Oleh: Ust. Andi Heryanto, Direktur Islamic Boarding School Al-Fattah Kuningan
Terdapat suatu doa yang berbunyi:
واجعل لساني بذكرك لهجا، وقلبي بحبك متيما
“Jadikan lisanku senantiasa menyebut-Mu, dan hatiku selalu terpikat oleh cinta-Mu.”
Doa yang singkat, namun dampaknya sangat besar. Dan doa ini merangkum perjalanan manusia dalam mengingat Allah; sebuah perjalanan yang dimulai dengan bisikan tulus dan berakhir dengan ketenangan yang tak tertandingi oleh hiruk-pikuk duniawi.
Saya selalu bertanya-tanya: Mengapa sebagian orang terus-menerus membaca dzikir? Mengapa mereka terus-menerus memohon kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan mereka? Apakah mereka hanya mencari pahala di akhirat? Atau apakah mereka mencari perlindungan dari kemalangan duniawi dan penderitaan sehari-hari? Atau apakah mereka mencari untuk menarik berkah dan rezeki yang melimpah dan tak berkesudahan? Atau apakah itu hanya kebiasaan baik yang diturunkan dari ayah dan kakek kepada anak-anak mereka?
Saya bertanya-tanya ketika saya mengamati sebagian dari mereka terus-menerus membaca dzikir sepanjang siang dan malam, dalam setiap situasi dan keadaan. Saya mengamati mereka dan bertanya: Apakah ada rahasia? Apakah ada rahasia dalam dzikir yang hanya dapat dilihat dan dipahami oleh mereka yang mempraktikkannya dengan tulus? Apakah ini berkat tersembunyi yang diam-diam meresap ke dalam kehidupan orang-orang yang mengingat Allah, membuat hari-hari mereka lebih damai, lapang, dan diberkati, seolah-olah mereka memiliki waktu tambahan yang tidak dimiliki orang lain?
Pada suatu Jum’at siang, saya terserang sakit kepala hebat. Istri saya menoleh kepada saya dan memberikan tasbih ketika saya mengatakan kepadanya bahwa saya sakit kepala hebat. Dengan tenang dan percaya diri, ia berkata, “Bacalah shalawat kepada Nabi seratus kali.” Saya mulai melafalkan kata-kata itu, dan ketika saya sampai di tengah jalan, sakit kepala dan rasa sakit itu benar-benar hilang.
Saya takjub betapa cepatnya sakit kepala itu hilang, seolah-olah saya telah meminum ramuan ajaib atau obat. Itu bukan obat penghilang rasa sakit; itu adalah kata-kata yang diucapkan dengan keyakinan yang mencapai apa yang tidak dapat dilakukan oleh obat apa pun. Pada saat itu, saya merasa bahwa dzikir memiliki kekuatan tersembunyi yang melampaui logika fisik.
Apakah ada rahasia dalam dzikir? Beberapa orang membakar dupa di pagi hari untuk menarik rezeki, menangkal iri hati, dan mengusir kejahatan. Bukankah membaca Shalawat kepada Nabi Tercinta adalah wewangian yang lebih baik? Bukankah cahaya dzikir lebih kuat dan lebih berakar dalam jiwa, bertahan lebih lama di hati daripada aroma yang cepat berlalu? Pernahkah Anda mendengar tentang mukjizat pagi hari? Bagaimana jika saya mengatakan bahwa dzikir memiliki mukjizat yang dapat mengubah keseluruhan suasana hati Anda sepanjang hari? Apakah Anda akan mempercayai saya?
Sebagian orang mencari cara duniawi dan mengabaikan cara ukhrawi. Bagaimana jika Anda memasukkan tindakan kecil berdzikir ke dalam proyek baru Anda, bahkan sekecil menambahkan sedikit garam ke dalam makanan Anda? Bukankah tindakan berdzikir ini akan membuat perbedaan? Bukankah itu akan membuka pintu menuju berkah yang tidak Anda duga? Bukankah itu akan menanamkan ketenangan di hati Anda, membuat langkah Anda lebih mantap?
Saya pernah melihat seseorang membakar dupa di mobil baru anaknya, tetapi apakah ia merasakan efek dzikir? Bukankah al-Qur’an berisi ayat-ayat tentang perlindungan dan pertolongan ilahi? Mengapa orang percaya pada efek sementara dupa tetapi tidak pada kekuatan dzikir, yang merupakan janji ilahi? Mengapa kita percaya pada hal-hal yang kita lihat dan sentuh, namun ragu-ragu pada apa yang dapat mengubah suasana hati sebelum mengubah penampilan lahiriah?
Saya membaca dalam sebuah penelitian baru-baru ini bahwa menyebut nama Tuhan atas makanan dan minuman memiliki efek kimia; niat dan rasa syukur mengubah respons tubuh. Bukankah ini berarti bahwa Basmalah (mengucapkan “Bismillah“) memiliki pengaruh? Mengapa sebagian orang menganggap remeh Basmalah, padahal itu adalah salah satu bentuk dzikir yang paling penting, terutama ketika memulai proyek dan usaha? Ini seperti kunci kecil yang membuka pintu besar, namun orang-orang dengan ceroboh mengabaikannya. Apakah ini hanya mitos dan takhayul belaka, atau benar-benar memiliki pengaruh nyata, tetapi kita belum memberinya kesempatan untuk terwujud dalam hidup kita karena kurangnya iman?
Sebagian orang tidak melakukan dzikir karena kelalaian atau kurangnya iman. Tetapi bagaimana jika dzikir memiliki dampak nyata dalam hidup Anda dan membawa kedamaian ke hati Anda? Bukankah itu layak untuk dialami? Mengapa kita tidak mencoba pengaruh dzikir dalam hidup kita dan melihatnya dengan mata hati kita?
Sebagian orang tidak dapat bernapas tanpa dzikir. Saya kagum dengan seorang pasien yang diselamatkan Allah dari stroke serius. Ia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia hanya akan berbicara dengan memuji Allah. Jika seseorang bertanya kepadanya, ia akan berkata, “Alhamdulillah (Segala puji bagi Tuhan),” dan jika ia ingin berbicara, ia akan berkata, “Alhamdulillah.” Dzikir telah menjadi oksigen yang dibutuhkannya untuk hidup, seolah-olah hatinya menolak untuk hidup kecuali mengingat al-Khaliq, Sang Pencipta.
Banyak orang bilang: “Keberkahan telah lenyap dari hidup kita.” Tidakkah menurut Anda rahasianya terletak pada pengabaian kita terhadap keberkahan berdzikir dan mencari ampunan Allah? Apakah keberkahan itu telah lenyap, ataukah kita telah berpaling darinya dengan meninggalkan bahasa langit?
Setiap orang bijak, setelah menyadari dampak dzikir dalam hidup mereka, akan mempertahankan ingatan mereka. Jika Anda tidak mampu mengucapkan “Alhamdulillah” (Segala puji bagi Allah) seratus kali, maka ucapkanlah sekali saja, karena Allah melipatgandakan keberkahan bagi siapa pun yang Dia kehendaki, dan sedikit pun tidak pernah tidak berarti di mata-Nya. Dan Anda mungkin tidak akan kehilangan keberkahan itu; sebaliknya, keberkahan itu mungkin akan turun kepada Anda dari tempat yang paling tidak Anda duga.
Dzikir tidak membutuhkan mimbar, suara keras, atau perkumpulan orang banyak. Cukup dengan membisikkannya kepada diri sendiri, di jalan, di dapur, sebelum tidur, saat mengemudi. Cukup dengan mengingat Allah secara tulus, dan Dia akan mengingat Anda dengan keagungan-Nya.
Ingatlah firman-Nya: “Ingatlah Aku, dan Aku akan mengingatmu.” Janji apa yang lebih besar dari ini? Cukuplah mengingat Allah, dan Allah akan mengingat Anda; cukuplah berbisik, dan gema suara-Nya akan sampai kepada Anda dari langit.
Saya harap saya telah berhasil mengambil satu langkah maju untuk menggemakan majlis-majlis dzikir. Jadi mulailah dengan satu kata dzikir, dengan hati yang hadir, karena sedikit dalam hal ini tidak pernah sedikit.[]
Tinggalkan Komentar