Oleh: H. Roland Gunawan, Lc., Mudir Madrasah Diniyah Lailiyah (MDL) Al-Fattah Kuningan
Di sekolah dasar, saya ingat pelajaran sains yang panjang lebar menjelaskan secara detail siklus hidup bintang dan tata surya: warna, umur, nama, dan bentuknya. Kini, sudah puluhan tahun, saya tidak ingat apa pun kecuali bentuk rasi bintang Biduk, yang menyerupai sendok sayur, karena saya melihatnya setiap hari di ruang terbuka di depan rumah yang berlokasi di Windujanten, Kuningan.
Di sekolah menengah, saya ingat pelajaran tarikh (sejarah) yang panjang lebar menerangkan tentang dinasti Utsmaniyah dan Abbasiyah: nama-nama penguasa, wilayah yang mereka kuasai, periode sejarah, masa kejayaan dan kemerosotan ekonomi, masa kejayaan dan kemerosotan budaya, serta naik-turunnya imperium-imperium ini. Kini, setelah puluhan tahun, saya hanya ingat sedikit informasi ini, yang merupakan pengetahuan umum.
Beberapa tahun kemudian, di kelas biologi, saya belajar secara detail tentang bintang laut, anatomi “teoretis” tentangnya, dan berbagai jenisnya. Kini, setelah bertahun-tahun kemudian, saya hanya ingat kekaguman saya ketika pertama kali melihat bintang laut di laut. Hal ini terjadi berulang kali selama dua belas tahun sekolah.
Dua belas tahun sekolah, di mana saya belajar di dua sekolah yang berbeda. Jika menambahkan empat setengah sampai lima tahun universitas, total masa sekolah saya sekitar enam belas setengah sampai tujuh belas tahun. Dan satu-satunya yang saya ingat adalah lingkaran diskusi bersama teman-teman, yang oleh kami, dalam langkah yang luar biasa diberi nama kelas “metodologi kajian ilmiah”.
Dulu, kami menghabiskan sekitar satu jam seminggu sekali, khususnya di hari libur sekolah, di perpustakaan untuk belajar tentang kajian dan penelitian ilmiah serta metodologinya. Mungkin itu satu-satunya hal yang masih saya ingat dengan jelas dan detail dari masa-masa sekolah saya. Dan itu juga satu-satunya pengalaman di mana saya benar-benar merasa sedang belajar, bukan hanya diajari.
Dari pengalaman itu, saya memperoleh keterampilan yang sangat berguna di kemudian hari—keterampilan yang memungkinkan saya untuk berinteraksi dengan tokoh-tokoh pemikir nasional bahkan internasional dan “jalan-jalan” ke luar negeri untuk melakukan kajian dan penelitian.
Keterampilan ini juga sangat membantu dalam penulisan makalah selama kuliah dan sangat berkontribusi dalam menyelesaikan proyek-proyek riset lapangan di kemudian hari pasca lulus kuliah.
Pendidikan sejati, jenis pendidikan yang akan tetap bersama kita selama bertahun-tahun dan tidak terkubur dalam tumpukan sampah memori, dibangun di atas pengalaman, diskusi, dialog, dan penerapan—bukan pada hafalan dan pengulangan informasi dari buku seperti mesin pemindai.
Pendidikan sejati, jenis pendidikan yang membangkitkan rasa ingin tahu yang membara dalam diri kita yang tidak pernah pudar atau padam, adalah jenis pendidikan yang melepaskan pusaran keajaiban. Inilah jenis pendidikan yang akan melekat dalam pikiran kita, menyulut dahaga akan penelitian, penemuan, dan pengungkapan misteri yang belum diketahui.
Saya bukanlah salah satu “pakar” dalam pengembangan ilmu pengetahuan, juga bukan termasuk jajaran pendidik dan guru yang dihormati. Sebaliknya, saya adalah produk dari proses pembelajaran hafalan, dan pada suatu tahun, saya cukup beruntung mengalami pelajaran pendidikan unik ini, yang menanamkan dalam diri saya kecintaan pada kajian, penelitian, dan membaca.
Bagaimana jika kelas “Metodologi Kajian/Penelitian Ilmiah” ditambahkan secara rutin ke kurikulum setiap tahun ajaran, meringkas beberapa informasi yang mudah dilupakan setelah ujian? Bagaimana jika ditambahkan jam membaca, di mana guru memilih novel atau buku untuk menemani siswa sepanjang tahun, dan bab-babnya didiskusikan secara berkala? Bagaimana jika perhatian yang diberikan pada perpustakaan sekolah dan renovasinya sama dengan perhatian yang diberikan pada kantin sekolah dan kualitas makanannya?
Bertahun-tahun kemudian, setelah menyelesaikan pendidikan mereka, siswa tidak akan mengingat langkah-langkah teoritis membedah bintang laut, mereka juga tidak akan mengingat suhu bintang merah, dan mereka tentu tidak akan mengingat nama-nama penguasa dinasti Utsmaniyah.
Tetapi mereka akan mengingat kelas yang membangkitkan rasa ingin tahu mereka, seperti kelas Metodologi Kajian/Penelitian Ilmiah, dan mereka akan mengingat buku-buku yang mereka baca di perpustakaan sekolah. Mereka akan mengingat rasa ingin tahu, semangat, diskusi, dan jam-jam penelitian dan pembelajaran. Hanya hal-hal inilah yang tetap ada dalam ingatan mereka setelah semua hal lain memudar.[]
Tinggalkan Komentar