KUNINGAN – Peran keluarga adalah fondasi utama pendidikan. Keluarga merupakan “sekolah pertama” (al-madrasah al-ula), tempat anak melangkah memulai perjalanan menuju dunia yang luas. Peran ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan materi, melainkan mencakup pembentukan watak, pengembangan potensi, serta pemberian dorongan semangat demi keberhasilan belajar anak. Kesadaran inilah yang menjadi landasan pelaksanaan Seminar Parenting bertajuk “Menjadi Orangtua Hebat di Era Digital”, yang diselenggarakan oleh SDIT Al-Fattah Kuningan di Auditorium Madinah Building Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Kegiatan ini dihadiri oleh tokoh kunci lembaga pendidikan, yaitu Direktur Al-Fattah Institute, Dr. K.H. Aik Iksan Anshori, Lc., M.A.Hum., Kepala SDIT Al-Fattah Kuningan, Ust. Masyhudi, S.Pd., Direktur Islamic Boarding School Al-Fattah, Ust. Andi Heryanto, disertai seluruh dewan guru serta para wali santri SDIT Al-Fattah Kuningan. Sebagai narasumber utama, sekolah menghadirkan Ibu Dita Novaria, S.Pd., CH., CHt., yang merupakan Pimpinan Rumah Tumbuh Kembang Ananda (RTKA).
Dalam sambutannya, Kepala SDIT Al-Fattah Kuningan, Ust. Masyhudi, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran antusias para orang tua. Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berjalan di ruang kelas melalui bimbingan guru; keberhasilan tumbuh kembang anak sangat bergantung pada keterlibatan nyata orang tua di lingkungan rumah.
Sementara itu, Dr. K.H. Aik Iksan Anshori menekankan esensi utama dari kegiatan ini: perlunya sinergi yang kokoh antara pihak sekolah dan keluarga dalam menjalankan tugas pendidikan bersama. Komite Wali Santri mampu menerjemahkan dan menjembatani program sekolah dengan wali murid secara holistik dengan membangun suasana kebersamaan sehingga terbangun budaya kekeluargaan.
Pengasuhan di Era Digital: Tantangan, Dampak, dan Pedoman Bijak
Dalam pemaparan materinya, Ibu Dita Novaria mengajak para peserta untuk memandang pengasuhan dengan perspektif baru yang terus berkembang seiring perubahan zaman. Kehidupan keluarga kini telah berubah wajah—teknologi menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian anak dan remaja. Mereka tumbuh di lingkungan yang saling terhubung dengan media sosial, perangkat pintar, serta akses cepat ke berbagai konten daring.
“Pengasuhan di era digital bukan hanya soal cara menggunakan alat teknologi, melainkan menyentuh ranah yang lebih luas: pengaruhnya terhadap ikatan batin orang tua dan anak serta dinamika keluarga secara keseluruhan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa sering kali keterhubungan orang tua terhadap perangkat genggam turut membentuk pola interaksi dan kedalaman komunikasi dengan anak.

“Pengasuhan di era digital mengupas peluang sekaligus tantangan nyata dalam mendidik anak di tengah perubahan zaman. Mengingat keterbukaan akses informasi dan ruang komunikasi yang semakin luas, orang tua perlu memiliki wawasan utuh tentang teknologi serta kemampuan membimbing anak agar bergerak secara aman dan bertanggung jawab,” terang Ibu Dita.
Ia selanjutnya menguraikan berbagai dampak serta tantangan nyata yang dihadapi pola pengasuhan masa kini:
– Perhatian yang Terbelah
Alat bantu digital sering kali memecah fokus interaksi. Ketika orang tua terlalu terbenam dalam perangkat dan media sosial, kehadiran penuh menjadi berkurang—hal ini dapat melemahkan kepekaan merespons kebutuhan serta perasaan anak.
– Gaya Hidup yang Terintegrasi dengan Dunia Digital
Anak-anak kini mulai mengenal teknologi sejak usia dini. Hal ini menuntut orang tua untuk hadir memantau dan mengarahkan proses tersebut agar berjalan sehat dan membawa hasil positif.
– Keraguan dan Pandangan yang Beragam
Melimpahnya informasi sering kali melahirkan pandangan yang bertentangan. Hal ini dapat mengaburkan pertimbangan dan melemahkan kepercayaan diri orang tua dalam mengambil keputusan terbaik bagi anak.
– Risiko Paparan Konten yang Tidak Sesuai
Ruang daring terbuka lebar terhadap konten yang kurang layak atau bernilai negatif. Peran pengawasan dan pendampingan aktif menjadi kunci menjaga lingkungan belajar yang aman dan kondusif.
– Berkurangnya Gerak Aktif dan Interaksi Langsung
Ketergantungan berlebihan pada layar cenderung membatasi aktivitas fisik serta pertemuan nyata dengan sesama. Orang tua perlu menggerakkan anak untuk tetap aktif serta meluangkan waktu bermain dan berinteraksi secara tulus.
– Menggunakan Layar Sebagai Penenang
Mengandalkan perangkat guna meredam kegelisahan atau mengisi waktu luang berisiko tinggi jika berlebihan. Hal ini dapat menghambat kemampuan mandiri anak dalam mengelola emosi serta membangun hubungan yang mendalam.
Sebagai solusi, Ibu Dita menyajikan pedoman praktis bagi para orang tua:
1 – Bangun Keseimbangan Jelas
Tetapkan aturan tegas namun bijak mengenai batas penggunaan perangkat. Jadikan diri teladan dalam pemanfaatan teknologi serta berikan pendampingan agar anak tumbuh dengan kesadaran penuh.
2 – Dorong Kehidupan yang Aktif dan Terhubung Secara Nyata
Sediakan ruang rutin bagi pertemuan langsung, aktivitas fisik, permainan, serta pengalaman di luar layar agar tumbuh kembang anak berjalan menyeluruh.
3 – Pelajari dan Pahami Dunia Teknologi
Kenali perkembangan perangkat, aplikasi, serta lingkungan yang diikuti anak. Hal ini memampukan orang tua membimbing perilaku yang tepat serta melindungi dari risiko bahaya, penipuan, maupun pengaruh yang merugikan.
4 – Bangun Komunikasi yang Terbuka dan Kuat
Perkuat ikatan batin dan dialog keluarga. Latihlah kemampuan mendengar dan berbicara secara konstruktif, sehingga anak berani berbagi pengalaman terkait dunia maya maupun hal lainnya.
Menutup sesinya, Ibu Dita menegaskan bahwa pengasuhan di era digital harus berlandaskan keseimbangan yang matang: memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab, namun tetap memberi ruang yang setara bagi hubungan nyata, aktivitas sosial, kegiatan fisik, bacaan, serta nilai‑nilai pendidikan yang kokoh. Hal ini menuntut sikap terbuka, kemauan belajar terus menerus, serta komunikasi yang hangat—agar anak tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang aman, sehat, dan berharga.[RG]
Tinggalkan Komentar