannya menuju surga, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah Swt.; (2). Da’watu al-mayyit lil hudhur, memanggil orang yang sudah meninggal itu untuk hadir bersama kita. Orang meninggal, itu hanya jasadnya saja yang mati dan hancur, tetapi ruhnya tidak. Ruhnya tetap hidup dan utuh,” terangnya.
“Ruh beda dengan jasad. Gerak jasad terbatas, tetapi ruh tidak terbatas. Meskipun kalian nanti sekolah di Amerika, sedangkan orangtua kalian meninggal di Indonesia, begitu kalian membuka mulut untuk berdoa, ruh orangtua kalian akan langsung hadir bersama kalian di Amerika. Jasad dibatasi paspor dan visa untuk bisa melintas antarnegara, tetapi ruh bisa lintas batas. Maka sering-seringlah mendoakan orangtua yang sudah meninggal, agar mereka selalu hadir bersama kalian,” kata Ust. Roland mengakhiri taushiyahnya.
Acara kemudian ditutup dengan mushafahah (bersalaman) dan ramah tamah bersama antara para santri dan guru untuk memulai kembali kegiatan belajar dengan semangat baru dalam suasana yang harmonis.[URN]

Tinggalkan Komentar