Info Sekolah
Jumat, 23 Okt 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
3 Oktober 2026

Tembus Ribuan Peserta Nasional, Santri SDIT Al-Fattah Kuningan Persembahkan Medali Perunggu di MEMO 2026

Sab, 3 Oktober 2026 Dibaca 54x Berita

KUNINGAN – Kabar membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan Kuningan. Mohammed Russell Aditia, santri kebanggaan SDIT Al-Fattah Kuningan, sukses mengharumkan nama sekolah dan daerahnya dengan meraih Medali Perunggu pada ajang Mentari Mathematics Olympiad (MEMO) 2026. Prestasi ini bukan sekadar pencapaian biasa, melainkan sebuah pembuktian luar biasa di tengah padatnya jadwal akademik.

MEMO 2026, yang diselenggarakan oleh Mentari Group melalui platform Pelajar Berkreasi pada 19 September 2026, bukanlah kompetisi sembarangan. Ajang olimpiade matematika tingkat nasional ini menjadi medan tempur yang sangat ketat, mempertemukan ribuan pelajar terbaik SD/MI sederajat dari seluruh penjuru Nusantara untuk mengadu kemampuan logika dan ketelitian.

Untuk mewakili sekolah di kancah nasional, SDIT Al-Fattah tidak main-main. Serangkaian seleksi internal yang ketat dilakukan untuk menjaring santri terbaik. Mohammed Russell Aditia pun tampil memukau dan terpilih sebagai duta sekolah. Kepercayaan besar ini ia balas dengan dedikasi dan kerja keras yang tak kenal waktu.

Perjuangan panjang dan otak yang terus diasah akhirnya berbuah manis. Kepastian raihan Medali Perunggu ini secara resmi dikonfirmasi melalui rilis video pengumuman dari Mentari Group pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Sebuah kado indah yang menutup bulan September dan membuka bulan Oktober dengan senyum kebanggaan bagi seluruh warga sekolah.

Di balik medali yang berkilau, tersimpan cerita tentang pengorbanan dan manajemen waktu yang luar biasa. Usth. Yulianawati, M.Pd., selaku guru pendamping, menyoroti perjuangan gigih sang santri yang harus membagi fokus di saat-saat krusial.

“Jujur, ini tantangan yang tidak mudah. Di saat santri lain sibuk dan fokus menghadapi ujian sekolah, Russell harus membagi otak dan waktunya untuk mendalami materi olimpiade. Namun, semua rasa lelah itu terbayar lunas. Ia berhasil bersaing dan bertahan di antara ribuan peserta dari berbagai sekolah unggulan di Indonesia,” ungkap Usth. Yulianawati dengan nada haru dan bangga.[MY]

Artikel ini memiliki

1 Komentar

Tinggalkan Komentar