Info Sekolah
Sabtu, 25 Apr 2026
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
  • Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan
25 April 2026

Ciri-ciri Artistik Kisah-kisah al-Qur’an

Sab, 25 April 2026 Dibaca 4x Kajian

Oleh: Dr. K.H. Aik Iksan Anshori, Lc., M.A.Hum., Dewan Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Terpadu Al-Fattah Kuningan



Kisah al-Qur’an menggunakan beberapa teknik artistik yang sudah mapan dalam studi narasi bebas dalam seni. Dalam tulisan pendek ini, kita akan fokus pada tiga aspek utama:

Pertama, keragaman metode penyajian. Kisah-kisah di dalam al-Qur’an menggunakan empat pendekatan berbeda untuk memulai sebuah cerita.

1 – Ringkasan cerita disajikan terlebih dahulu, diikuti dengan uraian rinci dari awal hingga akhir, seperti dalam kisah Ashhabul Kahfi.

2 – Akhir dan pesan moral cerita disebutkan, kemudian cerita dimulai dari awal, berlanjut melalui berbagai tahapannya, seperti dalam kisah Musa as. dalam Surah al-Qashash, dan juga dalam kisah Yusuf as.

3 – Cerita disajikan langsung tanpa pengantar atau ringkasan, mengandalkan kejutan yang melekat di dalamnya, seperti dalam kisah Maryam saat kelahiran Isa as. yang kejutan-kejutannya sudah terkenal, dan juga dalam kisah Sulaiman dengan semut, burung hud-hud, dan Bilqis (Ratu Saba). 

4 – Cerita disajikan secara dramatis, hanya menyebutkan kata-kata yang diperlukan untuk menarik perhatian di awal, kemudian membiarkan cerita terungkap melalui karakter-karakternya. Contohnya adalah ayat: “Dan [ingatlah] ketika Ibrahim meninggikan pondasi Baitullah bersama Ismail,” [Q.S. al-Baqarah: 127]. Ayat ini berfungsi sebagai pernyataan pembuka, dan berikutnya diserahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Ya Tuhan kami, terimalah [amal] dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui,” [Q.S. al-Baqarah: 127], berlanjut hingga akhir adegan yang panjang. Teknik ini memiliki kesamaan dengan banyak kisah di dalam al-Qur’an.

Kedua, keragaman metode yang digunakan dalam menciptakan kejutan. Terkadang, rahasia kejutan disembunyikan dari tokoh utama dan pembaca, hingga terungkap kepada mereka secara bersamaan. Contohnya adalah kisah Musa as. dengan hamba saleh yang berilmu tinggi dalam Surah al-Kahfi.

Dalam kasus lain, rahasia diungkapkan kepada pembaca, tanpa sepengetahuan para tokoh utama. Mereka bertindak tanpa mengetahui rahasia tersebut, sementara pembaca mengamati tindakan mereka dengan pengetahuan penuh. Hal ini sering dilakukan dengan cara satir, seperti yang terlihat dalam kisah Asihhabul Jannah (para penghuni surga) dalam Surah al-Qalam.

Kasus lainnya, beberapa rahasia diungkapkan kepada pembaca, sebuah rahasia yang disembunyikan dari tokoh utama di satu tempat, dan disembunyikan dari pembaca dan tokoh utama di tempat lain dalam cerita yang sama.

Contohnya adalah kisah singgasana Bilqis, yang dibawa dalam sekejap mata. Kita tahu bahwa singgasana itu berada di tangan Sulaiman as., sementara Bilqis tetap tidak menyadari apa yang kita ketahui. Allah Swt. berfirman: “Ketika dia (Balqis) datang, ditanyakanlah [kepadanya], ‘Serupa inikah singgasanamu?’ Dia (Balqis) menjawab, ‘Sepertinya ya. Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri [kepada Allah],'” [Q.S. al-Naml: 42]. 

Itu adalah kejutan yang rahasianya telah kita ketahui sebelumnya. Namun, kejutan istana berlantai kaca itu tetap tersembunyi dari kita dan Bilqis, sampai kita terkejut dengan rahasianya ketika: “Dikatakan kepadanya (Balqis), ‘Masuklah ke istana.’ Ketika dia (Balqis) melihat [lantai istana] itu, dia menyangkanya kolam air yang besar. Dia menyingkapkan [gaun yang menutupi] kedua betisnya. Dia (Sulaiman) berkata, ‘Sesungguhnya ini hanyalah lantai licin (berkilap) yang terbuat dari kaca,'” [Q.S. al-Naml: 44].

Kasus lain lagi, tidak ada rahasia; sebaliknya, kejutan itu dihadapi oleh tokoh utama dan pembaca secara bersamaan, dan keduanya mengetahui rahasianya pada saat yang sama, seperti dalam kejutan kisah Maryam.

Ketiga, jeda antar adegan dalam penyajian cerita. Jeda antar adegan ini diciptakan dengan membagi adegan dan “memotong” latar, yang dalam teater modern setara dengan menurunkan tirai.

Hal yang lebih penting dari itu semua adalah, bahwa kisah-kisah di dalam al-Qur’an merupakan pilar fundamental pendidikan dan pensyariatan. Kisah-kisah ini bukan sekadar catatan sejarah peristiwa masa lalu, melainkan sebuah “narasi kiasan” yang melampaui batasan waktu, menjalin hubungan yang erat dan langsung antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kisah-kisah ini memiliki tujuan dan maksud yang luhur, bertujuan untuk memperkuat hati, memberikan pelajaran dan peringatan, serta membimbing perilaku manusia di setiap waktu dan tempat.[]



*) Disampaikan dalam diskusi via Zoom Meeting bersama mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fak. Ilmu Keislaman, Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan, Kamis, 23 April 2026

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar