Info Sekolah
Selasa, 25 Agu 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
8 Januari 2026

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani: Ulama Baghdad, Asketis, dan Imam Sufi

Kam, 8 Januari 2026 Dibaca 24x Tokoh Islam

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Ratusan juta umat Muslim di seluruh dunia memandangnya dengan kekaguman, menyebutnya sebagai “elang agung” yang menerangi lembaran sejarah Islam. Ia mengubah pandangan dan cara memahami ilmu agama dan pendidikan, yang sebelumnya hanya tumbuh dari kesucian hati dan keheningan tempat shalat di masjid, menjadi sesuatu yang hidup dan relevan dalam keseharian: perjalanan sejarah, peristiwa nyata, kesibukan pasar, hingga jejak para penakluk yang menyebar ke berbagai penjuru dunia Islam.

Dia adalah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Gelarnya merujuk pada tanah kelahirannya di Tabaristan, dan sering dikaitkan pula dengan daerah asalnya di Jailan (atau Jilan/Gilan). Para penulis riwayat hidupnya menyebutkan bahwa beliau adalah keturunan mulia dari garis keluarga Nabi, yaitu nasabnya bersambung kepada Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra.. Leluhurnya pernah hijrah ke wilayah timur dunia Islam dalam perjalanan menyebarkan ajaran. Sebagaimana bintang dan bulan yang tersebar di angkasa, keluarga keturunan Nabi pun tersebar luas ke berbagai negeri, menghindari tekanan penguasa yang menganggap pengaruh dan kedudukan mereka sebagai ancaman bagi kekuasaan yang dipegangnya.


Rumah Asketik: Masa Kecil yang Bersinar dalam Kehidupan Penuh Cahaya

Abdul Qadir al-Jailani lahir sekitar tahun 471 Hijriah di desa Jailan, dari keluarga bangsawan yang memiliki jejak keilmuan panjang dan dihormati masyarakat. Ayahnya dikenal sebagai seorang pertapa yang taat beribadah dan tidak terikat pada urusan duniawi. Ibunya pun memiliki sifat yang senada; rumah tangga mereka senantiasa dipenuhi keberkahan, karena keduanya menjadikan teladan Rasulullah Saw. sebagai pedoman hidup.

Sejak kecil, al-Jailani tumbuh dalam lingkungan yang penuh cahaya keimanan. Ia ibarat bunga yang mekar harum di tengah dua orang tua yang saleh, patuh pada ajaran agama, dan penuh kasih kepada sesama manusia—sebagaimana ia sendiri pernah menceritakan tentang sosok ayah dan ibunya. Di kampung halamannya, ia mempelajari dasar-dasar syariat serta nilai-nilai luhur Islam. Kemudian, pada tahun 488 Hijriah, ia memulai perjalanan menuju Kota Baghdad, dengan maksud yang selaras dengan ungkapan pujangga Abu al-Ala al-Ma’arri:


Aku melangkah menuju Irak dengan tujuan yang berbeda, bukan seperti maksud Jailan ketika ia pergi menemui Bilal.”


Setibanya di Baghdad, ia menuntut ilmu di bawah bimbingan sejumlah ulama besar. Salah satu gurunya adalah Syaikh Abu al-Wafa Ali bin Aqil al-Hanbali; bersamanya, al-Jailani mendalami ajaran mazhab Hanbali hingga akhirnya diakui sebagai salah satu tokoh terkemuka dalam mazhab tersebut.

Selain Ibnu Aqil, ia juga belajar dari banyak ulama Hanbali yang masyhur, antara lain: Abu Sa’id al-Mubarak bin Ali Al-Makhrami, pemuka mazhab Hanbali pada masanya. Ia kemudian menyerahkan tempat pengajaran dan jabatan pemberi fatwa kepada muridnya, yaitu Abdul Qadir al-Jailani; Hammad bin Muslim al-Dabbas, seorang ulama dan pendidik yang sangat dihormati.

Kedudukan dan kualitas ilmu al-Jailani pun diakui oleh para ulama sesudahnya. Bahkan Ibnu Taimiyah pernah memujinya dan para gurunya dengan berkata:


Syaikh Abdul Qadir, gurunya Hammad al-Dabbas, serta para ulama lurus lainnya—semoga Allah meridai mereka—mengajarkan bahwa seorang pencari kebenaran seharusnya tidak menginginkan apa pun selain keridaan Allah Yang Maha Kuasa. Segala tindakannya semata-mata berlandaskan kehendak-Nya, sehingga ia senantiasa sejalan dengan kebenaran yang hakiki.”


Hari-Hari Sulit di Tengah Kelaparan di Baghdad

Perjalanan al-Jailani menuntut ilmu bukanlah perjalanan yang mudah dan lancar. Ia harus menghadapi berbagai rintangan berat. Pada suatu masa di Baghdad, ia pernah mengalami situasi yang sangat sulit, di mana kelaparan melanda dan harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Saat itu, banyak orang terpaksa memakan daun-daunan dan sisa makanan yang sudah membusuk, sementara mereka yang hidup dalam keterbatasan berebut mencari sedikit makanan di antara tumpukan sampah.

Al-Jailani sendiri pernah menceritakan pengalaman pahit ini, menggambarkan penderitaannya dalam perjuangannya menuntut ilmu. Ia berkata:


Aku bertahan hidup dengan memakan buah pohon karob, sisa sayuran, dan daun selada yang tumbuh di tepi sungai. Kesulitan di Baghdad saat itu terasa begitu berat, hingga ada hari-hari di mana aku tidak mendapatkan makanan sama sekali, dan terpaksa mencari apa saja yang sekiranya bisa dimakan. Suatu hari, didorong oleh rasa lapar yang tak tertahankan, aku pergi ke tepi sungai dengan harapan menemukan daun selada, tumbuhan liar, atau apa pun yang bisa menopang nyawaku.”


Ia melangkah dari satu tempat ke tempat lain, namun hampir selalu mendapati orang lain sudah lebih dulu berada di sana. Jika menemukan tempat yang terlihat berpotensi, ia akan mendapatinya sudah dipenuhi oleh orang-orang yang sama-sama membutuhkan, sehingga ia pun memilih pergi dengan rasa belas kasih. Ia berjalan menyusuri kota tanpa menemukan satu pun tempat yang masih menyisakan sedikit rezeki, hingga akhirnya ia tiba di Masjid Yasin, yang terletak di kawasan pasar Al-Rihaniyin, Baghdad.

Karena kelelahan dan lemah, ia pun tak sanggup lagi berdiri. Ia masuk ke dalam masjid dan duduk di salah satu sudutnya, dengan perasaan seolah-olah nyawanya sudah berada di ambang batas, seakan-akan ia akan segera bersalaman dengan kematian.

Namun kisah sulit itu berakhir dengan sebuah pertolongan yang tak disangka-sangka. Seorang pemuda berkebangsaan non-Arab datang ke masjid membawa daging panggang dan roti yang lezat. Pemuda itu pun mulai menyantap makanannya, sementara al-Jailani duduk menahan lapar, berharap mendapat ajakan untuk turut makan. Penantian itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya pemuda itu merasa iba melihat keadaan al-Jailani dan mengajaknya makan bersama. Awalnya al-Jailani menolak, namun setelah terus dibujuk, ia pun menerima ajakan itu.

Setelah saling berkenalan, ternyata pemuda itu adalah seorang utusan yang sengaja datang mencari al-Jailani. Ia membawa sejumlah uang yang dikirimkan oleh ibunya, sebagai bantuan agar al-Jailani dapat melewati masa-masa sulit tersebut.


Imam yang Kepemimpinannya Mencapai Puncak di Baghdad

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani menetap di kota Baghdad, dan meneruskan serta mengembangkan lembaga pengajaran yang diwariskan dari gurunya, Syaikh al-Mubarak bin Ali al-Mukhrami. Murid-murid berdatangan dari berbagai penjuru untuk mengikuti pelajaran dan berkumpul di sisinya, guna menyerap ilmu serta meneladani akhlak mulia yang beliau miliki. Nama dan keutamaannya pun tersebar luas ke seluruh pelosok negeri, hingga salah satu murid terkemukanya, Muwaffaquddin bin Qudamah, menyebutnya sebagai “Muhyiddin” (orang yang menghidupkan agama) yang kepemimpinannya mencapai puncak kejayaan.

Ibnu Qudamah menceritakan:


Kami tiba di Baghdad pada tahun 561 Hijriah, dan di sana kami bertemu dengan Syaikh Imam Muhyiddin Abdul Qadir. Ia adalah sosok yang diakui memegang kendali kepemimpinan dalam hal ilmu pengetahuan, amal perbuatan, kerohanian, serta penerapan hukum agama. Bagi setiap orang yang menuntut ilmu, beliau sudah cukup menjadi tempat bergantung; ilmunya sangat luas, kesabarannya menghadapi murid tak terhingga, dan hatinya senantiasa terbuka serta murah hati. Beliau adalah sosok yang luar biasa, yang dikaruniai Allah dengan sifat-sifat luhur dan kedudukan yang mulia. Sejak saat itu, aku belum pernah menjumpai orang yang setara dengannya—segala kelebihan dan keagungannya terlihat jelas dan tak tertandingi.”


Syaikh al-Jailani menyelenggarakan pengajian dan pembelajaran umum yang dijadwalkan tiga kali dalam seminggu, dan kegiatan ini berlangsung terus-menerus selama empat puluh tahun, yakni dari tahun 521 hingga 561 Hijriah. Sedangkan untuk bimbingan ilmu dan penyampaian fatwa, ia mengabdikan diri sepenuhnya selama tiga puluh tiga tahun. Dalam masa itu, ia diakui secara mutlak sebagai pemimpin ulama di Baghdad, dan menjadi tokoh paling berpengaruh ketiga di wilayah tersebut. Meskipun telah mengabdi dalam waktu yang lama, sumber ilmu yang ia miliki tak pernah surut, serta cahaya jalan kerohanian yang ia ajarkan terus menyebar dan dirasakan manfaatnya hingga ke penjuru negeri.


Pandangan Para Ulama Besar

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mendapatkan pengakuan tinggi dari Ibnu Taimiyah dan para ulama terkemuka lainnya—bahkan dari mereka yang memiliki pandangan berbeda mengenai tarekat sufisme. Mereka tetap mengakui kedudukan dan jasa-jasanya yang tak terbantahkan. Ibnu Taimiyah menyebut beliau sebagai salah satu guru besar pada masanya yang sangat tegas dalam menyeru ketaatan kepada syariat Islam, baik dalam menyampaikan perintah maupun larangan agama. Beliau juga dikenal sangat mendahulukan ketentuan syariat di atas keinginan pribadi, serta menjadi teladan dalam mengajak orang lain untuk meninggalkan hawa nafsu dan kehendak diri sendiri.

Sementara itu, Imam al-Nawawi memberikan gambaran yang sangat luhur mengenai kepribadian Syaikh al-Jailani. Ia menyatakan bahwa Syaikh al-Jailani memiliki akhlak yang mulia, tata krama yang sempurna, serta jiwa yang besar dan rendah hati. Ia selalu tampak berseri, memiliki wawasan dan kebijaksanaan yang luas, serta sangat ketat dalam menjalankan ajaran dan hukum agama. Ia senantiasa menghormati para ahli ilmu, memuliakan mereka yang berpegang teguh pada ajaran agama dan sunnah Nabi Saw., serta menjauhi dan tidak menyukai segala bentuk bid’ah dan pendapat yang menyimpang. Di sisi lain, ia sangat mencintai orang-orang yang berusaha mencari kebenaran, dengan selalu menjaga sikap waspada dan istiqamah hingga akhir hayatnya. Ucapan dan tulisannya di bidang ilmu sangat bernilai tinggi, hatinya sangat tersentuh apabila melihat larangan Allah dilanggar, dan ia dikenal sangat dermawan serta memiliki jiwa yang agung. Singkatnya, pada masanya, sangat sulit menemukan orang yang setara dengannya dalam keutamaan tersebut.

Meskipun beberapa pandangan dan metode yang dikembangkan oleh Syaikh al-Jailani dalam bidang kerohanian kemudian dikaji dan dikritik oleh sebagian ulama, warisan keilmuannya tetap selaras dengan prinsip-prinsip akidah yang dipegang teguh oleh para ulama salaf. Ia mengikuti jejak mereka dalam mempelajari dan menjelaskan dasar-dasar keimanan, serta memahami sifat-sifat dan nama-nama Allah Swt.. Selain itu, ia memiliki pendekatan tersendiri dalam membina kepribadian manusia: yaitu menyempurnakan fitrah, menyeimbangkan kondisi batin, serta membimbing hati agar rela dan penuh semangat dalam mengikuti jejak orang-orang saleh.


Orang Suci yang Berpegang Teguh Pada Al-Qur’an dan Sunnah

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mendefinisikan hakikat tasawuf dalam karyanya yang berjudul al-Ghunyah sebagai “ketulusan dalam mengikuti al-haqq (kebenaran) dan keindahan akhlak dalam berinteraksi dengan sesama makhluk”. Baginya, kewajiban seorang penempuh jalan spiritual adalah menjaga ketakwaan serta ketaatan, baik dalam perbuatan lahir maupun dalam hati, serta senantiasa berjuang dan bersabar di jalan Allah dengan bimbingan para pendidik dan orang-orang yang mendahului dalam kebaikan.

Ia menegaskan bahwa tasawuf bukan sekadar soal pakaian, ucapan semata, atau tanda lahiriah yang membedakan seseorang di mata orang lain. Sebaliknya, hakikat tasawuf adalah cahaya yang bersinar di dalam hati, kerinduan yang mendalam kepada Sang Pencipta, serta ketulusan dalam melangkah menuju-Nya.

Menurut pandangannya, seorang penempuh jalan sejati adalah “orang yang menyucikan seluruh jiwa dan raganya dengan mengikuti Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Seorang yang benar-benar mendalami makna tasawuf akan membersihkan hatinya dari segala sesuatu selain mengingat Tuhannya Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung.

Kesucian hati ini tidak diperoleh hanya dengan berganti pakaian, melakukan ibadah lahiriah semata, atau sekadar mengucapkan pujian dan kisah-kisah kebaikan tanpa makna yang mendalam. Hakikatnya terwujud melalui ketulusan hati dalam mencari Kebenaran, melepaskan keterikatan pada keinginan duniawi, menjauhkan rasa mengandalkan makhluk dalam hati, serta memusatkan segenap perhatian hanya kepada Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Agung”.

Syaikh al-Jailani mewariskan sejumlah karya tulis, dan banyak kitab yang dikaitkan dengan pemikiran beliau. Di antara karya-karyanya yang paling dikenal luas adalah: Ighâtsah al-‘Ârifîn wa Ghâyah Munâ al-Wâshilîn, Futûh al-Ghayb, Âdâb al-Sulûk wa al-Tawashshul ilâ Manâzil al-Sulûk, al-Ghawts al-A’zham, dan Tuhfah al-Muttaqîn wa Sabîl al-‘Ârifîn.

Sementara itu, dua karya yang paling utama dan paling jelas menggambarkan pandangan serta jalan spiritualnya adalah al-Ghunyah li Thâlib Tharîq al-Haqq dan al-Fath al-Rabbânîy wa Faydh al-Rahmânîy.


Madrasah al-Jailani: Lembaga Pembinaan Akhlak dan Pembentukan Manusia Utama

Syaikh Abdul Qadir al-Jailani mendirikan lembaga pendidikan bernama Madrasah Qadiriyah di kawasan luar pasar Baghdad. Pendirian ini dilakukan karena tempat belajar sebelumnya yang diwarisi dari Syaikh al-Mukhrami—guru yang dihormatinya—sudah tidak cukup luas untuk menampung jumlah pengunjung yang terus bertambah. Selama bertahun-tahun, pengajian yang disampaikan di Baghdad memberikan dampak yang luar biasa: banyak orang bertobat, tumbuh rasa rendah hati, dan berbagai bentuk perbuatan maksiat serta penyimpangan yang umum terjadi di masyarakat mulai berkurang secara nyata.

Ketika lembaga baru didirikan, orang-orang tetap berdatangan mengikutinya. Di sana berkumpul beragam lapisan masyarakat: orang-orang mampu yang bersedia mendukung, kaum dhuafa, para ulama berilmu, serta pendidik yang hidup sederhana. Sekolah ini merupakan lembaga terpadu yang lengkap, terdiri dari masjid, pusat pengajian tinggi, tempat tinggal bagi para pelajar, serta fasilitas pelayanan kesehatan.

Masyarakat Baghdad turut berperan serta dalam mewujudkan pendirian lembaga ini. Bahkan para wanita pun ikut menyumbangkan sebagian harta mereka, termasuk mahar yang mereka miliki, untuk mendukung berdirinya wadah ilmu yang besar ini.

Madrasah Qadiriyah menerapkan sistem pendidikan yang teratur dan mendalam. Para pelajar dibekali dengan pengetahuan Islam yang mampu memperbaiki kekurangan dalam diri, melatih kejujuran dalam bertutur kata, serta membuka hati untuk memahami hakikat kebenaran. Tujuannya adalah agar mereka nanti dapat pulang ke daerah asal masing-masing sebagai ulama, tenaga pendidik, dan pembawa ajaran tarekat Qadiriyah yang berilmu serta berakhlak mulia. Syaikh al-Jailani sangat berharap agar para muridnya dapat mendirikan lembaga serupa di kota atau kampung halaman mereka, sehingga manfaat ilmunya terus menyebar dan ajaran yang dibawanya tetap terjaga keberlanjutannya.

Madrasah Qadiriyah selesai dibangun sekitar tahun 528 Hijriah. Sejak saat itu, Syaikh al-Jailani menetap dan mengembangkan lembaga ini hingga ia meninggal dunia pada tahun 561 Hijriah.


Madrasah Qadiriyah: Cabang-cabang yang Melestarikan Warisan Ilmu Syaikh al-Jailani

Dari ajaran dan asas Madrasah Qadiriyah, lahirlah berbagai aliran serta pusat-pusat ilmu yang didirikan oleh para murid dan penerus generasi setelah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani. Semua cabang ini tetap memegang teguh pola pendidikan dan pemahaman yang menjadi dasar berdirinya mazhab induknya. Di antaranya yang paling dikenal adalah Madrasah al-Adawiyyah, yang didirikan oleh Adi bin Musafir al-Hakkari dan berkembang hingga ia wafat pada tahun 557 H. Ada pula Madrasah Qurasyiyah, yang didirikan oleh Utsman bin Marzuq al-Qurasyi—seorang tokoh intelektual yang tegas terhadap paham kekuasaan Dinasti Fatimiyah, sekaligus pendukung setia Dinasti Ayyubiyah yang kemudian menggantikannya. Ia mengumpulkan banyak pengikut dan murid untuk mendukung perjuangan Pangeran Nuruddin bin Mahmud Zangi.

Salah satu cabang penting lainnya didirikan oleh Abu al-Saud al-Harimi, murid terdekat dan pewaris amanah serta kepemimpinan ajaran Qadiriyyah setelah Syaikh Abdul Qadir. Banyak ulama yang memperdalam ilmu darinya, dan dakwahnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Bahkan, rumahnya menjadi tempat berteduh dan perlindungan bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Di kota Isfahan, turut didirikan lembaga pengajaran oleh Abdullah al-Jabba’i, seorang mantan penganut agama Kristen yang kemudian masuk Islam. Ia belajar dan mendalami ilmu selama dua puluh tahun di lingkungan pengajian Syaikh Abdul Qadir, hingga tumbuh menjadi ulama, pendidik, dan pembimbing yang mumpuni. Setelah menetap di Isfahan, beliau menyebarkan ajaran dan nilai-nilai yang diajarkan oleh Syaikh al-Jailani, dan dari sanalah rantai penyampaian ajaran Qadiriyah terus berlanjut hingga menjangkau wilayah Mesopotamia. Seiring berjalannya waktu, aliran Qadiriyah menyebar ke seluruh penjuru dunia Islam, melahirkan beragam cabang dan jalur pengajaran yang terus berkembang. Hingga kini, jutaan umat Muslim tergabung dalam aliran ini. Para ulama dan pemimpinnya dikenal luas karena keunggulan ilmunya, kesungguhan dalam menyebarkan ajaran Islam, serta perannya dalam mendirikan lembaga pendidikan, mengembangkan tatanan kehidupan bermasyarakat, dan melahirkan tokoh-tokoh pemimpin yang berwawasan Islami. Aliran ini memadukan secara harmonis antara ilmu pengetahuan dan pengelolaan kehidupan bersama, antara pemurnian jiwa dan perjuangan menegakkan kebenaran—sehingga melahirkan keseimbangan batiniah dan terwujudnya kemenangan rohani yang sesungguhnya.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar