KUNINGAN – Semangat kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 menyulut api jiwa kompetitif yang positif di seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali di lingkungan pendidikan. Menyelaraskan dengan semangat itu, Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan menggelar rangkaian kegiatan Semarak Kemerdekaan yang hangat dan meriah, Selasa (18/8/2026) di Lapangan Masjid Al-Azhar. Tak hanya para santri, para guru pun tampil antusias dan penuh kegembiraan saat turun berkompetisi.

Sebagai lembaga pendidikan yang senantiasa mengusung jiwa perjuangan dan keunggulan, Al-Fattah Kuningan menanamkan nilai fastabiq al-khayrat—berlomba-lomba dalam kebaikan dan prestasi—kepada seluruh insan di dalamnya. Semangat ini melekat kuat pada para pendidik, yang tidak hanya mengajar di dalam kelas, namun juga menjadi teladan dalam semangat hidup dan kebersamaan.
Suasana di lapangan terasa hidup dan penuh tawa. Para guru dibagi menjadi 10 kelompok yang terdiri dari guru putra dan putri, lalu beradu ketangkasan dalam dua cabang lomba yang seru namun menuntut kerja sama: Lomba Memindahkan Balon Menggunakan Kepala dan Lomba Mengipas Ikan Kertas. Meskipun terlihat ringan, kedua lomba ini menguji kekompakan tim dan ketelitian. Saling bahu-membahu, tertawa lepas saat balon terlepas atau ikan kertas terbang, membuat suasana persaudaraan semakin erat. Kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana mempererat tali persatuan di antara tenaga pendidik.

Rangkaian kegiatan ini pun ditutup dengan pemberian hadiah spesial Kemerdekaan RI ke-81 bagi kelompok yang berhasil menjadi pemenang, sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan semangat mereka.
Direktur Al-Fattah Institute, Dr. K.H. Aik Iksan Anshori, Lc., M.A.Hum., memberikan komentar mendalam terkait partisipasi aktif para guru dalam ajang ini. Menurutnya, kehadiran guru di garis depan lomba memiliki makna strategis.
“Keikutsertaan guru-guru dalam lomba Semarak Kemerdekaan ini memiliki dua tujuan mulia,” ujarnya. “Pertama, untuk membangun semangat kompetitif yang sehat di antara seluruh warga pesantren. Kedua, dan yang lebih penting, adalah memberikan teladan langsung kepada para santri. Bahwa yang berlomba bukan hanya anak-anak, tetapi juga para ustaz dan ustazah mereka. Ini mengajarkan bahwa belajar dan berjuang adalah proses seumur hidup.”

Kiai Aik menambahkan, “Spirit kompetisi seperti ini adalah bagian integral dari peradaban Islam. Sejarah mencatat bahwa kejayaan Islam dibangun di atas persaingan konstruktif, inovatif, dan kreatif dengan peradaban lain di dunia. Dengan menunjukkan antusiasme dan sportivitas, guru-guru Al-Fattah sedang menanamkan benih bahwa kita harus selalu siap bersaing secara elegan, profesional, dan penuh integritas di panggung global.”
Melalui kegiatan ini, SDIT Al-Fattah Kuningan berhasil membuktikan bahwa pendidikan karakter tidak hanya diajarkan di dalam kelas, tetapi juga dipraktikkan melalui keteladanan aksi nyata. Semangat HUT RI ke-81 menjadi momentum tepat untuk memperkuat ikatan emosional antara guru dan santri, serta mengobarkan api semangat untuk terus berkarya demi Indonesia yang lebih maju.[]

Tinggalkan Komentar