Info Sekolah
Rabu, 13 Mei 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
8 Mei 2026

“Maka Hanyutkanlah Dia ke Sungai,” Filosofi Pelepasan dalam Al-Qur’an Ketika Kehilangan Menjadi Jalan Menuju Keselamatan

Jum, 8 Mei 2026 Dibaca 14x Kajian

Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan



Setelah hampir setahun berada di Kuningan, menyendiri, terdiam, di mana pena telah lama berhenti berbunyi dan mata meninggalkan dunia membaca, saya kembali tanpa basa-basi. Saya kembali untuk mempertanyakan diri sendiri dalam momen yang dingin dan penuh pengungkapan diri: Di ​​mana saya selama ini? 

Ketika saya mencoba meneliti selama hampir setahun ini, saya tidak menemukan apa pun selain jejak kebingungan dan cahaya kehancuran diri, terlepas dari segala pencapaian yang tampak di mata orang lain. Jiwa saya mengerang dengan beban berat yang terus bergerak di jalan yang bukan miliknya.

Pagi menjelang siang, saat saya menatap cangkir kopi di hadapan saya, yang dalam keheningannya tampak membalas tatapan saya yang bingung dan tersesat, keheningan itu dipecah oleh suara ayat al-Qur’an yang berasal dari sudut ruang di depan kamar sayang yang kecil, ketenangannya menghilangkan kesepian dan membersihkan kabut pikiran. Ayat itu sampai ke telinga saya: “Fa alqihi fi alyammi,” (Maka hanyutkanlah dia [bayi itu] ke sungai).

Saya terdiam sejenak, seolah-olah seruan itu bukan hanya untuk ibu Musa, tetapi sebuah kompas yang menuntun saya ke daratan menjauh dari lautan kebingungan saya. Saat itulah saya menyadari bahwa melepaskan bukanlah kehilangan, melainkan sebuah peralihan dari ilusi kepemilikan menuju kepastian independensi, di mana diri terbebaskan saat melepaskan bebannya ke cakrawala takdir.


Paradoks Kepuasan Melalui Pelepasan

Salah satu paradoks eksistensi yang paling aneh, dan khususnya dalam konstitusi jiwa, adalah bahwa “kepuasan” hanya dicapai melalui “kekosongan”. Ini adalah filosofi al-Qur’an yang mendalam yang mengajarkan kita bahwa matahari penghubung hanya terbit setelah matahari keterikatan terbenam. 

Dalam perspektif al-Qur’an, pelepasan bukanlah sekadar tindakan perilaku atau asketisme pasif, melainkan pernyataan yang jelas bahwa manusia lebih agung dan lebih mulia daripada terkurung oleh penampilan fana atau terikat oleh hal-hal materi yang mudah binasa.

Sebenarnya, kita tidak melepaskan diri karena kehilangan sesuatu, tetapi untuk menemukan diri kita sendiri, yang telah tercerai-berai dan hilang dalam kekacauan hal-hal yang tidak menyerupai kita. Ini adalah proses “pengosongan” besar, yang bertujuan untuk menyelamatkan esensi manusia dari tenggelam dalam detail-detail sepele.


Bergantung pada Tuhan Daripada Mengandalkan Cara Lain

Filosofi pelepasan terwujud dalam bentuknya yang paling indah ketika Allah Swt. memerintahkan ibu Musa: “Jika engkau khawatir atas [keselamatan]nya, hanyutkanlah dia ke sungai [Nil dalam sebuah peti yang mengapung]. Janganlah engkau takut dan janganlah [pula] bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul,” [Q.S. al-Qashash: 7]. Ini bukan sekadar sarana keselamatan materi, tetapi pelajaran filosofis tentang “bergantung pada Tuhan daripada mengandalkan cara lain”.

Kekuatan sejati dimulai dengan “melepaskan”, bukan “memegang”. Saat sang ibu melepaskan keamanan “anaknya” dari pelukannya, ia memasuki keamanan mutlak takdir. Tindakan pelepasan ini adalah satu-satunya jembatan yang diperlukan untuk menyeberangi dari kepastian tenggelam menuju keajaiban kelangsungan hidup abadi. Seandainya ia tetap memegangi dan mempertahankan anaknya karena takut akan keselamatannya, ia akan hilang darinya dan dari sejarah. Tetapi ketika ia menyerahkannya kepada Allah, ia mengklaimnya kembali sebagai seorang rasul.


Dualitas Kefanaan dan Keabadian dalam Jiwa Manusia

Dalam filosofi al-Qur’an, umat manusia pada dasarnya “terikat”, terus-menerus mencari landasan untuk menambatkan keberadaannya. Tetapi tragedi terbesar jiwa dimulai ketika ia terikat pada hal-hal yang fana. Di sinilah al-Qur’an hadir untuk memutuskan ikatan erat ini, menyeru jiwa untuk “penyerahan yang indah”—penyerahan yang tidak membawa dendam, melainkan wawasan yang melihat kebaikan dalam apa yang telah dipilih Allah, bukan dalam apa yang dipegang teguh oleh ego.

Dalam kisah Ibrahim as., ia tidak meninggalkan putranya di lembah yang tandus karena kekejaman atau ketidakpedulian, tetapi ia melepaskan kehendak manusiawinya sendiri untuk tunduk pada kehendak Ilahi yang meliputi segalanya. 

Demikian pula, Ashhabul Kahfi meninggalkan hiruk-pikuk kota, prestise, dan kedudukan sosial mereka, mencari perlindungan di “pinggiran” yang terwujud dalam gua yang gelap. Di sana, di sudut terpencil itu, mereka menemukan bahwa “keterpinggiran” bersama Allah adalah pusat eksistensi sejati, dan bahwa pengasingan dari kepalsuan adalah esensi dari hubungan dengan al-Haqq, Zat yang Maha Benar.


Pembebasan dari Belenggu Benda di Zaman Kepemilikan

Kita hidup saat ini di “zaman kepemilikan”, di mana seseorang didefinisikan oleh apa yang dimilikinya, apa yang dikenakannya, dan bagaimana ia menampilkan diri di ruang digital, bukan oleh esensi sejati mereka. Tetapi perspektif al-Qur’an membalikkan hal ini; pelepasan adalah satu-satunya jalan menuju “kebebasan yang berdaulat.”

Ketika kita melepaskan rasa takut kehilangan, membebaskan diri dari kecemasan tentang pengamanan nafkah, dari pengejaran tanpa henti akan penerimaan sosial yang palsu, dan dari pemujaan terhadap harta benda materi, barulah jiwa kita mulai naik.

Pelepasan adalah menyadari, dengan kesadaran filosofis yang mendalam, bahwa segala sesuatu yang kita pikir kita “miliki” sebenarnya “memiliki” kita dan membatasi pergerakan kita. Jika kita dengan tulus menyerahkannya kepada Allah, kita akan terbebas dari belenggu hal-hal duniawi untuk memasuki ranah pengabdian yang luas kepada Tuhan yang mengatur segala sesuatu.

Pembebasan sejati hanya datang setelah jiwa digiling dalam penggilingan pengalaman, dan menyadari bahwa keselamatan terletak bukan pada mengumpulkan lebih banyak, tetapi pada membuang hal-hal berlebih.


Dari Kesempitan “Ego” Menuju Keluasan “Dia”

Dalam pandangan al-Qur’an, pelepasan bukanlah penyerahan diri pada kehampaan, juga bukan seruan untuk hidup monastik yang memutuskan ikatan dengan denyut kehidupan. Sebaliknya, itu adalah “arsitektur eksistensi”, pendefinisian ulang batas-batas diri dalam hubungannya dengan Yang Maha Mutlak. Ini adalah pembebasan dari belenggu “ego” ketika ia membayangkan dirinya sebagai pusat, pelarian dari penjara gelapnya yang hidup dari keterikatan pada hal-hal sementara, dan pendakian menuju keluasan “Dia”, di mana semua definisi “keterbatasan” lenyap.

Transisi eksistensial ini adalah “ledakan pengetahuan” yang membebaskan jiwa dari fisika tanah liat. Di sini, pelepasan adalah tindakan “kehadiran”, bukan “ketidakhadiran”, dan itu adalah pengisian makna ketika tangan dikosongkan dari harta benda. Ini adalah perjalanan pendakian yang tujuan akhirnya hanya dapat dicapai dengan memurnikan hati dari segala sesuatu yang bukan dirinya. 

Siapa pun yang berani melepaskan “bayangan” mereka yang terbatas dan terikat pada debu, menemukan di tempatnya “matahari” yang selalu hadir. Dan siapa pun yang melemparkan “tetesan” mereka yang fana ke dalam sungai tawakkal, ia tidak kehilangan itu, melainkan mendapati bahwa itu telah menjadi “lautan” yang luas dan tak terbatas.

Dalam pendakian ini, “cinta” duniawi bermanifestasi dalam bentuk terbatasnya hanya sebagai jembatan, yang penyeberangannya hanya selesai ketika dikorbankan demi “cinta” abadi; cinta yang tak hancur karena kematian.

Inti sari dari filosofi pelepasan dalam al-Qur’an terletak pada kesadaran akan “kepastian penyerahan diri”. Ketika jiwa mencapai puncak pelepasan dan membuang beban ilusi-ilusinya ke sungai yang tak terlihat, ia tidak tenggelam, tetapi terlahir kembali. Ini adalah keberanian untuk beralih dari ilusi kepemilikan menuju kedaulatan pelepasan, dan kepercayaan penuh bahwa tangan yang “menyerahkan” kepada Allah adalah tangan yang akan menerima uluran pemeliharaan Ilahi, mengembalikannya kepada-Nya dengan limpahan mukjizat yang tidak dapat dipahami oleh perhitungan kimia manusia.[]

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar