Oleh: Jeni Mustofa, M.E., Wali Santri
Memilih lembaga pendidikan bagi anak merupakan salah satu tahap dan menjadi satu keputusan besar dalam perjalanan menjadi orang tua. Keputusan ini bukan hanya tentang menentukan tempat belajar, tetapi juga tentang menentukan lingkungan kehidupan, pemebentukan karakter dan arah masa depan anak.
Dalam perjalanan itu, kami dipertemukan dengan lembaga pendidikan formal, yang menawarkan competitive adventage-nya program pesantren anak, yaitu SDIT Al-Fattah Kuningan.
Memilih pesantren anak di SDIT Al-Fattah Kuningan karena adanya harapan besar agar anak tumbuh dalam lingkungan yang mampu menjaga akhlak, adab, dan nilai kehidupannya sejak dini, di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat.
Kami memyadari bahwa anak tidak cukup dibekali dengan kemampuan akademik saja, tetapi juga membutuhkan pondasi spiritual, kemandirian dan mental yang kuat.
Salah satu hal yang menjadi kekuatan besar dalam memilih pesantren anak SDIT Al-Fattah Kuningan adalah ketika keputusan itu lahir dari keinginan anak sendiri, melalui proses diskusi yang panjang antara kami orang tua dengan anak. Bagi kami keputusan memilih pesantren harus jadi prioritas tetapi tidak boleh dipaksakan.
Dalam proses itu, kami berusaha memberikan pemahaman dan motivasi bahwa pendidikan di pesantren bukan hanya tentang belajar agama, tetapi juga tentang belajar mandiri, disiplin, dan belajar menghadapi kehidupan dengan mental yang kuat.
Di sisi lain, keputusan untuk modok menuntut rasa tega dan keikhlasan bagi kami orang tua, tidak mudah untuk melepas anak jauh dari rumah. Ada rasa sedih ketika rumah mulai terasa sepi, ada kekhawatiran tentang bagaimana anak makan, belajar, istirahat dan menghadapi kesehariannya sendiri.
Keikhlasan menjadi bagian penting dalam perjalanan ini. Kami harus belajar mempercayai proses pendidikan, mempercayai lingkungan pesantren, dan mempercayai bahwa setiap keterbatasan yang dihadapi anak akan menjadi bagian dari pembentukan karakter dan mentalnya.
Menemukan Dunia Anak yang Sesungguhnya
Seiring berjalannya waktu, saya mulai sampai pada sebuah pemahaman: pesantren bukan sekadar tempat anak belajar, tetapi dunia yang sesungguhnya bagi mereka untuk bertumbuh. Sebuah ruang kehidupan yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga membentuk jiwa, karakter, dan cara memandang kehidupan.
Di pesantren, anak mulai berhadapan langsung dengan realitas kehidupan yang lebih nyata. Mereka belajar hidup bersama banyak orang dengan karakter yang berbeda. Mereka belajar menghadapi aturan, keterbatasan, tanggung jawab, dan berbagai dinamika sosial yang sebelumnya mungkin tidak banyak mereka rasakan di rumah. Semua itu menjadi proses yang diam-diam membentuk kedewasaan mereka.
Satu hal yang paling terasa ketika melihat kehidupan anak di pesanatren adalah menghadirkan kehidupan anak yang sesungguhnya, yaitu memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh secara alami sebagai seorang anak. Anak-anak bangun bersama sebelum subuh, belajar bersama, makan bersama, bermain bersama, dan menjalani hari dengan kebersamaan yang nyata.
Yang menarik, mereka tetap belajar, tetap bercanda, tetap bermain, dan tetap menemukan kegembiraan dalam hal-hal sederhana. Mereka bermain futsal, congklak, layang-layang, dan permainan lain bersama teman-temannya tanpa scrolling dan layar smartphone, bahkan menciptakan hiburan dari kebersaman yang mereka bangun sendiri.
Tanpa smartphone, bukan berarti para santri dijauhkan dari perkembangan teknologi dan informasi. Al-Fattah justru berusaha menghadirkan pola pendidikan yang lebih seimbang, di mana anak-anak dikenalkan pada teknologi secara wajar, terarah, dan sesuai kebutuhan usia serta proses pendidikan mereka.
Dalam kesehariannya, santri tetap mendapatkan akses terhadap berbagai informasi dan wawasan dunia melalui program-program edukatif seperti movie time, pemutaran tayangan pembelajaran, dokumenter inspiratif, hingga kegiatan live streaming untuk kajian, event, maupun perkembangan tertentu yang relevan dengan pendidikan mereka.
Ruang Rindu
Ada satu momen yang selalu dinanti dengan perasaan yang sulit dijelaskan: Penjengukan dan Kepulangan. Sebuah waktu singkat yang terasa sangat berharga, ketika rindu yang selama ini hanya dipendam akhirnya menemukan ruang untuk betemu.
Penjengukan bukan sekedar kunjungan biasa, tetapi menjadi pertemuan hati antara orangtua dan anak yang sama-sama sedang belajar tentang keikhlasan dan perjuangan. Hari penjengukan sering kali dipersiapkan jauh-jauh hari, kami mulai menghitung hari yang terasa lambat, menyiapkan kebutuhan anak, dan membawa makanan kesukaan.
Pertemuan itu, adalah rindu yang terobati. Terkadang tidak langsung terucap melalui kata-kata, cukup dengan melihat wajah anak dari kejauhan, hati kami sudah merasa senang dan tenang, ada kebahagian sederhana melihat anak tersenyum, mendengar ceritanya tentang kehidupan pondok, atau sekedar melihat perubahan kecil dalam dirinya.
Namun di balik kebahagian  penjengukan atau kepulangan yang sebentar itu, ada mata yang diam-diam berkaca-kaca ketika perpisahan kembali tiba. Anak yang tadi tertawa mulai terdiam, kami orangtua yang sejak awal mencoba kuat, kembali harus belajar menata hati untuk memupuk rindu kembali. Rindu itu kini terasa lebih bermakna, ada ketenangan karena telah melihat baik-baik saja, dan ada keyakinan bahwa anak sedang bertumbuh dalam proses yang baik.
Doa; Menjaga Asa
Perjalanan pendidikan di pesantren pada akhirnya bukanlah akhir dari proses pembentukan diri, melainkan awal dari perjalanan kehidupan yang lebih luas. Ketika anak-anak menyelesaikan masa belajarnya di Al-Fattah, sesungguhnya mereka sedang membawa bekal nilai, pengalaman, dan pembelajaran hidup yang akan menjadi fondasi dalam menapaki jenjang berikutnya. Dunia luar yang akan mereka hadapi tentu jauh lebih beragam, lebih bebas, dan penuh tantangan. Karena itu, menjaga asa dan cita-cita setelah ini menjadi bagian penting yang harus terus dirawat.
Pada akhirnya, perjalanan mendidik anak di Al-Fattah adalah perjalanan tentang keikhlasan, tentang keberanian melepas, tentang ruang rindu yang terus hidup di hati orang tua, serta tentang doa-doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan. Dari proses itulah kami belajar bahwa cinta kepada anak tidak selalu diwujudkan dengan selalu dekat, tetapi dengan memberi mereka ruang untuk bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berakhlak.
Semoga setiap langkah anak-anak kami senantiasa berada dalam penjagaan Allah Swt.. Semoga mereka tumbuh menjadi generasi JUARA — juara dalam ilmu, kokoh dalam iman, mulia dalam akhlak, serta tangguh menghadapi kehidupan. Dan semoga seluruh proses yang mereka jalani di Pesantren Al-Fattah Kuningan menjadi cahaya yang terus mengiringi perjalanan hidup, cita-cita, dan masa depan mereka. Aamiin.
Tinggalkan Komentar