Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Direktur Rumah Tafaqquh Al-Fattah Syi’arul Islam (RTF-SI)
“Akal adalah timbangan yang tepat, tetapi jangan memaksakannya untuk menimbang masalah ketuhanan, karena itu adalah upaya yang mustahil.” — Ibnu Khaldun
“Aku dapat menggambarkan kepadamu bagaimana dunia tampak bagiku, tetapi aku tidak dapat menggambarkannya sebagaimana hakikatnya.” — Immanuel Kant
“Kita tidak tahu apa-apa, dan kita tidak akan pernah tahu apa-apa.” — Lord Byron
Sepanjang sejarah, para filsuf dan ilmuwan telah tenggelam dalam perdebatan mendalam mengenai batas dan kemampuan akal manusia. Perbedaan perspektif dan latar belakang telah melahirkan beragam kesimpulan. Mereka menggali pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang besar, mulai dari asal-usul penciptaan hingga misteri kebangkitan, yang merentang pada isu-isu etika dan kebenaran ilmiah. Namun, pernahkah akal mengecewakan mereka yang menaruh harapan padanya?
Skeptisisme
Dalam pandangan ini, skeptisisme bukan sekadar sistem filsafat yang mengklaim memiliki jawaban atas segala misteri eksistensi, melainkan sebuah “sikap”—sebuah posisi netral. Seorang skeptis sejati tidak serta-merta menyangkal maupun menegaskan suatu pemikiran atau kepercayaan; bagi mereka, keyakinan absolut adalah bentuk keputusasaan intelektual tertinggi. Byron, misalnya, meyakini bahwa kita tidak tahu apa-apa dan tidak akan pernah tahu apa-apa, sehingga pertanyaan-pertanyaan eksistensial agung akan selamanya tak terjawab.
Kaum skeptis berargumen bahwa akal bukanlah sumber kebenaran yang mutlak dan dapat diandalkan. Sebagai contoh, akal manusia pernah “yakin” bahwa matahari mengelilingi bumi, padahal kini kita tahu itu keliru. Dalam banyak perdebatan logis, akal bahkan mampu membuktikan suatu hal dan kebalikannya dengan tingkat keyakinan yang sama.
Kant menegaskan bahwa kita tidak akan pernah mampu mengetahui hakikat segala sesuatu sebagaimana adanya. Kita terpenjara oleh pengalaman, lingkungan, dan indra kita. Sebagai ilustrasi, pandangan masyarakat modern di Indonesia tentang Islam tentu akan berbeda dengan pandangan Syiah atau Sufi di Timur Tengah. Oleh karena itu, mendefinisikan satu “Islam normatif” yang autentik dan mutlak adalah hal yang mustahil; yang ada hanyalah interpretasi yang bervariasi tergantung pada individu dan konteksnya. Upaya kita untuk memahami dan menjawab segala sesuatu pada akhirnya hanyalah usaha sia-sia untuk menghindari takdir tak terelakkan: berputar-putar di antara pendapat yang saling bertentangan tanpa pernah tiba pada satu jawaban pasti. Di antara para pemikir skeptis yang paling menonjol adalah Pyrrho, David Hume, dan tentu saja, Lord Byron. Bagi mereka, pada hakikatnya, “segala sesuatu adalah absurd”.
Nalar Tak Berdaya di Alam Gaib
Banyak orang mungkin mengenal Blaise Pascal dari kontribusinya yang luar biasa dalam fisika dan matematika, namun tidak banyak yang tahu bahwa ia juga seorang pemikir spiritual yang mendalam. Ia pernah berkata, “Hati memiliki alasannya sendiri, yang tidak dapat dijangkau oleh akal. Hatilah yang merasakan Tuhan, bukan akal. Inilah iman: menemukan Sang Pencipta dengan hatimu, bukan dengan pikiranmu.” Melalui kata-kata ini, Pascal merangkum pandangannya—dan pandangan banyak orang—tentang akal dan keterbatasannya. Baginya, akal akan menjadi tumpul dan tak berdaya ketika kita memaksanya masuk ke ranah yang berada di luar jangkauannya.
Pascal berargumen bahwa masalah asal-usul alam semesta, misalnya, tidak akan pernah bisa dipecahkan oleh akal. Akal manusia sama sekali tidak mampu membayangkan konsep “keabadian”, sekeras apa pun ia berusaha. Di sinilah iman mengambil alih peran. Senada dengan hal ini, al-Ghazali berpendapat bahwa kita harus menerima hal-hal yang “paling tidak masuk akal” jika memang demikianlah yang didiktekan oleh wahyu. Pandangan serupa juga dipegang oleh John Locke, Ibnu Khaldun, kaum Asy’ariyah, dan lainnya. Singkatnya, bagi mereka, akal itu “tidak memadai” untuk menjangkau yang transenden.
Akal adalah Segalanya?
Posisi yang menganggap akal sebagai segalanya—bertentangan dengan kepercayaan populer—sebenarnya adalah posisi yang paling lemah secara filosofis. Mayoritas filsuf besar adalah penganut skeptisisme dalam arti yang telah disebutkan sebelumnya; mereka meragukan kemampuan akal itu sendiri. Namun, titik balik terjadi seiring dengan munculnya Darwinisme dan sains modern. Banyak orang mulai mencari alternatif ilmiah untuk segala hal. Karena asal-usul kehidupan dan alam semesta mulai dijelaskan melalui sains—mulai dari teori sel tunggal, evolusi, hingga Big Bang—banyak yang menganggapnya sebagai pengganti yang cukup untuk narasi penciptaan dalam agama.
Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa saintisme (keyakinan bahwa sains adalah satu-satunya jalan kebenaran) adalah musuh sejati iman, bukan skeptisisme. Skeptisisme pada hakikatnya bersifat damai; ia tidak menyangkal, namun juga tidak mengklaim memiliki alternatif mutlak. Akan tetapi, upaya untuk menjelaskan segala sesuatu secara logis dan ilmiah tetaplah sebuah mimpi yang jauh. Sebab, sains—seperti yang diingatkan oleh Pascal—“tidak akan berguna bagi manusia ketika bencana melanda.” Hal ini belum termasuk pertanyaan-pertanyaan keagamaan dan eksistensial yang lebih kompleks, yang jawabannya mustahil dirumuskan secara ilmiah.
Di sisi lain, tokoh seperti Sam Harris berargumen bahwa menjadi “ilmiah” bukanlah tentang memiliki jawaban untuk segala hal, melainkan lebih kepada sebuah “sikap”—sikap yang menolak takhayul dan mitos, tidak lebih dari itu. Secara umum, akal manusia adalah anugerah yang luar biasa. Bahkan ketika kita mengkritik dan menilai keterbatasan akal, kita melakukannya dengan menggunakan akal itu sendiri! Namun, sejarah pemikiran menunjukkan bahwa akal telah “mengecewakan” banyak filsuf dan pemikir yang menyadari bahwa ia pada dasarnya terbatas dan sering kali kontradiktif—mampu membuktikan sesuatu dan kebalikannya secara bersamaan. Oleh karena itu, akal membutuhkan kehati-hatian yang ekstrem saat digunakan, dan kesadaran akan batasannya adalah awal dari kebijaksanaan yang sejati.[]
Tinggalkan Komentar